Saatnya pindah kerja?

Seringkali kita merasa nggak bahagia akan kondisi tempat kita bekerja sekarang. Namun karena satu dan lain hal, kita ragu2 untuk memutuskan apakah kita sebaiknya pindah dan mencari tempat lain atau bertahan di perusahaan yg sama.

Sialnya, tidak jarang orang yg bertahan sampai akhirnya dia menyadari sudah begitu terlambat untuk pindah karena ketika dia pindah ternyata sudah tak mudah lagi mencari pekerjaan di tempat lain. Padahal andai saja dia pindah lebih dulu, mungkin akan jauh lebih mudah baginya untuk mencari pekerjaan.

Ada artikel menarik yg beberapa hari ini aku temukan dan memberikan sedikit tanda-tanda kapan kita sebaiknya pindah.

Menurut penulis artikel, ada 8 sinyal yg musti kita lihat, yaitu:

1. Produk yg dijual oleh perusahaan kita adalah produk kelas dua
Tentu rasanya kurang sreq jika kita tahu bahwa perusahaan kita cuma dapat pelanggan yg “salah beli”

2. Merasa resah padahal masih hari Minggu
Rasa nggak nyaman di hari senin atau awal kerja masih bisa ditolerr karena disebabkan oleh “holiday mood”
Tapi kalau sampai akhir pekan masih saja nggak mood? Nah ini musti coba gali2 lagi ada apa di tempat kerja

3. Tidak respek pada orang2 yg bekerja sama dengan kita
Ini pertanda kita berada pada lingkungan yg jelek. Lebih baik kabur secepatnya sebelum kita ikut2an rusak 

4. Strategi perusahaan tidak meyakinkan
Kita bisa nyaman melihat masa depan kita masih yakin perusahaan kita punya strategi bagus ke depan.
Kalau strategi nggak jelas. Kita akan selalu was-was karena bisa saja dibawa ke jurang.

5. Merasa bahwa ada atau tidaknya kita di sana tidak ada bedanya
Jika perasaan ini ada. Ini tandanya kita bukan siapa-siapa di perusahaan atau tempat kita bekerja itu.
Selain rasanya tak enak jadi “bukan siapa-siapa”, karir kita ke depan juga nggak akan bagus jika kita “bukan siapa-siapa”
Segeralah pindah ke tempat yg mana kita merasa bisa mengubah dunia dengan bekerja di sana.

6. Kita terlalu banyak mengeluh
Ini paling banyak aku amati di beberapa tempat pekerjaanku yg dulu. Orang2 yg terlalu banyak mengeluh tapi nggak pindah2, biasanya makin terpuruk dan terpuruk saja karirnya. Dia susah maju karena dia sendiri sulit menikmati pekerjaannya.

7. Lebih banyak bosan daripada menikmati pekerjaan
Agak mirip di atas, cuma levelnya baru level bosan. Ini pernah aku alami dulu, sering tertidur di kantor karena bosan.
Sampai akhirnya suatu saat aku sadar aku mentok disitu2 aja dan tidak majur. Setelah keluar, barulah aku merasa bisa melejit lagi seperti kijang.

8. Tahu bahwa potensi tidak termangpaatkan dengan baik
Jika kita tahu bahwa kita punya potensi lebih yang tidak dimanfaatkan oleh perusahaan, maka cobalah cari cara untuk memangpaatkannya. Jika tak ada kesempatan seperti itu di tempat kerja, lebih baik segera memikirkan untuk mencari tempat lain agar potensi itu terpakai secara optimal.

Nah, bagaimana dengan anda?
Apakah merasakan salah satu dari tanda-tanda tersebut?

Referensi:
http://www.inc.com/geoffrey-james/8-signs-its-time-to-move-on.html

Made in Indonesia

Minggu yang lalu, Dindaku lagi lihat2 perabotan rumah tangga di salah satu mall di Dubai. Tiba2 dia tertarik pada sebuah cangkir indah bercorak batik. Cantik sekali cangkir itu dan dibelinya. Setelah sampai di rumah, maka kami tergelak, pantas saja ada cangkir corak batik. Karena ternyata cangkir itu made in Indonesia.

Tak selang berapa lama sesudah itu, kami sekeluarga jalan bareng ke mall dengan temanku sekeluarga juga. Saat itu temanku mau cari sepatu untuk marathon. Sambil lihat2, ketemu sepatu Nike. Pas lihat kotaknya, ternyata juga “made in Indonesia”.

Sebelum pulang kami juga mampir ke toko kamera. Ada sebuah kamera digital yg menarik perhatian kami. Kamera yg dirancang untuk konstruksi, sehingga lebih tahan banting. Eh begitu lihat bungkusnya, ternyata juga “made in Indonesia”

Dulu waktu masih tinggal di Indonesia, susah sekali melihat ada barang “made in Indonesia”. Bahkan Nike yg ada di Indonesia aja tidak bertuliskan “made in Indonesia”. Anehnya setelah tidak tinggal di Indonesia, malah sering melihat barang2 berkualitas bagus bertuliskan “made in Indonesia”.

Kenapa ya? Apakah karena orang Indonesia tidak suka beli produk buatan negaranya sendiri? Jangan2 Nike “made in Indonesia” yg sudah diexport itu kemudian diimport lagi ke Indonesia setelah labelnya di ganti menjadi “made in negara lain” ya?

Endurance dalam belajar

Kosakata yg tertulis di judul sebetulnya aku comot dari kosakata populer dari teman-teman yang hobby nge-gym. Jika merujuk pada Wikipedia, Endurance adalah:

Endurance (also related to sufferance and resilience) is the ability of an organism to exert itself and remain active for a long period of time, as well as its ability to resist, withstand, recover from, and have immunity to trauma, wounds, or fatigue. It is usually used in aerobic or anaerobic exercise. The definition of ‘long’ varies according to the type of exertion – minutes for high intensity anaerobic exercise, hours or days for low intensity aerobic exercise. Training for endurance can have a negative impact on the ability to exert strength[1] unless an individual also undertakesresistance training to counteract this effect.

Atau dalam penjelasan gampangnya endurance adalah ketahanan seseorang untuk melakukan sesuatu dalam jangka waktu yg lama.

Kenapa tiba2 Bang Al ngomongin Endurance dalam belajar? Mungkin buat orang lain endurance adalah faktor yg sudah dipertimbangkan dalam belajar atau melakukan sesuatu. Namun aku pribadi sebelumnya tidak pernah mempertimbangkan Endurance dalam belajar. Fokusku dalam belajar adalah target, namun aku tak terlalu mengatur berapa lama aku harus belajar. Kadang kalau otak sedang encer aku cukup belajar sebentar saja dan target tercapai. Kadang butuh waktu begitu lama, namun tetap aja nggak paham-paham apa yg dipelajari. :)

Sekarang aku baru menemukan presepsi baru bahwa Endurance itu penting. Walau nggak mudeng-mudeng[1], aku harus menyediakan sekian jam dalam sehari untuk belajar. Jika dalam jangka waktu tersebut tidak ada target pemahaman yg tercapai tidak apa-apa. Yg penting adalah otak sudah disuruh belajar sekian jam dalam sehari. Jika ternyata masih belum ada hasilnya, besok diulangi lagi dengan alokasi waktu belajar yg sama. Dan demikian seterusnya sampai suatu saat nani akhirnya paham.

Kenapa aku tiba2 terpikir soal endurance? Tidak lain dan tidak bukan karena aku terinspirasi oleh kegiatan gym tersebut. Dulu sebelum aku gym dengan teratur, aku lari 5 menit aja napas sudah mau putus, mata berkunang2 dan serasa mau sekarat. Sekarang? Aku bisa lari 20 menit non-stop sambil berkhayal yang indah-indah tanpa merasa lelah.

Apakah butuh endurance belajar? Entahlah, ini cuma dugaan saja. Aku pada dasarnya malas belajar. Jika sebuah topik tak menarik untuk dipelajari, aku pasti akan dengan segera ketiduran. Bukan cuma topik yg tak menarik, aku juga sering tertidur jika mempelajari sesuatu tapi tak kunjung paham. Rasa bosan seringkali membuatku tak sanggup menahan kantuk. Dugaanku ini adalah masalah endurance. Karena aku jarang belajar, mata otak cepat merasa lelah jika disuruh mengerjakan sesuatu yg membosankan. Walhasil aku selalu tertidur jika disuruh mempelajari hal yg berat-berat. 

Demikian juga dengan menulis. Dulu aku tak menemukan kesulitan dalam menulis. Namun sekarang setelah jaman FB -yg mana terbiasa menulis hanya singkat-singkat-, aku jadi tak mampu lagi menulis dengan lancar seperti dulu. Apakah ini karena endurance? Bisa jadi demikian.

Oleh karena itu, mulai sekarang aku akan mencoba meningkatkan endurance dalam belajar dan menulis. Mungkin aku harus berkompromi dengan rasa tak puas jika telah menghabiskan waktu sekian lama untuk menulis namun ternyata tulisannya jelek, atau harus rela jika sudah menghabiskan waktu berjam-jam belajar tapi nggak paham apa-apa. Suatu saat nanti barangkali akan ada hasilnya. Minimal meningkatkan endurance dalam belajar.

Hmm, tulisan ini kok jelek ya? Ah biarlah, yg penting peningkatan Endurance dulu deh :P

Keterangan:
[1] Mudeng = Paham (bahasa Jawa)

 

Entrepreneur dan Entreployee

Tulisan berikut sangat menarik. Salah satu quote yg aku suka adalah berikut ini

“The only retirement plan is to Choose Yourself. To start a business or a platform or a lifestyle where you can put big chunks of money away. Some people can say, “well, I’m just not an entrepreneur.”

This is not true. Everyone is an entrepreneur. The only skills you need to be an entrepreneur: an ability to fail, an ability to have ideas, to sell those ideas, to execute on those ideas, and to be persistent so even as you fail you learn and move onto the next adventure. Or be an entrepreneur at work. An “entre-ployee.” Take control of who you report to, what you do, what you create. Or start a business on the side. Deliver some value, any value, to anybody, to somebody, and watch that value compound into a career.”

Mungkin aku sudah memulainya, yaitu menjadi entre-ployee. Aku sudah sejak beberapa tahun yang lalu mencoba mengendalikan pada siapa aku bekerja, apa yg aku kerjakan, dan apa yg aku hasilkan. Namun aku lakukan itu secara tak sadar karena aku saat itu merasa “tak nyaman di zona nyaman”. Baru sekarang aku menyadari bahwa aku ternyata sudah memulai menjadi entre-ployee sejak beberapa tahun yg lalu. Mungkin suatu saat nanti bisa jadi entrepreneur juga.

Bagaimana dengan anda? masih jadi sekedar employee? atau sudah mencoba mengubah mindset menjadi entre-ployee juga?

http://techcrunch.com/2013/01/12/10-reasons-why-2013-will-be-the-year-you-quit-your-job/

Jangan ragu-ragu menceritakan mimpimu

Dulu ayahku sempat tinggal beberapa tahun di Australia sewaktu masa-masa sekolah. Beliau dikirim bersekolah ke sana pada masa pemerintahan Soeharto. Masa-masa hidup di sana sangat berkesan bagi beliau sehingga sejak aku kecil aku sering mendengar ceritanya tentang masa-masa indahnya di Australia. Aku sendiri tak begitu ingat secara detail cerita apa yg membuatku tertarik. Namun barangkali emosi bahagia yg terpancar dari wajah ayahku yg membuat seorang Bank Al kecil terus bermimpi agar suatu saat nanti bisa pergi ke luar negeri. Barangkali juga ditambah dengan jiwa petualang yg aku miliki, lengkaplah sudah mimpi itu aku rajut tahun demi tahun.

Saat itu, tak banyak orang Indonesia yg bisa bepergian ke luar Indonesia. Tak seperti sekarang -yg mana orang numpang pipis saja pergi ke Singapore- jaman itu hanya orang-orang kaya atau orang yang pergi dibayari dinas atau beasiswa saja yg bisa pergi ke luar negeri. Oleh karenanya bagi seorang Bank Al kecil, mimpi ke luar negeri itu adalah seperti mimpi yang hampir mustahil untuk diraih.

Sayangnya pada masa-masa sekolah, aku tak pernah jadi murid berprestasi. Beberapa temanku setelah lulus SMA pergi ke luar negeri dengan program beasiswa (kalau nggak salah salah satu program Habibie). Namun lagi2 itu hanya untuk murid yg berprestasi. Buat aku yg rapor selalu diisi angka merah, tak mungkin beasiswa itu bisa aku raih sehingga mimpi itu lagi2 aku bawa saja menjadi bunga tidur seperti malam-malam yang lain.

Aku tak pernah membayangkan mimpi itu akan menjadi nyata sampai aku lulus dari UGM dan mulai mencari pekerjaan. Beberapa interview telah aku lalui dengan sukses, namun tidak aku teruskan karena aku tidak begitu tertarik bekerja di sana. Sampai pada suatu saat aku melamar di sebuah perusahaan yg bernama Schlumberger Sedco Forex. Aku mendapatkan pengalaman istimewa di sana karena ini adalah saat pertama aku diinterview oleh orang asing. Bahasa Inggrisku saat itu masih seadanya. Kadang bengong menganga tak mengerti apa yg ditanyakan interviewer, kadang merasa mengerti eh kok ya salah sambung.

Walaupun banyak pertanyaan interviewer yang aku tak mengerti, namun ada satu pertanyaan penting yang aku tangkap dengan jelas yaitu,”What do you want to be in the next 5 years?”
Secara spontan aku langsung menjawab dengan tegas,”I want to be able to go overseas.”
Sang Interviewer terlihat tersenyum waktu itu. Aku tak tahu persis mengapa dia tersenyum. Barangkali dia tersenyum karena jawabanku nyeleneh. Orang lain mungkin akan menjawab pertanyaan itu dengan cita2 atau harapan akan karirnya dalam 5 tahun ke depan, tapi aku malah menjawab kepingin pergi ke luar negeri.

Akhirnya aku diterima bekerja di sana. Dan sang interviewer -bule Perancis itu- menjadi boss-ku. Hanya beberapa bulan bekerja saja, si boss menawariku untuk membantu sebuah proyek di Singapore. Itu sebetulnya bukan bagian dari pekerjaanku saat itu, tapi aku tentu saja menyanggupinya karena sangat ingin ke luar negeri. Dan baru saat itu aku mengerti arti senyuman si boss saat interview, rupanya dia tahu bahwa mimpiku adalah mimpi yang sangat mudah dia wujudkan.

Singapore, adalah negara asing pertama yg aku singgahi. Begitu bahagianya aku saat itu mendapatkan sesuatu yang aku impi2kan sejak kecil bak durian runtuh. Saking girangnya, aku bahkan loncat2 di kamar tidur hotel berbintang di sana saat aku pertama kali mendarat di Singapore. Benar2 ndeso deh pokoknya, lah wong namanya juga baru pertama kali ke luar negeri, menginap di hotel berbintang pula.

Pekerjaanku di Singapore selesai dengan sangat memuaskan. Pada awalnya aku hanya diperbantukan sementara untuk membantu proyek di sana. Namun karena orang-orang senang dengan pekerjaanku, maka sejak saat itu aku makin sering dikirim ke luar negeri dan bukan hanya Singapore tapi juga berbagai negara lain. Maka aku mulai terbang ke Malaysia, Australia, Vietnam, Thailand, Brunei dan bahkan Perancis dan Amerika. Begitu sering aku bepergian ke luar negeri saat itu sehingga passport-ku penuh hanya dalam waktu 3 tahun dan harus segera mengganti passport lagi walaupun sebetulnya masa berlaku passport itu masih dua tahun lagi.

Impian yang pada awalnya tampak mustahil itu akhirnya menjadi nyata karena sebuah jawaban nyeleneh saat interview.

Moral of the story:
——————-
Jangan takut bermimpi dan mengatakannya pada orang lain walaupun mimpi itu terlihat mustahil. Siapa tahu orang lain bisa membantu mewujudkan mimpi kita menjadi nyata.

Dubai Marina, 14 Januari 2012

salam,

-bank al-
*menulis sambil duduk2 di Marina Mall, menunggu jadwal menjemput istri pulang pengajian*

Image

I want to take care of my brother

Barusan Dinda cerita kalau kemarin Fadhel -anakku yg baru berusia 7 bulan- jatuh dari kursi makannya. Posisi jatuhnya kepala duluan. Dan yg makin mencemaskan adalah Fadhel mukanya biru, mata setengah tertutup, tidak menangis, dan tidak mengeluarkan suara apa-apa. Dia diam saja setelah jatuh itu.

Tentu saja hal ini membuat Dinda panik. Dan seperti biasa kalau panik kekasihku ini bingung mau berbuat apa, terlebih aku sedang di US dan saat itu sedang tidur sehingga tak mendengar panggilan telpon. Untungnya teriakan dan tangisan Dinda terdengar oleh tetangga depan apartemen. Tetangga yang baik hati itu langsung mengetuk pintu dan menanyakan ada apa.

Saat tetangga datang dan bertanya, Dinda masih kalut dan tak bisa berkata apa-apa kecuali berkata,”my son fell down”.
Terjadi suatu yg mengejutkan, Kevin -anak tertuaku yg baru berusia 5 tahun- yang kemudian menjawab pertanyaan tetangga.
Kevin berkata,”He cannot talk. Dedek Fadhel can’t talk and can’t cry. So we have to go to the hospital”

Akhirnya tetangga menolong mengantarkan ke rumah sakit. Kevin dan Jihan ikut mengantar. Dan alasan Kevin ikut adalah,”I want to take care of Fadhel”.
Setelah diperiksa dokter, alhamdulillah Fadhel tidak apa-apa. Dia hanya shock. Setelah sampai di rumah sakit dia bisa menangis. Dan setelah dilakukan berbagai pengujian dokter menyatakan tak apa2 dan boleh pulang.

Dinda heran dengan kedewasaan dan kemampuan Kevin menjelaskan pada tetangga, dan tahu bahwa Fadhel harus dibawa ke RS. Dinda lalu teringat bahwa sebelum aku berangkat ke US aku sempat berkata pada Kevin.

Aku: “Handsome, ayah is going to work in US again. You are the eldest man in this house when I’m away. Don’t fight your sister. Take care of your brother, sister and bunda.”
Kevin mengangguk dengan tegas waktu itu sambil berkata,”Yes, Ayah”
Aku hanya tersenyum sambil mengelus kepalanya dan tak mengira bahwa kata2ku itu diingat dengan baik oleh Kevin. Itu sebabnya dia ikut ke RS dan berkata,”I want to take care of Fadhel.”

Saat menulis ini air mataku menitik terharu. Tak aku kira sebelumnya bahwa ternyata anak umur 5 tahun sudah bisa menjaga sebuah amanah. I love you, handsome !

Milpitas, 22 November 2012

-bank al-

Selamat datang, musim dingin !

Musim dingin telah datang. Suhu udara di pagi hari sudah mendekati 20 derajad celcius. Bagi kami yg tinggal di Dubai, musim ini adalah musim yang sangat kami nanti-nantikan untuk melakukan berbagai aktivitas outdoor seperti main di taman, pantai, BBQ dan tentu saja desert offroard.

Sabtu kemarin, kami sudah mulai kembali aktivitas main pasir untuk musim ini. Sebetulnya tim inti sedang sibuk beberapa minggu belakangan ini. Sulit sekali menemukan waktu untuk bisa bersama-sama di Dubai karena banyak yang mendapat tugas di lain negara. Sabtu kemarin sebetulnya juga bukan waktu yg ideal. Seorang teman baru saja kembali dari Indonesia. Seorang teman lagi -yg kebetulan seorang pilot- juga kebetulan sedang kena jadwal stand-by dan harus terbang pada malam harinya, sementara yang lainnya juga akan berangkat malam harinya.
Walaupun tak ideal, kami tetap memutuskan untuk main pasir kemarin karena minggu depan tampaknya sebagian besar dari kami tidak di Dubai dan entah kapan lagi akan bisa bertemu.

Dulu, sebelum pindah ke Dubai, aku heran melihat seorang teman SMA-ku yg begitu tergila-gila dengan desert offroad. Tiap minggu dia pergi bermain pasir. Waktu aku tanya dia apa yg membuatnya tertarik dia hanya menjawab bahwa dia hanya ingin bisa berkata “been there done that” yang dalam bahasa sederhananya ingin menambah pengalaman.Setelah aku mencobanya, ternyata aku jatuh cinta pada kegiatan ini. Beberapa lama tak menyentuh pasir, rasanya hidup tak lengkap. Kadang aku sengaja parkir di pasir hanya demi menikmati sedikit tergelincir di pasir pada saat memarkirkan kendaraanku.

Namun jika aku ditanya apa yg membuatku tergila2 pada bukit-bukit, jawabanku tak sama dengan jawaban teman SMA-ku. Aku tak hanya sekedar ingin mencicipi main pasir karena kebetulan di Arab, melainkan kegiatan ini adalah salah satu kegiatan yang multi-aspek yang meliputi:
- keterampilan fisik
- keahlian troubleshooting
- komunikasi dan kerja tim
- ajang silaturahmi
- sarana bermain bersama keluarga

Alasan yg terakhir ini yang menurutku istimewa. Tak banyak kegiatan bapak-bapak yg juga disukai oleh anggota keluarga yg lain. Anak2ku bahkan rela dibangunkan jam 4 pagi demi pergi ke pasir saking senangnya diajak main pasir oleh ayahnya.

Selamat datang musim dingin !

note:
Foto ini diambil akhir tahun lalu, di rute 18 – Madam-to-Mahdah.
Image