Bahasa Ibu

Pada suatu masa -ketika sedang bincang-bincang dengan anak-anak- , tiba-tiba tercetuslah sebuah istilah “Native Speaker” atau “Pembicara Bahasa Ibu” jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Istilah ini membangkitkan rasa ingin tahu Si Cantik sehingga dia lalu bertanya,”What is native speaker, Ayah?”

Lagi-lagi pertanyaan sederhana yang membuatku ternganga karena saat itu aku baru menyadari bahwa native speaker ini adalah sebuah konsep yang sulit dijelaskan kepada seorang Global Citizen seperti anak-anakku ini.

Native Speaker berdasarkan penjelasan webster adalah,

: a person who learned to speak the language of the place where he or she was born as a child rather than learning it as a foreign language

Atau jika boleh aku jembrengkan dalam bahasa Indonesia, Native Speaker itu berarti orang yang berbicara bahasa di tempat dia lahir, ketimbang mempelajarinya sebagai bahasa asing.

Apakah penjelasan ini relevan pada Si Cantik?

Si Cantik sejak bayi sudah tinggal di luar Indonesia. Walaupun saat masih bayi kami berbicara dengannya dengan bahasa Indonesia, namun bahasa pertama yang dikuasai Si Cantik adalah bahasa Inggris. Ditambah lagi karena dia sekolah di sekolah British, maka bahasa Inggrisnya memiliki aksen British. Sedangkan Bahasa Indonesianya memiliki corak seperti Cinta Laura walaupun bundanya memiliki bahasa pertama bahasa Indonesia.

Jadi Si Cantik ini native speaker dalam bahasa apa?

Dalam kerangka warga negara, Si Cantik adalah warga negara Indonesia. Dia juga tidak dibesarkan di Inggris, Amerika, Australia atau negara-negara yang bahasa negaranya adalah bahasa Inggris. Maka dari perspektif warga negara, Bahasa Inggris itu adalah bahasa asing baginya.

Bagaimana dengan bahasa Indonesia? Apakah bisa menjadi bahasa native baginya? Ini juga sulit untuk diterima. Lha dia bahasa Indonesia saja tidak lancar dan bakalan dibully oleh orang Indonesia. Masak iya Bahasa Indonesia adalah bahasa native-nya?

Jadi apa dong bahasa native bagi si Cantik?  Entahlah, aku juga tak bisa menjawabnya.

Bahasa Pertama, mungkin lebih relevan bagi si Cantik karena bahasa Inggris adalah bahasa yang pertama kali dikuasainya.

Namun istilah ini jadi buyar lagi ketika diterapkan pada Si Ganteng. Kakaknya ini berbicara pertama kali dalam bahasa Indonesia. Namun setelah dia masuk sekolah, kemampuan bahasa Indonesia berkurang dan memudar. Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling dikuasainya sekarang. Jika dia berbahasa Indonesia, akan terdengar seperti Brad Pitt berbahasa Indonesia.

Jadi istilah mana yg tepat bagi mereka? Native Language (bahasa Ibu) ? First Language (bahasa pertama) ? Semuanya kok rasanya nggak cocok.

Bagi Global Citizen seperti mereka, konsep ini sepertinya sudah tidak lagi relevan.

Tulisan Terkait:

1) Alinazar, Alfred. 2020. The Global Citizen. [online]  Living as a Global Citizen. Available at https://aalinazar.wordpress.com/2020/01/23/the-global-citizen/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: