Mentalitas Orang Kaya

Pada postingan sebelumnya, aku berbagi pengalaman dan pendapat bahwa jika memang berniat untuk sekolah, sebaiknya tidak menunggu beasiswa. Pikirkan juga untuk membayar sendiri.

“Aku nggak punya uang, Bang. Makanya menunggu beasiswa”. Begitu kira2 tanggapan sebagian teman yang tak setuju dengan pendapatku tersebut.

Jangan khawatir, anda tidak sendiri. Aku dulu juga pernah berpikir begitu. Aku berpikir aku tidak punya cukup uang, sehingga aku memusatkan pikiranku dalam usaha untuk mendapat beasiswa – yang ternyata aku sesali kemudian.

Cara berpikir seperti aku dan teman-teman yang merasa tidak punya uang dan hanya mau menunggu beasiswa ini sebenarnya cara pikir yang umum di kalangan ekonomi menengah. Karena kondisi keuangan yang pas-pasan, maka orang-orang seperti kami ini lebih banyak menabung.  Sialnya, kami tidak tahu persis uang tabungan itu mau dipakai buat apa. Kalaupun  tahu, maka investasi bukanlah salah satu prioritas utama. Lebih jauh lagi, sekolah lagi atau belajar lagi itu juga tidak dipandang sebagai sebuah cara berinvestasi.

Sementara orang-orang kaya berpikir berbeda. Mereka tak tahan melihat uangnya diam tak bekerja. Menabung bukanlah prioritas utama buat mereka, karena uangnya sudah banyak. Sebaliknya, karena mereka punya kelebihan uang, maka mereka ingin berbelanja.

Karena mereka sering berbelanja, maka mereka juga tahu apa yang layak untuk dibeli dan apa yang tidak.  Mereka juga tahu bahwa uang itu jika dibelanjakan dengan benar, akan berkembang sendiri. Mereka spending untuk bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi. Tentu saja mereka juga siap untuk rugi jika mereka salah beli, atau salah berinvestasi.

Orang dari ekonomi menengah tidak punya keberanian berinvestasi. Uang yang pas-pasan, membuat mereka takut rugi. Akibatnya mereka lebih memilih menabung, atau mengharap rejeki nomplok seperti beasiswa.

Untungnya, mentalitas orang kaya ini bisa juga dimiliki oleh orang-orang dari golongan menengah atau bahkan miskin. Mungkin saja karena terinspirasi dari orang kaya di sekitarnya, karena belajar, atau punya semangat yang kuat.

Satu contoh keren baru saja aku dengar dari seorang teman yang berkomentar pada tulisanku sebelumnya.

Melati -bukan nama sebenarnya- memutuskan untuk menggunakan tabungan bapaknya untuk sekolah. Tabungan ini sebenarnya adalah tabungan untuk biaya pernikahan. Namun karena pacar aja dia belum punya serta dia meyakini sekolah itu begitu pentingnya, maka dia memilih untuk menggunakan uang itu untuk sekolah ke Jepang.

Uang tabungan itu sebenarnya tidak cukup untuk membiayai kuliah sampai selesai.  Uang itu hanya cukup untuk mengawali tahun-tahun pertama kuliahnya saja. Namun Melati berani mengambil resiko. Dia punya keyakinan bahwa dengan modal awal itu dia akan bisa mendapatkan biaya untuk menyelesaikan kuliahnya, entah dengan cara mencari beasiswa langsung di Jepang atau dengan bekerja part time.

Keberanian Melati mengambil resiko ini akhirnya mendapatkan buah manis.  Selain dia berhasil melanjutkan sekolah di Jepang, dia akhirnya juga mendapatkan suami di Jepang. Hal yang sulit dicapai jika Melati tak berani memanfaatkan uang biaya nikah itu untuk biaya sekolah.

Melati, mungkin juga berasal dari golongan menengah. Namun dia mempunyai mentalitas orang kaya sehingga tahu bagaimana menggunakan uangnya.

Ada yang ingin menjadi seperti Melati?

Dubai, 11 Feb 2020,

-bank al-

NB:
Melati tidak mau namanya ditulis di sini karena takut terkenal sehingga namanya disamarkan.

Tulisan Terkait:

Alinazar, A. (2020). Jangan Tunggu Beasiswa!. [online] Living as a Global Citizen. Available at: https://aalinazar.wordpress.com/2006/07/31/prestasi-akademis-dan-laut-biru/ [Accessed 1 Feb. 2020].

Alinazar, A. (2006). Prestasi Akademis dan Laut Biru. [online] Living as a Global Citizen. Available at: https://aalinazar.wordpress.com/2006/07/31/prestasi-akademis-dan-laut-biru/ [Accessed 6 Feb. 2020].

Alinazar, A. (2006). Strategi Laut Biru. [online] Living as a Global Citizen. Available at: https://aalinazar.wordpress.com/2006/07/27/strategi-laut-biru/ [Accessed 6 Feb. 2020].

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: