Dialog yang sering berulang

“Are you philiphino?”, begitu pertanyaan pembuka yg dilontarkan oleh sang supir taksi.

“No, I’m Indonesian.”,  timpalku atas pertanyaannya

“Indonesian? I see no Indonesian man here. But lady? too much.”, sambung sang supir Taksi.

“Where are you working?”, lanjut sang supir Taksi

“Somewhere in the city.”, jawabku

“Salary, how much?”, tanya supir taksi lagi

—–

Percakapan di atas bukan sekali dua kali aku alami sejak tinggal di Kuwait ini. Entah sudah beberapa puluh kali aku mengalaminya. Wajah Indonesia yg mirip sekali Filipino ini membuatku sering dikira orang Filipina yang relatif lebih banyak dibanding orang Indonesia di sini. Namun tidak berarti mereka tak mengetahui keberadaan orang Indonesia di sini. Orang Indonesia sering juga mereka jumpai di sini, namun rata2 para TKW, sehingga mereka mengira orang Indonesia itu perempuan semua.

Selanjutnya, entah mengapa, orang-orang di sini senang sekali menggunakan “too much” ketika ingin mengatakan “sangat”. Agak menggelikan memang pada saat-saat pertama mendengar mereka mengatakan,”Kuwait is too much hot. When comes Winter, too much cold.” . Namun hari demi hari, dialog ini sudah tidak terasa lucu lagi di telinga. Hanya efek sampingnya agak kurang baik, bahasa Inggrisku jadi hancur lebur sejak tinggal di sini. Kadang2 aku juga tidak sengaja mengucapkan “too much hot” atau “too much traffic” ketika mengatakan jalanan sedang macet.

Dan satu lagi pertanyaan yg sering aku dengar dan cukup mengagetkan di sini yaitu,”salary, how much.” Di Indonesia pertanyaan seperti ini tidak begitu etis jika ditanyakan pada orang yg baru dikenal. Jangankan untuk orang yg baru dikenal, untuk orang yg sudah dikenal lama saja kadang kita sungkan menanyakannya. Namun setelah aku pikir-pikir, kebiasaan seperti ini sebetulnya ada baiknya juga. Setidaknya dengan mengetahui berapa gaji si anu dan si dia, maka mereka bisa mengetahui harga pasar sehingga bisa menentukan posisi tawar yg lebih baik. Tidak sama dengan di Indonesia, yang mana seringkali kita tidak tahu dan hanya bisa mengira-ira berapa harga yang harus kita pasang ketika ditanya dalam proses interview karena kurangnya pengetahuan akan harga pasar ini.

Ah, too much sleepy now. I need to go to bed after finishing some dynamips exercise.

10 thoughts on “Dialog yang sering berulang

  1. Wah…Cerita yang menarik…
    sebetulnya, sudah tidak asing ditelingaku sebab cerita semisal ini telah aku dengar 2 tahun silam dari Pak CUK,
    sejak dari itu aku tertarik sekali untuk bisa kerja di Kuwait…
    Apakah saya bisa ke sana, mohon kesediaanya Bank AL menolongku…terima kasih banyak
    thanks too much…

    Suka

  2. hwhhaha…maaf bang ak baru liat nih untaian cerita unik pernik nya KUWAIT ini…lucu and seru….versi bang AL sama dg Versi ak…yg slalu di anggap Philipino….sering di panggil kabayan…padahal kan saya nyi iteng…hehheehehhe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s