Million Dollar Arm (3)

Acara pencarian bakat itupun akhirnya tiba. Amit -pemuda gigih yang bersedia bekerja gratisan itu- ternyata kemudian berguna juga sebagai penterjemah. Orang India di kampung-kampung ternyata banyak juga yang tidak bisa berbahasa Inggris sehingga mereka membutuhkan penterjemah. Seorang juri dari Amerika juga didatangkan untuk menilai apakah ada kontestan yang layak untuk dibawa ke Amerika.

Mengingat hadiah yg dijanjikan yg begitu besar, warga kampung berdatangan dari seluruh negeri untuk mengikuti acara ini. Hanya saja hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pelatih Baseball rekan JB di Amerika sebelumnya bahwa teknik melempar bola pada permainan Cricket tak sama dengan Baseball.  Walaupun Cricket adalah olah raga yg sangat populer di India, namun tak seorangpun yg bisa melempar bola dengan kecepatan yg cukup tinggi untuk dianggap layak bisa bermain Baseball.

Rupanya nasib baik kali ini berpihak pada JB. Tiba2 ada dua orang pemuda yang bisa melempar bola dengan kecepatan yang cukup tinggi. Juara pertama bernama Dinesh, seorang anak sekolahan di salah satu akademi yang tertarik untuk mengikuti acara ini. Sementra juara kedua bernama Rinku, seorang anak supir truk yang tertarik untuk mengikuti pencarian bakat ini karena tertarik akan hadiahnya yang cukup untuk membelikan truk baru bagi ayahnya.

Singkat cerita, akhirnya Dinesh dan Rinku diberangkatkan ke Amerika untuk dilatih Baseball selama setahun dan diharapkan kemudian bisa bermain pada team Baseball profesional. 

Dalam perjalanan menuju airport JB berbincang2 dengan kedua anak muda ini sambil menanyakan pertanyaan basa-basi tentang bagaimana mereka menyukai Baseball. Rupanya jawaban yg diterima JB sangat mengejutkan. Kedua anak muda ini tidak tahu permainan Baseball. Lebih mengejutkan lagi, mereka bahkan tidak suka bermain Cricket.

Apa boleh buat, show must go on. JB tetap membawa kedua pemuda ini dan juga Amit sang penterjemah gratisan ke Amerika.

– bersambung —

Tulisan Sebelumnya:
Million Dollar Arm (1)
Million Dollar Arm (2)

 

Million Dollar Arm (2)

Sebelum berangkat ke India, JB menemui seorang temannya yang beprofesi sebagai seorang pelatih baseball. JB menanyakan kemungkinan seorang pemain cricket diubah menjadi seorang pemain baseball dalam waktu 1 tahun. Sang pelatih menjawab bahwa hal itu tidak dimungkinkan mengingat permainan cricket itu sangat jauh berbeda dengan permainan baseball. Cara melempar bola, kecepatan lempar dan berbagai teknik yg harus dimiliki pemainpun sangat berbeda. Hal ini tidak akan bisa dicapai dalam satu tahun.

Walaupun tidak ada orang yg percaya bahwa pemain cricket bisa diubah menjadi pemain baseball dalam waktu 1 tahun, namun JB tetap berusaha meyakinkan sang pelatih tersebut untuk membantunya mewujudkan keinginan tersebut. “Jika kamu gagal, kamu nggak akan kehilangan apa-apa. Namun jika kamu berhasil, namamu akan terkenal di seluruh dunia”, demikian kira2 kata JB pada sang pelatih tersebut dan akhirnya dijawab dengan persetujuan sang pelatih.

Akhirnya JB berangkat ke India. Setibanya di sana dia sempat sedikit mengalami sedikit “culture shock” melihat India yg semrawut dan cara bekerja orang sana yg berbeda. Salah satu contohnya adalah ketika JB bertanya tentang kesiapan berbagai perlengkapan untuk show seperti buku catatan, kaos dan lain sebagainya. Sang partner menjawab semuanya sudah disiapkan. Namun ketika JB bertanya lebih detail ada di mana barang2 tersebut, maka dia mendapat jawaban yg cukup mengejutkan yaitu,”Semuanya sudah ada di sini, di India”.  Entah yg dimaksud itu masih di toko dan belum dibeli atau bagaimana, JB terlihat stress mendengar jawaban tersebut.

Satu hal lagi yg cukup mengejutkan JB adalah ketika dia mau memasuki kantornya dan ternyata sudah ada seseorang yg menunggunya. Orang ini ternyata meminta pekerjaan. Dia mengaku bahwa dia adalah seorang pemain baseball profesional. Ketika ditanya oleh JB dia pernah bermain di mana, ternyata dia tidak pernah bermain baseball. Lalu dia berkata bahwa dia adalah pencinta baseball dan sangat menguasai permainan baseball.  Maka lagi2 JB mengujinya dengan sebuah pertanyaan teknis tentang baseball, dan seperti kita duga ternyata dia juga tidak menjawab.  Tentu saja JB geleng2 kepala dan tidak mau memberi pekerjaan pada orang tersebut.

Rupanya pemuda -yg kemudian diketahui bernama Amit ini- pantang menyerah. Dia lalu melepaskan jurus terakhirnya,”I will work for free.” Jurus ini akhirnya meluluhkan JB. Dan akhirnya JB menerima orang ini untuk bekerja dengannya, walau sepertinya JB juga belum tahu dia mau dipakai untuk apa.

—-bersambung—–

 

Tulisan sebelumnya:

Million Dollar Arm (1)

 

Akibat Terlalu Jenius?

Meninggalnya Robin William menyisakan banyak pertanyaan di kepala para penggemarnya mengingat Robin William ini adalah seorang aktor yang terkenal cerdas dan bahkan bijak dalam film-filmnya. Rasanya sulit diterima akal mengapa aktor yg sedemikian cerdas dan sukses bisa mati bunuh diri karena depresi.

Salah satu penjelasan fenomena ini, ada sebuah tulisan menarik dari Harry Sufehmi yg aku comot secara semena2 dari komentarnya di status FB mas Nukman Luthfie

Banyak komedian itu sebetulnya orang jenius. Dan banyak orang jenius depresi, karena berbagai hal.

Misalnya, karena tingkat kecerdasan yang berbeda terlalu jauh, sehingga ybs sering frustasi dengan orang-orang di sekitarnya, yang nampak sangat bodoh bagi dia. Dan nyaris tidak ada yang bisa memahami dia.

Orang jenius juga melihat dunia ini dengan lebih luas, dan bisa menyadari & melihat banyak hal di balik sesuatu. Banyak hal yang nampak biasa bagi orang biasa, namun si jenius bisa melihat & menyadari berbagai masalah besar di balik itu. Dan makin banyak terlihat kebobrokan, cenderung akan membuat makin depresi, terutama ketika tidak ada yang mampu dia lakukan untuk mengubahnya.

Melawak menjadi semacam mekanisme pelampiasan / coping mechanism, penyaluran atas berbagai rasa frustasi tsb.

RW tidak sendirian, berbagai artis & pelawak terkenal lainnya juga sudah / ketahuan akan bunuh diri. Contoh: salah satu komedian paling terkenal di Inggris, Stephen Fry, pernah nyaris tewas. Kini dia berkecimpung di LSM yang fokus di bidang ini, berusaha membantu orang-orang lainnya yang senasib dengan dia.

http://www.theguardian.com/culture/2013/jun/05/stephen-fry-attempted-suicide-bipolar

Untunglah aku bukan orang jenius apalagi merasa orang2 di sekitar terlalu bodoh untuk memahamiku. Resiko menjadi depresi karena hal ini cukup kecil.

Bagaimana dengan anda? Adakah di antara teman2 yg jenius? Jika ya, apakah anda mengalami gejala-gejala keputusasaan menyampaikan pemikiran pada orang lain? Jika ya, apa strategi anda mengatasinya?

Million Dollar Arm (1)

Dalam perjalanan DXB-SFO beberapa hari yg lalu, seperti biasa aku meluangkan waktu untuk menonton beberapa film. Kali ini salah satu film yg menarik hatiku adalah “Million Dollar Arm

Film ini adalah kisah nyata tentang JB Bernstein, seorang rekruiter bintang olah raga yang pada awalnya kesulitan mencari client karena rata2 pemain baseball meminta harga tinggi sementara kantongnya tak cukup dalam untuk membayarnya.

Setelah 3 tahun merintis usaha tersebut dan belum juga berhasil, tiba ada sebuah ide “out of the box” dari seorang partnernya untuk mencari saja salah seorang pemain cricket di India yang kemudian dilatih bermain baseball. Awalnya JB menganggap remeh ide tersebut karena menurutnya tak masuk akal mengubah seorang pemain cricket untuk bermain baseball. “Cricket itu bukan olah raga, hanya permainan anak2 saja”, demikian kata JB

Pada suatu haru, JB menonton acara TV. Tiba2 perhatiannya tertuju pada acara reality show pencari bakat (American Idol dan beberapa acara pencari bakat lainnya) yang ada di televisi. Dengan kombinasi saran dari partnernya tentang mencari pemain cricket berbakat, JB mulai berpikir untuk mengikuti saran parternya tersebut untuk pergi ke India, membuat acara reality show pencari bakat dan di sana dan kemudian juaranya akan dibawa ke Amerika untuk bermain baseball.

Kondisi keuangan yg mulai membahayakan perusahaanya -yg selama 3 tahun itu belum berhasil2 juga-, membuat JB memberanikan dini untuk mencoba ide gila itu dengan menghubungi seorang investor yg bersedia untuk mendukung acara tersebut.

Awalnya sang investor tak mau karena dia mengira tak akan mungkin mengubah seorang pemain cricket menjadi pemain baseball dalam waktu singkat. Namun rupanya sang investor melihat ide ini punya peluang juga dan bersedia memberi kesempatan jika dia bisa melihat hasilnya dalam waktu yg saingkat. Maka sang investor menantang JB apakah dia sanggup mewujudkan hal itu dalam 1 tahun? Rupanya JB tak mau menyia2kan kesempatan itu dan langsung menjawab sanggup. 

Partner JB kaget akan keputusannyatersebut. Namun bagaimanapun juga deal sudah disepakati dan JB akhirnya berangkat ke India.

—- bersambung —–

Lesson Learned:
Kadang (atau bahkan seringkali) seorang entrepreneur itu melakukan bluffing dan berani mengambil tantangan yg tak masuk akal. Setelah dia bisa memenangkan deal, barulah dia kemudian berpikir belakangan tentang bagaimana mewujudkan tantangan tersebut

 

Episode Landlord

Enam tahun yang lalu aku memulai sebuah episode baru dalam hidupku yg aku namai episode expat. Seharusnya ada beberapa episode lagi dalam hidupku yang ingin aku tulis, namun karena gairah blogging sempat hilang cukup lama maka episode-episode itu tidak sempat tertulis. Aku bahkan lupa atau tak sempat mengabarkan bahwa aku sudah sempat pindah negara -yg mana sebelumnya aku tinggal di Kuwait dan sekarang di Dubai/UAE- karena sangat malasnya aku menulis saat itu.

Akhir2 ini aku memutuskan untuk mulai blogging lagi. Bukan disebabkan karena Pilpres yg menyebabkan beberapa selebriti mendadak blogging lagi, namun hanya disebabkan karena kadang memory itu selain indah untuk dikenang juga bisa membangkitkan semangat di kemudian hari. Catatan-catatan memory ini bisa diwujudkan dengan salah satunya kegiatan blogging ini.

Baiklah, kali ini aku mulai sebuah kisah baru yg aku beri nama “Episode Landlord“.

Saat ini aku sudah tinggal di Dubai selama lebih dari 4 tahun. Saat kedatanganku di Dubai tahun 2010 lalu, Dubai sedang dalam kondisi sepi karena dihajar krisis moneter. Banyak expat yg terpaksa kabur kembali ke kampung halaman karena kehilangan pekerjaan dan tidak mampu membayar hutang. Sebagian dari mereka malah meninggalkan mobil2 mewah yg mereka beli -dengan berhutang tentunya- di airport karena tak mampu melunasi cicilannya.

Buatku kondisi tersebut justru menguntungkan. Karena negara sedang sepi, maka harga sewa apartemen relatif murah, tidak seperti sebelum krisis yg mana sebagian teman bahkan terpaksa tinggal di pinggir kota atau sharing kamar dengan orang lain karena saking mahalnya harga sewa tempat tinggal.

Rupanya Dubai tak lama dalam didera krisis. Sejak tahun 2010 itu orang2 mulai berdatangan kembali satu demi satu. Jalanan yg tadinya sangat sepi, mulai terlihat ramai. Dan satu hal yg membuat kami para pendatang di sini khawatir adalah harga apartemen yg mulai naik lagi.

Situasi ini membuatku mulai berpikir. Akankah terjadi lonjakan harga seperti sebelum krisis tahun 2007? Haruskan aku pindah ke tengah gurun karena tak mampu membayar sewa apartemen di kota? Akhirnya, diiringi dengan keputusan sebagian teman2 untuk membeli rumah/apartemen, aku juga tertarik untuk melakukan hal yg sama.

Tantangan pertama yg aku hadapi adalah masalah klasik yaitu masalah uang. Ternyata bank hanya bersedia meminjamkan uang maksimum 75% dari harga property. Sementara yg 25% harus dibayar sendiri. Sialnya, yg 25% itu ternyata juga bukan angka kecil yg mudah didapat. Apalagi karena selama ini aku kurang banyak menabung sehingga tak punya cukup uang untuk melunasi down payment ini.

Namun karena tekad sudah bulat, aku nekad tetap mencoba mengajukan permohonan pinjaman ke bank sambil berpikir belakangan bagaimana caranya menemukan yang 25% tersebut. Aku mencoba meminjam sana-sini pada teman2 dan handai tolan. Dan tentu saja ini tidak mudah, karena uang yang aku butuhkan itu tidak sedikit.

Akhirnya keberuntungan itu datang juga, seperti dikatakan Oprah Winfrey yang aku baca dalam sebuah buku karangan Wiseman yg berjudul “Luck Factor“, Luck is when preparation meets opportunity. Karena aku broadcast sana ini, akhirnya salah seorang sahabat yg baik hati dengna tulus bersedia meminjamkan uang padaku jika uangku tidak cukup untuk membayar down payment. Hatiku mulai lega, sehingga aku bisa melanjutkan proses pencarian pinjaman dan pembelian sebuah apartemen yg cocok.

Salah satu pendapat  sahabatku itu membuatku tersenyum. Beliau berkata,”Rumah itu seperti istri. Kalau sudah jodoh, tak akan lari kemana“.

Singkat cerita, sahabatku benar. Tiba2 saja jalan terbuka dari beberapa tempat, dan aku tiba2 jadi punya cukup uang untuk membayar down payment. Aku bahkan tidak jadi meminjam uang pada sahabatku tersebut. Dan akhirnya tanggal 4 July 2014 aku memulai episode baru yaitu “Episode Landlord“. Jika dulu aku harus membayar sewa apartemen per tahun pada pemilik property yg kami sebut landlord, maka sejak tanggal tersebut aku membayar sewa itu pada diri sendiri berupa uang cicilan pada bank yg harus aku lunasi.

Tentu saja hidup jadi berbeda. Jika dulu aku tak pernah memeriksa kapan gaji bulanan tiba karena gaji bulanan selalu lebih dari cukup, kali ini aku harus berhitung dengan detail supaya tagihan bank bisa selalu dibayar tepat waktu. Hidup rasanya jadi sedikit lebih ketat, namun ini adalah sesuatu yang layak dibayar demi masa depan yang cerah.

 

Saatnya pindah kerja?

Seringkali kita merasa nggak bahagia akan kondisi tempat kita bekerja sekarang. Namun karena satu dan lain hal, kita ragu2 untuk memutuskan apakah kita sebaiknya pindah dan mencari tempat lain atau bertahan di perusahaan yg sama.

Sialnya, tidak jarang orang yg bertahan sampai akhirnya dia menyadari sudah begitu terlambat untuk pindah karena ketika dia pindah ternyata sudah tak mudah lagi mencari pekerjaan di tempat lain. Padahal andai saja dia pindah lebih dulu, mungkin akan jauh lebih mudah baginya untuk mencari pekerjaan.

Ada artikel menarik yg beberapa hari ini aku temukan dan memberikan sedikit tanda-tanda kapan kita sebaiknya pindah.

Menurut penulis artikel, ada 8 sinyal yg musti kita lihat, yaitu:

1. Produk yg dijual oleh perusahaan kita adalah produk kelas dua
Tentu rasanya kurang sreq jika kita tahu bahwa perusahaan kita cuma dapat pelanggan yg “salah beli”

2. Merasa resah padahal masih hari Minggu
Rasa nggak nyaman di hari senin atau awal kerja masih bisa ditolerr karena disebabkan oleh “holiday mood”
Tapi kalau sampai akhir pekan masih saja nggak mood? Nah ini musti coba gali2 lagi ada apa di tempat kerja

3. Tidak respek pada orang2 yg bekerja sama dengan kita
Ini pertanda kita berada pada lingkungan yg jelek. Lebih baik kabur secepatnya sebelum kita ikut2an rusak 

4. Strategi perusahaan tidak meyakinkan
Kita bisa nyaman melihat masa depan kita masih yakin perusahaan kita punya strategi bagus ke depan.
Kalau strategi nggak jelas. Kita akan selalu was-was karena bisa saja dibawa ke jurang.

5. Merasa bahwa ada atau tidaknya kita di sana tidak ada bedanya
Jika perasaan ini ada. Ini tandanya kita bukan siapa-siapa di perusahaan atau tempat kita bekerja itu.
Selain rasanya tak enak jadi “bukan siapa-siapa”, karir kita ke depan juga nggak akan bagus jika kita “bukan siapa-siapa”
Segeralah pindah ke tempat yg mana kita merasa bisa mengubah dunia dengan bekerja di sana.

6. Kita terlalu banyak mengeluh
Ini paling banyak aku amati di beberapa tempat pekerjaanku yg dulu. Orang2 yg terlalu banyak mengeluh tapi nggak pindah2, biasanya makin terpuruk dan terpuruk saja karirnya. Dia susah maju karena dia sendiri sulit menikmati pekerjaannya.

7. Lebih banyak bosan daripada menikmati pekerjaan
Agak mirip di atas, cuma levelnya baru level bosan. Ini pernah aku alami dulu, sering tertidur di kantor karena bosan.
Sampai akhirnya suatu saat aku sadar aku mentok disitu2 aja dan tidak majur. Setelah keluar, barulah aku merasa bisa melejit lagi seperti kijang.

8. Tahu bahwa potensi tidak termangpaatkan dengan baik
Jika kita tahu bahwa kita punya potensi lebih yang tidak dimanfaatkan oleh perusahaan, maka cobalah cari cara untuk memangpaatkannya. Jika tak ada kesempatan seperti itu di tempat kerja, lebih baik segera memikirkan untuk mencari tempat lain agar potensi itu terpakai secara optimal.

Nah, bagaimana dengan anda?
Apakah merasakan salah satu dari tanda-tanda tersebut?

Referensi:
http://www.inc.com/geoffrey-james/8-signs-its-time-to-move-on.html

Made in Indonesia

Minggu yang lalu, Dindaku lagi lihat2 perabotan rumah tangga di salah satu mall di Dubai. Tiba2 dia tertarik pada sebuah cangkir indah bercorak batik. Cantik sekali cangkir itu dan dibelinya. Setelah sampai di rumah, maka kami tergelak, pantas saja ada cangkir corak batik. Karena ternyata cangkir itu made in Indonesia.

Tak selang berapa lama sesudah itu, kami sekeluarga jalan bareng ke mall dengan temanku sekeluarga juga. Saat itu temanku mau cari sepatu untuk marathon. Sambil lihat2, ketemu sepatu Nike. Pas lihat kotaknya, ternyata juga “made in Indonesia”.

Sebelum pulang kami juga mampir ke toko kamera. Ada sebuah kamera digital yg menarik perhatian kami. Kamera yg dirancang untuk konstruksi, sehingga lebih tahan banting. Eh begitu lihat bungkusnya, ternyata juga “made in Indonesia”

Dulu waktu masih tinggal di Indonesia, susah sekali melihat ada barang “made in Indonesia”. Bahkan Nike yg ada di Indonesia aja tidak bertuliskan “made in Indonesia”. Anehnya setelah tidak tinggal di Indonesia, malah sering melihat barang2 berkualitas bagus bertuliskan “made in Indonesia”.

Kenapa ya? Apakah karena orang Indonesia tidak suka beli produk buatan negaranya sendiri? Jangan2 Nike “made in Indonesia” yg sudah diexport itu kemudian diimport lagi ke Indonesia setelah labelnya di ganti menjadi “made in negara lain” ya?