Persamaan Kata Kunduran

Sewaktu aku kuliah di Jogja dulu, beberapa kali aku mendengar penutur Jawa membangga-banggakan bahasa Jawa dan mengatakan Bahasa Indonesia itu kurang lengkap. Alasan yang paling populer adalah Bahasa Indonesia itu tidak mempunyai padanan kata “kunduran”.

Emang kata Kunduran itu begitu penting ya sehingga perlu ada padanan katanya?

“Kunduran” memang tak mempunyai padanan kata dalam bahasa Indonesia. Namun bukan berarti “kunduran” itu tak bisa dijelaskan dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Tertabrak oleh sesuatu yang sedang bergerak mundur, adalah kira-kira penjelasan arti kata “kunduran”.

Lalu, kenapa sih kata “kunduran” itu menjadi begitu penting sehingga Bahasa Indonesia berkurang kelengkapannya karena tidak mempunyai padanan kata itu?

Apakah penutur Jawa itu sering sekali tertabrak sesuatu yang berjalan mundur sehingga merasa sangat perlu menciptakan kosakata tersebut? Ataukah kelengkapan sebuah bahasa hanya diukur dari berapa banyak kosakata yang dimilikinya? Atau pembicara Jawa itu adalah kelompok  penghemat energi sehingga berusaha sebisa mungkin mengirit kata-kata yang dikeluarkan dengan membuat sebanyak mungkin kosakata untuk menggambarkan peristiwa?

Sampai saat ini aku tidak tahu jawabannya. Bagi seorang Global Citizen seperti saya -yang bisa berbicara dalam beberapa bahasa- , padanan kata itu bukanlah hal yang penting-pent.  Sebuah kata tidak harus selalu bisa digantikan dengan kata lagi dalam bahasa lain. Bukankah arti kata tersebut masih bisa dijelaskan dengan kalimat-kalimat?

Jangankan kata-kata, bahkan sebuah kalimat saja seringkali tidak bisa diterjemahkan jadi satu kalimat lagi dalam bahasa lain. Tidak jarang satu kalimat dalam satu bahasa bisa menjadi beberapa kalimat dalam bahasa lain. Jika dipaksa diterjemahkan dalam satu kalimat,  maka kalimat terjemahan itu menjadi tidak enak rasanya.

Bahasa, memang bukan hanya sekedar kumpulan kosakata. Selain menyampaikan makna, bahasa juga mengirimkan pesan rasa yang juga diwarnai oleh budaya. Bahasa juga mencerminkan cara berpikir seseorang sehingga seringkali karakter seseorang bisa dipahami dari caranya berbahasa.

Mau mahir berbahasa? Tak usah pusing soal kosakata. Pahamilah cara berpikir dan budayanya.

Dubai, 7 Feb 2020,

-bank al-

Tulisan Terkait:

(1) https://aalinazar.wordpress.com/2020/01/23/the-global-citizen/

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: