Obat Untuk Ibunya

Malam itu aku harus mengembalikan mobil ke tempat penyewaan. Supaya kaki tidak gempor jika harus pulang jalan kaki dari tempat penyewaan yang berjarak beberapa puluh kilometer dari rumah itu, aku minta ditemani Dinda yang nyetir dengan mobil satunya.

Dinda menunggu di mobil, sementara aku masuk ke counter menyelesaikan segala urusan sewa-menyewa yang hanya butuh waktu beberapa menit saja.

Saat urusan selesai dan aku kembali ke mobil,  aku ketika melihat ada orang di sebelah mobil dan Dinda lalu berkata,”Kanda, itu orang di sebelah ibunya sakit diabetes dan nggak punya uang untuk beli obat.”

Aku yang pada dasarnya emang pelit dan trauma sama tukang tipu segera mendekati orang itu dan siap untuk berkata tidak. Namun Dinda kemudian menyambung,”Dia nggak minta duit Kanda, dia cuma minta dibeliin obat.”

“Emang ada apotik di dekat sini?”, balasku

“Ada Kanda, di situ”, jawab Dinda sambil menunjuk apotik persis di sebelah mobil

“OK, come with me.”,  kataku pada orang di sebelah mobil itu sambil mengajaknya berjalan ke Apotik

Sampai di Apotik dia menyebutkan beberapa jenis obat yang ternyata total harganya cukup besar. Aku awalnya sempat terkejut saat akan membayar obat itu. Tapi mengingat di suatu tempat sana ada orang sakit yang membutuhkannya maka aku bayar saja biayanya.

Setelah mengucapkan terima kasih dan mendoakan agar aku masuk surga, orang itu segera berlalu. Aku cuma nyengir saja sambil terus berpikir apakah ini benar2 terjadi atau tidak.

Masih ada keheranan di kepalaku kenapa orang bisa sakit dan tidak punya uang untuk membeli obat. Bukankah harusnya semua pendatang di negara ini punya asuransi? Maka ketika tiba di rumah, aku langsung menjelajah Internet untuk memastikan obat apa yang tadi aku beli.  Jangan-jangan aku tertipu lagi. Jangan2 orang ini beli obat bius untuk mabok2an atau dimanfaatkan seperti narkoba?

Namun pikiran jelekku itu tidak benar. Obat yang dia beli memang obat diabetes dan obat untuk penyakit hipertensi. Hatiku jadi lega, semoga obat itu memang bermanfaat bagi ibunya.

Moral of the story adalah bahwa rejeki memang bisa datang dari pintu yang tidak disangka-sangka. Kadang kita perlu melakukan hal-hal yang tidak biasa untuk mendapatkan hasil yang juga tidak biasa.

Jika saja dia meminta uang, mungkin sepersepuluhnya saja juga tidak akan aku berikan pada orang yang tidak dikenal seperti itu.  Namun karena yang diminta adalah obat untuk ibunya, maka aku masih mau membayarkan biayanya.

Pelajaran buat diriku sendiri, bahwa dalam hidup seringkali aku malu untuk bertanya atau meminta.  Padahal dalam hidup seringkali aku membutuhkan bantuan orang lain. Bukan hanya dalam masalah uang saja, tapi bisa juga dalam masalah bantuan kesempatan, saran atau tenaga.

Kadang aku terlalu takut meminta karena aku takut tidak bisa membalas budi padanya. Padahal belum tentu juga orang membantu itu karena mengharapkan balas budi atas jasanya.

 

Dubai, 18 Feb 2019,

 

-bank al-

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: