Standing Out of The Crowd

Seorang adik sepupuku pernah mengalami kesulitan mencari pekerjaan setelah menamatkan program diplomanya dari sebuah PTN. Karena sudah begitu banyak lamaran dikirim namun tidak mendapat tanggapan, akhirnya dia meminta saranku tentang bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan panggilan interview.

Agar bisa memberikan jawaban yang pas, aku mencoba memposisikan diriku sebagai hiring manager. Dan sebagai langkah pertama akupun meminta resume-nya. Resume-nya terlihat sangat standard yg formatnya persis seperti formulir riwayat hidup yg suka dijual di warung2 kelontong. Dari situ saja sudah bisa aku duga bahwa HRD tidak melirik resume-nya sama sekali sehingga besar kemungkinan lamaran-lamaran yang dia kirimkan tidak dibaca oleh HR dan mungkin sudah langsung masuk ke tempat sampah. Oleh karenanya saran pertama yg kuberikan padanya adalah agar memperbaiki resume-nya.

Setelah itu, dengan mengasumsikan bahwa resume-nya bagus, maka aku mencoba memposisikan diri sebagai interviewer. Dan si adik sepupu kuberikan sebuah pertanyaan sederhana yaitu,”Saat ini ada banyak pelamar-pelamar lain yg menginginkan pekerjaan yg sama. Banyak di antara mereka bahkan berasal dari PTN-PTN yg lebih terkenal dan terpercaya daripada PTN tempatmu kuliah. Nah, tolong berikan alasan pada saya mengapa saya memilihmu dan tidak pelamar-pelamar yg lain?” Pertanyaan saya ini ternyata tidak bisa dijawab oleh adik sepupu saya. Dari sini saya sudah bisa mengetahui sebab-sebab mengapa sulit baginya mencari kerja. Oleh karenanya saya sarankan padanya untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu dulu supaya lebih sukses berburu pekerjaan.

Kasus di atas mirip dengan kasus keponakan salah seorang teman saya. Beberapa hari yg lalu teman saya ini bertanya pada saya,”Bang, punya teman cowok yg sedang mencari jodoh nggak?”. Aku menjawab,”Saat ini tidak. Tapi mungkin saja besok2 ketemu.” Kemudian akupun meminta temanku itu untuk mendeskripsikan lebih jauh keponakannya supaya saya punya bayangan kepada siapa saya bisa mengenalkan keponakannya tersebut. Teman saya hanya bersedia memberikan jawaban bahwa keponakannya itu angkatan 94 dan berjilbab. Tidak ada informasi lebih jauh yg diberikan padaku sehingga membuatku melongo. Bahkan foto-nyapun aku tidak bisa melihatnya.

Aku mencoba membayangkan seandainya aku adalah seorang lelaki single yg sedang mencari calon istri dan kemudian ada teman yg datang pada saya,”Bang, aku punya teman perempuan berjilbab angkatan 94 lagi cari jodoh. Mau kenalan nggak?” Jika aku yg ditanya demikian, besar sekali kemungkinan aku akan menjawab “Males ah.” Mengapa demikian? Karena ada begitu banyak perempuan yg berumur di bawah 30 yg juga sedang mencari jodoh. Dan seandainya kriteriaku adalah perempuan berjilbab, maka ada banyak sekali perempuan berjilbab di Indonesia ini yg juga sedang mencari jodoh. Jika aku bisa mendapatkan yg masih berumur 20-an, lantas mengapa aku harus memilih yg berumur 32 tahun?

Well, tentu saja jawabanku itu mengasumsikan bahwa pada umumnya laki2 mencari istri yg lebih muda darinya. Sehinga, jika usia si perempuan adalah 32, maka dia harus mencari pria-pria yg usianya di atas itu, sementara di Indonesia relatif tidak banyak pria-pria berusia di atas 30 yang masih lajang. Dan bahkan pria berumur di atas 30 sekalipun, ternyata juga masih mencari calon istri yg berumur 20-an. Oleh karenanya, peluang keponakan teman saya ini relatif kecil jika dia harus bersaing dengan perempuan-perempuan muda lainnya sementara dia tidak menunjukkan kelebihan lain.”

Cerita tentang adik sepupuku dan keponakan temanku ini menunjukkan bahwa seringkali kita tidak sadar bahwa kita sedang tersembunyi di antara keramaian dan berharap untuk terlihat dan dipilih. Kita tidak sadar dan terlupa untuk berdiri di tempat yg tidak tertutup oleh keramaian sehingga terlihat, atau dengan bahasa Jawa-nya adalah,”Standing out of the crowd”.

Untuk bisa “standing out of the crowd”, maka kita harus mengetahui apa kelebihan kita dibandingkan dengan pesaing-pesaing kita. Pada kebanyakan kasus, kita sering kelabakan jika ditanya apa kelebihan kita. Persis seperti kasus keponakan saya yg cuma bisa melongo ketika saya tanya kelebihannya dari pelamar-pelamar lain. Dalam kasus yg lain, kita mungkin tahu bahwa kita punya kelebihan, namun kita terlupa bahwa kita sedang berada di balik kerumunan orang banyak sehingga kita tidak berusaha untuk keluar. Contohnya adalah teman saya yg tidak mau menunjukkan kelebihan keponakannya sehingga akupun jadi malas-malasan mengenalkannya pada temanku (jika kebetulan ada). Aku tidak mau kelabakan ditanya oleh temanku,”Apa kelebihan keponakan temanmu itu sehingga kau perkenalkan dia kepadaku ?”

Demikianlah kiranya dongenganku tentang salah satu strategi untuk bersaing di laut merah yaitu “standing out of the crowd”. Nah, selain dengan mengetahui dan menunjukkan kelebihan kita, cara apa lagikah yg kira-kira bisa membuat kita standing out of the crowd? Monggo, ditunggu masukannya.

2 thoughts on “Standing Out of The Crowd

  1. Setelah sekian lama menjadi buruh pocokan, pindah dari kontrak di satu perusahaan ke peruahaan lain, suatu saat saya memperoleh kesempatan diinterview oleh perusahaan yang gede, jadi pegawai permanen. Nah sebelum interview, aku nulis di notes kecilku, isinya kayak begini:
    1. Mempunyai pengalaman kerja 3,5 tahun [kontrak base] di perusahaan yang akan merekrut saya, sehingga:
    – Mengetahui kondisi geologi dan karakter reservoir sebagaian daerah konsesi perusahaan itu
    – Familiar dengan lingkungan dan system kerjanya
    – Siap bekerja dan cepat menyesuaikan diri dengan team
    2. Pernah memperoleh word class Recognition & Award ketika menjadi salah satu anggota team salah satu project di perusahaan itu
    3. Mempunyai komitmen dan dedikasi untuk memberikan kepada team untuk mencapai target reservoir management dan produksi.
    4. Menyeleasaikan Tugas Akhir di perusahaan tersebut, dengan judul Aplikasi Sratigrafi Sikuen untuk Analisa Mekanisme Sedimentasi dan Tektonik
    5. Masih muda, mempunyai komitmen dan antusias untuk pengembangan diri.

    Pas Interview, point-point itu tak sampaikan sekitar 5 menitan …..
    Saat itu saya berjuang bersama sama dengan ribuan pelamar untuk memperebutkan 11 posisi, salah satunya posisinya kemudian saya tempati.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s