Aim to be just Average

Dalam sebuah pelatihan yang pernah aku dapatkan, Mark -mentor pada pelatihan itu- menyatakan keinginannya bahwa dia tidak mengharapkan murid-muridnya mengejar nilai tinggi. Dia menyarankan murid-muridnya untuk hanya menjadi rata-rata. He said,”I’m here to prepare you for life. I’m not preparing for for a grade. Don’t aim to be the best, but aim to be just average.”

Tentu saja keinginan Mark ini membuatku bingung. Di kala banyak mentor atau guru mengharapkan murid-muridnya mendapatkan nilai yang tinggi, mengapa Mark justru menyarankan muridnya untuk menjadi just average?

Mark, yang kebetulan berkebangsaan Jerman ini, kemudian menjelaskan beberapa alasan mengapa menjadi the average lebih baik daripada menjadi the best.

Alasan-alasan tersebut adalah,

(1) No more room to improve
“If you are the best in a room, you are in a wrong room”, kata Mark. Ketika seseorang sudah berada di titik puncak, maka sudah tak banyak lagi ruangan baginya untuk belajar. Tidak ada lagi tempat baginya untuk memperbaiki diri. Maka jika titik ini sudah tercapai, itu adalah saatnya untuk pindah ke tempat yang baru dan belajar lagi hal-hal yang baru.

(2) Wrong Focus
Cita-cita seseorang menjadi “the best”, bisa membuat seseorang salah fokus. Alih-alih memperkaya diri dengan keahlian dan pengetahuan, dia lebih berpikir bagaimana caranya mendapatkan nilai yang tinggi. Dengan kesalahan fokus ini, dia bisa kepeleset mencurahkan tenaganya hanya untuk mendaptkan nilai atau pujian orang lain, daripada memperkaya dirinya sendiri dengan ilmu dan pengalaman.

Plagiasi adalah salah satu contohnya, ketika seseorang hanya memikirkan grade dan bukan lagi skill dan knowledge

(3) Individualis
Untuk menjadi the best, seseorang juga bisa kepeleset menjadi individualis. Alih2 belajar bersama dan berbagi pengetahuan dengan teman-temannya, dia pelit berbagi ilmu kepada temannya. Dia menyimpan sendiri apa yang dia ketahui agar dia mendapat pujian sebagai yang terbaik. Dia kikir berbagi karena tidak ingin temannya nanti ikut-ikutan menjadi pintar seperti dia dan reputasinya terkalahkan.

*****

Setelah mendapatkan penjelasan itu, aku menjadi paham mengapa fokus sebaiknya dicurahkan untuk menjadi the average daripada the best. Hal ini juga selaras dengan keinginanku untuk selalu belajar, belajar dan belajar sepanjang hayat.

Selain dari apa yang telah disampaikan Mark tersebut, aku juga melihat bahwa “aim to be average” juga bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakti kronik yg selama ini aku derita, yaitu “arogansi”.

Aku punya penyakit yg sangat parah yaitu aku sangat bangga akan diriku sendiri dan prestasi-prestasiku. Banyak orang melihat aku sebagai seorang yg sombong, arogan dan kemlinthi. Aku kurang mampu menghargai orang lain karena aku terlalu tinggi memandang diriku sendiri sehingga cenderung merendahkan orang lain.

Penyakit kronik ini perlu disembuhkan, by just being average. Aku perlu disadarkan bahwa di atas langit masih ada langit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: