Good is Enough

Ketika mengerjakan sesuatu dan merasa apa yang dikerjakan itu kurang sempurna, apa yang anda lakukan? Apakah anda akan terus memperbaiki hasil pekerjaan itu hingga sempurna? Atau berhenti pada suatu kondisi tertentu?

Ada orang yang senang mengejar kesempurnaan. Dia selalu merasa hasil pekerjaannya kurang bagus dan mencoba memperbaikinya hingga sempurna. Akibatnya, seringkali dia terlambat menyelesaikan pekerjaannya. Ada yang bahkan tidak berhasil menyelesaikan pekerjaanya. Lebih parah lagi, walaupun sudah terlambat sekalipun, hasilnya masih juga belum sempurna.

Kesempurnaan, seringkali membuat seseorang terjebak pada procrastination. Dia jadi cenderung menunda untuk melakukan sesuatu karena ada sesuatu yang dianggap kurang. Apesnya, ternyata selalu saja ada sesuatu yang kurang. Makin parah lagi, waktu tidak mau kompromi dan terus berjalan. Akibatnya, pekerjaan tidak selesai ketika tiba tenggat waktunya.

Orang-orang seperti ini masih tertolong ketika ada tenggat waktu yang ditetapkan. Biasanya mereka akan berubah menggunakan “jurus kebut semalam” saat dipepet oleh tenggat waktu. Power of kepepet, katanya.

Namun dalam beberapa hal, tenggat waktu itu bukan hal yang jelas. Tidak ada yang menentukan tanggalnya. Kita hanya akan menyadarinya ketika ternyata sudah terlambat.

Kapan saatnya pindah pekerjaan, misalnya. Ada orang yang sudah menyadari bahwa tempat bekerjanya sudah tidak menjanjikan lagi. Dia ingin pindah, namun mencari tempat lain yang sempurna. Dan karena tidak ketemu-ketemu yang sempurna, maka dia tidak pindah-pindah. Akhirnya perusahaan bangkrut, dia dipecat, dan kesulitan mencari pekerjaan baru karena dia sudah tua dan skill dia tidak mengalami peningkatan di perusahaan yang lama.

Orang mencari jodoh juga ada yang mengalami hal yang sama. Karena ingin menikah dengan pasangan yang sempurna, maka dia menolak semua yang datang padanya. Namun usia tetap berjalan, dan yang sempurna tidak pernah ada.

Waduh, terus gimana dong, Bang?

Kita harusnya berhenti ketika yang kita dapatkan sudah bagus, tidak perlu sempurna. Jika masih ada ide untuk membuatnya sempurna, maka pindahkan itu ke target berikutnya. Leave the room for improvement.

Contoh, ketika membuat tugas akhir dalam kuliah. Ketika hasil dianggap sudah cukup baik untuk lulus ujian pendadaran, maka majukan saja. Jika masih ada ide lain untuk membuatnya lebih baik, masa sisakan ide itu untuk sekolah pada tingkat selanjutnya.

Hmm, terus gimana caranya menentukan sesuatu itu sudah bagus, Bang?

Nah, jawaban untuk pertanyaan ini aku sisakan untuk tulisan selanjutnya. Tulisan ini aku cukupkan di sini dulu đŸ˜€

— bersambung —

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: