Aku, Gue dan Saya

Hari ini aku sedang iseng mengunjungi beberapa blog sambil mencari ide tentang apa yang ingin aku tulis hari ini di blog ini.

Salah satu blog yang terlintas di kepala adalah blog Mas Rovicky . Dongeng Geologi ternyata masih dilanjutkan oleh pendongeng-pendongeng penerus. Gaya penulisan tampaknya diusahakan mirip dengan gaya Mas Rovicky dulu.  Namun sebagai sahabat dan penggemar Mas Vicky, gaya itu tetap tak sama. Rasa blog itu tak lagi sama. Wajar saja, karena memang jiwa penulisnya sudah berbeda.

Blog satu lagi yang aku kunjungi adalah blog Ivan Lanin.  Kok Ivan? Apakah karena aku penggemar Bahasa Indonesia? Tentu saja tidak. Aku bukan penggemar aturan baku dalam berbahasa. Tulisanku bercampur-campur bahasanya. Kadang ada kosakata Inggris, Jawa atau bahasa-bahasa lain. Semua aku biarkan mengalir saja seperti bagaimana aku bicara sehari-hari, yang juga bercampur-campur tak patuh hanya pada satu struktur dan kosakata satu bahasa.

Kunjunganku pada kedua blog di atas sebenarnya juga ditujukan untuk mencari inspirasi tentang bagaimana cara bertutur. Mas Rovicky menampilkan tulisannya seperti orang yang sedang mendongeng. Beliau hampir tak pernah menggunakan kata ganti orang pertama kecuali dalam selingan-selingan dialog kecil yang selalu muncul dalam tulisan-tulisannya. Ketika itu terjadi, beliau menyebut dirinya dengan sebutan Pakdhe.

Sementara Ivan, menyebut dirinya dengan “saya”, sebuah kosakata yang terdengar formal dan berjarak. Wajar saja, beliau adalah seorang penggemar Bahasa Indonesia yang mengimplementasikannya dengan saklek dan benar.

Bagaimana dengan Bang Al? Eh, itu aku sendiri ya.

Aku lebih banyak menggunakan kata aku dalam tulisan-tulisan yang aku buat akhir-akhir ini. Namun jika digali lagi pada tulisan-tulisan jaman dulu, tak jarang juga aku menggunakan kata “saya” ketika menyebut diriku sendiri.

Dalam pembicaraan sehari-hari, aku juga tidak selalu menggunakan kata yang sama. Pemilihan kata itu biasanya tergantung mood dan lawan bicara. Untuk beberapa teman rasanya lebih pas jika menggunakan “aku”, sementara teman lain lebih enak dengan “saya”. Teman-teman yang lebih akrab lagi malah lebih cocok dengan kata “gue”.

Lalu kata pengganti mana yang lebih pas digunakan di blog ini? Nah, ini pertanyaan yang sangat sulit. Pembaca blog ini bermacam-macam. Aku kesulitan membayangkan siapa yang membacanya sehingga tak bisa memutuskan kata mana yang tepat digunakan secara konsisten. Biarlah mood saja yang menentukannya.

Hmmm, Bagaimana menurut Ngana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: