Oleh: bank_al | Juni 28, 2009

CCNA Lokal vs CCNA Internasional

Hari ini aku berbincang-bincang dengan seseorang via YM. Pada kesempatan tersebut aku diberitahu bahwa bahwa ada yg namanya CCNA lokal dan ada yg namanya CCNA internasional. Bagi yg belum tahu apa bedanya -seperti aku yg juga baru tahu dari rekan tersebut- silahkan disimak rekaman berikut:

xxxx_x: Lg di australia y ini masnya?
bank_al: nggak kok
xxxx_x: Di indo y?
bank_al: iya
xxxx_x: Ambil ccna dimana ms dulu ?
xxxx_x: Udh internasionl atau ccna lokal?
bank_al: saya ambil CCNA di jakarta kok
bank_al: memang ada CCNA internasional dan CCNA lokal ya?
xxxx_x: Iya
bank_al: oh gitu. Bedanya apa?
xxxx_x: Klo yg internsnl itu lgsg instrktr dr USA
bank_al: instruktur?
xxxx_x: Cisco systm
bank_al: memang CCNA butuh instruktur?
xxxx_x: Yg internsnl
bank_al: oh gitu ya.
bank_al: terus instrukturnya itu tugasnya ngapain?
xxxx_x: Ya sama kyk dosen.
bank_al: hmm gitu ya

Demikianlah kiranya, semoga bemangpaat.

xxxx_x: Lg di australia y ini masnya?
bank_al: nggak kok
xxxx_x: Di indo y?
bank_al: iya
xxxx_x: Ambil ccna dimana ms dulu ?
xxxx_x: Udh internasionl atau ccna lokal?
bank_al: saya ambil CCNA di jakarta kok
bank_al: memang ada CCNA internasional dan CCNA lokal ya?
xxxx_x: Iya
bank_al: oh gitu. Bedanya apa?
xxxx_x: Klo yg internsnl itu lgsg instrktr dr USA
bank_al: instruktur?
xxxx_x: Cisco systm
bank_al: memang CCNA butuh instruktur?
xxxx_x: Yg internsnl
bank_al: oh gitu ya.
bank_al: terus instrukturnya itu tugasnya ngapain?
xxxx_x: Ya sama kyk dosen.
bank_al: hmm gitu ya
Oleh: bank_al | Mei 31, 2009

Matinya kebebasan beropini?

Aku agak terkejut mendengar berita adanya seseorang ibu RT yg masuk penjara karena terjerat UU ITE sehubungan dengan keluhan yg pernah dia tuliskan di sebuah milis. Bagaimana ceritanya sehingga Ibu Prita ini bisa terjerat pasal tersebut tentu bisa dibaca di berbagai ulasan yg ditulis teman-teman blogger, seperti  blognya Daus, Yuhendra, ataupun blog-nya Ndoro Kakung.

Aku bukanlah pakar hukum seperti para teman-teman tersebut di atas sehingga tak bisa mengulas panjang lebar mengapa Ibu Prita bisa ketiban sial. Namun kejadian ini membuatku berpikir bahwa kejadian ini bisa menjadi awal kematian kebebasan beropini di Indonesia.

Sebetulnya yg dilakukan oleh Ibu Prita itu sederhana saja, dia tidak puas dengan pelayanan rumah sakit Omni dan kemudian menceritakan uneq2-nya pada teman2nya (yg kebetulan adalah anggota milis).   Ndilalahe, tulisan tersebut terforward kemana-mana dan ternyata membuat pihak RS Omni tersinggung dan memperkarakan kasus tersebut sehinga Ibu Prita ditahan.

Aku tidak membaca surat Ibu Prita, namun katakanlah keluhan Ibu Prita itu sangat pedas dan tidak benar sehingga menyakitkan pihak RS Omni. Apakah pihak RS Omni layak membawa kasus ini ke meja hukum? Kok rasanya “cemen” banget sih? Apakah pihak RS tidak mampu menjawab dengan argumentasi tersebut dengan email juga sehingga ada informasi pembanding bagi pembaca? Mengapa ejekan verbal harus dibawa ke pengadilan?

Jawabannya tentu saja karena ada UU yg memungkinkan pihak RS untuk melakukan aksi ini, yaitu konon UU ITE namanya. Namun aku terus terang tidak paham apa sebetulnya esensi dari UU ITE pasal “pencemaran nama baik ini”. Dampak negatifnya sudah bisa kita lihat bahwa kebebasan berpendapat dan beropini di media elektronik jadi terpasung. Obrolan ala warung kopi tidak bisa lagi dilakukan di media elektronik karena salah-salah nanti ada pihak yg tersinggung dan membawa kasus ini ke pengadilan.

Ada usulan dari Daus untuk membuat sebuah kritikan yg sangat hati-hati sehingga tidak menyebutkan nama,tempat dan kejadian. Mungkin itu ide yg sangat bagus, tapi sangat sulit sekali untuk dilaksanakan. Saat ini-pun aku menjadi was-was, jangan2 Daus, NdoroKakung, ataupun Yuhendra tersinggung akan tulisanku ini. Jangan2 pendapatku di tulisan ini dianggap tidak menyenangkan dan patut dijerat UU ITE juga? Hiiii, ngeri banget jika itu terjadi. 

Ah sudahlah, aku tidak mau menulis panjang-panjang kali ini, takut masuk penjara. Namun masih ada sebuah pertanyaan di kepalaku,”Apa sih gunanya UU ITE tentang pencemaran nama baik” ? Apakah pasal ini tidak sebaiknya dihapuskan saja? Ada yg bisa member pencerahan?

Oleh: bank_al | April 20, 2009

Buang-buang uang rakyat dengan ICR

Aku terkaget-kaget dan terheran-heran ketika mendengar adanya penggunaan scanner dalam proses penghitungan suara pada pemilu 2009 yg baru saja berlalu.  Aku tidak mengerti mengapa scanner dibutuhkan dalam proses ini dan mencoba bertanya sana bertanya sini terutama di milis kampung-UGM.  Akhirnya seorang teman menunjukkan website berikut yg menjelaskan tujuan penggunaan scanner pada penyelengaraan pemilu kali ini.

Berikut adalah tujuan penggunaan scanner, berdasarkan website tersebut:

Tujuan utama yang ingin dicapai dengan penggunaan mesin pemindai yang berbasis ICR tersebut adalah:

  1. mempercepat proses perhitungan suara
  2. memperoleh tabulasi yang akurat
  3. memperoleh salinan dokumen elektronik yang otentik dan teramankan
  4. transparan dalam mendukung fungsi pengawasan langsung oleh masyarakat.

Sekarang mari kita coba gunakan akal sehat apakah kira2 tujuan tersebut di atas memang membutuhkan ICR atau tidak dengan meninjau masing-masing tujuan tersebut.

1. apakah mempercepat proses penghitungan suara?

Untuk mengetahui betul atau tidaknya, mari kita tinjau proses penghitungan suara yg juga ditulis oleh website tersebut pada rujukan berikut, yaitu:

  1. Formulir C1-IT yang telah diisi oleh petugas KPPS diproses oleh software ICR di KPU Kabupaten/Kota
  2. Hasil pembacaan ICR akan ditampilkan di layar monitor, dan operator melakukan koreksi terhadap hasil pembacaan itu. Setelah operator memastikan  tidak ada salah baca, file disimpan dan dikirim ke KPU
  3. Di KPU, aplikasi Sistem Integrasi akan memeriksa keamanan dan otentikasi file yang dikirimkan oleh KPU Kabupaten/Kota tersebut untuk ditayangkan di pusat tabulasi nasional.

Dari prosedur di atas bisa dilihat bahwa hasil pembacaan ICR ternyata harus diverifikasi lagi oleh operator. Operator harus memeriksa data satu per satu untuk memastikan tidak adanya kesalahan baca. Verifikasi ini artinya si operator harus membaca formulir secara manual dan membandingkannya dengan hasil dari ICR. Operator harus membaca dua formulir, yaitu formulir asli dan formulir hasil ICR.  Coba bandingkan dengan tanpa ICR. Operator hanya perlu membaca formulir kertas dan kemudian menuliskan apa yg di bacanya tersebut dengan menggunakan keyboard.  Waktu yg dibutuhkan akan setara dengan menggunakan ICR, dan bahkan menggunakan ICR bisa lebih lama karena pembacaan ICR bisa salah sehinga operator harus membaca form hasil ICR dengan hati2.

2. Apakah memperoleh tabulasi yang akurat?

Rasanya tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan bahwa hasil intepretasi ICR tidak akurat. Bisa dilihat sendiri pada penjelasan dari situs berikut bahwa telah terjadi kesalahan yg fatar pada pemilu kemarin. Komentar salah seorang pembaca di sana sangat menarik, yaitu bahwa cukup ditemukan satu kesalahan untuk menunjukkan hasil pembacaa ICR ini tidak akurat.  Namun dibutuhkan untuk menguji seluruh domain untuk mengetahui apakah hasil pembacaannya memang akurat. Dalam hal ini, sudah jelas2 ditemukan kesalahan pembacaan, yg artinya tabulasi yang akurat tidak tercapai.

3. memperoleh salinan dokumen elektronik yang otentik dan teramankan

Saya pikir inilah satu2nya yg bisa didapat dari penggunaan ICR ini, yaitu mendapatkan dokumen elektronik. Namun pertanyaan lebih lanjut adalah,”untuk apa dokumen elektronik ini?” Jika hanya sekedar untuk arsip, apakah dokumen dalam bentuk kertas tidak cukup? Toh dokumen original dalam bentuk kertas sudah ada sehinga dokumen elektronik ini sebetulnya tidak jelas kegunaannya.

4. Apakah transparan dalam mendukung fungsi pengawasan langsung oleh masyarakat?

Point yg ke-4 ini tidak berhubungan dengan ICR.  Teknologi ICR ini hanya digunakan untuk menginput data dan tidak ada hubungan sama sekali dengan pengawasan. Jika kemudian hasilnya disimpan pada pusat data yg dipubikasikan, maka bisa jadi memang data tersebut bisa dipantau dan diawasi oleh masyarakat. Namun apakah data yang disimpan itu harus dalam bentuk image? Ya tentu saja tidak. Data yg dibutuhkan masyarakat untuk diawasi hanyalah berupa angka-angka. Dan data seperti ini bisa diinput oleh operator melalui keyboard dan tidak membutuhkan ICR. 

Lho, jadi lebih banyak tujuan yg tidak tercapai?

Dari penjelasan di atas, bisa dilihat bahwa hampir semua tujuan penggunaan ICR yg diangkat oleh website tersebut tidak tercapai. Satu2nya tujuan yg tercapai adalah ketersediaan dokumen elektronik berbentuk image, yg mana keberadaan dokumen model begini juga tidak diperlukan. 

Di sisi lain, penggunaan ICR ternyata justru merugikan karena membutuhkan cost yg besar (yaitu: untuk membeli scanner, software pembaca dan interpretasi ICR yg kerjanya tidak akurat, dan lain sebagainya), dan juga boros bandwidth. Jika saja yg dikirimkan data berupa text, maka penggunaan bandwidth akan jauh lebih hemat.

Lalu kenapa dong ICR dipakai pada pemilu 2009? Mungkin Indonesia sudah terlalu kaya sehingga tidak tahu mau dibuang ke mana uangnya.  Solusi ICR pada pemilu 2009 ini cocok untuk tujuan tersebut, buang2 uang.

Bagaimana menurut pendapat anda?

Oleh: bank_al | April 5, 2009

Rasa ingin tahu

Beberapa bulan terakhir ini, aku makin jarang menulis. Tulisan-tulisanku baik di milis ataupun blog makin mandeg dan jarang diupdate. Lama aku bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi. Yg aku tahu hanyalah bahwa aku kekurangan ide, tidak tahu lagi apa yg pas dan bisa aku tulis. Cukup lama aku mentok di situ dan kehabisan akal bagaimana caranya memunculkan ide. Ada yg bilang bahwa ide itu bisa muncul di kamar mandi dan oleh karenanya bawalah Black Berry ke kamar mandi sehingga bisa menulis ketika sedang buang air besar. Ide ini selalu lupa aku coba, karena aku sangat menikmati buang hajat di kamar mandi dan juga nggak punya BlekBiri.

Belakangan ini, secara tak sengaja aku mengamati bahwa salah satu sebab aku kekurangan ide adalah karena aku juga memiliki rasa ingin tahu yg tidak terlalu besar. Aku sering memperhatikan beberapa teman yg tiba2 menanyakan sesuatu yg ternyata menarik untuk dibahas padahal tidak pernah terpikir olehku untuk mempertanyakan hal tersebut.
Katakanlah seperti misalnya pertanyaan,”bang, di Kuwait bisa lihat perempuan pakai bikini nggak?”. Aku nggak pernah terpikir untuk menanyakan demikian pada temanku yg pernah ke negara arab juga sebelumnya, namun temanku kok bisa ya terpikir demikian. Pertanyaan-pertanyaan ini jika dijawab tentu akan menambah pengetahuan si penanya yg pada suatu saat nanti mungkin bisa berguna bagi si penanya yang salah satunya adalah dengan menulis blog.

Mengapa aku bisa terpikir untuk menggugat rasa ingin tahuku yg kurang ini? Aku tergugah ketika beberapa hari yg lalu membaca tulisan Mas Rovick tentang “tersambar petir”. Topik ini sebetulnya simple sekali, yaitu rumahnya tersambar petir. Namun herannya dari topik sebegitu sederhana Mas Rovick bisa mengulas panjang lebar tentang petir dan
bahkan akhirnya bisa menampilkan foto-foto batu petir yg barangkali di miliki oleh Gundala si putra petir. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tampaknya karena rasa ingin tahu, yg membuat ingin mencari-cari, dan akhirnya kemudian dibungkus menjadi sebuah cerita yg menarik.

Hal yg sama juga terjadi pada Kibroto yg rasa ingin tahunya juga aku lihat sangat besar. Bayangkan saja, beliau bisa menghubungkan topik Investasi dan rasio jari manis vs jari telunjuk seseorang. Tidak banyak orang yg sebelumnya terpikir bahwa rasio jari bisa dihubungkan dengan investasi. Namun begitulah, topik ini sempat membuat ramai
jagad milis dan bahkan mampu memancing para penghuni kampung menampilkan foto-foto lucu, yaitu orang-orang tidak tampan yg memamerkan jari2nya. Topik ini juga mampu membuatku di rumah mainan jari sambil membandingkan jari2ku dengan jari2 istriku. Dugaanku ada juga berapa warga milis kampung yg lain yg juga mainan jari di rumah gara2 topik yg menarik ini.

Aku mencoba berkaca dan belajar dari orang-orang sukses tersebut di atas dan menyadari bahwa rasa ingin tahuku tidak begitu besar. Kecilnya rasa ingin tahu ini membuatku jarang bertanya sehinga seringkali juga kehabisan bahan kalau sedang berbincang-bincang dengan seorang teman. Rasanya akan ada banyak perubahan dalam hidupku jika
aku bisa meningkatkan rasa ingin tahu ini. Nah yg menjadi pertanyaan saya, apakah rasa ingin tahu ini bawaaan genetik? Ataukan disebabkan oleh nurture? Dan bisakah rasa ingin tahu ini ditingkatkan? Jika bisa, bagaimana caranya? Ada yg bisa memberi masukan?

Oleh: bank_al | Januari 19, 2009

Pajak Penghasilan

Setelah ada penjelasan soal UU PPh, ternyata masih ada yg bingung juga. Andai UU Pajak dan UU lainnya ditulis dengan format seperti di bawah, barangkali nggak akan menimbulkan kebingungan lagi ya?

int execute_UU_PPh(int status_seseorang)

{

    int tax;

    if (status_seseorang == SPLN) {

      tax = hitung_pajak(penghasilan_DN);

    } else {

      tax = hitung_pajak(penghasilan_LN+penghasilan_DN);

    }

   return tax;

}

   

int main() {

  int pajak;

  if (seseorang_tinggal_di_LN > 183)  {

    status_seseorang = SPLN;

  } else {

     status_seseorang = SPDN;

  }

  pajak = execute_UU_PPh(status_seseorang);

}

 

Nah, masih ada yg bingung nggak?

Oleh: bank_al | Januari 9, 2009

Hidup ala Gangster Battle

Pada awalnya aku tak mengerti apa enaknya main game yg berkategori RPG (Role Playing Game) seperti Gangster Battle ini. Namun karena beberapa teman di FB tergila2 sampai termabuk2 memainkannya maka akhirnya berhubung adanya beberapa waktu luang akupun iseng-iseng mencobanya. Rupanya benar kata pepatah Jerman “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino” – yg artinya kira2 adalah  ”Cinta itu datang karena terbiasa.”, lama kelamaan ternyata aku mulai menikmati permainan ini.

Game ini sebetulnya hanya permainan sederhana, yg mana kita pura2 menjadi Gangster yang mempunyai pilihan untuk mendapatkan kekayaan dari menjalankan misi-misi tertentu, menyerang dan membunuh gangster lain, ataupun mendapatkan kekayaan dari harta curian yang diinvestasikan. Yang menarik dari game ini adalah bagaimana kita mengatur strategi sehingga bisa memutuskan kapan saat  membeli senjata, kapan saat membeli properti dan berinvestasi, dan kapan saat menyerang gangster lain.

Hal ini menjadi menarik karena megingatkanku bahwa hidup ini sebetulnya mirip juga dengan gangster battle. Dalam hidup kita juga harus memutuskan kapan saatnya untuk mengalokasikan dana dan waktu untuk investasi dan kapan saatnya meningkatkan kompetensi. Jika kita terlalu fokus bekerja hanya untuk mengumpulkan uang, maka suatu saat kita akan terjebak pada kondisi di mana kompetensi kita sudah tidak cukup lagi digunakan untuk bertahan karena lawan-lawan yg kita hadapi semakin tangguh. Jika pada gangster battle kita akan makin terancam atas serangan gangster lain yg makin kuat ketika level kita semakin tinggi, maka dalam hidup kita juga akan menghadapi masalah yg sama yaitu harus bersaing dengan kompetitor-kompetitor yg makin kuat.

Banyak orang yg terlengah mengupgrade kompetensi ini karena terbuai oleh kondisi saat ini yg ada di atas angin. Karena merasa penghasilan sudah besar dengan kompetensi yg dimiliki saat itu, maka dirinya tak lagi meluangkan waktu dan dana untuk belajar, memperluas network dan mengasah keterampilan. Hal ini akan membuatnya kewalahan ketika suatu saat nanti dia sadar bahwa dia harus bersaing dengan orang-orang yg lebih muda dengan kompetensi yg sama dengan yg dimilikinya namun tak lagi mampu bersaing dengan orang-orang sebaya karena orang-orang tersebut sudah memiliki kompetensi yg jauh di atas karena selalu di-upgrade.

Nah, bagaimana dengan anda? Kompetensi apa yg ingin anda upgrade di tahun 2009 ini?

Oleh: bank_al | Desember 25, 2008

Kenapa kertas ada di Kiri?

pen-and-paperBeberapa saat yg lalu, seorang kolega saya yg kebetulan berkebangsaan India bertanya kepada saya mengapa kertas dan pulpen saya ada di sebelah kiri laptop saya. Dia kemudian bertanya, “are you left handed?” atau dalam bahasa Jermannya,”Sampeyan kidal pho?

Pertanyaan si mpok tersebut membuatku terkagum-kagum akan kemampuan observasinya. Aku kok nggak pernah sempat2nya memperhatikan di mana letak kertas seseorang dan apalagi sampai berpikir untuk menganalisa apakah orang tersebut kidal atau nggak. Kalaupun aku sempat memperhatikan meja seorang teman, barangkali yg aku perhatikan adalah apakah dia cantik atau ndak. Nggak bakalan deh terpikir untuk melihat di mana posisi kertas dan pulpen teman tersebut.

Terlepas dari kebenaran tebakan mpok Indihe tersebut, aku jadi tergugah untuk bertanya-tanya lagi dalam hati,”apakah iya aku meletakkan kertas di kiri laptop karena aku kidal?“. Setelah aku pikir-pikir lagi, jawaban itu tidak sepenuhnya benar. Aku meletakkan kertas dan pulpen sebelah kiri laptop karena di sebelah kanan laptop ada mouse. Oleh karena aku tak ingin kegiatan menulis terganggu oleh mouse, maka aku letakkan puplen dan kertas di sebelah kiri sehingga aku bisa menggerakkan mouse (dengan tangan kanan) sambil menulis (dengan tangan kiri) tanpa kesulitan. Seandainya saja aku menggunakan tangan kiri untuk memindahkan mouse, maka kemungkinan besar kertas dan pulpen akan aku letakkan di kanan dan aku akan menulis dengan tangan kanan.  Kasus yg mirip dengan ini adalah ketika aku menggunakan PDA, maka aku menulis dengan tangan kanan. Mengapa? Karena aku terbiasa memegang telpon dengan tangan kiri, sehingga karena tangan yg terbebas adalah tangan kanan maka tangan tersebutlah yg aku gunakan untuk menulis. Jika dibalik menulis dengan tangan kiri, aku malah jadi kikuk alias kagok.

Nah, bagaimana dengan anda? Di mana anda meletakkan kertas dan pulpen di meja anda? Di sebelah kanan atau kiri laptop (komputer)?

tulisan yg berhubungan: kidal dan otak

Oleh: bank_al | Desember 21, 2008

Proposal Bisnis modal kecil hasil Milyaran

Anda sedang kesulitan keuangan namun ingin menjadi milyarder?
Mau memulai usaha tidak mempunyai modal yg cukup?
Pinjam ke bank nggak punya sesuatu untuk agunan?

Barangkali tawaran bisnis di bawah bisa di coba.
Modalnya hanya beberapa ratus ribu.
Untuk lengkapnya silahkan dibaca lebih lanjut.

BAGHDAD, RABU — Sepasang sepatu yang dilemparkan ke arah Presiden AS

George W Bush rupanya menjadi barang berharga. Beberapa laporan koran
lokal di Irak menyebut, mantan pelatih kesebelasan nasional Irak Adnan
Hamad menawarkan harga 100.000 dollar AS (sekitar Rp 1,1 miliar) untuk
mendapatkan sepasang sepatu itu.

Lengkapnya silahkan baca di situs kompas berikut.

Asyik khan? cuma modal beberapa ratus ribu untuk beli sepatu, bisa menghasilkan uang milyaran. Nah, ada yg ingin mencoba?

Oleh: bank_al | Desember 17, 2008

Apa hubungan gatal dan dingin?

Entah mengapa badan tiba2 terasa gatal2 akhir2 ini.  Apakah ada hubungannya dengan musim dingin? Berikut adalah jawaban dari teman2 ketika iseng2 aku menanyakan pertanyaan ini di facebook.

Ep Runtu at 5:01pm December 16
kayanya berhubungan tuh Bang Al, abis kan kulit kita kering … pakai minyak ajah tp jgn minyak sayur ;D
Dita Wistarini at 5:02pm December 16
tuh…mantep jawabannya. Makanya pake pelembab. Gak tabu kok buat cowok kalo udah winter begini :P
Dita Wistarini at 5:02pm December 16
kalo aku suka pake olive oil.
Alfred Alinazar at 5:04pm December 16
Epi, Dita: oh begono toh.

Btw, Olive oil itu sejenis sama Sun Flower bukan?

Didats Triadi at 5:06pm December 16
gag ada bang. kalo kata saya mah, hubungannya ke status sosial.

semakin rendah status sosialnya, semakin tinggi kemungkinan gag terkena gatel2 di musim dingin…

huihihihi…

Steve Haryono at 5:07pm December 16
gile bener masa olive oil sejenis sama sunflower.
Sejenis ya emang sama-sama oil. Sama oli nya mesin juga….sama-sama oil.
hehehe.
Supaya jangan cepet kering tuh kulit, jangan mandi sering-sering :)
Alfred Alinazar at 5:09pm December 16
Steve: mandi kok malah bikin nggak cepet kering? bukannya mandi malah bikin basah? Lagian kalau musim dingin gini banyak kegiatan yg bikin harus mandi. :P
Dita Wistarini at 5:13pm December 16
Olive oil ya lain laa sama sunflower oil, tp basicly 2-2nya bisa dipake ;) . Paling enak olive oil krn nyerep di kulit. Kalo mo gaya pake wangi, ya pakelah body butternya body shop. Mandi pake scrub untuk ngilangin kulit2 yg kering biar gak numpuk jd biang gatel :D
Renatha Siregar at 5:15pm December 16
“Lagian kalau musim dingin gini banyak kegiatan yg bikin harus mandi”.. i like this comment.. hmm.. ;-)
Steve Haryono at 5:16pm December 16
percaya deh sama org yg tinggal di negeri dingin selama 33 tahun. hehe.
Logika nya mandi bikin basah ya. Tapi ya itu lah, setelah dikeringkan, malah kulit nya jadi kering dan cepat keriput. Liat aja orang bule biasanya lebih cepet keriput dibanding orang asia. Kayaknya air nya yang membuat kulit kita jadi cepet kering.
Beli lotion atau cream atau oil yang special buat kulit kering.
Dimita Ariasari at 5:17pm December 16
bener banget!!!!…….
Ep Runtu at 5:18pm December 16
praktekin ya’ Bang Al, …hasilnya pasti kulitnya jd halus & mulus dweh !!
Ep Runtu at 5:19pm December 16
ps.sabun yg pasti jg bkin kering …jd kudu pilih2 jg sabunnya
Eko Eshape at 5:23pm December 16
yang kudengar juga begitu
pakai pelembab dan pakai sabun khusus [bila mandi]
kalau tidak terpaksa gak usah mandi
[kecuali junub]

paling enak pas musim dingin cuti 3 bulan ke indonesia dulu
[kalau dibolehin]

Alfred Alinazar at 5:23pm December 16
Ep, Steve, Dita: Sip deh. Makasih banyak atas sarannya.

Atha: hehehe… ;)

Diminta: apaan yg bener banget? yg bagian kegiatan di musim dingin ya?

Renatha Siregar at 5:23pm December 16
setuju tuh.. jangan sering-sering mandi ya bank Al.. kecuali di Indo, biar kemarau biar hujan ttp harus mandi.. hehe..
Dimita Ariasari at 5:24pm December 16
semua-mua dehhhhh ..hahaha…
Steve Haryono at 5:25pm December 16
Alfred,
Logika nya, kalo ngga sering mandi, nanti kulitnya tertutup daki, dan itu jadi melindungi kulit dari kekeringan :)
hehehe.
Alfred Alinazar at 5:33pm December 16
Steve: iya juga ya, baru sekarang gue tahu gunanya daki selain menambah berat badan :D
Agung Krisnanto at 6:35pm December 16
minum air dingin bisa bikin tenggorokan gatal. itu hubungannya kalo lagi batuk :) )

Nah, bagaimana menurut pendapat anda? Adakah penjelasan lain tentang hubungan antara gatal dan dingin?

Oleh: bank_al | Desember 14, 2008

Berbagai alasan tidak nge-blog

Sudah cukup lama blog ini tidak aku update karena berbagai alasan klasik. Alasan yg paling basi tentu saja adalah nggak ada ide. Alasan ini sudah seringkali aku kemukakan, namun hingga hari ini alasan ini masih menjadi alasan yg hingga hari ini masih saja up-t0-date.

Alasan kedua adalah mood. Kadangkala ada ide telintas di kepala. Namun ketika ide itu muncul, mood tidak sedang baik, sehingga ide yang terlintas itu sulit sekali diterjemahkan menjadi sebuah tulisan. Dan karena saking sulitnya menterjemahkan ide tersebut, maka blog yg sempat dibuat draft tersebut tidak jadi diteruskan dan bahkan akhirnya didelete lagi karena ketika mood sudah ada ternyata ide itu sudah tidak dirasa menarik lagi.

Karena dua alasan saja tidak cukup, maka perlu ditambahkan satu alasan lagi mengapa aku malas ngeblog. Alasan ini juga alasan yg cukup populer digunakan oleh orang-orang yg jarang mengupdate blog-nya. Alasan tersebut adalah “sibuk”. Entah apa yg membuatku sibuk, yg jelas aku pura2 mengaku sibuk sehingga para pembaca maklum mengapa blog ini jarang di-update. 

Tiga alasan saja sudah cukup? Semoga demikian adanya.  Akupun sebetulnya agak ragu meneruskan tulisan ini dan meng-click tombol publish. Namun berhubung blog sudah lama tidak di-update, maka apa boleh buat, tulisan yg sangat tidak mutu ini akan aku publikasikan juga hari ini. Semoga malam ini bisa tidur nyenyak, karena selain aku malam ini sudah nge-blog, aku juga sudah beli heater mengingat hari makin dingin dan makin dingin saja dan malam kemarin tidak bisa tidur karena konon suhu berkisar 10 derajad celcius (atau mungkin kurang) sehingga selimut rasanya sudah tidak terlalu hangat lagi.

Sampai jumpa di tulisan basi berikutnya ya.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori