Separuh Aku

Ada yang bilang dua orang ini agak mirip-mirip.  Ada juga yang bilang yang sebelah kanan lebih ganteng daripada yang sebelah kiri.

Entah mana yang bener, coba teman2 lihat sendiri dan kasih review ya

 

Iklan

Menunggu Kamu

Menunggu itu memang rasanya nyebelin. Apalagi kalau yang ditunggu tidak sadar kalau sedang ditungguin.

Contohnya seperti menunggu angkot sewaktu masih muda dulu. Rasanya bisa bulukan di pinggir jalan,  tapi angkot tak kunjung datang. Ada beberapa yang lewat, namun tidak mau berhenti karena tidak mau mengangkut anak sekolah yang naik angkot cuma bayar 100 perak.

Tapi ada juga menunggu yang tidak nyebelin, salah satunya adalah lagu karya Anji yang berjudul “Menunggu Kamu” ini.

Sudah pernah dengar belum?

 

Trust Is Given

Pagi ini aku terinspirasi oleh postingan Evy Sofia tentang “Trust“.

Penulis novel cinta terkenal ini menceritakan bagaimana dia memberikan kepercayaan kepada pembeli bukunya sehingga bersedia mengirimkan bukunya walau belum dibayar sekalipun. Evy percaya bahwa bukunya akan dibayar, walau pembeli bukunya itu orang yang belum pernah dikenalnya sebelumnya.

Trust, menurut sebagian orang adalah sesuatu yang harus direbut dan diusahakan. Namun kisah yang diceritakan Evy ternyata tidak menunjukkan demikian. Lulusan Psikologi UGM yang pintar menggombal ini bisa memberikan Trust kepada orang yang belum dikenalnya sekalipun.

Kisah ini mengingatkanku pada sebuah acara talk show pada salah satu stasiun Radio yang bertema,”Trust is given, not earned.”

Dalam hidup ini, kadang kita menemui orang-orang yang penuh dengan kecurigaan, penuh dengan prasangka. Orang-orang ini berpikir bahwa dia perlu memberikan ujian ini dan itu sebelum memberi kepercayaan kepada orang lain.

Namun anehnya, sekeras apapun orang lain berusaha untuk meraih kepercayaannya, dia tak juga mau memberikan kepercayaan itu. Selalu saja ada kekurangan di matanya. Selalu ada kecurigaan, dan dia terus memberikan ujian-ujian yang tidak pernah berakhir. They simply will never give the trust, no matter hard others try to convince them.

Kasus-kasus di atas mengindikasikan bahwa Trust itu bukanlah sesuatu yang berbanding lurus dengan usaha. Sekeras apapun kita berusaha, orang yang pada pelit memberikan kepercayaan, tidak akan pernah memberikannya.

Sebaliknya, seringkali juga kita tak perlu berbuat apa-apa dan kepercayaan itu datang dengan sendirinya tanpa perlu melewati ujian apa-apa.

Kasus-kasus di atas mengindikasikan bahwa Trust itu bukanlah sesuatu yang berbanding lurus dengan usaha. Sekeras apapun kita berusaha, orang yang pelit memberikan kepercayaan, tidak akan pernah memberikannya.

Sebaliknya, seringkali juga kita tak perlu berbuat apa-apa namun kepercayaan itu datang dengan sendirinya tanpa perlu melewati ujian apa-apa.

Jadi, is trust earned or given?

Kebuntuan

Akhir-akhir ini aku iseng-iseng nonton Telenovela di Netflix, yang berjudul “Jane, the Virgin”.

Terjebak nonton Telenovela ini memang nggak banget. Ceritanya nggak selesai-selesai, dan tiap episode selalu ada bagian yang bikin penasaran sehingga susah untuk berhenti.

Anyway, walaupun menyebalkan, ada juga kok satu dua dialog atau plot yang menarik dalam Telenovela ini. Salah satunya adalah ketika Jane mengalami “writing block” (note: kalau nggak salah begitu disebutnya di sana).

Writing Block ini digambarkan sebagai sebuah situasi ketika seorang penulis kehabisan ide untuk menyelesaikan cerita yang sedang ditulisnya. Tulisan terasa garing, setiap ide yang muncul tidak menarik, namun cerita juga belum selesai.

Situasi seperti ini sebenarnya sering juga kualami sepanjang sejarahku sebagai seorang tukang ndobos di blog ini yang mana aku tak bisa menyelesaikan tulisanku dengan ending yang menarik sehingga tulisan itu jadi terasa mengambang, tidak menggigit, apalagi mempesona.

Kondisi itu yang seringkali membuatku berkali2 menghapus tulisan-tulisan yang telah susah payah dibuat karena hasilnya “enggak banget“.

Seperti tulisan ini. Yang sedang aku tulis hari ini. Sebenarnya aku juga merasa tulisan ini benar-benar “enggak banget“. Padahal tadi pagi ketika aku sedang menyetir mobil aku merasa hari ini aku bisa menulis sesuatu yang spektakuler.

Kenapa bisa begitu? Aku juga nggak tahu, lha wong Telenovela juga belom selesai dan tidak ada jawaban yang jelas soal kebuntuan menulis itu.

Tapi gimana dong? Apakah tulisan ini harus aku hapus lagi berbagai tulisan-tulisanku terdahulu?

Ya ndak. Kali ini tetap akan aku publish. Perkara jelek atau nggak itu urusan belakangan. Kalau nggak setuju, silahkan komentar ya.

FB Mabok

Hari ini FB lagi mabok. Mau komen di FB temen nggak bisa. Mau bikin status sendiri juga nggak bisa. Mau posting di group juga nggak bisa.

Kalau nekad posting, bakalan dapat pesan seperti ini,

fb-mabok

Agak nyebelin memang kalau dipikir2. FB ini kalau lagi dibutuhin aja nggak ada. Kalau lagi nggak dibutuhin aja datang mengganggu dan menggoda. Kelakuannya emang jinak burung dara.  Aku cari kau lari, ku diam kau hampiri.

Ah ya sudahlah, lihat sisi positifnya saja. Karena nggak bisa FB-an, maka ada banyak waktu yang tersisa untuk melakukan hal positif yang lain.

Hal positif apa ya? Mungkin tidur di meja kerja? Eh, tidur itu hal positif khan ya, ya, ya ya?

Hal positif lain adalah bahwa tidak semua yang mabok itu merugikan. Ternyata maboknya FB bisa ada manfaatnya juga.

Bikin Film

Konon kabarnya Mac itu dulunya adalah komputer yang disukai oleh banyak desainer-desainer grafis atau pembuat animasi.  Alasan persisnya aku nggak tahu sih. Kalau nggak salah karena ada banyak tool yang canggih dan sangat berguna untuk membuat animasi-animasi atau pengolahan-pengolahan gambar.

Sekarang Mac bukan hanya dimiliki oleh para desainer saja, tapi juga sudah banyak dipakai oleh para cupu beginner seperti aku ini juga. Ternyata memang enak, lebih enak daripada Windows.

Walaupun demikian, aku masih juga belum bisa membuat film yang layak tayang di Bioskop ataupun Televisi.  Namun kalau buat dilihat-lihat sendiri keren juga lah.

Coba lihat deh ini hasil karya pertamaku. Bagus nggak? Awas lho  ya kalau bilang nggak bagus, aku sumpahin jadi orang kaya lho ntar.