Di Suatu Senja

Matahari masih belum hilang ditelan horizon, di kala seorang lelaki berwajah keriput duduk termangu di deretan bangku pada sebuah tempat perbelanjaan yang senja itu relatif sepi. Matanya menatap kosong ke alam fana, ingatannya melayang entah ke mana, bibirnya terkunci diam tanpa sepatahpun kata.

Banyaknya peristiwa pelik yang dilewati lelaki itu telah membuatnya mengemudi ratusan kilometer di senja itu tanpa rencana dan menyebabkannya terdampar sebelum matahari tenggelam.
Kebingungan melanda, hatinya resah, kegusaran menggelora, air mata menetes melihat sekelilingnya.

Akhirnya, lelaki berkening kerut itu membuka tas-nya, mengeluarkan Macbook pro-nya, dan mulai menulis untuk meredamkan gejolak di dalam jiwa. Tulisan demi tuisan bergulir satu demi satu di layar perangkatnya meneriakkan jeritan jiwanya.

Dalam tulisannya laki2 bertubuh atletis itu menjerit,”Siaaaal, gue datang kecepetan. Ini masih jam 6, padahal Maghrib masih 1 jam lagi. Perut udah laper banget ! Ini mana orang2 pada pamer makanan di depan gue lagi. Tapi gue nggak bisa makan, khan masih puasa?”

*****

Gimana teman2? Aku ada bakat nulis cerpen nggak? Kayaknya nggak ya? *nyengir*

Ya udah, cerita pakai gaya biasa aja deh, daripada melamun yang tidak-tidak karena waktu berbuka puasa masih lama.

Cerita ini adalah cerita yang tidak penting, soal pengalamanku pertama kali masuk Schlumberger, 17 tahun yang lalu.

Waktu itu aku baru lulus UGM, dengan IPK ala kadarnya, dan masa kuliah yang hampir kadaluarwa. Nasib membawaku ke meja interview di Schlumberger, yang saat itu katanya sedang mencari-cari seorang programmer.

Aku berhadapan dengan District Manager berkebangsaan Perancis yang galaknya minta ampun. Setelah beberapa pertanyaan basa-basi, dia langsung to-the-point menanyakan kemampuanku menggunakan Ms Access.

Dan karena aku belum pernah mencoba, ya aku jawab aja,”I’m not familiar with that.”

Eh si boss kok menjawab dengan ketus,”If you are not familiar with that, we don’t have a job for you !”

Asem, aku tersinggung dibentak kayak gitu. Emangnya aku cowok apaan?
Namun aku tak putus asa dan mencoba keberuntunganku dengan menjawab,”Well, I’m a fast learner. If you give me time, I will be able to do it.”

Si boss kemudian memberi kesempatan padaku untuk mencoba. Dia memberikan sebuah program yg dibuat dengan Ms Access, yang tidak berjalan sempurna karena ada bug-nya. Katanya, jika aku berhasil memperbaikinya, maka aku akan diterima.

Tantangan tersebut aku ambil, dan aku sibuk membaca manual on-the-spot sambil menjedot2kan kepala ke tembok dan mencoba-coba menemukan kutu di program tersebut untuk lalu memperbaikinya.

Beberapa jam aku lewati, sampai jam makan siangpun aku ditinggal sendirian karena si boss mau makan dulu dan aku dibiarkan kelaparan.

Singkat cerita, aku berhasil menemukan kutu tersebut dan membuat boss galak itu kagum kepadaku. Saat itu juga aku diterima bekerja di sana. Konon kabarnya sebelum aku sudah banyak pelamar yg berguguran karena tak mampu melewati tugas yg diberikan boss Perancis itu.

Awal karir ini yang kemudian mengantarkanku pada perjalanan karir selanjutnya sehingga aku bisa pergi ke Luar negri pertama kali, dan keliling dunia sehingga passportku harus diganti seelum waktunya karena kepenuhan stamp, dan kemudian menjadi expat seperti sekarang ini.

*****

Cerita ini aku tuliskan untuk mengingatkan diriku sendiri, bahwa aku sejak dulu memang bukan seorang yang berprestasi istimewa. Aku cuma orang biasa, tak punya kelebihan apa-apa.
Kemampuanku cuma rata-rata, tidak pernah istimewa, apalagi cetar membahana.

Aku dulu memang relatif tampan, tapi yang lebih tampan dari aku jauh lebih banyak sehingga lebih banyak yang tidak setuju jika aku mengaku tampan daripada yang setuju. Terlebih lagi, ketampanan itu tak ada hubungannya dengan peluang mendapat kerja. Mungkin tinggi badan yang lebih ada hubungannya, tapi itupun aku juga tak punya.

Lalu apa yang membuatku bisa bertahan hingga saat ini? Kuncinya cuma keberanian bermimpi dan ketangguhan untuk mewujudkannya. “Dream is only a dream, until you believe it”, begitulah tagline blog-ku di masa lalu.

——

Eh, Horeeee…. Maghrib. Shawarma di depan mata sudah bisa disantap sekarang.
Kapan2 dilanjut lagi ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: