Perasaan Saja Tak Cukup

Aku tertarik mengomentari soal perasaan ini gara-gara beberapa teman di KLUB (Kagama Lari Untuk Berbagi) menyarankan untuk lebih percaya pada perasaan daripada hasil pengukuran HR (heart rate).

“Aku lari di Zone 4. Tapi kok perasaan nggak ngos-ngosan”

Jika terjadi perbedaan persepsi antara pengukuran dan perasaan, mana yang harus dipercaya? Apakah hasil pengukuran yang harus dipercaya? Atau perasaan yang harus ditinggalkan?

Beberapa teman memilih untuk mengikuti perasaan, namun aku sebaliknya. Aku lebih percaya pada alat ukur daripada perasaan. Mengapa? Karena perasaan itu adalah sesuatu yang relatif sehingga bisa membuat kita tertipu.

Contoh, ada orang yang bilang sebuah ruangan terasa panas. Tapi orang lain berpendapat bahwa ruangan itu tidak panas. Orang yang lain lagi mungkin malah menganggap ruangan itu dingin. Lalu mana yang benar?

Kondisi tubuh juga demikian. Seseorang yang sudah biasa hidup normal dengan tekanan darah yang tinggi, akan merasa baik-baik saja ketika tekanan darahnya sudah 150. Padahal tekanan darah segitu sudah cukup berbahaya. Dia mungkin tiba-tiba stroke tanpa menyadari bahwa tekanan darahnya sudah terlalu tinggi.

Demikian juga dengan HR saat berlari. Beberapa hari kemarin, aku mengadakan percobaan dengan cara berlari. Ketika aku berlari interval, detak jantungku cenderung rendah. Rata-rata dan mayoritas selama berlari ada di zona 3 (aerobic zone). Padahal saat berlari aku merasa ngos-ngosan.

Sebaliknya, ketika aku berlari steady dan pelan, aku merasa tidak ngos-ngosan. Namun HR-ku mayoritas berada di zona kuning.

Perasaan dan hasil ukur tampak seperti bertolak belakang. Aku harusnya berlari steady saja di zona kuning karena aku tidak merasa kepayahan ketika berlari.

Tapi setelah lari ternyata ada bedanya. Ketika aku berlari 5 kilometer di zona kuning, maka sampai di rumah aku langsung berkunang-kunang. Sebaliknya, aku baik-baik saja setelah selesai berlari 5 kilometer dengan interval (HR mayoritas zona 3).

Apa yang terjadi? Ketika kita berolahraga di anaerobic zone, tubuh akan mengambil gula dari darah untuk dibakar. Itu sebabnya aku langsung berkunang-kunang. Dan ini sesuai dengan impact dari olahraga Anaerobic

Orang-orang yang meninggal saat berolahraga, barangkali disebabkan karena dia mengikuti perasaan daripada alat-ukur. Dia merasa masih kuat dan baik-baik saja, lalu menantang dirinya untuk berlari lebih kencang. Tapi jantung tak mau terima. Dan jika dia berhenti berdetak, semuanya sudah terlambat.

Begitulah, perasaan memang bisa dijadikan isyarat atau indikasi. Namun jangan jadikan perasaan sebagai alat pengambil keputusan karena perasaan itu bisa berubah-ubah tanpa kepastian. Seperti juga Cinta, tak cukup jika tak diiringi dengan pengukuran tentang apa yang sudah dilakukan.

Lho, kok jadi ngomongin Cinta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: