Ngapain Divaksin?

Ada orang yang menganggap COVID-19 ini sesuatu yang begitu menakutkan. Saking takutnya pada penyakit ini maka dia menjadi sangat bahagia sekali ketika orang-orang yang dia benci terkena penyakit ini. Membayangkan orang yang dia benci itu begitu menderita ketika mendapatkan penyakit ini.

Sementara di sisi lain , ada juga orang yang begitu menyepelekan wabah ini. Mereka bahkan percaya bahwa virus ini tidak ada dan merupakan fiksi saja.

Aku tidak termasuk keduanya. Walaupun aku percaya virus ini ada, tapi aku tidak takut terhadap virus ini. Berdasarkan statistik, sekitar 97 persen penderita bisa sembuh dari penyakit ini. Masa sakit juga tidak lama, hanya beberapa minggu. Aku lebih takut pada penyakit yang lama tak sembuh-sembuh atau menyebabkan penderitaan permanen seperti misalnya kanker, diabetes, jantung dan lain sebagainya.

Selain karena kemungkinan sembuh sangat besar, aku juga cukup yakin akan kemampuan tubuhku melawan virus. Aku jarang sekali sakit. Ketika sakit sekalipun, biasanya juga sembuh dengan sendirinya hanya dengan tidur yang cukup dan makan yang begizi. Aku bahkan tak perlu minum obat untuk sembuh.

Selama masa pandemi ini, aku cukup sering keluar rumah. Bahkan saat masa lockdown saja aku masih bisa dan sering keluar karena aku punya izin spesial untuk ke kantor. Bertemu dengan teman-teman yang sudah pernah kena COVID-1 juga sering dan bahkan camping bareng mereka.

*****

Walaupun tidak takut ketularan, seminggu yang lalu aku memutuskan untuk berpartisipasi dalam program vaksin nasional. Sebenarnya saat ini tidak ada kewajiban bagi penduduk UAE untuk divaksin. Siapa yang ingin divaksin dipersilahkan datang, sementara yang belum ingin ya nggak apa-apa. Tidak dimaki-maki juga oleh orang lain.

Sebagian besar teman-temanku di sini juga belum mau divaksin. Mereka masih ragu-ragu dan belum yakin akan hasilnya.

“Kalau nggak takut ketularan, terus ngapain divaksin Bang?”

Jawabannya sederhana. Aku ingin kehidupan bisa segera normal lagi. Aku ingin bisa jalan-jalan lagi ke luar negeri tanpa harus ada karantina dan swab test segala. Ingin bisa keluar rumah tanpa perlu pakai masker kecuali kalau harus berada di sekitar teman yang suka kentut dan baunya tidak karuan.

Herb imunity, atau kekebalan komunitas, adalah kondisi yang harus dicapai agar wabah ini berakhir. Akan tercapai ketika mayoritas penduduk sudah terkena penyakit ini, atau mayoritas penduduk sudah divaksin. Aku ingin ini cepat terjadi sehingga aku memilih untuk divaksin.

Ternyata aku tidak sendirian. Tempat pemberian vaksin penuh. Orang-orang yang ingin divaksin datang berbondong-bondong. Seminggu yang lalu aku dengar sudah 7% penduduk yang divaksin. Target pemerintah agar tercapai 50% pada Q1 ini sepertinya tidak sulit dicapai.

Setelah aku selesai divaksin, beberapa teman memintaku berbagi pengalaman tentang apa yang dirasakan setelah vaksin, tentang antrian di tempat vaksin dan lain sebagainya. Sebagian teman akhirnya mulai tertarik untuk ikutan divaksin juga.

Penduduk di negara ini memang aneh. Orang-orang yang berani divaksin hanya perlu meyakinkan orang-orang yang takut dengan memberikan contoh. Tak perlu ada paksaan, apalagi caci-maki.

Padahal seharusnya orang-orang yang tak mau divaksin itu perlu dicaci-maki, dihina, dan dibully beramai-ramai. Walau yang memaki ternyata juga belum divaksin.

2 respons untuk ‘Ngapain Divaksin?

Add yours

  1. Herd immunity kali, Bang? Herb tar jd masakan semua. Hahaha! Aku pun menanti divaksin. Kalau ada yg gak mau, mending mereka diisolasi di pulau terpencil aja semua. Gue pengen mudik tauuuuk!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: