Kebangkitan Ottoman

Gara-gara kemunculan Keraton Agung Sejagad, Sunda Empire dan beberapa kerajaan-kerajaan baru di Indonesia, aku jadi tertarik untuk menonton film serial dokumenter di Netflix yang berjudul “The Rise of Empires: Ottoman”. Siapa tahu dengan nonton serial tersebut aku bisa menemukan jejak-jejak Sunda Empire disebut-sebut di situ. Ye kan?

Masa sekolah dulu, aku paling benci pelajaran sejarah. Hampir setiap ulangan aku kumpulkan saja kertas ulangan yang kosong dan cuma diisi nama dan kelas saja. Pelajarannya sangat membosankan. Penuh dengan hapalan-hapalan yang membuat otakku hang. Ya sudah, aku terima nasib saja jika diberi nilai nol.

Saking tak sukanya pada pelajaran sejarah, aku bahkan tidak tahu kalau Turki pernah berjaya dan menaklukkan Konstantinopel pada abad ke 15. Tadinya aku pikir kejayaan Turki itu tahun 700-an. Payah khan?

Season 1 dari serial ini terdiri dari enam episode. Masing-masing episode sekitar setengah jam sehingga serial ini sulit dihabiskan dalam satu hari bagiku. Anehnya, aku berhasil menamatkan season 1 ini.

Kok bisa Bang? Bukankah Bang Al benci pelajaran sejarah?

Baru kini kusadari (duh, kok kayak syair lagu), bahwa ternyata dulu aku tak menyukai pelajaran sejarah karena kemasannya tidak menarik. Para guru tidak mampu mendongengkan kisah-kisah sejarah itu dengan baik. Murid hanya diminta menghafalkan ini dan itu saja. Ulangan juga berisi pertanyaan-pertanyaan garing.

Nah, film dokumenter ini menyajikan pelajaran sejarah dengan cara yang berbeda. Selain dikemas dalam bentuk film, komentar-komentar pada akademisi atau ilmuwan-ilmuwan dalam selingan film tersebut juga menarik.

Film tersebut menjelaskan bagaimana karakter-karakter pelakunya. Dibahas di sana bagaimana Sultan Mehmed II -alias Mehmed The Conqueror alias Sultan Fatih- yang memiliki keyakinan kuat. Ketika Ayahnya menceritakan bahwa sudah berapa kali Constantinople diserang dan semua gagal, Sultan Mehmed berkata dengan yakin bahwa dialah yang akan menaklukan Constantinople suatu saat nanti. Saat itu usianya baru 12 tahun.

Sultan Mehmed II dibesarkan oleh ibu tiri -istri ke-3 ayahnya-, yang bernama Mara Branković.  Tidak seperti kisah cinderella, Ibu tiri ini begitu sayang pada Sultan Mehmed. Dan sebaliknya, Mehmed juga sayang dan sangat percaya pada Ibu tirinya ini. Padahal Ibu tirinya ini adalah orang Serbia dan berbeda agama pula. Ternyata ada juga Ibu tiri yang baik hati,  padahal katanya Ibu tiri itu lebih kejam daripada Ibukota.

Mother Mara adalah orang yang meyakinkan Mehmed untuk terus maju menyerang di saat-saat pasukan Mehmed sudah sangat kepayahan dan hampir putus asa karena berbagai kegagalan penyerangan sebelumnya. Mara meyakinkan Mehmed bahwa it was the time to conquer. 

Bukan hanya tentang Mehmed, film itu membahas bagaimana karakter Kaisar Constantine XI, yang memutuskan untuk bertarung sampai mati walaupun penasehatnya memberi rekomendasi agar dia melarikan diri saja daripada bertahan dan mati terbunuh. Constantine gugur dalam pertempuran itu bersama dengan jatuhnya Constantinople.

Diceritakan juga sosok Giovanni Giustiniani, yang menjadi andalan Kaisar Constantine untuk bertahan. Pada awalnya Giustiniani gagah berani mematahkan setiap serangan pasukan Ottoman.  Namun di saat-saat terakhir, dia tertusuk panah dan memutuskan untuk kabur dari medan pertempuran. Kaburnya Giustiniani ini menjatuhkan mental pasukan Romawi sehingga akhirnya kekaisaran Byzantine ini berhasil ditaklukan. Apesnya, dia juga tak sanggup bertahan lama atas lukanya yang parah itu. Dia meninggal beberapa hari setelah Byzantine ditaklukan. Cara mati yang tidak gagah.

Konglomerat yang pura-pura cinta damai namun sebenarnya demi kepentingan kekayaan pribadi mereka juga ada. Loukas Notaras, perdana menteri Byzantine dan  Halil Pasha, grand vizier di pihak Ottoman. Dua-duanya selalu memberi nasehat pada kedua raja mereka masing-masing agar tak berperang.  Tampak seperti orang baik, namun sebenarnya untuk kepentingan pribadi mereka.

Ketika Constantinople jatuh, Loukas Notaras mendatangi Mehmed the conqueror dan menawarkan diri untuk bergabung dengan pemerintahan Ottoman. Dia menunjukkan harta kekayaannya yang katanya bisa digunakan untuk membantu pemerintah.

Permintaan itu ditolak Sultan Mehmed. “Jika anda memang orang baik, kenapa harta yang anda miliki itu tidak anda gunakan untuk membantu kaisar anda?”,  jawab Mehmed sambil mengirim Loukas untuk dihukum mati.

Byzantine memang dalam krisis ekonomi waktu itu. Sang Kaisar tak punya banyak uang lagi untuk menghidupi rakyatnya. Grand Loukas ternyata tidak membantu sang Kaisar saat dibutuhkan.

Eh busyet, ceritanya panjang banget. Kisah ini tak cukup dituliskan dalam satu blog post. Aku masih belum sempat cerita soal strategi perang Mehmed, kecerdasan Mehmed yg mampu menguasai beberapa bahasa, dan lain-lain. Silahkan nonton sendiri filmnya sampai selesai.

Satu hal yang aku perlu tegaskan. Walau aku sudah menyantap film-nya sampai habis, aku tetap tak menemukan jejak-jejak Sunda Empire di sana.

Dubai, 10 Feb 2020,

-bank al-

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: