FB Mabok

Hari ini FB lagi mabok. Mau komen di FB temen nggak bisa. Mau bikin status sendiri juga nggak bisa. Mau posting di group juga nggak bisa.

Kalau nekad posting, bakalan dapat pesan seperti ini,

fb-mabok

Agak nyebelin memang kalau dipikir2. FB ini kalau lagi dibutuhin aja nggak ada. Kalau lagi nggak dibutuhin aja datang mengganggu dan menggoda. Kelakuannya emang jinak burung dara.  Aku cari kau lari, ku diam kau hampiri.

Ah ya sudahlah, lihat sisi positifnya saja. Karena nggak bisa FB-an, maka ada banyak waktu yang tersisa untuk melakukan hal positif yang lain.

Hal positif apa ya? Mungkin tidur di meja kerja? Eh, tidur itu hal positif khan ya, ya, ya ya?

Hal positif lain adalah bahwa tidak semua yang mabok itu merugikan. Ternyata maboknya FB bisa ada manfaatnya juga.

Iklan

Bikin Film

Konon kabarnya Mac itu dulunya adalah komputer yang disukai oleh banyak desainer-desainer grafis atau pembuat animasi.  Alasan persisnya aku nggak tahu sih. Kalau nggak salah karena ada banyak tool yang canggih dan sangat berguna untuk membuat animasi-animasi atau pengolahan-pengolahan gambar.

Sekarang Mac bukan hanya dimiliki oleh para desainer saja, tapi juga sudah banyak dipakai oleh para cupu beginner seperti aku ini juga. Ternyata memang enak, lebih enak daripada Windows.

Walaupun demikian, aku masih juga belum bisa membuat film yang layak tayang di Bioskop ataupun Televisi.  Namun kalau buat dilihat-lihat sendiri keren juga lah.

Coba lihat deh ini hasil karya pertamaku. Bagus nggak? Awas lho  ya kalau bilang nggak bagus, aku sumpahin jadi orang kaya lho ntar.

A Tribute to Mas Rovicky

Mas Rovicky Dwi Putrohari adalah seorang sahabat yang aku kenal di milis UGM-Club dan berlanjut ke Kampung-UGM hampir dua puluh tahun yang lalu.
Saat itu beliau masih menjabat sebagai seorang manajer di salah satu perusahaan minyak di Indonesia.
Selain itu, beliau juga aktif di IAGI, kalau nggak salah pernah jadi ketuanya juga.
 
Mas Vick, demikian aku kadang memanggilnya, adalah seorang yang pintar namun rendah hati.
Prestasi dan kecerdasannya tak membuat Mas Vick sombong dan tetap mau belajar dari siapa saja.
“Kita bisa belajar dari siapa saja, termasuk dari yang lebih muda”, ujar Mas Rovicky pada saat itu yang sempat aku tuliskan juga di beberapa postingan di blog-ku (Alinazar, 2006)
 
Keberanian Mas Rovicky untuk mengambil peluang juga salah satu hal yang menginspirasi.
Ketika orang-orang bertahan mati-matian untuk mendapatkan status karyawan permanen, Mas Rovicky malah melepaskan pekerjaan dengan status permanen untuk melanjutkan perjalanan barunya menjadi seorang konsultan di luar negeri (Malaysia dan Brunei). Kepercayan-diri yang dimiliki Mas Rovicky ini juga kelak yang membuatku lebih berani mengambil resiko yang pada akhirnya mengantarkanku pada perjalanan hidupku selanjutnya. (Alinazar, 2006)
 
Dalam berbagai situasi, Mas Rovicky selalu menjaga pikiran positif. Beliau pernah menyarankan agar tidak membaca berita di pagi hari.
Mengapa? Karena berita itu biasanya berisi konten negatif yang bisa merusak mood dan produktifitas kita sepanjang hari.
Jika nasehat ini diadaptasi untuk situasi sekarang, maka kita sebaiknya tidak membuka facebook di pagi hari, apalagi saat-saat menjelang pemilu seperti sekarang ini. (Alinazar, 2006)
 
Tahun 2004, aku sempat mampir ke apartemen Mas Rovicky di Kuala Lumpur.
Tidak hanya itu saja, bahkan beberapa minggu kemudian aku mampir lagi bersama Dinda saat kami masih jadi pengantin baru.
Kami diajak jalan-jalan dan ditraktir oleh Mas Rovicky sampai ke Genting Island segala.
 
Kenanganku bersama Mas Rovicky tak terhitung banyaknya.
Beliau adalah kakak, sahabat dan mentor yang menginspirasi bagiku.
 
Saat Mas Nukman meninggal bulan Januari lalu, aku sebenarnya sudah berniat dalam hati untuk bertemu dengan Mas Rovicky saat liburan nanti.
Sayang takdir berkata lain, pagi ini Mas Rovicky telah pergi meninggalkan kita.
 
Selamat jalan Mas Rovicky, Sang Pak Dhe Dongeng Geologi. Semoga Husnul Khatimah.
 
Dubai, 4 Mar 2019,
 
-bank al-
 
Rujukan:
 
(1) Alinazar, Alfred. 2007. “Goal Setting yang Efektif”. Available [online] at https://aalinazar.wordpress.com/2007/10/15/goal-setting-yang-efektif/
(2) Alinazar, Alfred. 2007. “Sang Mentor”. Available [online] at https://aalinazar.wordpress.com/2008/07/13/sang-mentor/
(3) Alinazar, Alfred. 2006. “Permanen atau Kontrak”. Available [online] at https://aalinazar.wordpress.com/2006/07/18/permanen-atau-kontrak/
(4) Alinazar, Alfred. 2006. “Nikmatnya berita negatif”. Available [online] at https://aalinazar.wordpress.com/2006/08/11/nikmatnya-berita-berita-negatif/

Always Enough

Jaman aku masih muda dulu, kadangkala aku bercerita bahwa hidupku semasa masih sekolah dulu miskin karena aku tidak punya motor, makan tahu dan tempe hampir setiap hari, uang saku saat kuliah cuma 75 ribu rupiah, dan lain sebagainya.

Suatu saat, aku terkejut ketika menyadari bahwa Ibuku rupanya tak begitu senang mendengarnya. Ibu merasa seakan-akan aku tidak bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh orang tua semasa aku masih dibiayai oleh mereka dulu.

Aku lalu mencoba mengingat balik atas apa yang aku rasakan semasa aku masih sekolah dulu. Apakah aku memang merasa miskin? Atau aku hanya menjadi terlihat miskin ketika aku membandingkan dengan kehidupanku sekarang?

Ternyata benar, bahwa bagaimanapun hidupku di masa lalu, aku tidak pernah merasa miskin. Aku selalu merasa hidup cukup dan tidak kekurangan walau kondisi ekonomi  penuh dinamika.

Semasa aku balita hingga SD, keadaan ekonomi orang-tuaku di atas rata-rata orang kebanyakan. Ayahku saat itu bekerja di perusahaan asing yang bergerak di bidang perminyakan. Aku sempat merasakan makan bistik tiap hari, jalan2 tiap minggu dan punya mainan2 bagus. Teman-teman dan saudara-saudara juga banyak yang datang berkunjung ke rumah dan bersikap ramah. Tidak sedikit pula dari mereka yang datang meminjam uang dan tidak pernah dikembalikan.

Pada saat-saat akhir masa SD-ku, Ayahku memutuskan untuk berhenti bekerja. Hidup kami jadi agak berbeda. Aku tidak lagi makan bistik, tapi tiap hari makan sayur tahu. Orang-orang juga makin jarang berkunjung ke rumah dan bahkan sebagian dari mereka tak ramah lagi jika aku berkunjung ke rumahnya.

Anehnya, dinamika tersebut tak pernah membuatku merasa miskin ataupun kekurangan. Walau ada perubahan menu makanan, tapi aku tak pernah kelaparan. Meskipun aku tak punya motor atau kendaraan, namun aku tak pernah bosan menggunakan kaki untuk berjalan.  Aku selalu bisa menikmati hidupku dan apa yang aku dapatkan.

Banyak anak orang yang dulunya kaya yang tidak bisa menyesuaikan diri ketika ekonomi keluarga mengalami dinamika. Sebagian memaksa gaya hidup lama sehingga mereka berhutang kesana-kemari karena pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Sebagian tak sanggup menghadapi kenyataan dan menangisi hidupnya sepanjang jaman.

Ayah-Ibuku telah mengajarkanku sebuah ilmu yang sangat berharga yaitu bagaimana untuk selalu hidup berkecukupan, sehingga:

(1) Aku tidak punya keinginan untuk memiliki sesuatu di luar batas kemampuanku. Misalnya, jika aku cuma mampu membeli sayur tahu di warung Tegal, maka aku tak pernah berpikir untuk makan di Burj Al Arab.

(2) Aku tak membanding2kan hidupku dengan orang lain. Bagaimanapun indahnya kehidupan orang lain, tidak pernah sedikitpun membuatku iri untuk mendapatkan hidup yang sama dengan mereka

(3) Aku tak ambil pusing omongan orang lain. Kalaupun ada orang lain yang mencemooh kehidupanku, maka akan berkata, “Anjing menggonggong, Pria Tampan berlalu.”

Hidup ini cuma sekali dan sekarang.  Kita tidak hidup di masa lalu atau di masa depan. Maka nikmatilah apa yang ada sekarang, karena saat terbaik untuk menikmati hidup itu adalah sekarang.

Dubai, 2 Mar 2019,

 

-bank al-

Small But Complete

“‘Sparrow although small, five organs entirely complete”, adalah wisdom dari Cina yang disampaikan oleh temanku pagi ini.

Membangun sesuatu yang besar kadang membutuhkan perjalanan yang panjang.  Dan dalam prosesnya, kadangkala kita terlalu fokus pada satu bagian sehingga tidak sadar bahwa walaupun bagian yang kita kerjakan itu sangat bagus tapi tak akan bisa digunakan jika fungsi-fungsi yang lain tidak bekerja.

Contoh jika kita ingin membuat sebuah rumah, maka lebih baik rumah yang kecil saja namun mempunyai pintu, jendela, atap, lantai, dinding, kamar tidur, kamar mandi dan segala fungsi utama yang membuat rumah itu bisa digunakan.

Jika kita hanya fokus membangun kamar mandi, walaupun kamar mandi itu memiliki bath-tub, pancuran air hangat, lampu2 yang romantis serta berbagai dekorasi yang indah, namun rumah tersebut tidak akan bisa dijadikan tempat tinggal jika tidak ada kamar tidurnya.

Start small, but complete. A big part is useless when the other important parts are not functional.

 

Obat Untuk Ibunya

Malam itu aku harus mengembalikan mobil ke tempat penyewaan. Supaya kaki tidak gempor jika harus pulang jalan kaki dari tempat penyewaan yang berjarak beberapa puluh kilometer dari rumah itu, aku minta ditemani Dinda yang nyetir dengan mobil satunya.

Dinda menunggu di mobil, sementara aku masuk ke counter menyelesaikan segala urusan sewa-menyewa yang hanya butuh waktu beberapa menit saja.

Saat urusan selesai dan aku kembali ke mobil,  aku ketika melihat ada orang di sebelah mobil dan Dinda lalu berkata,”Kanda, itu orang di sebelah ibunya sakit diabetes dan nggak punya uang untuk beli obat.”

Aku yang pada dasarnya emang pelit dan trauma sama tukang tipu segera mendekati orang itu dan siap untuk berkata tidak. Namun Dinda kemudian menyambung,”Dia nggak minta duit Kanda, dia cuma minta dibeliin obat.”

“Emang ada apotik di dekat sini?”, balasku

“Ada Kanda, di situ”, jawab Dinda sambil menunjuk apotik persis di sebelah mobil

“OK, come with me.”,  kataku pada orang di sebelah mobil itu sambil mengajaknya berjalan ke Apotik

Sampai di Apotik dia menyebutkan beberapa jenis obat yang ternyata total harganya cukup besar. Aku awalnya sempat terkejut saat akan membayar obat itu. Tapi mengingat di suatu tempat sana ada orang sakit yang membutuhkannya maka aku bayar saja biayanya.

Setelah mengucapkan terima kasih dan mendoakan agar aku masuk surga, orang itu segera berlalu. Aku cuma nyengir saja sambil terus berpikir apakah ini benar2 terjadi atau tidak.

Masih ada keheranan di kepalaku kenapa orang bisa sakit dan tidak punya uang untuk membeli obat. Bukankah harusnya semua pendatang di negara ini punya asuransi? Maka ketika tiba di rumah, aku langsung menjelajah Internet untuk memastikan obat apa yang tadi aku beli.  Jangan-jangan aku tertipu lagi. Jangan2 orang ini beli obat bius untuk mabok2an atau dimanfaatkan seperti narkoba?

Namun pikiran jelekku itu tidak benar. Obat yang dia beli memang obat diabetes dan obat untuk penyakit hipertensi. Hatiku jadi lega, semoga obat itu memang bermanfaat bagi ibunya.

Moral of the story adalah bahwa rejeki memang bisa datang dari pintu yang tidak disangka-sangka. Kadang kita perlu melakukan hal-hal yang tidak biasa untuk mendapatkan hasil yang juga tidak biasa.

Jika saja dia meminta uang, mungkin sepersepuluhnya saja juga tidak akan aku berikan pada orang yang tidak dikenal seperti itu.  Namun karena yang diminta adalah obat untuk ibunya, maka aku masih mau membayarkan biayanya.

Pelajaran buat diriku sendiri, bahwa dalam hidup seringkali aku malu untuk bertanya atau meminta.  Padahal dalam hidup seringkali aku membutuhkan bantuan orang lain. Bukan hanya dalam masalah uang saja, tapi bisa juga dalam masalah bantuan kesempatan, saran atau tenaga.

Kadang aku terlalu takut meminta karena aku takut tidak bisa membalas budi padanya. Padahal belum tentu juga orang membantu itu karena mengharapkan balas budi atas jasanya.

 

Dubai, 18 Feb 2019,

 

-bank al-

 

 

 

 

The Carpooling

Are you not anymore carpooling to Dubai?”, sapa kolegaku saat berjumpa di elevator.

Not anymore, I wanted my freedom“, sambutku sambil tersenyum

Aren’t you tired driving long distance?“, timpalnya lagi

Not really, I’m enjoying my driving time“, sahutku

Tahun kemarin, aku memang sempat carpooling dengan beberapa kolega. Kami bertemu di sebuah tempat yang disepakati pada jam yang disepakati, lalu berangkat ke kantor bersama dan pulang bersama dengan satu mobil saja.

Carpooling sempat berjalan beberapa bulan namun akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dari Carpooling karena sebuah masalah yang mungkin sepele bagi teman carpoolku tapi bukan hal sepele buatku.

Perkara sepele itu adalah temanku datang terlambat di tempat yang disepakati. Hal ini bukan pertama kali dia terlambat namun sudah sangat sering. Bahkan pernah juga suatu saat dia terlambat sampai 1 jam sehingga aku hampir saja laku ditawar di tempat parkiran.

Kali ini dia juga terlambat cukup lama, lebih dari 30 menit.  Dia beralasan bahwa dia terlambat karena jalan yang dia lewati itu macet.  Aku tidak bisa menerima alasan itu karena kami semua sudah tahu jalan tersebut macet karena sedang ada perbaikan jalan, sementara ada jalan lain yang sangat lancar yang bisa dia pilih. Dia tetap ngotot memberi jawaban seakan dia tak merasa bersalah dan bahkan menantang aku mau berbuat apa.

Tentu saja tantangan itu aku sambut dengan cepat bahwa aku ingin berhenti Carpooling.

Kolegaku itu rupanya lupa bahwa aku pada awalnya tidak tertarik untuk Carpooling. Dia membujuk-bujuk aku untuk Carpooling agar dia bisa menghemat biaya transportasi. Aku pada awalnya tidak mau karena aku merasa biaya yang dihemat tak signifikan, plus aku juga senang menyetir sehingga tak begitu mendapatkan manfaat ketika aku disupiri oleh orang lain.

Jawabanku sempat membuat dia terkejut. Namun aku sudah bulat menentukan pilihan. Aku lebih menikmati pergi mengendarai mobil sendirian. Aku bisa menyetir sambil bernyanyi dan aku tak perlu harus menunggu orang lain untuk berangkat dan pulang.

Carpooling mungkin bagus buat orang-orang yang mempunyai kecocokan sehingga bisa merasakan nikmatnya perjalanan bersama-sama. Namun bersama-sama dengan orang yang tidak cocok, akan menimbulkan lebih banyak siksaan daripada kenikmatan. Dalam kasusku ini adalah perbedaan dalam menghargai waktu.

Seperti juga orang berumah-tangga atau pacaran. Jika memang ada begitu banyak ketidakcocokan yang selalu menimbulkan pertentangan yang tidak berkesudahan, mengapa juga harus dipertahankan?  Bukankah lebih berpisah dan menemukan teman lain yang lebih sepaham?

Lho kok jadi ngomongin rumah tangga ya. Ini khan lagi ngomong soal Carpooling?