The 100 dan COVID-19

Salah satu serial Netflix yang aku lalap habis adalah serial yang berjudul The 100. Sebuah cerita Science Fiction, tapi menggambarkan masalah-masalah yang kita hadapi seperti salah satunya COVID-19 ini.

Dalam serial The 100, dikisahkan peradaban manusia saat itu sudah hampir punah karena terjadi bencana ledakan nuklir di seluruh bumi sehingga bumi tak lagi layak untuk menjadi tempat hidup.

Sebagian manusia menyelamatkan diri dengan pergi ke ruang angkasa dan tinggal di sana. Mereka bertahan hidup di ruang angkasa karena akomodasi yang mereka miliki didukung oleh teknologi untuk membuat makanan dan oksigen untuk warganya.

Pada suatu saat terjadi bencana bahwa ternyata alat pembuat oksigen mereka rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Warga hanya bisa bertahan dari cadangan oksigen yang ada. Cepat atau lambat, maka semua warga akan mati karena tak ada lagi oksigen. Peradaban manusia akan mati.

Untuk bertahan hidup, maka pemerintah membuat aturan yang sangat ketat. Makanan dan oksigen dijatah. Orang-orang yang nakal dihukum mati dengan dilempar ke ruang hampa.

Kebijakan ini bisa membantu manusia yang masih hidup untuk bertahan lebih lama, karena orang-orang yang mati ini mengurangi konsumsi oksigen. Namun ini cuma kebijakan sementara, karena suatu saat oksigen akan habis juga dan semua akan mati.

Maka pemerintah kemudian memutuskan untuk mengirim 100 orang warganya yang masih muda kembali ke Bumi. Harapannya adalah jika Bumi ternyata sudah bisa dijadikan tempat hidup lagi, maka semua warga akan kembali ke Bumi. Resikonya? 100 orang ini akan mati di Bumi jika Bumi tidak bisa dijadikan tempat hidup.

Film ini penuh dengan situasi demikian, yang mana pengambil keputusan harus memilih untuk mengorbankan warganya. Apapun pilihannya, warga akan tetap menjadi korban. Pemerintah harus memilih siapa yang akan dikorbankan.

COVID-19 mengingatkanku tentang The 100. Saat ini pemerintah di berbagai negara harus mengambil keputusan serupa. Idealnya semua warga diwajibkan di rumah saja agar tidak terkena COVID-19. Namun jika ini berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang, maka Ekonomi hancur berantakan. Bisnis-bisnis akan banyak yang meninggal. Akibatnya rakyat kehilangan pekerjaan dan tidak bisa makan. Uang pemerintah juga suatu saat akan habis karena Ekonomi macet.

Situasi mirip film the 100. Pemerintah harus memilih untuk mengorbankan siapa. Physical Distancing dikatakan akan memutuskan rantai virus. Namun ada resikonya, roda Ekonomi juga akan mati karenanya.

Siapa yang mati duluan, roda ekonomi atau virus? Jika melihat datanya, ekonomi yang akan mati duluan. Virus ini gampang sekali berkembang biak dan menyebar. Dalam hitungan hari saja, satu orang yang terkena virus bisa menginfeksi puluhan orang. Sementara roda Ekonomi itu lambat putarannya. Butuh bertahun-tahun bagi pengusaha untuk memulai bisnis agar bisa mendapatkan kembali profit dan sustain.

Nah, dalam kisah COVID-19 ini, kira-kira siapa yang bisa menjadi The 100? Orang-orang yang dikirim untuk membuka jalan tapi menantang maut?

What do you think, guys?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: