Bertemu Apa Yang Dicari

Saat menghabiskan waktu sebelum menjemput anak-anak, aku biasanya melewatkan waktu dengan bernyanyi sampai HP-ku kehabisan batre.

Namun pagi itu aku tak punya banyak mood untuk bernyanyi. Setelah beberapa lagu selesai aku nyanyikan, aku terpikir untuk menghabiskan sisa waktu yang masih sekitar 1 jam lebih itu untuk berjalan kaki.  Berdasarkan pengalaman, waktu segitu cukuplah untuk berjalan kaki hingga sekitar 5 kilometer.

Saat asyik-asyiknya berjalan kaki, tiba2 aku melihat seorang perempuan berdiri di pinggir jalan sambil memegang payung. Matahari masih belum tinggi, cuaca juga sejuk.  Aneh rasanya melihat orang membawa payung pada cuaca secerah itu.

Yang membuatku makin heran lagi adalah dandanan perempuan itu. Bedaknya begitu tebal. Alis mata juga digambar begitu lebar. Lipstik juga begitu merah bagaikan bibir yang baru terjepit pintu kereta. Tak ayal lagi, perhatianku tersita olehnya.

Ketika memandang dengan keheranan seperti itu kok tiba-tiba mataku berserobok dengan mata si Mbak itu. Lalu dia memecah kebingunganku dengan tersenyum dan bertanya,”Massage, Sir?”

Aku baru sadar apa yang aku temui. Maka aku buru-buru menggeleng dan kabur cepat-cepat melanjutkan perjalananku.

Langkahku  cukup cepat, karena khawatir dikejar sama si mbak.  Namun aku  pikiranku masih belum lepas dari apa yang baru saja terjadi. Setelah cukup jauh berjalan, eh kok tiba-tiba di depanku ada lagi mbak-mbak lain yang juga berdandan super menor seperti yang baru saja aku temui barusan.

Ketika si Mbak ini melihatku, dia juga tersenyum dan bertanya,”Massage, Sir?”

Aku benar-benar tak habis pikir kok ya bisa-bisanya aku ketemu tukang pijat model begini di tengah kota, pagi hari pula.

Setelah aku ingat-ingat lagi, ini sebenarnya bukan pertama kali aku ditawari pijat di pinggir jalan. Dulu aku pernah juga mengalami pengalaman serupa ketika aku berjalan di Blok-M, Jakarta. Saat itu aku sedang berjalan kaki dari Blok-M Plaza menyusuri jalan Melawai mencari ATM.  Dan kejadiannya serupa, tiba-tiba ada mbak-mbak yang menyapa dan bertanya,”Pijet, Om?”

Saat itu tak begitu heran sih. Karena memang sudah malam dan kondisi remang-remang. Konon kata orang memang di jalan Melawai ada banyak yang model-model kayak begitu.

*****

Sore ini, aku melihat postingan temanku yang bercerita tentang Buya Hamka. Ceritanya bagus, walau aku tak tahu itu benar-benar terjadi atau cuma hoax saja.

Ceritanya berikut ini:

Seseorang bilang…
Bahwa “Pelacur di Arab itu memakai cadar dan hijab”

Jawaban Buya Hamka ini tak terduga!
Lalu HAMKA menjawab,
“Oh ya? Saya barusan dari Los Angeles dan New York, Masya Allah, ternyata disana tidak ada pelacur,” jawab Buya..

“Ah mana mungkin Buya, di Mekkah saja ada kok. Apalagi di Amerika, pasti banyak lagi,” kata seseorang tadi…

Maka kata Buya Hamka,
“Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari”

Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka Syaitan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk mendapatkannya…

“Tetapi sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi” tutupnya.

Dan, kisah Buya ini membuatku terpana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: