Ilusi Group Tertutup

Group tertutup seringkali dijumpai dalam berbagai komunitas-komunitas online. Berdasarkan definisi, group-group semacam ini adalah group-group yang membatasi siapa saja yang bisa berinteraksi dalam group ini.

Dalam prakteknya, definisi ini sering disalahpahami. Tak sedikit orang yang merasa bahwa tulisan-tulisan dan interaksi-interaksi yang terjadi di group tertutup itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang berada di group tersebut. Ada orang yang merasa kesal karena tulisan-tulisan yang dia bagikan di group tersebut ternyata tersebar di luar group.

Apakah anda termasuk orang yang kecele ketika tulisan anda di Internet dan diharapkan tidak tersebar keluar ternyata tersebar ke seluruh penjuru dunia? Jika iya, maka anda tidak sendirian. Saya sendiri juga pernah mengalaminya 😀

Hal ini sebenarnya tidak bisa dihindari pada komunitas-komunitas online. Kita tidak bisa menyerahkan kepercayaan begitu saja pada orang-orang yang menjadi anggota group tersebut. Kita bisa saja percaya bahwa semua anggota yang berada di group itu telah bersepakat bahwa tidak ada tulisan di dalam group yang bisa dibawa keluar. Namun sialnya, kita tidak bisa memastikan bahwa orang-orang yang bisa mengakses group itu adalah orang-orang yang bersepakat.

“Kok bisa gitu Bang? Bagaimana caranya orang yang bukan anggota group mengakses group tertutup? Apakah orang tersebut Hacker”

“Nggak kok. Sampeyan cuma butuh cari pacar saja”

Fakta yang sering kita lupa adalah bahwa group tertutup bisa diakses orang yang tak berhak jika salah satu anggota dari group tersebut memberi akses kepada orang lain. Sialnya, hal ini secara tidak sadar dilakukan oleh banyak orang tanpa menyadarinya.

Contohnya adalah suami-istri yang bisa mengakses Facebook pasangannya, atau anak yang bisa mengakses ponsel orang tuanya. Walaupun sang suami atau istri bukan anggota Facebook group yang diikuti pasangannya, namun dia bisa membuka isinya bukan? Bagaimana jika misalnya dia kemudian menceritakan apa yang dia baca di situ kepada orang lain?

Selain itu, ada juga kebocoran yang bisa disebabkan karena pemilik account meninggalkan perangkatnya tanpa pengawasan. Misal seorang membuka account Facebook di kantor. Lalu dia pergi ke toilet dan tidak mengunci laptopnya. Orang lain kemudian lewat di depan laptopnya, membaca Facebooknya dan membocorkan informasinya keluar.

“On the Internet, nobody knows you are a dog” – Peter Steiner

Begitulah, sebuah rahasia tak akan bisa dipastikan akan terjaga jika memastikan siapa yang ada di ujung sana saja kita tak bisa. Di Internet, kita tak punya kemampuan untuk memastikan siapa yang bisa membaca tulisan kita.

“Waduh, lalu aku harus bagaimana Bang?”

Berhati-hati, itulah kuncinya. Jangan pernah berbagi sesuatu yang bersifat rahasia di Internet, walaupun dalam group tertutup sekalipun. Ketertutupan di Internet itu hanyalah ilusi. Ada begitu banyak orang yang berbagi password dengan pasangannya. Tidak sedikit orang yang membiarkan perangkatnya -baik HP ataupun komputer- bisa diakses oleh orang lain tanpa sepengetahuannya. Melepaskan sebuah rahasia di Internet adalah sebuah kecerobohan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: