Disrupsi Corona

Di Lembah Silikon, istilah disruption itu sering diucapkan orang. Penggunaan kata ini dulu lebih terasa negatif. Gangguan itu menyebalkan. Wajar jika orang merasa sebal ketika ada gangguan atau disruption.

Berbeda dengan penggunaan klasiknya, disruption di Lembah Silikon itu malah dicari-cari. Inovasi memang seringkali timbul karena gangguan. Kemapanan, kebiasaan melakukan hal yang itu-itu saja, memang bisa menghambat kreatifitas dan inovasi. Butuh sebuah gangguan untuk membuat perubahan.

Corona, alias COVID-19, adalah salah satu gangguan yang saat ini sedang happening. Seluruh dunia terganggu karenanya. Berbagai aktivitas yang biasa dilakukan sebelumnya tidak boleh lagi dilakukan. Beberapa negara menutup wilayahnya untuk dimasuki negara-negara tertentu. Supply-chain berbagai barang terganggu karenanya. Ekonomi beberapa negara terpukul.

Gangguan yang ditimbulkan oleh virus ini sangat menarik. Terutama jika kita melihat bagaimana sikap berbagai negara dalam mengadapinya.

Di UAE (United Arab Emirates), virus ini telah mempercepat terjadinya pelaksanaan distance learning. Sebelumnya memang Dubai sedang merencanakan untuk mengimplementasikan distance learning di sekolah-sekolah. Beberapa minggu dalam sebulan anak tidak perlu datang ke sekolah tapi cukup belajar dari rumah. Namun rencana yang diproyeksikan tahun depan itu dipercepat karena gangguan COVID-19 ini.

Tak hanya distance learning, bekerja dari rumah atau working from home juga mulai dilaksanakan. Berbagai perusahaan sudah memulai untuk memperbolehkan karyawannya untuk bekerja dari rumah. Sebelumnya hal ini masih berupa mimpi karyawan saja. Walau perk (fasilitas, kemudahan) ini konon merupakan idaman para karyawan, banyak perusahaan masih belum mau melakukannya. COVID-19 telah memaksa mereka untuk melakukannya.

Working from home dan distance learning sebenarnya memiliki banyak dampak positif. Selain dipercaya bahwa ini bisa menambah kesehatan fisik dan mental para karyawan, implementasi dari kebijakan ini juga bisa mengurangi kemacetan lalu-lintas. Urbanisasi juga bisa berkurang ketika semakin banyak peluang untuk bekerja dari jarak jauh.

Coba lihat Jakarta. Masalah kemacetan dan banjir tidak selesai-selesai karena orang-orang masih berbondong-bondong ke Jakarta. Yang dulu masa kecil tidak di Jakarta, kuliah bukan di Jakarta, ternyata pindah ke Jakarta karena mendapat pekerjaan di sana. Sebagian lagi tinggal di luar Jakarta, tapi tetapi tiap hari mondar-mandir ke Jakarta juga karena alasan pekerjaan.

Bayangkan jika orang-orang ini bisa bekerja dari rumah. Jakarta akan sepi, seperti bagaimana Jakarta terlihat ketika libur besar dan orang-orang ini tidak berlalu-lalang di Jakarta.

Begitulah. Disrupsi memang bisa melahirkan Inovasi. Di UAE, disrupsi COVID-19 melahirkan remote working, remote school.

Bagaimana dengan Indonesia? Konon COVID-10 juga telah melahirkan inovasi cara bersalaman pakai siku. Aku juga tidak tahu apa gunanya inovasi ini. Namun semoga disusul dengan inovasi-inovasi lain yang lebih bermanfaat bagi kehidupan dan kesehatan rakyat baik jasmani ataupun rohani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: