Run And Family Bonding

Aku sekarang lari tidak sesering dulu.Rencanaku memang lari keras cuma 2 kali seminggu. Sisanya aku lari santai sambil menemani anak sulungku yang sudah terlalu gendut. Akhirnya Si Ganteng -demikian aku memanggilnya- tertarik untuk berlari bersama ayahnya karena tiap hari aku olok2 kalau dia sudah terlalu gendut. 🙂

Body Shaming? Bukan. Menurutku gendut itu memang tidak sehat. Masak anak usia belasan perutnya sudah lebih besar daripada perut ayahnya? Kan ini nggak sehat.

Karena dia sudah terlalu gendut, larinya pelan banget. Aku bisa lari sambil ngobrol dan berada lebih banyak di zona 2 padahal dia lari ngos2an. Kesempatan lari pelan-pelan ini aku gunakan sebagai recovery run, plus family bonding ayah dan anak. Kami ngobrol-ngobrol banyak sambil berlari.

Hari ini, adalah jadwal aku lari sendirian. Tentu saja aku gunakan untuk lari lebih kencang. Sesuai dugaanku, performance malah meningkat. Beda banget dengan dulu yang lari tiap hari tapi performance bergerak begitu pelan. Sekarang aku bisa berlari 2 kilometer non-stop, tidak bertambah pelan dan malah lebih cepat pada kilometer kedua. Pace 5 koma, tidak jelek lah.

Kilometer ketiga memang pelan, aku selang-seling lari kencang dan jalan kaki. Rata-rata pace untuk total 3 kilometer masih 6 koma. HR juga tidak pernah merah. Not bad, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: