Addicted

Image may contain: 1 person, sittingBermain di Media Sosial memang mengasyikkan. Apesnya, di balik kenikmatan itu tersimpan juga sebuah ancaman. Apakah itu? Kecanduan.

Segala hal yang tadinya bagus, menjadi tidak baik lagi ketika menyebabkan kecanduan dan ketergantungan. It took the freedom out of your life.

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah berada dalam situasi cukup parah, kecanduan berbagai media sosial. Tiap detik -if I may exaggerate-  aku membuka satu dari sekian banyak media sosial, entah FB, WA ataupun Telegram.

Hal ini sungguh merugikan. Banyak waktu terbuang percuma. Produktivitas menurun drastis. At the end of the day, I regretted that I missed so many good things when I had the opportunities to get them if I weren’t spent too much time on the social medias.

Corrective action yang aku lakukan pada saat itu adalah deaktivasi account FB, keluar dari group-group WhatsApp dan Telegram serta lebih sering meninggalkan telepon genggam jauh dari jangkauan. Hal ini aku lakukan sampai sekitar 2 tahun.

Hasilnya sangat memuaskan. Kecanduan pada sosial media hilang. Aku bisa hidup dengan nyaman tanpa ada keinginan untuk membuka FB, WA ataupun Telegram. Dan yang lebih bagus lagi, banyak hal yang berhasil aku raih dalam masa-masa berhenti bergaul di media sosial itu.

Setelah berhasil sembuh dari kecanduan, aku mulai lagi bermedia-sosial.  Walaupun menyebabkan kecanduan, tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial itu juga ada gunanya. Di jaman dunia tanpa border seperti ini, media sosial adalah cara berinteraksi dengan manusia-manusia lain di segala penjuru dunia. Tanpa berinteraksi, salah satu kebutuhan hidup sebagai makhluk sosial tidak terpenuhi. *cieeee*

Singkat kata, aku sudah bersosialisasi lagi di FB selama 2 tahun terakhir ini. Tidak seintensif dulu, dan masih belum menyebabkan kecanduan. Aku baru saja mengujinya dengan berlibur ke Eropa dan bisa menikmatinya tanpa membuka ponsel selama beraktivitas.  Eh, jangan2 aku berhasil tak membuka ponsel karena mahalnya biaya data roaming ya? Entahlah, yang penting khan aku berhasil. Ye kan?

Sekarang liburan telah usai. Aku kembali lagi bekerja. Apesnya, aku mulai melihat tanda-tanda bakal kecanduan media sosial lagi.  Holiday mood mungkin juga menjadi faktor penguat. Aku yang masih malas bekerja, melarikan diri dengan cara aktif di FB lebih sering.

Corrective action? FB harus dibatasi. Aku harus menahan diri untuk tidak membuka FB di pagi hari hingga makan siang tiba. Saat makan siang boleh dibuka sejenak, untuk kemudian ditutup lagi hingga sore hari dan saatnya pulang kantor.

Let’s see how it works.

Tulisan Terkait:

(1) Attention Economy, https://aalinazar.wordpress.com/2019/12/12/attention-economy/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: