The Carpooling

Are you not anymore carpooling to Dubai?”, sapa kolegaku saat berjumpa di elevator.

Not anymore, I wanted my freedom“, sambutku sambil tersenyum

Aren’t you tired driving long distance?“, timpalnya lagi

Not really, I’m enjoying my driving time“, sahutku

Tahun kemarin, aku memang sempat carpooling dengan beberapa kolega. Kami bertemu di sebuah tempat yang disepakati pada jam yang disepakati, lalu berangkat ke kantor bersama dan pulang bersama dengan satu mobil saja.

Carpooling sempat berjalan beberapa bulan namun akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dari Carpooling karena sebuah masalah yang mungkin sepele bagi teman carpoolku tapi bukan hal sepele buatku.

Perkara sepele itu adalah temanku datang terlambat di tempat yang disepakati. Hal ini bukan pertama kali dia terlambat namun sudah sangat sering. Bahkan pernah juga suatu saat dia terlambat sampai 1 jam sehingga aku hampir saja laku ditawar di tempat parkiran.

Kali ini dia juga terlambat cukup lama, lebih dari 30 menit.  Dia beralasan bahwa dia terlambat karena jalan yang dia lewati itu macet.  Aku tidak bisa menerima alasan itu karena kami semua sudah tahu jalan tersebut macet karena sedang ada perbaikan jalan, sementara ada jalan lain yang sangat lancar yang bisa dia pilih. Dia tetap ngotot memberi jawaban seakan dia tak merasa bersalah dan bahkan menantang aku mau berbuat apa.

Tentu saja tantangan itu aku sambut dengan cepat bahwa aku ingin berhenti Carpooling.

Kolegaku itu rupanya lupa bahwa aku pada awalnya tidak tertarik untuk Carpooling. Dia membujuk-bujuk aku untuk Carpooling agar dia bisa menghemat biaya transportasi. Aku pada awalnya tidak mau karena aku merasa biaya yang dihemat tak signifikan, plus aku juga senang menyetir sehingga tak begitu mendapatkan manfaat ketika aku disupiri oleh orang lain.

Jawabanku sempat membuat dia terkejut. Namun aku sudah bulat menentukan pilihan. Aku lebih menikmati pergi mengendarai mobil sendirian. Aku bisa menyetir sambil bernyanyi dan aku tak perlu harus menunggu orang lain untuk berangkat dan pulang.

Carpooling mungkin bagus buat orang-orang yang mempunyai kecocokan sehingga bisa merasakan nikmatnya perjalanan bersama-sama. Namun bersama-sama dengan orang yang tidak cocok, akan menimbulkan lebih banyak siksaan daripada kenikmatan. Dalam kasusku ini adalah perbedaan dalam menghargai waktu.

Seperti juga orang berumah-tangga atau pacaran. Jika memang ada begitu banyak ketidakcocokan yang selalu menimbulkan pertentangan yang tidak berkesudahan, mengapa juga harus dipertahankan?  Bukankah lebih berpisah dan menemukan teman lain yang lebih sepaham?

Lho kok jadi ngomongin rumah tangga ya. Ini khan lagi ngomong soal Carpooling?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: