Keras Kepala

Si Cantik tiba-tiba mogok, tidak mau sekolah. Ketika ditanya, dia tak mau memberi penjelasan. Saatnya untuk berangkat, dia berdiam seperti patung. Tak mau melangkah ke sekolah. Ayah dan Bundanya mencoba berbagai cara agar dia mau sekolah. Dimulai dengan cara bertanya dengan manis, membujuk, sampai marah. Tapi si Cantik tetap bergeming. Tak menjawab, tapi juga tak mau sekolah.

Keputusannya itu menyebabkan dia mendapatkan hukuman tidak boleh main gadget, komputer dan nonton TV selama 1 minggu. Lebih dari itu, dia juga tidak boleh pindah dari tempatnya duduk hingga adik dan kakaknya pulang dari sekolah.

Satu hari dilewatinya dengan mulus. Kakak dan adiknya pulang sekolah. Si Cantik bermain lagi dengan adik dan kakaknya, seperti tidak terjadi apa-apa.

Besoknya? Ternyata diulangi lagi. Tetap tidak mau sekolah. Kali ini dia bahkan tidak ganti baju sekolah sama sekali. Ayah dan bundanya mengulangi lagi ritual dari membujuk sampai marah. Dan lagi-lagi tak mempan. Si Cantik tetap tak berangkat sekolah.

Kali ini hukumannya ditambah. Tak lagi cuma disuruh duduk di tempat yang sama. Kali ini dia disuruh berdiri seharian dan tak boleh duduk sampai waktu sekolah selesai atau dia memutuskan untuk sekolah. Ternyata dia tetap memilih untuk berdiri, walau butuh sekitar 6 jam.

Kapok? Capek? Entahlah. Yang jelas dia berdiri malah sambil nyanyi-nyanyi. Seakan menikmati hukumannya.

Ayahnya kali ini tak bisa lagi marah. Dia malah jadi teringat cerita puluhan tahun yang lalu tentang seorang anak SD yang sangat keras kepala. Pada saat kelas 1 SD kuartal pertama, dia tidak pernah mau mengerjakan tugas PKK. Guru dan orang tuanya sudah membujuk mati-matian.

Bu Guru berkata,”Kalau kamu mau mengumpulkan tugas satu saja, bagaimanapun juga hasilnya, nanti rapormu nggak merah.”

Anak SD itu bergeming. Dia memilih untuk tak mengumpulkan tugas PKK sama sekali. Dan Bu Guru tak punya pilihan. Sang murid SD mendapat pengalaman pertama angka merah di rapornya.

Tentu saja tidak hanya itu yang dilakukan anak SD itu. Makin besar makin sering membangkang. Kalau dia tak suka sebuah pelajaran, dia tak ragu-ragu mengumpulkan kertas kosong saat ulangan. Tiap hari dia datang terlambat di sekolah dan tidak kapok walau dihukum.

Orang tuanya juga sudah tahu kalau anak SD itu keras kepala. Dia tak akan menyerah ketika dia sudah meyakini pilihannya. Walau seringkali berat konsekuensinya.

Mengingat kisah tentang anak SD itu, Sang Ayah lalu memeluk si Cantik. Lalu berkata,”Cinta, I actually admire you. You are very highly motivated and tough with your decision. You are a very strong fighter”

“What makes you think so, Ayah?”, tanya si Cantik

“It was actually easier for you just to go to school instead of standing the whole day like this. But you choose to stand up the whole day because you think it’s right.”, jawab si Ayah.

“You only need to learn and use this motivation to fight for something better. Something that will be good for you and your future.”, lanjut sang Ayah

Si Cantik tersenyum. Dan hari itu juga berlalu. Setelah masa hukuman berdiri selesai, dia bermain dengan adik dan kakaknya. Lagi2 seakan tidak terjadi apa-apa.

Besoknya? Ternyata si Cantik mau berangkat ke sekolah. Dia tetap tak memberi alasan kenapa dia tak mau sekolah dua hari sebelumnya. Yang jelas, kali ini dia berangkat sekolah.

Ayahnya tak memaksa si Cantik untuk bercerita. Suatu saat jika saatnya tiba, toh dia akan cerita juga. Yang jelas, satu minggu tanpa gadget dan TV telah membuatnya lebih ceriwis dan banyak bercerita pada ayahnya.

Oh ya, anak SD yang aku ceritakan di atas tadi sekarang sudah menjadi seorang Ayah juga. Kebetulan dia adalah ayahnya si Cantik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: