Always Enough

Jaman aku masih muda dulu, kadangkala aku bercerita bahwa hidupku semasa masih sekolah dulu miskin karena aku tidak punya motor, makan tahu dan tempe hampir setiap hari, uang saku saat kuliah cuma 75 ribu rupiah, dan lain sebagainya.

Suatu saat, aku terkejut ketika menyadari bahwa Ibuku rupanya tak begitu senang mendengarnya. Ibu merasa seakan-akan aku tidak bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh orang tua semasa aku masih dibiayai oleh mereka dulu.

Aku lalu mencoba mengingat balik atas apa yang aku rasakan semasa aku masih sekolah dulu. Apakah aku memang merasa miskin? Atau aku hanya menjadi terlihat miskin ketika aku membandingkan dengan kehidupanku sekarang?

Ternyata benar, bahwa bagaimanapun hidupku di masa lalu, aku tidak pernah merasa miskin. Aku selalu merasa hidup cukup dan tidak kekurangan walau kondisi ekonomi  penuh dinamika.

Semasa aku balita hingga SD, keadaan ekonomi orang-tuaku di atas rata-rata orang kebanyakan. Ayahku saat itu bekerja di perusahaan asing yang bergerak di bidang perminyakan. Aku sempat merasakan makan bistik tiap hari, jalan2 tiap minggu dan punya mainan2 bagus. Teman-teman dan saudara-saudara juga banyak yang datang berkunjung ke rumah dan bersikap ramah. Tidak sedikit pula dari mereka yang datang meminjam uang dan tidak pernah dikembalikan.

Pada saat-saat akhir masa SD-ku, Ayahku memutuskan untuk berhenti bekerja. Hidup kami jadi agak berbeda. Aku tidak lagi makan bistik, tapi tiap hari makan sayur tahu. Orang-orang juga makin jarang berkunjung ke rumah dan bahkan sebagian dari mereka tak ramah lagi jika aku berkunjung ke rumahnya.

Anehnya, dinamika tersebut tak pernah membuatku merasa miskin ataupun kekurangan. Walau ada perubahan menu makanan, tapi aku tak pernah kelaparan. Meskipun aku tak punya motor atau kendaraan, namun aku tak pernah bosan menggunakan kaki untuk berjalan.  Aku selalu bisa menikmati hidupku dan apa yang aku dapatkan.

Banyak anak orang yang dulunya kaya yang tidak bisa menyesuaikan diri ketika ekonomi keluarga mengalami dinamika. Sebagian memaksa gaya hidup lama sehingga mereka berhutang kesana-kemari karena pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Sebagian tak sanggup menghadapi kenyataan dan menangisi hidupnya sepanjang jaman.

Ayah-Ibuku telah mengajarkanku sebuah ilmu yang sangat berharga yaitu bagaimana untuk selalu hidup berkecukupan, sehingga:

(1) Aku tidak punya keinginan untuk memiliki sesuatu di luar batas kemampuanku. Misalnya, jika aku cuma mampu membeli sayur tahu di warung Tegal, maka aku tak pernah berpikir untuk makan di Burj Al Arab.

(2) Aku tak membanding2kan hidupku dengan orang lain. Bagaimanapun indahnya kehidupan orang lain, tidak pernah sedikitpun membuatku iri untuk mendapatkan hidup yang sama dengan mereka

(3) Aku tak ambil pusing omongan orang lain. Kalaupun ada orang lain yang mencemooh kehidupanku, maka akan berkata, “Anjing menggonggong, Pria Tampan berlalu.”

Hidup ini cuma sekali dan sekarang.  Kita tidak hidup di masa lalu atau di masa depan. Maka nikmatilah apa yang ada sekarang, karena saat terbaik untuk menikmati hidup itu adalah sekarang.

Dubai, 2 Mar 2019,

 

-bank al-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: