Endurance dalam belajar

Kosakata yg tertulis di judul sebetulnya aku comot dari kosakata populer dari teman-teman yang hobby nge-gym. Jika merujuk pada Wikipedia, Endurance adalah:

Endurance (also related to sufferance and resilience) is the ability of an organism to exert itself and remain active for a long period of time, as well as its ability to resist, withstand, recover from, and have immunity to trauma, wounds, or fatigue. It is usually used in aerobic or anaerobic exercise. The definition of ‘long’ varies according to the type of exertion – minutes for high intensity anaerobic exercise, hours or days for low intensity aerobic exercise. Training for endurance can have a negative impact on the ability to exert strength[1] unless an individual also undertakesresistance training to counteract this effect.

Atau dalam penjelasan gampangnya endurance adalah ketahanan seseorang untuk melakukan sesuatu dalam jangka waktu yg lama.

Kenapa tiba2 Bang Al ngomongin Endurance dalam belajar? Mungkin buat orang lain endurance adalah faktor yg sudah dipertimbangkan dalam belajar atau melakukan sesuatu. Namun aku pribadi sebelumnya tidak pernah mempertimbangkan Endurance dalam belajar. Fokusku dalam belajar adalah target, namun aku tak terlalu mengatur berapa lama aku harus belajar. Kadang kalau otak sedang encer aku cukup belajar sebentar saja dan target tercapai. Kadang butuh waktu begitu lama, namun tetap aja nggak paham-paham apa yg dipelajari. :)

Sekarang aku baru menemukan presepsi baru bahwa Endurance itu penting. Walau nggak mudeng-mudeng[1], aku harus menyediakan sekian jam dalam sehari untuk belajar. Jika dalam jangka waktu tersebut tidak ada target pemahaman yg tercapai tidak apa-apa. Yg penting adalah otak sudah disuruh belajar sekian jam dalam sehari. Jika ternyata masih belum ada hasilnya, besok diulangi lagi dengan alokasi waktu belajar yg sama. Dan demikian seterusnya sampai suatu saat nani akhirnya paham.

Kenapa aku tiba2 terpikir soal endurance? Tidak lain dan tidak bukan karena aku terinspirasi oleh kegiatan gym tersebut. Dulu sebelum aku gym dengan teratur, aku lari 5 menit aja napas sudah mau putus, mata berkunang2 dan serasa mau sekarat. Sekarang? Aku bisa lari 20 menit non-stop sambil berkhayal yang indah-indah tanpa merasa lelah.

Apakah butuh endurance belajar? Entahlah, ini cuma dugaan saja. Aku pada dasarnya malas belajar. Jika sebuah topik tak menarik untuk dipelajari, aku pasti akan dengan segera ketiduran. Bukan cuma topik yg tak menarik, aku juga sering tertidur jika mempelajari sesuatu tapi tak kunjung paham. Rasa bosan seringkali membuatku tak sanggup menahan kantuk. Dugaanku ini adalah masalah endurance. Karena aku jarang belajar, mata otak cepat merasa lelah jika disuruh mengerjakan sesuatu yg membosankan. Walhasil aku selalu tertidur jika disuruh mempelajari hal yg berat-berat. 

Demikian juga dengan menulis. Dulu aku tak menemukan kesulitan dalam menulis. Namun sekarang setelah jaman FB -yg mana terbiasa menulis hanya singkat-singkat-, aku jadi tak mampu lagi menulis dengan lancar seperti dulu. Apakah ini karena endurance? Bisa jadi demikian.

Oleh karena itu, mulai sekarang aku akan mencoba meningkatkan endurance dalam belajar dan menulis. Mungkin aku harus berkompromi dengan rasa tak puas jika telah menghabiskan waktu sekian lama untuk menulis namun ternyata tulisannya jelek, atau harus rela jika sudah menghabiskan waktu berjam-jam belajar tapi nggak paham apa-apa. Suatu saat nanti barangkali akan ada hasilnya. Minimal meningkatkan endurance dalam belajar.

Hmm, tulisan ini kok jelek ya? Ah biarlah, yg penting peningkatan Endurance dulu deh :P

Keterangan:
[1] Mudeng = Paham (bahasa Jawa)

 

Entrepreneur dan Entreployee

Tulisan berikut sangat menarik. Salah satu quote yg aku suka adalah berikut ini

“The only retirement plan is to Choose Yourself. To start a business or a platform or a lifestyle where you can put big chunks of money away. Some people can say, “well, I’m just not an entrepreneur.”

This is not true. Everyone is an entrepreneur. The only skills you need to be an entrepreneur: an ability to fail, an ability to have ideas, to sell those ideas, to execute on those ideas, and to be persistent so even as you fail you learn and move onto the next adventure. Or be an entrepreneur at work. An “entre-ployee.” Take control of who you report to, what you do, what you create. Or start a business on the side. Deliver some value, any value, to anybody, to somebody, and watch that value compound into a career.”

Mungkin aku sudah memulainya, yaitu menjadi entre-ployee. Aku sudah sejak beberapa tahun yang lalu mencoba mengendalikan pada siapa aku bekerja, apa yg aku kerjakan, dan apa yg aku hasilkan. Namun aku lakukan itu secara tak sadar karena aku saat itu merasa “tak nyaman di zona nyaman”. Baru sekarang aku menyadari bahwa aku ternyata sudah memulai menjadi entre-ployee sejak beberapa tahun yg lalu. Mungkin suatu saat nanti bisa jadi entrepreneur juga.

Bagaimana dengan anda? masih jadi sekedar employee? atau sudah mencoba mengubah mindset menjadi entre-ployee juga?

http://techcrunch.com/2013/01/12/10-reasons-why-2013-will-be-the-year-you-quit-your-job/

Jangan ragu-ragu menceritakan mimpimu

Dulu ayahku sempat tinggal beberapa tahun di Australia sewaktu masa-masa sekolah. Beliau dikirim bersekolah ke sana pada masa pemerintahan Soeharto. Masa-masa hidup di sana sangat berkesan bagi beliau sehingga sejak aku kecil aku sering mendengar ceritanya tentang masa-masa indahnya di Australia. Aku sendiri tak begitu ingat secara detail cerita apa yg membuatku tertarik. Namun barangkali emosi bahagia yg terpancar dari wajah ayahku yg membuat seorang Bank Al kecil terus bermimpi agar suatu saat nanti bisa pergi ke luar negeri. Barangkali juga ditambah dengan jiwa petualang yg aku miliki, lengkaplah sudah mimpi itu aku rajut tahun demi tahun.

Saat itu, tak banyak orang Indonesia yg bisa bepergian ke luar Indonesia. Tak seperti sekarang -yg mana orang numpang pipis saja pergi ke Singapore- jaman itu hanya orang-orang kaya atau orang yang pergi dibayari dinas atau beasiswa saja yg bisa pergi ke luar negeri. Oleh karenanya bagi seorang Bank Al kecil, mimpi ke luar negeri itu adalah seperti mimpi yang hampir mustahil untuk diraih.

Sayangnya pada masa-masa sekolah, aku tak pernah jadi murid berprestasi. Beberapa temanku setelah lulus SMA pergi ke luar negeri dengan program beasiswa (kalau nggak salah salah satu program Habibie). Namun lagi2 itu hanya untuk murid yg berprestasi. Buat aku yg rapor selalu diisi angka merah, tak mungkin beasiswa itu bisa aku raih sehingga mimpi itu lagi2 aku bawa saja menjadi bunga tidur seperti malam-malam yang lain.

Aku tak pernah membayangkan mimpi itu akan menjadi nyata sampai aku lulus dari UGM dan mulai mencari pekerjaan. Beberapa interview telah aku lalui dengan sukses, namun tidak aku teruskan karena aku tidak begitu tertarik bekerja di sana. Sampai pada suatu saat aku melamar di sebuah perusahaan yg bernama Schlumberger Sedco Forex. Aku mendapatkan pengalaman istimewa di sana karena ini adalah saat pertama aku diinterview oleh orang asing. Bahasa Inggrisku saat itu masih seadanya. Kadang bengong menganga tak mengerti apa yg ditanyakan interviewer, kadang merasa mengerti eh kok ya salah sambung.

Walaupun banyak pertanyaan interviewer yang aku tak mengerti, namun ada satu pertanyaan penting yang aku tangkap dengan jelas yaitu,”What do you want to be in the next 5 years?”
Secara spontan aku langsung menjawab dengan tegas,”I want to be able to go overseas.”
Sang Interviewer terlihat tersenyum waktu itu. Aku tak tahu persis mengapa dia tersenyum. Barangkali dia tersenyum karena jawabanku nyeleneh. Orang lain mungkin akan menjawab pertanyaan itu dengan cita2 atau harapan akan karirnya dalam 5 tahun ke depan, tapi aku malah menjawab kepingin pergi ke luar negeri.

Akhirnya aku diterima bekerja di sana. Dan sang interviewer -bule Perancis itu- menjadi boss-ku. Hanya beberapa bulan bekerja saja, si boss menawariku untuk membantu sebuah proyek di Singapore. Itu sebetulnya bukan bagian dari pekerjaanku saat itu, tapi aku tentu saja menyanggupinya karena sangat ingin ke luar negeri. Dan baru saat itu aku mengerti arti senyuman si boss saat interview, rupanya dia tahu bahwa mimpiku adalah mimpi yang sangat mudah dia wujudkan.

Singapore, adalah negara asing pertama yg aku singgahi. Begitu bahagianya aku saat itu mendapatkan sesuatu yang aku impi2kan sejak kecil bak durian runtuh. Saking girangnya, aku bahkan loncat2 di kamar tidur hotel berbintang di sana saat aku pertama kali mendarat di Singapore. Benar2 ndeso deh pokoknya, lah wong namanya juga baru pertama kali ke luar negeri, menginap di hotel berbintang pula.

Pekerjaanku di Singapore selesai dengan sangat memuaskan. Pada awalnya aku hanya diperbantukan sementara untuk membantu proyek di sana. Namun karena orang-orang senang dengan pekerjaanku, maka sejak saat itu aku makin sering dikirim ke luar negeri dan bukan hanya Singapore tapi juga berbagai negara lain. Maka aku mulai terbang ke Malaysia, Australia, Vietnam, Thailand, Brunei dan bahkan Perancis dan Amerika. Begitu sering aku bepergian ke luar negeri saat itu sehingga passport-ku penuh hanya dalam waktu 3 tahun dan harus segera mengganti passport lagi walaupun sebetulnya masa berlaku passport itu masih dua tahun lagi.

Impian yang pada awalnya tampak mustahil itu akhirnya menjadi nyata karena sebuah jawaban nyeleneh saat interview.

Moral of the story:
——————-
Jangan takut bermimpi dan mengatakannya pada orang lain walaupun mimpi itu terlihat mustahil. Siapa tahu orang lain bisa membantu mewujudkan mimpi kita menjadi nyata.

Dubai Marina, 14 Januari 2012

salam,

-bank al-
*menulis sambil duduk2 di Marina Mall, menunggu jadwal menjemput istri pulang pengajian*

Image

I want to take care of my brother

Barusan Dinda cerita kalau kemarin Fadhel -anakku yg baru berusia 7 bulan- jatuh dari kursi makannya. Posisi jatuhnya kepala duluan. Dan yg makin mencemaskan adalah Fadhel mukanya biru, mata setengah tertutup, tidak menangis, dan tidak mengeluarkan suara apa-apa. Dia diam saja setelah jatuh itu.

Tentu saja hal ini membuat Dinda panik. Dan seperti biasa kalau panik kekasihku ini bingung mau berbuat apa, terlebih aku sedang di US dan saat itu sedang tidur sehingga tak mendengar panggilan telpon. Untungnya teriakan dan tangisan Dinda terdengar oleh tetangga depan apartemen. Tetangga yang baik hati itu langsung mengetuk pintu dan menanyakan ada apa.

Saat tetangga datang dan bertanya, Dinda masih kalut dan tak bisa berkata apa-apa kecuali berkata,”my son fell down”.
Terjadi suatu yg mengejutkan, Kevin -anak tertuaku yg baru berusia 5 tahun- yang kemudian menjawab pertanyaan tetangga.
Kevin berkata,”He cannot talk. Dedek Fadhel can’t talk and can’t cry. So we have to go to the hospital”

Akhirnya tetangga menolong mengantarkan ke rumah sakit. Kevin dan Jihan ikut mengantar. Dan alasan Kevin ikut adalah,”I want to take care of Fadhel”.
Setelah diperiksa dokter, alhamdulillah Fadhel tidak apa-apa. Dia hanya shock. Setelah sampai di rumah sakit dia bisa menangis. Dan setelah dilakukan berbagai pengujian dokter menyatakan tak apa2 dan boleh pulang.

Dinda heran dengan kedewasaan dan kemampuan Kevin menjelaskan pada tetangga, dan tahu bahwa Fadhel harus dibawa ke RS. Dinda lalu teringat bahwa sebelum aku berangkat ke US aku sempat berkata pada Kevin.

Aku: “Handsome, ayah is going to work in US again. You are the eldest man in this house when I’m away. Don’t fight your sister. Take care of your brother, sister and bunda.”
Kevin mengangguk dengan tegas waktu itu sambil berkata,”Yes, Ayah”
Aku hanya tersenyum sambil mengelus kepalanya dan tak mengira bahwa kata2ku itu diingat dengan baik oleh Kevin. Itu sebabnya dia ikut ke RS dan berkata,”I want to take care of Fadhel.”

Saat menulis ini air mataku menitik terharu. Tak aku kira sebelumnya bahwa ternyata anak umur 5 tahun sudah bisa menjaga sebuah amanah. I love you, handsome !

Milpitas, 22 November 2012

-bank al-

Selamat datang, musim dingin !

Musim dingin telah datang. Suhu udara di pagi hari sudah mendekati 20 derajad celcius. Bagi kami yg tinggal di Dubai, musim ini adalah musim yang sangat kami nanti-nantikan untuk melakukan berbagai aktivitas outdoor seperti main di taman, pantai, BBQ dan tentu saja desert offroard.

Sabtu kemarin, kami sudah mulai kembali aktivitas main pasir untuk musim ini. Sebetulnya tim inti sedang sibuk beberapa minggu belakangan ini. Sulit sekali menemukan waktu untuk bisa bersama-sama di Dubai karena banyak yang mendapat tugas di lain negara. Sabtu kemarin sebetulnya juga bukan waktu yg ideal. Seorang teman baru saja kembali dari Indonesia. Seorang teman lagi -yg kebetulan seorang pilot- juga kebetulan sedang kena jadwal stand-by dan harus terbang pada malam harinya, sementara yang lainnya juga akan berangkat malam harinya.
Walaupun tak ideal, kami tetap memutuskan untuk main pasir kemarin karena minggu depan tampaknya sebagian besar dari kami tidak di Dubai dan entah kapan lagi akan bisa bertemu.

Dulu, sebelum pindah ke Dubai, aku heran melihat seorang teman SMA-ku yg begitu tergila-gila dengan desert offroad. Tiap minggu dia pergi bermain pasir. Waktu aku tanya dia apa yg membuatnya tertarik dia hanya menjawab bahwa dia hanya ingin bisa berkata “been there done that” yang dalam bahasa sederhananya ingin menambah pengalaman.Setelah aku mencobanya, ternyata aku jatuh cinta pada kegiatan ini. Beberapa lama tak menyentuh pasir, rasanya hidup tak lengkap. Kadang aku sengaja parkir di pasir hanya demi menikmati sedikit tergelincir di pasir pada saat memarkirkan kendaraanku.

Namun jika aku ditanya apa yg membuatku tergila2 pada bukit-bukit, jawabanku tak sama dengan jawaban teman SMA-ku. Aku tak hanya sekedar ingin mencicipi main pasir karena kebetulan di Arab, melainkan kegiatan ini adalah salah satu kegiatan yang multi-aspek yang meliputi:
- keterampilan fisik
- keahlian troubleshooting
- komunikasi dan kerja tim
- ajang silaturahmi
- sarana bermain bersama keluarga

Alasan yg terakhir ini yang menurutku istimewa. Tak banyak kegiatan bapak-bapak yg juga disukai oleh anggota keluarga yg lain. Anak2ku bahkan rela dibangunkan jam 4 pagi demi pergi ke pasir saking senangnya diajak main pasir oleh ayahnya.

Selamat datang musim dingin !

note:
Foto ini diambil akhir tahun lalu, di rute 18 – Madam-to-Mahdah.
Image

Dekontaminasi ala Ariya Hidayat

Tadi siang aku ikut mendengarkan ceramah dari seorang selebriti dari lembah silikon yg bernama Ariya Hidayat. Menurut beliau ada lima hal buruk yg sering dilakukan orang dan perlu diubah atau dengan istilahnya Ariya adalah Dekontaminasi.

Lima hal tersebut adalah:

  1. suka mengikuti arus
  2. mencari jalan pintas
  3. membeli rasa aman
  4. optimisasi yg sub optimal
  5. menilai hanya yg kasat mata

Selain point-point yang sudah disampaikan Ariya di atas, ada juga beberapa catatan lain yg aku sempat catat ketika mendengarkan sesi webex tersebut yaitu:

  1. Seseorang baru bisa disebut pakar kalau sudah 10 ribu jam ! tinggalkan jalan pintas
  2. Optimasi – cari yg costnya yg paling besar. Fokus di situ. Banyak orang terjebak melakan optimasi pada hal yg tak penting atau tak besar pengaruhnya
  3. Apa yg bisa dikontribusikan? Fokus pada yg relevan

Gara2 ceramah Ariya ini aku jadi tersadar kalau aku belum bisa disebut pakar atas sesuatu karena belum sempat menghitung apa saja yg pernah aku lakukan selama 10 ribu jam. Sepertinya sekarang saatnya untuk mulai menghitung jamnya nih.

Bagaimana dengan anda? Pakar di bidang apa?

Circle pada Google+

Beberapa orang yang terbiasa dengan FB mencoba membandingkan Circle pada G+ dengan Group pada FB. Sebagian lagi mencoba membandingkan Circle dengan Friendlist pada FB.  Sebaliknya, saya tak melihat Circle adalah sekedar friendlist pada FB, apalagi diharapkan untuk menggantikan group pada FB. Circle adalah sebuah konsep yang berbeda yg menurutku akan membuat G+ jauh lebih unggul dibandingkan dengan FB.

Apakah konsep Circle pada Google+ itu?

Circle adalah sebuah konsep mengelompokan teman-teman, relasi-relasi, atau saudara-saudara kita dalam kategori tertentu yang memungkinkan kita untuk berinterasi dengan masing-masing kelompok tersebut tanpa tercampuri dengan kelompok lain.

Jika dilihat sekilas saja, circle memang tampak seperti friendlist pada FB. Namun sebagai pengguna FB bertahun-tahun, saya sudah mencoba menggunakan friendlist ini sebisa mungkin dan sampai hari ini buatku friendlist ini masih tak banyak gunanya. Mengapa tidak berguna? Karena friend list pada FB hanya sekedar daftar dan tidak lebih dari itu. Apa yang kita bisa kita lakukan pada daftar tersebut? Ternyata tak banyak yg bisa dilakukan.

Sebaliknya pada konsep Circle, daftar tersebut bukan hanya sekedar daftar. Kita bisa berinteraksi dengan circle atau kelompok tersebut secara terpisah dengan kelompok yg lain.

Lalu, bagaimana implementasinya?

Agar lebih jelas, mari kita lihat implementasi circle pada kasus-kasus berikut ini:

1. Circle memungkinkan kita menyaring stream dari kelompok mana saja yg ingin kita lihat

Pada gambar di samping terlihat bagaimana aku berinteraksi dengan circle yg bernama Dubai. Ketika aku memilih Dubai pada circle yg ada di sebelah kiri (di bawah tulisan stream), maka stream dari teman-teman yang terlihat hanyalah stream-stream dari teman-teman yang ada di dalam circle Dubai saja.

Hal ini berguna untuk menyaring berita-berita dari teman-teman yg sedang ingin kita lihat saja.  Bayangkan jika teman kita ada ratusan (seperti jumlah temanku yg ada di facebook), bagaimana caranya memantau tulisan ratusan teman tersebut jika tidak disaring? Lebih parah lagi jika yang aktif mengupdate status dan berita adalah spammer atau orang-orang lain yg tidak ingin kita baca statusnya. Ini akan membuat update dari teman-teman yg lebih penting malah tenggelam.

Facebook pernah mempunyai fasilitas filtering ini beberapa saat yang lalu. Herannya fitur sebaik ini malah dihapuskan oleh facebook sehingga news feed saya menjadi terlalu ramai dan sulit dipantau lagi.

2. Circle memudahkan kita untuk menulis update pada teman-teman dalam kelompok tertentu saja

Seperti bisa dilihat pada gambar di atas, ketika saya membuka stream Dubai maka secara otomatis setiap update yang saya tulis juga akan dikirim hanya untuk cirle tersebut. Oleh karenanya, jika saya menulis status dalam kondisi tersebut maka hanya teman-teman dalam circle Dubai yang membaca dan teman2 yg di luar itu tidak bisa melihatnya.

Bagaimana hal ini bisa berguna? Saya sering membutuhkan hal ini ketika saya menulis status dalam bahasa Indonesia padahal sebagian teman-teman saya hanya berbahasa Inggris dan tidak mengerti bahasa Indonesia. Jika saya terlalu sering menulis status atau tulisan-tulisan dalam bahasa Indonesia, maka tulisan-tulisan saya tersebut tentu hanya akan menyampah karena mereka tak tahu apa artinya.

Hal ini dimungkinkan juga di facebook dengan mengubah permission setiap kali hendak posting. Tapi mengubah setting itu perlu langkah yang panjang sehingga ketika permission berhasil diubah saya sudah terlanjur malas untuk menulis status. Saya juga pernah mencoba mengubah default permission agar hanya teman2 yg berbahasa Indonesia saja yg membaca status secara default. Hasilnya? Ternyata teman-teman lain malah tidak bisa membaca wall saya sama sekali.

Kasus saya di atas masih kasus yg sepele. Kisah yg sangat dramatis adalah ketika seseorang dipecat dari tempat dia bekerja karena boss-nya membaca statusnya ketika dia sedang curhat di facebook. Hal ini yg membuat sebagian orang menghapus account di FB karena takut keceplosan menulis sesuatu yg membahayakan dirinya.

Di google plus? Kita bisa dapatkan ini dengan mudah

3. Mengetahui kepada siapa saja kita bicara

Pada Facebook, kita tidak bisa mengetahui dengan pasti siapa saja yg bisa melihat tulisan kita ketika kita mengomentari status orang lain. Hal ini bisa berakibat fatal jika ternyata ada orang lain yang membaca tulisan kita padahal kita tak ingin orang tersebut membacanya. Coba saja bayangkan misalnya saya mengomentari status teman saya bahwa dia kemarin bolos ngantor dan pura2 sakit. Namun karena saya tak tahu siapa saja yg bisa membaca status tersebut, ternyata boss-nya membaca status tersebut dan teman saya dalam bahaya.

Atau coba bayangkan jika saya mengomentari status teman dan menyebutkan kasus perselingkuhannya namun ternyata istinya membaca tulisan tersebut. Apa tidak lebih runyam?

Di Google+ resiko seperti ini bisa dikurangi karena kita bisa melihat siapa saja audience-nya.

Pada gambar disamping bisa dilihat salah satu stream teman saya. Dia menulis stream tersebut pada kelompok terbatas – bisa dilihat pada tulisan limited di sana.

Jika di-click di tulisan limited tersebut, maka akan terlihat siapa saja orang-orang yang bisa membaca stream tersebut.  Oleh karenanya, kita bisa memberikan komentar yang lebih pribadi sesuai dengan para pembaca di sana.

Jika yg tertulis di sana bukan limited – melainkan extended circles atau Public,  maka kita perlu berhati-hati karena tulisan tersebut untuk umum.

Menarik bukan? Ya, menurut saya konsep circle ini sangat menarik karena saya bisa mengatur sikap kapan bicara di depan umum, di antara anak-anak, di dalam kelompok ancur, atau di sekeliling kelompok pengajian.

Kesimpulan

  • Friendlist pada FB tidak bisa menggantikan Circle karena Friend List hanyalah sebuah daftar. Kita tak bisa berinteraksi dengan daftar tersebut. Sebaliknya pada konsep Circle, kita bisa berinteraksi dengan kelompok tersebut.
  • Group pada FB juga tak bisa menggantikan Circle, karena kita tak bisa mengatur siapa saja yg berada pada sebuah Group (kecuali kita adalah moderator) sehingga kita harus menganggap group sebagai ruang umum. Circle menyediakan ruangan pribadi yang bisa kita kontrol siapa saja anggotanya.
  • Konsep Circle memungkinkan kita untuk mengelompokan teman-teman kita berdasarkan kategori tertentu dan kemudian berinteraksi dengan kelompok tersebut tanpa tercampur dengan teman-teman lain yang tidak diinginkan. Hal ini memungkinkan kita untuk mengatur sikap – kapan bersikap di tengah pasar, kapan bersikap ruang tamu dan kapan bersikap di ruang tidur.
Bagaimana, apakah anda tertarik untuk mencoba?