Hilangnya Motivasi

Pada tulisan sebelumnya, aku sempat menyinggung bahwa blog ini sempat mati karena aku kehilangan motivasi untuk menulis. Jika pada tulisan tesebut aku menduga bahwa penyebabnya adalah karena aku salah menentukan tujuan menulis, maka baru-baru saja aku menemukan alasan baru mengapa aku kehilangan motivasi.

Beberapa hari yang lalu, aku baru membeli sebuah buku yg berjudul “Smarter, Faster, Better”, karangan Charles Duhigg. Bab pertama dalam buku ini menyinggung soal motivasi dan berbagai kisah tentang orang-orang yg tadinya adalah orang-orang yg bersemangat namun kemudian pada suatu saat kehilangan motivasi.

Menarik bahwa ternyata motivasi ini berhubungan dengan kenikmatan pengambilan keputusan. Dikisahkan dalam buku tersebut orang-orang yang terbiasa menjalani hidup penuh aturan atau kekangan -sehingga dia tak punya ruang cukup untuk mengambil keputusan- maka lambat laun dia akan berubah menjadi orang yg tak bersemangat. Dia berubah menjadi orang yg apatis atau kehilangan antusias dalam hidupnya.

Semakin menarik lagi ketika diceritakan kisah seseorang yg apatis ternyata bisa berubah menjadi orang yg bersemangat lagi ketika dia dibiasakan mengambil keputusan sendiri.

Salah satu contohnya adalah kisah tentang sepasang suami istri bernama Robert dan Viola. Pada masa awal pernikahan mereka, Robert adalah orang yg penuh semangat. Namun pada suatu hari (catatan: dalam buku itu tidak disebutkan kenapa, sepertinya karena kecelakaan yg menganggu  bagian otaknya), Robert berubah menjadi seorang yg apatis. Dia tak lagi menjadi orang yg bersemangat. Dia yg juga tadinya banyak berbicara berubah menjadi orang yg pendiam

Viola pada awalnya sangat sedih dengan perubahan tersebut. Dan karena saking putus-asanya Viola pada perubahan Robert tersebut, dia memaksa banyak bertanya pada Robert -yg mana pertanyaan tersebut sebenarnya tidaklah penting. Contohnya adalah ketika memasak, Viola bertanya mau makan gudeg atau sandwich? saus tomat atau kecap? minum teh anget atau es cendol? dan lain sebagainya.

Ndilalahe kok ya ternyata Robert sedikit demi sedikit berubah. Dia mulai kembali bersemangat dan akhirnya kembali menjadi Robert yg dulu lagi.

Apa yg menyebabkan Robert bisa kembali bersemangat? Konon jawabannya adalah karena Robert menemukan lagi nikmatnya rasa mengambil keputusan sendiri.


Lalu apa hubungannya kisah Robert itu dengan blog ini Bang? Tentu pertanyan itu yg mak jegagik di kepala teman2 pembaca blog ini bukan?

Hubungannya adalah karena barangkali Bank Al (note: yg belum tahu siapa itu Bank Al silahkan baca tautan ini ) sudah terjebak pada Zona Nyaman. Pekerjaan begitu mudah, easy money kata orang bule, begitu banyak rutinitas sehingga tak banyak lagi mengambil keputusan yg berat-berat.

Jika benar itu penyebabnya, maka aku akan mencoba cara yg ditempuh oleh Robert, yaitu dengan makin banyak mengambil keputusan supaya aku bisa merasakan lagi nikmatnya mengambil keputusan dan bersemangat lagi seperti dulu.

Hmm… terus enaknya mengambil keputusan apa ya? Mbok ya teman2 kasih daku saran supaya tentang sesuatu yg perlu diputuskan supaya aku bisa mengambil keputusan gitu lho.

Udah deh gitu dulu. Mau mengambil keputusan dulu nih, antara mau tidur lagi atau mau baca buku satu bab lagi *smile*

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s