Jangan ragu-ragu menceritakan mimpimu

Dulu ayahku sempat tinggal beberapa tahun di Australia sewaktu masa-masa sekolah. Beliau dikirim bersekolah ke sana pada masa pemerintahan Soeharto. Masa-masa hidup di sana sangat berkesan bagi beliau sehingga sejak aku kecil aku sering mendengar ceritanya tentang masa-masa indahnya di Australia. Aku sendiri tak begitu ingat secara detail cerita apa yg membuatku tertarik. Namun barangkali emosi bahagia yg terpancar dari wajah ayahku yg membuat seorang Bank Al kecil terus bermimpi agar suatu saat nanti bisa pergi ke luar negeri. Barangkali juga ditambah dengan jiwa petualang yg aku miliki, lengkaplah sudah mimpi itu aku rajut tahun demi tahun.

Saat itu, tak banyak orang Indonesia yg bisa bepergian ke luar Indonesia. Tak seperti sekarang -yg mana orang numpang pipis saja pergi ke Singapore- jaman itu hanya orang-orang kaya atau orang yang pergi dibayari dinas atau beasiswa saja yg bisa pergi ke luar negeri. Oleh karenanya bagi seorang Bank Al kecil, mimpi ke luar negeri itu adalah seperti mimpi yang hampir mustahil untuk diraih.

Sayangnya pada masa-masa sekolah, aku tak pernah jadi murid berprestasi. Beberapa temanku setelah lulus SMA pergi ke luar negeri dengan program beasiswa (kalau nggak salah salah satu program Habibie). Namun lagi2 itu hanya untuk murid yg berprestasi. Buat aku yg rapor selalu diisi angka merah, tak mungkin beasiswa itu bisa aku raih sehingga mimpi itu lagi2 aku bawa saja menjadi bunga tidur seperti malam-malam yang lain.

Aku tak pernah membayangkan mimpi itu akan menjadi nyata sampai aku lulus dari UGM dan mulai mencari pekerjaan. Beberapa interview telah aku lalui dengan sukses, namun tidak aku teruskan karena aku tidak begitu tertarik bekerja di sana. Sampai pada suatu saat aku melamar di sebuah perusahaan yg bernama Schlumberger Sedco Forex. Aku mendapatkan pengalaman istimewa di sana karena ini adalah saat pertama aku diinterview oleh orang asing. Bahasa Inggrisku saat itu masih seadanya. Kadang bengong menganga tak mengerti apa yg ditanyakan interviewer, kadang merasa mengerti eh kok ya salah sambung.

Walaupun banyak pertanyaan interviewer yang aku tak mengerti, namun ada satu pertanyaan penting yang aku tangkap dengan jelas yaitu,”What do you want to be in the next 5 years?”
Secara spontan aku langsung menjawab dengan tegas,”I want to be able to go overseas.”
Sang Interviewer terlihat tersenyum waktu itu. Aku tak tahu persis mengapa dia tersenyum. Barangkali dia tersenyum karena jawabanku nyeleneh. Orang lain mungkin akan menjawab pertanyaan itu dengan cita2 atau harapan akan karirnya dalam 5 tahun ke depan, tapi aku malah menjawab kepingin pergi ke luar negeri.

Akhirnya aku diterima bekerja di sana. Dan sang interviewer -bule Perancis itu- menjadi boss-ku. Hanya beberapa bulan bekerja saja, si boss menawariku untuk membantu sebuah proyek di Singapore. Itu sebetulnya bukan bagian dari pekerjaanku saat itu, tapi aku tentu saja menyanggupinya karena sangat ingin ke luar negeri. Dan baru saat itu aku mengerti arti senyuman si boss saat interview, rupanya dia tahu bahwa mimpiku adalah mimpi yang sangat mudah dia wujudkan.

Singapore, adalah negara asing pertama yg aku singgahi. Begitu bahagianya aku saat itu mendapatkan sesuatu yang aku impi2kan sejak kecil bak durian runtuh. Saking girangnya, aku bahkan loncat2 di kamar tidur hotel berbintang di sana saat aku pertama kali mendarat di Singapore. Benar2 ndeso deh pokoknya, lah wong namanya juga baru pertama kali ke luar negeri, menginap di hotel berbintang pula.

Pekerjaanku di Singapore selesai dengan sangat memuaskan. Pada awalnya aku hanya diperbantukan sementara untuk membantu proyek di sana. Namun karena orang-orang senang dengan pekerjaanku, maka sejak saat itu aku makin sering dikirim ke luar negeri dan bukan hanya Singapore tapi juga berbagai negara lain. Maka aku mulai terbang ke Malaysia, Australia, Vietnam, Thailand, Brunei dan bahkan Perancis dan Amerika. Begitu sering aku bepergian ke luar negeri saat itu sehingga passport-ku penuh hanya dalam waktu 3 tahun dan harus segera mengganti passport lagi walaupun sebetulnya masa berlaku passport itu masih dua tahun lagi.

Impian yang pada awalnya tampak mustahil itu akhirnya menjadi nyata karena sebuah jawaban nyeleneh saat interview.

Moral of the story:
——————-
Jangan takut bermimpi dan mengatakannya pada orang lain walaupun mimpi itu terlihat mustahil. Siapa tahu orang lain bisa membantu mewujudkan mimpi kita menjadi nyata.

Dubai Marina, 14 Januari 2012

salam,

-bank al-
*menulis sambil duduk2 di Marina Mall, menunggu jadwal menjemput istri pulang pengajian*

Image

2 thoughts on “Jangan ragu-ragu menceritakan mimpimu

  1. Wow…yeah, thats definetely sooo right (dengan logat jowo)..i have a dream…build a consultant ..a big consultant..about urban planning and urban architecture..not only indonesian.but also..the world.
    and
    .i will rule the world (dengan gaya khas freeza dalam film animasi dragon ball..hihihihi)

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s