Bukan Katarsis, Tapi Olahraga

Katarsis, adalah salah satu alasan orang menulis atau beraktivitas di blog, FB, dan berbagai media sosial lainnya. Berdasarkan definisi, katarsis adalah sebuah cara untuk melepaskan emosi yang tertekan.

Catharsis: the process of releasing, and thereby providing relief from, strong or repressed emotions.

Itulah sebabnya tak aneh jika kita melihat orang marah-marah di FB, meratap-ratap di media sosial, curhat-curhat, atau mencari-cari orang lain untuk dicaci-maki dan digoblok-goblokin dalam status-status, tulisan-tulisan atau komentar-komentarnya.

Orang-orang ini sedang melakukan katarsis, melepaskan rasa-rasa yang terpendam di hati. Rasa marah, sedih dan benci itu jika disimpan bisa menjadi bisul. Mereka memutuskan untuk berbagi pada orang lain agar bebannya menjadi berkurang.

Apakah katarsis efektif dilakukan dengan cara itu? Entahlah, aku tak tahu. Sepanjang pengamatanku -dengan jumlah sampel yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah- , orang-orang yang senang mengumbar emosi di media sosial ini tak jauh berubah. Sejak dulu hingga sekarang tak berhenti-berhenti melepaskan emosinya.

Entah karena emosi yang tertekan itu sedemikian banyak sehingga tak habis-habis walau dibuang, atau karena memang cara ini tidak efektif. Aku juga belum punya jawabannya.

Namun selain katarsis, sebenarnya aktivitas menulis juga bisa dimanfaatkan untuk mengasah bagian otak yang lain, yaitu neocortex atau otak nalar. Alih-alih menghamburkan emosi, kegiatan menulis bisa menjadi sarana olahraga bagi otak.

The neocortex, also called the neopallium and isocortex, is the part of the mammalian brain involved in higher-order brain functions such as sensory perception, cognition, generation of motor commands,[1] spatial reasoning and language.[2]

Otak itu perlu dilatih terus. Jika tidak, dia bisa mogok ketika diperlukan. Kegiatan menulis adalah sarana olahraga bagi otak untuk melakukan reasoning dan tentu saja kemampuan berbahasa.

Tulisan-tulisan yang dibuat dengan tujuan olahraga ini juga berpeluang lebih besar untuk memberi dampak positif pada lingkungan sekitar.  Orang-orang yang tertarik pada topiknya bisa belajar dan menambah pengetahuan dari sana. Sementara orang-orang yang tidak tertarik juga tak terganggu emosinya saat membacanya.

Ketika tulisan tak dibaca orang lain? Juga bukan masalah serius bagi penulis yang bertujuan olahraga. Ibarat olahraga lari, kita tak perlu peduli apakah orang lain akan keplok-keplok melihat kecepatan atau gaya lari kita. Tujuan badan bugar dan sehat tetap tercapai walau tak ada orang yang melihatnya sekalipun.

Jadi, pilih menulis untuk katarsis atau olahraga? Aku memilih olahraga. Bagaimana dengan anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: