Blogging di FB

Setelah memantau statistik Blog di WordPress ini selama beberapa tahun, akhirnya aku menyadari bahwa sulit dan butuh usaha yang sangat keras bagiku untuk mengembalikan lagi pembaca blog ini seperti bagaimana adanya pengunjung belasan tahun yang lalu.

Menulis, memang bisa saja hanya sekedar untuk katarsis. Jika itu tujuannya, tak perlu peduli ada yang membaca atau tidak. Tulis saja banyak-banyak dan hati bisa menjadi plong.

Tapi menulis bisa juga ditujukan untuk berbagi. Jika tujuannya demikian, maka tentu kita perlu pantau juga apakah ada yang membutuhkan apa yang kita bagikan atau tidak. Karena jika tak ada yang membutuhkan, mendingan kita berbagi yang lain-lain saja, seperti berbagi kasih sayang misalnya. Ya khan?

Nah, sehubungan dengan itu, maka sejak beberapa bulan yang lalu, aku mencoba memindahkan kegiatan blogging di page Facebook.  Ternyata hasilnya lumayan bagus. Walaupun memang pengunjung tak sebanyak yang aku pikirkan, tapi masih jauh lebih lumayan dibandingkan dengan wordpress.

Kekurangan blogging di FB adalah bahwa page-nya tidak searchable. Berbeda dengan wordpress ini yg searchable dan bisa ditemukan dari search-engine.

Namun apalah artinya searchable jika tidak ada yg mampir khan? Butuh teknik CEO segala supaya banyak pengunjung. Dan aku merasa sudah terlalu tua untuk itu.

Btw, kalau misalnya ada yg nggak sengaja baca blog ini dan kepingin mampir, silahkan mampir di page Fb-ku yg ada di sini ya?

https://www.facebook.com/bank.al.dxb/

Iklan

Yang Kedua itu

Di hari pengumuman hasil ujian PTN pada tahun kedua, teman-teman sudah bangun pagi mencari koran yang ada pengumumannya. Bahkan ada yang rela datang ke Senayan demi mendapatkan lembar pengumuman itu.

Aku hari itu tidak sibuk mencari pengumuman. Selain karena aku sudah yakin lulus ujian masuk PTN, hari itu adalah ujian kursus bahasa Inggris di LIA (Lembaga Indonesia Amerika).

Setelah selesai ujian, aku pergi hangout bersama teman2 kursus. Di bis kota kebetulan bertemu orang yang sedang membaca koran. Lalu aku pinjam korannya sebentar dan melihat namaku ada di sana. Aku lihat nomer kode universitasnya, dan karena nomor itu bukan kode ITB (aku waktu itu hafal nomor kode ITB) maka aku melanjutkan saja dolan-dolan bersama teman2 karena aku tidak excited sama sekali saat itu.

Sesampai di rumah, aku ditanyai Om -yang kebetulan tinggal di rumahku- apakah aku lulus UMPTN atau tidak.
Aku menjawab dengan tenang,”Lulus, Om.”
Terus si Om bertanya lagi,”Di mana Fred?”
“UGM, Om”, lanjutku

Si Om mengira aku stress berat. Dia nggak percaya aku lulus di UGM. Lha banyak orang pintar saja tidak lulus UGM kok. Ini anak badung, preman pula, masak iya masuk UGM.

Malam itu aku lanjutkan ngumpul2 dengan pemuda2 kampung, sambil bernyanyi2 dan gitaran di bawah pohon seperti orang patah hati.
Lalu ada teman bertanya,”Kok elo nggak seneng sih Fred lulus UMPTN?”
“Ah biasa aja, cuma UGM kok.”, jawabku

*****

Pada tahun pertama kuliah di UGM, aku sempat berencana untuk mencoba ikut ujian PTN lagi tahun depannya agar bisa masuk ITB. Apalagi aku dipanasi teman-temanku yang kuliah di ITB. Kata temanku,”Fred, di Bandung ini cewek cantik di mana-mana. Elo pergi ke pasar sayur aja ketemu cewek cantik.”
Sementara di UGM kok kayaknya ketemu yang bening itu jarang-jarang banget.

Namun tak lama kuliah di UGM, aku menemukan liga-ku. Walaupun aku pontang-panting di dunia akademis sehingga nilai yang keluar terdistribusi di nilai D dan C, aku ternyata memiliki kelebihan yang tidak dimiliki para juara yang kuliah di TE UGM waktu itu.

Kelebihanku adalah aku sudah pintar programming -bahkan sudah bisa membuat virus komputer-, sementara sebagian besar teman2 baru melihat komputer pertama kali setelah kuliah. Maka aku melaju kencang. Semester 2 saja aku sudah ikut proyek dosen, yang mana 3 angkatan di atasku saja tak ada yang berani melamar. Teman satu team-ku -namanya Bang Irwan- adalah 4 angkatan di atasku.

Di UGM juga, aku bisa menjadi ketua KMTE (Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro), padahal pengalaman organisasi waktu SMA tidak ada, dan satu2nya pengalaman organisasi cuma sebagai ketua remaja Masjid dan preman kampung.

Semasa kuliah, terutama ketika aktif di KMTE, aku sempat beberapa kali bertemu dengan teman2 TE ITB dalam seminar2 nasional dan berbagai acara lainnya. Dan disinilah aku menguji kesaktian dan menyadari bahwa TE UGM ternyata tidak ketinggalan. Level-nya TE ITB rata-rata air sajalah dengan TE UGM.

Masih belum ditambah kebaikan para dosen dan laboran2 di TE sehingga aku sempat menjadi jin penunggu beberapa lab di Teknik Elektro semasa kuliah sehingga pengalaman dan keterampilan teknisku makin terasah.

Akhirnya, aku tak lagi minder kuliah di UGM. Aku justru malah bersyukur karena kegagalanku diterima di ITB ternyata bisa membawaku pada nasib baik.

*****

Aku ini pada dasarnya sombong, arogan, belagu dan kemlinthi. Jika aku kuliah di ITB dulu, aku mungkin sekarang akan tambah arogan seperti bagaimana anak ITB pada umumnya.
Lingkungan UGM yang sepoi-sepoi, telah membuatku menjadi lebih jinak dan berkurang arogannya.

Selain itu, aku juga bisa mengenal teman-teman dari Ekonomi, Psikologi, Kedokteran, Sospol dan berbagai fakultas selain teknik karena aku kuliah di UGM. Sesuatu yang peluangnya sangat kecil jika aku dulu kuliah di ITB, mengingat aku orangnya pendiam dan pemalu sehingga tak akan mungkin berani menjajah sampai ke Unpad.

Dan lebih dari semua itu, aku bisa masuk FB group kurang kerjaan kayak group Kagama ini karena aku kuliah di UGM. Konon kabarnya group-group alumni lain (termasuk ITB), isi diskusinya berat-berat dan serius terus. Tidak ada group remeh-temeh dan kurang kerjaan kayak group-group yang lahir dari UGM.

UGM telah membuatku lebih menjadi manusia.
Jika saja aku kuliah di ITB, barangkali aku sekarang telah menjadi RoboCop atau Terminator.
Untunglah aku kuliah di UGM, sehingga aku sekarang menjadi Jason Bourne.

What else?
Love UGM, Jogja, and You !

Dubai, 24 Oct 2017,

-bank al-

Lingkaran Pengaruh

7 Habits of Highly Effective People” karya Stephen R. Covey adalah salah satu buku menarik yang menginspirasiku sewaktu muda dulu.  Dalam buku itu dikisahkan kebiasaan-kebiasan apa saja yang dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya efektif.

Salah satu yang ingin  aku ceritakan di sini adalah soal lingkaran pengaruh (circle of influence).  Orang-orang yang hidupnya efektif, lebih banyak menghabiskan energinya pada circle of influence daripada circle of concern (Covey, 1989). Sementara mayoritas orang menghabiskan waktunya untuk mengkhawatirkan hal-hal yang tidak bisa mereka ubah.

Inspirasi dari Covey ini yang aku terapkan belasan tahun yang lalu ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan bekerja di luar Indonesia. Ada beberapa masalah yang aku hadapi ketika itu yang salah satunya adalah masalah kemacetan dan pendidikan anak.

Saat itu aku begitu kesal karena macetnya Jakarta telah membuatku menghabiskan banyak waktu di jalan raya dengan sia-sia.  Berbagai strategi telah aku coba untuk menghilangkan kesia-siaan ini, tapi tak ada yang berhasil. Sebagian teman menyarankan untuk menggunakan Busway, yang ternyata juga tidak membuat situasi membaik (Alinazar, 2008).

Selain itu, pada tahun 2007,  anak pertamaku lahir. Dan aku juga mulai concern pada pendidikan anak. Aku merasa tidak cocok dengan sistem pendidikan di Indonesia yang menurutku terlalu banyak membuang waktu anak untuk menghafal terlalu keras dan tidak fokus pada pemahaman. Mata pelajaran juga terlalu banyak dan membuat anak2 kehilangan masa kecilnya.

Dua itu saja? Tentu saja tidak. Masih ada lagi keluhan lain yang mana aku merasa bahwa orang Indonesia lebih menghargai bule daripada orang Indonesia sendiri.

Menyelesaikan kemacetan Jakarta, mengubah sistem pendidikan, dan mengubah perilaku masyarakat bukanlah hal yang berada pada lingkaran pengaruhku. Aku hanya seorang rakyat jelata yang tak punya kuasa.  Modalku cuma ketampanan, namun ketampananku tak ada artinya.

Maka aku kemudian memutuskan untuk pindah ke luar negeri, yang akhirnya berhasil aku raih pada tahun 2008, yang kemudian aku abadikan sebagai episode expat (alinazar, 2008)

Sekarang? Aku tak lagi mengalami kemacetan dalam perjalanan ke kantor, tak lagi mengkhawatirkan pendidikan anak (kecuali mikir biaya sekolahnya), dan orang-orang juga menghargaiku setara atau kadang bahkan lebih daripada bule.

Tiga hal di atas terselesaikan karena aku lebih fokus pada circle of influence, yaitu apa-apa yang bisa aku ubah daripada meratapi apa-apa yang tidak bisa aku ubah.

What about you, guys? Where do you spent most of your energy for?

Referensi

(1) Covey, S. (1989). The seven habits of highly effective people. New York: Simon and Schuster.

(2) Alinazar, A. (2008). Selamat tinggal Bus Way. [online] Alfred Alinazar. Available at: https://aalinazar.wordpress.com/2008/02/02/selamat-tinggal-bus-way/ [Accessed 26 Jul. 2019].

(3) Alinazar, A. (2019). Episode Expat. [online] Alfred Alinazar. Available at: https://aalinazar.wordpress.com/2008/06/01/episode-expat/ [Accessed 26 Jul. 2019].

Social CRM dan Garuda

CRM yang merupakan singkatan dari Customer Relationship Management, adalah strategi yang digunakan oleh sebuah perusahaan untuk berinteraksi dengan pelanggan atau bahkan calon pelanggan.

Di masa lalu interaksi ini berupa interaksi one-to-one dan bersifat individu, seperti misalnya pelanggan mengirimkan masukan, keluhan atau pertanyaan ke nomer telpon customer yang disediakan, email, surat, atau mengirimkan pesan melalui burung merpati. Cara lama ini dikenal juga dengan sebutan “Traditional CRM“.

Seiring dengan perkembangan teknologi, bentuk komunikasi ini berubah. Jika dulu pelanggan langsung berbicara dengan customer service melalui berbagai media yang telah disebutkan di atas, maka di zaman sekarang ini interaksi dilakukan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lain sebagainya.

Pelanggan tak lagi bicara langsung dengan Customer Service, melainkan membicarakan hal-hal penting atau tak penting melalui akun media sosial kepada teman-temannya atau khalayak ramai.

Perusahaan-perusahaan yang melek teknologi, akan menanggapi perubahan ini dengan mengubah strategi CRM-nya dari Traditional CRM menjadi Social CRM. Interaksi dengan pelanggan atau calon pelanggan tak lagi dilakukan hanya one-to-one saja tapi juga berupa tanggapan-tanggapan melalui akun-akun media sosial perusahaan.

Kasus yang sedang hot akhir-akhir ini adalah kisah dua orang Youtuber, Rius Vernandes dan Elwiyana Monica, yang mengunggah foto yang diklaim sebagai menu makanan di pesawat Garuda (Kompas.com, 2019).

Ternyata peristiwa tersebut ditanggapi Garuda dengan memperkarakan dua Youtuber tersebut atas pelanggaran UU Informasi Transaksi Elektronik, atau yang dikenal dengan UU ITE  (Tribunnews.com, 2019).

Tidak hanya itu saja, Garuda melakukan langkah yang lebih mengejutkan lagi, dengan melakukan pelarangan untuk foto selfie di Pesawat (Cnbcindonesia.com, 2019)

Apa yang dilakukan Garuda ini adalah salah satu contoh Social CRM yang sangat buruk. Entah karena Garuda tidak paham Social CRM, atau sebab lain yang saya tidak tahu, Garuda memilih untuk memusuhi pelanggannya daripada menggunakan kesempatan ini untuk mempromosikan layanan-layanannya.

Saya jadi teringat salah satu pengalaman kami naik Emirates. Tiba-tiba ada pramugari yang datang menawarkan anak saya untuk berpose sebagai Pramugari Emirates. Dengan sebuah kamera polaroid, mereka mengambil foto anak kami dengan topi pramugari pinjaman sambil tentu saja juga mengizinkan saya mengambil fotonya dengan kamera ponsel.

Sementara Garuda? Kok malah melarang selfie di Pesawat. Apa yang ingin anda raih dengan pelarangan ini, wahai Garuda?

Referensi:

(1) Cnbcindonesia.com. (2019). Garuda Larang Foto Selfie di Pesawat? Ini Penjelasannya. [online] news. Available at: https://www.cnbcindonesia.com/news/20190716115331-4-85257/garuda-larang-foto-selfie-di-pesawat-ini-penjelasannya [Accessed 16 Jul. 2019].

(2) Kompas.com. (2019). [KLARIFIKASI] Daftar Menu di Kelas Bisnis Garuda Pakai Tulisan Tangan. [online] KOMPAS.com. Available at: https://travel.kompas.com/read/2019/07/15/203000527/-klarifikasi-daftar-menu-di-kelas-bisnis-garuda-pakai-tulisan-tangan [Accessed 16 Jul. 2019].

(3) Tribunnews.com. (2019). Kapolresta Bandara Sebut Garuda Indonesia Jerat Youtuber dengan UU ITE – Tribunnews.com. [online] Available at: https://www.tribunnews.com/bisnis/2019/07/16/kapolresta-bandara-sebut-garuda-indonesia-jerat-youtuber-dengan-uu-ite [Accessed 16 Jul. 2019].

 

 

Perfect

Awal bekerja di perusahaan yang sekarang, aku menjadi seorang Quality Engineer, yang memang aku niatkan hanya sekedar menjadi batu loncatan saja sebelum aku menemukan posisi yang cocok di perusahaan ini.

Tujuanku pindah ke perusahaan ini adalah untuk menjadi seorang Data Scientist, namun aku belum mempunyai pengalaman bekerja di bidang ini sebelumnya.

Setelah dua tahun bekerja sebagai seorang Quality Engineer, aku akhirnya berhasil meyakinkan Pimpinan Group Data Scientist yang akhirnya menerimaku bergabung dengan team-nya.

Sekarang? Setiap hari rasanya Perfect, seperti lagu kesayanganku yang dinyanyikan oleH Om Ed Sheeran ini.