Kebanjiran Zoom

Physical Distancing awalnya terkesan seperti pengangguran. Waktu luang berlimpah karena tak perlu bepergian. Hal itu mungkin benar pada awalnya. Namun anda akan berpikir ulang soal waktu luang ini ketika anda mulai bingung mengatur waktu bergabung Zoom dan membaca group-group WA baru yang bermunculan. Beberapa teman melaporkan kesulitan membagi waktu antara sesi Zoom yang satu dengan yang lain.

Untunglah saya ini orangnya pemalu dan pendiam. Dalam bahasa Sepikolog, saya ini Introvert. Saya bisa dengan tega hanya memilih beberapa sesi Zoom yang menarik saja, walau undangan tak terhitung jumlahnya. Demikian juga dengan group WA, tidak semua group saya baca. Sebagian besar cuma saya buka untuk clear chat saja. Orang extrovert barangkali lebih berat bebannya karena tidak bisa tega menolak seperti saya.

Trus? Zoom mana yang layak untuk dipilih, Bang?

Aku memilih Zoom session berdasarkan topik-nya. Jika topiknya menarik, aku mengikutinya. Aku tak memilih berdasarkan siapa yang mengundang. Walaupun pemalu, temanku lumayan banyak. Jika semua undangan aku ikuti, aku tentu akan kewalahan.

Sabtu kemarin, aku mengikuti Zoom dengan tema “The Power of Story Telling” yg diadakan oleh Kagama. Topik ini menarik. Bukan karena aku belum bisa menulis. Aku bisa menulis, tapi bukan dengan gaya mendongeng atau “Story Telling”. Gaya menulisku ya seperti gaya tulisan ini. Namanya apa ya? Mungkin cocok disebut gaya Wanda.

“Gaya Wanda? Gaya apa itu Bang?”

“Wanda itu singkatan dari WAh aku NDAk tahu ya.”

Sesi Zoom tersebut berlangsung beberapa jam. Tapi aku tak bisa menceritakan semuanya. Banyak ilmu baru yang aku dapat di situ. Sayangnya aku kok nggak ingat lagi apa saja. Daya ingatku memang payah. Semoga teman-teman panitia mengirimkan powerpoint presentasinya.

Satu tips yang aku ingat dari Pak Dhe Gondes adalah bahwa menulis itu sama saja dengan saat kita bercerita sehari-hari kepada teman-teman, sanak saudara, pacar-pacar dan handai taulan semua. Bedanya hanya pesan disampaikan lewat text, daripada suara.

Saran Pak Dhe Gondes ini tentu membuatku tambah bingung. Lha piye? Wong aku ini orangnya pendiam. Sehari-hari khan aku tidak banyak bercerita. Kalau aku disuruh mengikuti itu nanti tulisanku isinya melongo semua.

Anyway, aku paham maksud beliau. Implementasi memang perlu dimodifikasi sedikit buat Introvert. Orang-orang pemalu seperti aku sering bercerita kepada diri sendiri. Jika anda melihat orang-orang pemalu seperti saya bengong dan menatap kosong, itu mungkin karena dia sedang ngobrol dengan dirinya sendiri. Jika kebiasaan ngomong sendiri ini ditransformasi jadi tulisan, mungkin bisa menjadi tulisan menarik juga.

Zoom yang menarik. Semoga disusul dengan zoom-zoom yang menarik lainnya. Dan jika aku boleh berkhayal, semoga suatu saat nanti ada Zoom yang mengajarkan untuk membuat Vlog. Buatku bercerita dengan video itu jauh lebih sulit daripada membuat tulisan karena dengan tulisan aku bisa bercerita tanpa harus bicara.

Eh, ada yang tahu sesi Zoom begituan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: