Feeds:
Tulisan
Komentar

Bulan Madu

Berikut adalah pembicaraanku kemarin dengan seorang client

aku: Where is Mr X?
teman: He is going for honeymoon.
aku: He’s been married for a long time, right? Is this a second honeymoon?
teman: Kuwaitis have a lot of honeymoons
aku: Ah, I didn’t know that Kuwaitis have a lot of honeymoons. Are they going for honeymoon every year?

Temanku nyengir kuda….. dan lalu dia berkata,
“actually, Kuwaitis have a lot of wifes”

Dialog yang sering berulang

“Are you philiphino?”, begitu pertanyaan pembuka yg dilontarkan oleh sang supir taksi.

“No, I’m Indonesian.”,  timpalku atas pertanyaannya

“Indonesian? I see no Indonesian man here. But lady? too much.”, sambung sang supir Taksi.

“Where are you working?”, lanjut sang supir Taksi

“Somewhere in the city.”, jawabku

“Salary, how much?”, tanya supir taksi lagi

—–

Percakapan di atas bukan sekali dua kali aku alami sejak tinggal di Kuwait ini. Entah sudah beberapa puluh kali aku mengalaminya. Wajah Indonesia yg mirip sekali Filipino ini membuatku sering dikira orang Filipina yang relatif lebih banyak dibanding orang Indonesia di sini. Namun tidak berarti mereka tak mengetahui keberadaan orang Indonesia di sini. Orang Indonesia sering juga mereka jumpai di sini, namun rata2 para TKW, sehingga mereka mengira orang Indonesia itu perempuan semua.

Selanjutnya, entah mengapa, orang-orang di sini senang sekali menggunakan “too much” ketika ingin mengatakan “sangat”. Agak menggelikan memang pada saat-saat pertama mendengar mereka mengatakan,”Kuwait is too much hot. When comes Winter, too much cold.” . Namun hari demi hari, dialog ini sudah tidak terasa lucu lagi di telinga. Hanya efek sampingnya agak kurang baik, bahasa Inggrisku jadi hancur lebur sejak tinggal di sini. Kadang2 aku juga tidak sengaja mengucapkan “too much hot” atau “too much traffic” ketika mengatakan jalanan sedang macet.

Dan satu lagi pertanyaan yg sering aku dengar dan cukup mengagetkan di sini yaitu,”salary, how much.” Di Indonesia pertanyaan seperti ini tidak begitu etis jika ditanyakan pada orang yg baru dikenal. Jangankan untuk orang yg baru dikenal, untuk orang yg sudah dikenal lama saja kadang kita sungkan menanyakannya. Namun setelah aku pikir-pikir, kebiasaan seperti ini sebetulnya ada baiknya juga. Setidaknya dengan mengetahui berapa gaji si anu dan si dia, maka mereka bisa mengetahui harga pasar sehingga bisa menentukan posisi tawar yg lebih baik. Tidak sama dengan di Indonesia, yang mana seringkali kita tidak tahu dan hanya bisa mengira-ira berapa harga yang harus kita pasang ketika ditanya dalam proses interview karena kurangnya pengetahuan akan harga pasar ini.

Ah, too much sleepy now. I need to go to bed after finishing some dynamips exercise.

Memasak

Sejak ada facebook, aku makin jarang menulis dan mengisi blog lagi. Bukan hanya Multiply, namun wordpress juga hampir tak pernah lagi aku update. Sebetulnya bukan facebook-nya yang menyita waktuku sehingga aku malas menulis. Facebook hanya mengenalkan aku pada game RPG, yg pada waktu itu adalah gangster battle. Namun rupaya setelah bosan dengan game tersebut, aku jadi tertarik untuk mencoba game satu ke game lainnya sehingga waktuku banyak tersita untuk main game sejenis itu.

Sebelumnya aku tidak pernah menyukai game-game seperti itu. Mungkin benar kata pepatah kuno dulu, tak kenal maka tak sayang. Gara2 iseng mencoba, maka aku jadi ketagihan.

Saat ini kecanduan main game sudah mulai hilang. Tentu saja aku masih main game, hanya saja tidak begitu fokus seperti dulu. Sebagian game sudah aku kuasai sehingga aku hanya cukup melihatnya beberapa kali saja dalam sehari dan tidak banyak menyita waktu.

Nah, lalu apa yg sekarang sedang aku coba? Yap, anda benar, aku saat ini sedang belajar memasak. Kegiatan memasak ini juga bukan sesuatu yg pernah aku ingin pelajari sejak kecil. Namun sejak ada di rantau, aku merasa ada perlunya juga bisa memasak karena kadangkala aku kepingin merasakan masakan Indonesia namun tidak kutemukan warung padang atau warung tegal di sekitar tempat tinggal.

Singat kata, aku akhirnya belajar sedikit demi sedikit dari Dinda. Dari berbagai percobaan memasak yg telah dilakukan, baru satu masakan yg aku kuasai, yaitu nasi goreng. Sisanya masih belum karuan rasanya. Kemarin aku memasak ayam goreng tepung, namun tepungnya hangus. Mencoba menggoreng ikan, bentuknya hancur nggak karuan. Begitulah, percobaan memasak bagiku memang seperti Thomas Alha Edison, dari 1000 percobaan, 999 gagal. Walaupun gagal, aku cukup senang karena nasi goreng adalah salah satu makanan favoritku. Dan kebetulan nasi goreng buatanku cukup enak, sehingga tak perlu harus menunggu tukang nasi goreng yg tak akan pernah lewat di sini.

Malam ini aku mau mencoba memasak sup ayam. Kemarin malam sudah belajar pada guru besar bagaimana caranya. Ada komentar yg menarik dari Dinda ketika mengajariku memasak bahwa aku selalu bertanya takarannya. Dinda sendiri kadang tidak ingat berapa takarannya (misalnya: berapa bawangnya, berapa cabe-nya, berapa garamnya, etc), karena semua ditakar berdasarkan perkiraan dan perasaan saja. Aku tergelak, ternyata otak programmer telah membuat acara memasak ini menjadi terasa sulit karena aku berpikir terlalu detail. Mungkin ada baiknya aku pakai acara coba-coba seperti bagaimana Dinda memasak.

Ah, sudah waktunya pergi belanja. Semoga sup-nya enak sehingga dari 1000 percobaan ada 2 yg berhasil. :)

Setelah beberapa lama tidak menulis tentang peluang bisnis milyaran, maka kali ini tampaknya ada lagi peluang bisnis jutaan pada masa krisis seperti sekarang ini. Berbeda dengan peluang sebelumnya, bisnis kali ini memang dibutuhkan sedikit keahlian. Namun untuk mendapatkan keahlian ini tidak harus sekolah bertahun2 untuk meraih gelar sarjana ataupun mendapatkan sertifikasi tertentu.

Berikut adalah berita detail-nya:

LONDON, KOMPAS.com — Untuk urusan merapikan rambut, Sultan Brunei Hasanal Bolkiah dengan gampang merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah.

Seperti dilansir The Sun, Sultan yang masuk jajaran orang terkaya di dunia itu mengundang tukang cukur favoritnya, Ken Modestu, yang membuka kios di Dorchester Hotel di Mayfair, pusat kota London.

Tentu bagi orang sekaya Bolkiah jarak sama sekali bukan masalah. Menurut orang dekat Modestu, George Kadi, tukang cukur itu memang menjadi favorit raja berusia 62 tahun itu. “Ken sudah menangani rambut Sultan Bolkiah selama 16 tahun terakhir,† kata Kadi.

Modestu dipanggil ke Brunei tiap 3-4 minggu sekali. Modestu pun dimanja dengan penerbangan kelas satu yang tiket pulang perginya seharga 9.000 poundsterling atau Rp 147 juta. Sampai di darat, Modestu tidak perlu bingung karena hotel dan segala keperluannya sudah disediakan. “Semua keperluan, termasuk hotel, transportasi, sampai makanan mewah, sudah disediakan. Semua tinggal tanda tangan. Itu saja,† kata Kadi kepada The Sun.

Setelah selesai menunaikan tugasnya dan Sultan puas, Ken langsung menerima bayaran hingga ribuan poundsterling. †Pokoknya setelah selesai mencukur, Sultan memberinya amplop tebal, tentu saja isinya uang,† kata Kadi.

Wabah flu babi yang sudah menyerang Asia Tenggara membuat Sultan Bolkian lebih berhati-hati mendatangkan Modestu. Modestu pun dibelikan tiket kelas satu yang memungkinkan ia punya kabin sendiri sehingga tidak bercampur dengan penumpang lain. Untuk itu, Sultan Bolkiah dengan enteng mengeluarkan uang 11.000 poundsterling atau Rp 180 juta.

†Kalau ditotal, sultan bisa mengeluarkan uang 15.000 poundsterling (Rp 247 juta) hanya untuk sekali cukur. Padahal, di Inggris, Ken hanya mematok tarif 30 pound (sekitar Rp 490.000),† kata Kadi. sun/sas

Nah, ada yg mau memanfaatkan peluang ini?

Anjlok

Rupanya koneksi dari sini ke kampung-ugm.org sedang tidak begitu bagus sehingga wordpress tidak bisa menarik RSS dari agregator tersebut.  Bagian itu tidak terlalu menarik untuk ditulis di blog ini. Yg agak menggelitik adalah pesan kesalahan yg disampaikan oleh wordpress, yaitu seperti screen capture berikut:

anjlokEntah disengaja atau tidak oleh penterjemah, namun pesan tersebut agak ganjil terbaca bagiku. Anjlok? apakah kata tersebut sudah diserap menjadi bahasa Indonesia? :D

Hari ini aku berbincang-bincang dengan seseorang via YM. Pada kesempatan tersebut aku diberitahu bahwa bahwa ada yg namanya CCNA lokal dan ada yg namanya CCNA internasional. Bagi yg belum tahu apa bedanya -seperti aku yg juga baru tahu dari rekan tersebut- silahkan disimak rekaman berikut:

xxxx_x: Lg di australia y ini masnya?
bank_al: nggak kok
xxxx_x: Di indo y?
bank_al: iya
xxxx_x: Ambil ccna dimana ms dulu ?
xxxx_x: Udh internasionl atau ccna lokal?
bank_al: saya ambil CCNA di jakarta kok
bank_al: memang ada CCNA internasional dan CCNA lokal ya?
xxxx_x: Iya
bank_al: oh gitu. Bedanya apa?
xxxx_x: Klo yg internsnl itu lgsg instrktr dr USA
bank_al: instruktur?
xxxx_x: Cisco systm
bank_al: memang CCNA butuh instruktur?
xxxx_x: Yg internsnl
bank_al: oh gitu ya.
bank_al: terus instrukturnya itu tugasnya ngapain?
xxxx_x: Ya sama kyk dosen.
bank_al: hmm gitu ya

Demikianlah kiranya, semoga bemangpaat.

xxxx_x: Lg di australia y ini masnya?
bank_al: nggak kok
xxxx_x: Di indo y?
bank_al: iya
xxxx_x: Ambil ccna dimana ms dulu ?
xxxx_x: Udh internasionl atau ccna lokal?
bank_al: saya ambil CCNA di jakarta kok
bank_al: memang ada CCNA internasional dan CCNA lokal ya?
xxxx_x: Iya
bank_al: oh gitu. Bedanya apa?
xxxx_x: Klo yg internsnl itu lgsg instrktr dr USA
bank_al: instruktur?
xxxx_x: Cisco systm
bank_al: memang CCNA butuh instruktur?
xxxx_x: Yg internsnl
bank_al: oh gitu ya.
bank_al: terus instrukturnya itu tugasnya ngapain?
xxxx_x: Ya sama kyk dosen.
bank_al: hmm gitu ya

Aku agak terkejut mendengar berita adanya seseorang ibu RT yg masuk penjara karena terjerat UU ITE sehubungan dengan keluhan yg pernah dia tuliskan di sebuah milis. Bagaimana ceritanya sehingga Ibu Prita ini bisa terjerat pasal tersebut tentu bisa dibaca di berbagai ulasan yg ditulis teman-teman blogger, seperti  blognya Daus, Yuhendra, ataupun blog-nya Ndoro Kakung.

Aku bukanlah pakar hukum seperti para teman-teman tersebut di atas sehingga tak bisa mengulas panjang lebar mengapa Ibu Prita bisa ketiban sial. Namun kejadian ini membuatku berpikir bahwa kejadian ini bisa menjadi awal kematian kebebasan beropini di Indonesia.

Sebetulnya yg dilakukan oleh Ibu Prita itu sederhana saja, dia tidak puas dengan pelayanan rumah sakit Omni dan kemudian menceritakan uneq2-nya pada teman2nya (yg kebetulan adalah anggota milis).   Ndilalahe, tulisan tersebut terforward kemana-mana dan ternyata membuat pihak RS Omni tersinggung dan memperkarakan kasus tersebut sehinga Ibu Prita ditahan.

Aku tidak membaca surat Ibu Prita, namun katakanlah keluhan Ibu Prita itu sangat pedas dan tidak benar sehingga menyakitkan pihak RS Omni. Apakah pihak RS Omni layak membawa kasus ini ke meja hukum? Kok rasanya “cemen” banget sih? Apakah pihak RS tidak mampu menjawab dengan argumentasi tersebut dengan email juga sehingga ada informasi pembanding bagi pembaca? Mengapa ejekan verbal harus dibawa ke pengadilan?

Jawabannya tentu saja karena ada UU yg memungkinkan pihak RS untuk melakukan aksi ini, yaitu konon UU ITE namanya. Namun aku terus terang tidak paham apa sebetulnya esensi dari UU ITE pasal “pencemaran nama baik ini”. Dampak negatifnya sudah bisa kita lihat bahwa kebebasan berpendapat dan beropini di media elektronik jadi terpasung. Obrolan ala warung kopi tidak bisa lagi dilakukan di media elektronik karena salah-salah nanti ada pihak yg tersinggung dan membawa kasus ini ke pengadilan.

Ada usulan dari Daus untuk membuat sebuah kritikan yg sangat hati-hati sehingga tidak menyebutkan nama,tempat dan kejadian. Mungkin itu ide yg sangat bagus, tapi sangat sulit sekali untuk dilaksanakan. Saat ini-pun aku menjadi was-was, jangan2 Daus, NdoroKakung, ataupun Yuhendra tersinggung akan tulisanku ini. Jangan2 pendapatku di tulisan ini dianggap tidak menyenangkan dan patut dijerat UU ITE juga? Hiiii, ngeri banget jika itu terjadi. 

Ah sudahlah, aku tidak mau menulis panjang-panjang kali ini, takut masuk penjara. Namun masih ada sebuah pertanyaan di kepalaku,”Apa sih gunanya UU ITE tentang pencemaran nama baik” ? Apakah pasal ini tidak sebaiknya dihapuskan saja? Ada yg bisa member pencerahan?

Aku terkaget-kaget dan terheran-heran ketika mendengar adanya penggunaan scanner dalam proses penghitungan suara pada pemilu 2009 yg baru saja berlalu.  Aku tidak mengerti mengapa scanner dibutuhkan dalam proses ini dan mencoba bertanya sana bertanya sini terutama di milis kampung-UGM.  Akhirnya seorang teman menunjukkan website berikut yg menjelaskan tujuan penggunaan scanner pada penyelengaraan pemilu kali ini.

Berikut adalah tujuan penggunaan scanner, berdasarkan website tersebut:

Tujuan utama yang ingin dicapai dengan penggunaan mesin pemindai yang berbasis ICR tersebut adalah:

  1. mempercepat proses perhitungan suara
  2. memperoleh tabulasi yang akurat
  3. memperoleh salinan dokumen elektronik yang otentik dan teramankan
  4. transparan dalam mendukung fungsi pengawasan langsung oleh masyarakat.

Sekarang mari kita coba gunakan akal sehat apakah kira2 tujuan tersebut di atas memang membutuhkan ICR atau tidak dengan meninjau masing-masing tujuan tersebut.

1. apakah mempercepat proses penghitungan suara?

Untuk mengetahui betul atau tidaknya, mari kita tinjau proses penghitungan suara yg juga ditulis oleh website tersebut pada rujukan berikut, yaitu:

  1. Formulir C1-IT yang telah diisi oleh petugas KPPS diproses oleh software ICR di KPU Kabupaten/Kota
  2. Hasil pembacaan ICR akan ditampilkan di layar monitor, dan operator melakukan koreksi terhadap hasil pembacaan itu. Setelah operator memastikan  tidak ada salah baca, file disimpan dan dikirim ke KPU
  3. Di KPU, aplikasi Sistem Integrasi akan memeriksa keamanan dan otentikasi file yang dikirimkan oleh KPU Kabupaten/Kota tersebut untuk ditayangkan di pusat tabulasi nasional.

Dari prosedur di atas bisa dilihat bahwa hasil pembacaan ICR ternyata harus diverifikasi lagi oleh operator. Operator harus memeriksa data satu per satu untuk memastikan tidak adanya kesalahan baca. Verifikasi ini artinya si operator harus membaca formulir secara manual dan membandingkannya dengan hasil dari ICR. Operator harus membaca dua formulir, yaitu formulir asli dan formulir hasil ICR.  Coba bandingkan dengan tanpa ICR. Operator hanya perlu membaca formulir kertas dan kemudian menuliskan apa yg di bacanya tersebut dengan menggunakan keyboard.  Waktu yg dibutuhkan akan setara dengan menggunakan ICR, dan bahkan menggunakan ICR bisa lebih lama karena pembacaan ICR bisa salah sehinga operator harus membaca form hasil ICR dengan hati2.

2. Apakah memperoleh tabulasi yang akurat?

Rasanya tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan bahwa hasil intepretasi ICR tidak akurat. Bisa dilihat sendiri pada penjelasan dari situs berikut bahwa telah terjadi kesalahan yg fatar pada pemilu kemarin. Komentar salah seorang pembaca di sana sangat menarik, yaitu bahwa cukup ditemukan satu kesalahan untuk menunjukkan hasil pembacaa ICR ini tidak akurat.  Namun dibutuhkan untuk menguji seluruh domain untuk mengetahui apakah hasil pembacaannya memang akurat. Dalam hal ini, sudah jelas2 ditemukan kesalahan pembacaan, yg artinya tabulasi yang akurat tidak tercapai.

3. memperoleh salinan dokumen elektronik yang otentik dan teramankan

Saya pikir inilah satu2nya yg bisa didapat dari penggunaan ICR ini, yaitu mendapatkan dokumen elektronik. Namun pertanyaan lebih lanjut adalah,”untuk apa dokumen elektronik ini?” Jika hanya sekedar untuk arsip, apakah dokumen dalam bentuk kertas tidak cukup? Toh dokumen original dalam bentuk kertas sudah ada sehinga dokumen elektronik ini sebetulnya tidak jelas kegunaannya.

4. Apakah transparan dalam mendukung fungsi pengawasan langsung oleh masyarakat?

Point yg ke-4 ini tidak berhubungan dengan ICR.  Teknologi ICR ini hanya digunakan untuk menginput data dan tidak ada hubungan sama sekali dengan pengawasan. Jika kemudian hasilnya disimpan pada pusat data yg dipubikasikan, maka bisa jadi memang data tersebut bisa dipantau dan diawasi oleh masyarakat. Namun apakah data yang disimpan itu harus dalam bentuk image? Ya tentu saja tidak. Data yg dibutuhkan masyarakat untuk diawasi hanyalah berupa angka-angka. Dan data seperti ini bisa diinput oleh operator melalui keyboard dan tidak membutuhkan ICR. 

Lho, jadi lebih banyak tujuan yg tidak tercapai?

Dari penjelasan di atas, bisa dilihat bahwa hampir semua tujuan penggunaan ICR yg diangkat oleh website tersebut tidak tercapai. Satu2nya tujuan yg tercapai adalah ketersediaan dokumen elektronik berbentuk image, yg mana keberadaan dokumen model begini juga tidak diperlukan. 

Di sisi lain, penggunaan ICR ternyata justru merugikan karena membutuhkan cost yg besar (yaitu: untuk membeli scanner, software pembaca dan interpretasi ICR yg kerjanya tidak akurat, dan lain sebagainya), dan juga boros bandwidth. Jika saja yg dikirimkan data berupa text, maka penggunaan bandwidth akan jauh lebih hemat.

Lalu kenapa dong ICR dipakai pada pemilu 2009? Mungkin Indonesia sudah terlalu kaya sehingga tidak tahu mau dibuang ke mana uangnya.  Solusi ICR pada pemilu 2009 ini cocok untuk tujuan tersebut, buang2 uang.

Bagaimana menurut pendapat anda?

Rasa ingin tahu

Beberapa bulan terakhir ini, aku makin jarang menulis. Tulisan-tulisanku baik di milis ataupun blog makin mandeg dan jarang diupdate. Lama aku bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi. Yg aku tahu hanyalah bahwa aku kekurangan ide, tidak tahu lagi apa yg pas dan bisa aku tulis. Cukup lama aku mentok di situ dan kehabisan akal bagaimana caranya memunculkan ide. Ada yg bilang bahwa ide itu bisa muncul di kamar mandi dan oleh karenanya bawalah Black Berry ke kamar mandi sehingga bisa menulis ketika sedang buang air besar. Ide ini selalu lupa aku coba, karena aku sangat menikmati buang hajat di kamar mandi dan juga nggak punya BlekBiri.

Belakangan ini, secara tak sengaja aku mengamati bahwa salah satu sebab aku kekurangan ide adalah karena aku juga memiliki rasa ingin tahu yg tidak terlalu besar. Aku sering memperhatikan beberapa teman yg tiba2 menanyakan sesuatu yg ternyata menarik untuk dibahas padahal tidak pernah terpikir olehku untuk mempertanyakan hal tersebut.
Katakanlah seperti misalnya pertanyaan,”bang, di Kuwait bisa lihat perempuan pakai bikini nggak?”. Aku nggak pernah terpikir untuk menanyakan demikian pada temanku yg pernah ke negara arab juga sebelumnya, namun temanku kok bisa ya terpikir demikian. Pertanyaan-pertanyaan ini jika dijawab tentu akan menambah pengetahuan si penanya yg pada suatu saat nanti mungkin bisa berguna bagi si penanya yang salah satunya adalah dengan menulis blog.

Mengapa aku bisa terpikir untuk menggugat rasa ingin tahuku yg kurang ini? Aku tergugah ketika beberapa hari yg lalu membaca tulisan Mas Rovick tentang “tersambar petir”. Topik ini sebetulnya simple sekali, yaitu rumahnya tersambar petir. Namun herannya dari topik sebegitu sederhana Mas Rovick bisa mengulas panjang lebar tentang petir dan
bahkan akhirnya bisa menampilkan foto-foto batu petir yg barangkali di miliki oleh Gundala si putra petir. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tampaknya karena rasa ingin tahu, yg membuat ingin mencari-cari, dan akhirnya kemudian dibungkus menjadi sebuah cerita yg menarik.

Hal yg sama juga terjadi pada Kibroto yg rasa ingin tahunya juga aku lihat sangat besar. Bayangkan saja, beliau bisa menghubungkan topik Investasi dan rasio jari manis vs jari telunjuk seseorang. Tidak banyak orang yg sebelumnya terpikir bahwa rasio jari bisa dihubungkan dengan investasi. Namun begitulah, topik ini sempat membuat ramai
jagad milis dan bahkan mampu memancing para penghuni kampung menampilkan foto-foto lucu, yaitu orang-orang tidak tampan yg memamerkan jari2nya. Topik ini juga mampu membuatku di rumah mainan jari sambil membandingkan jari2ku dengan jari2 istriku. Dugaanku ada juga berapa warga milis kampung yg lain yg juga mainan jari di rumah gara2 topik yg menarik ini.

Aku mencoba berkaca dan belajar dari orang-orang sukses tersebut di atas dan menyadari bahwa rasa ingin tahuku tidak begitu besar. Kecilnya rasa ingin tahu ini membuatku jarang bertanya sehinga seringkali juga kehabisan bahan kalau sedang berbincang-bincang dengan seorang teman. Rasanya akan ada banyak perubahan dalam hidupku jika
aku bisa meningkatkan rasa ingin tahu ini. Nah yg menjadi pertanyaan saya, apakah rasa ingin tahu ini bawaaan genetik? Ataukan disebabkan oleh nurture? Dan bisakah rasa ingin tahu ini ditingkatkan? Jika bisa, bagaimana caranya? Ada yg bisa memberi masukan?

Pajak Penghasilan

Setelah ada penjelasan soal UU PPh, ternyata masih ada yg bingung juga. Andai UU Pajak dan UU lainnya ditulis dengan format seperti di bawah, barangkali nggak akan menimbulkan kebingungan lagi ya?

int execute_UU_PPh(int status_seseorang)

{

    int tax;

    if (status_seseorang == SPLN) {

      tax = hitung_pajak(penghasilan_DN);

    } else {

      tax = hitung_pajak(penghasilan_LN+penghasilan_DN);

    }

   return tax;

}

   

int main() {

  int pajak;

  if (seseorang_tinggal_di_LN > 183)  {

    status_seseorang = SPLN;

  } else {

     status_seseorang = SPDN;

  }

  pajak = execute_UU_PPh(status_seseorang);

}

 

Nah, masih ada yg bingung nggak?

Tulisan Sebelumnya »