The Global Citizen

Where are you from?“, tanya pembawa acara pada anak-anak expatriate yang bertempat-tinggal di Dubai dalam sebuah siaran Radio Dubai Eye.

Pertanyaan ini tampaknya sederhana, namun ternyata sulit dijawab bagi anak-anak tersebut. Ada seorang anak yang mempunyai ayah orang Perancis dan ibu orang Maroko. Dia sendiri lahir di Dubai. Dia tak tahu apakah dia harus menjawab berasal dari Perancis, Maroko atau Dubai.

Nggak usah jauh-jauh,  anak-anakku sendiri ketika diberikan pertanyaan yang sama juga jawabannya beragam. Menurut mereka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah tempat di mana mereka dilahirkan, bukan warga negara, apalagi suku bangsa. Maka ada yang berasal dari Jakarta, ada yang berasal dari Dubai.

Sewaktu masa sekolah dulu, pertanyaan yang paling menyebalkan di telingaku adalah “kamu orang mana?”. Bukan karena aku tidak suka dengan suku nenek moyangku, namun sebagai anak Minang yang lahir dan besar di Jakarta, pertanyaan itu menyebalkan karena kemudian berujung pada stereotyping.

Contohnya, ketika aku mengaku orang Minang, maka orang-orang dari suku lain akan menyambung dengan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut:

“Orang Padang ya? Pelit dong”

“Orang Sumatra ya? Makannya banyak dong”

Iya, aku memang orangnya pelit. Tapi itu bukan disebabkan karena aku orang Minang. Ayahku orang Minang juga tapi sangatlah tidak pelit. Uangnya malah banyak habis dipinjam orang-orang dan saudara-saudaranya tapi tidak pernah dikembalikan. Belum lagi yang memang diberikan dan bukan dipinjamkan. Bagaimana mungkin orang yg baik hati dan suka menolong seperti ayahku itu disebut pelit?

Sementara kalau orang Minang yang mengetahui aku adalah orang Minang juga, mereka akan bertanya,”Minangnya dari mana?”

Lalu setelah aku jawab Pariaman, maka mereka akan melanjutkan lagi dengan pernyataan menyebalkan,”Wah, orang Pariaman? dibeli perempuan tuh.”

Untunglah, anak-anakku sudah tak lagi mengalami masalah serupa. Pertanyaan suku bangsa sudah tak lagi relevan buat mereka. Mereka akan kesulitan menjawab apakah mereka orang Minang, Jawa, atau Sunda.

Lalu bagaimana dengan konsep negara? Tampaknya juga tak begitu jelas bagi mereka. Mungkin yang ada dalam bayangan mereka, negara itu hanyalah sebatas tempat atau lokasi di permukaan Bumi. Makanya kemarin Si Cantik sempat bingung dan tidak mengerti apa yang dinamakan dengan visa dan mengapa butuh visa untuk ke Eropa.

Sekarang zaman sudah berubah. Manusia relatif lebih bebas untuk bisa jalan-jalan atau bahkan memilih tempat bekerja dan tinggal di negara mana saja di penjuru dunia. Konsep negara semakin kabur dan tak terasa. Jangankan anak-anak expatriate, orang-orang desa di Indonesia yang dulu nggak pernah kemana-mana aja sekarang sudah bisa jalan-jalan ke luar negeri.  Maka wajarlah jika anak-anak expatriate ini tak lagi mampu menjawab pertanyaan tentang asal usulnya karena mereka berasal dari berbagai penjuru di dunia.

We are now the Global Citizen. Sooner or later, everyone will be.

Tulisan Terkait:

(1) Alinazar, Alfred. 2019. When Things Went Unexpected. [online]  Living as a Global Citizen. Available at https://aalinazar.wordpress.com/2019/12/19/when-things-went-unexpected/ [Accessed 19 Dec. 2019]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: