Hadapi COVID-19 dengan Pengetahuan atau Penipuan?

Aku sebenarnya sudah malas menulis tentang Topik soal COVID-19. Sudah begitu banyak yang membahas topik ini dan berseliweran di Internet dan dinding-dinding MukaBuku. Namun karena ada sedikit rasa geregetan, maka aku putuskan untuk menulis saja topik ini.

Tanggapan pemerintah Indonesia menghadapi wabah ini adalah salah satu yang menarik perhatianku. Memang sudah banyak juga yang membahasnya. Namun rasanya masih ada yang kurang.

Kepanikan, adalah salah satu masalah yang menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia saat ini. Akibat dari kepanikan memang bahaya. Selain mengancam Ekonomi yang sedang sulit, kepanikan juga bisa menyebabkan hal-hal buruk yang tidak terduga.

Pada awalnya, pemerintah Indonesia mencoba mengatasi kepanikan ini dengan penipuan. Para buzzer bergerak menyebarkan berita bahwa virus ini tidak berbahaya. Suhu udara yang panas katanya menghalangi virus ini masuk Indonesia. Selain itu rakyat juga diharap percaya bahwa virus COVID-19 ini adalah virus yang cerdas. Virus ini dikabarkan memiliki kemampuan baca tulis sehingga mampu membaca KTP dan tahu yang mana yang WNI atau bukan. Orang Indonesia tak akan diserang oleh virus ini.

Sayangnya menipu di jaman Internet tidaklah mudah. Munculnya COVID-19 di Singapura dan Malaysia telah membantah keyakinan soal suhu udara. Apalagi soal virus yang mampu membaca KTP. Ini lebih sulit lagi dipahami oleh sebagian masyarakat, walau memang ada beberapa yang percaya bahwa orang Indonesia tak akan bisa terjangkit.

Apes, bohong itu tak mudah. Setelah terdesak sana-sini, akhirnya Presiden Jokowi mengumumkan bahwa ada WNI yang terserang virus ini. Rakyat yang tadinya percaya kalau virus ini tidak bisa masuk Indonesia karena tidak punya Visa akhirnya tersadar bahwa ternyata virus ini bisa masuk sebagai Imigran gelap.

Rakyat panik. Kenyataan yang berbeda dengan keyakinan. Ini tentu sangat mengguncang. Ditambah tak tahu harus berbuat apa-apa, maka orang-orang berusaha menyelamatkan diri sendiri berdasarkan pengetahuannya yang minim. Masker dan obat oles habis diserbu mereka.

Anehnya, para buzzer masih saja beraksi dengan cara lama. Mereka menyebarkan info bahwa virus ini tak berbahaya. “Rasio kematiannya lebih kecil dibanding MERS”, kata mereka.

Faktanya? MERS tidak mengguncang dunia seheboh COVID-19. Kenapa? Karena penyebaran COVID-19 ini jauh lebih cepat dibanding MERS. Total korban yang meninggal di seluruh dunia dalam beberapa bulan saja sudah jauh lebih besar dibanding total korban MERS dalam jangka waktu yang lebih panjang. Hitungan resiko tidak bisa pakai cara yang sama.

Pengetahuan adalah kuncinya. Rakyat menjadi panik karena tidak punya cukup pengetahuan bagaimana cara menghadapi wabah ini. Apalagi ditambah dengan adanya penipuan sebelumnya.

Para buzzer harusnya dikerahkan untuk menyebarkan pengetahuan, alih-alih menganggap remeh rasa takut yang dimiliki masyarakat.

Orang memang bisa merasa tenang karena ketidaktahuan. Penipuan -at some extent- memang bisa meredam kepanikan. Namun pengetahuan lebih baik dampaknya. Tentu dibutuhkan effort yang lebih besar, tapi hasilnya akan lebih baik untuk jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: