Memasak

Sejak ada facebook, aku makin jarang menulis dan mengisi blog lagi. Bukan hanya Multiply, namun wordpress juga hampir tak pernah lagi aku update. Sebetulnya bukan facebook-nya yang menyita waktuku sehingga aku malas menulis. Facebook hanya mengenalkan aku pada game RPG, yg pada waktu itu adalah gangster battle. Namun rupaya setelah bosan dengan game tersebut, aku jadi tertarik untuk mencoba game satu ke game lainnya sehingga waktuku banyak tersita untuk main game sejenis itu.

Sebelumnya aku tidak pernah menyukai game-game seperti itu. Mungkin benar kata pepatah kuno dulu, tak kenal maka tak sayang. Gara2 iseng mencoba, maka aku jadi ketagihan.

Saat ini kecanduan main game sudah mulai hilang. Tentu saja aku masih main game, hanya saja tidak begitu fokus seperti dulu. Sebagian game sudah aku kuasai sehingga aku hanya cukup melihatnya beberapa kali saja dalam sehari dan tidak banyak menyita waktu.

Nah, lalu apa yg sekarang sedang aku coba? Yap, anda benar, aku saat ini sedang belajar memasak. Kegiatan memasak ini juga bukan sesuatu yg pernah aku ingin pelajari sejak kecil. Namun sejak ada di rantau, aku merasa ada perlunya juga bisa memasak karena kadangkala aku kepingin merasakan masakan Indonesia namun tidak kutemukan warung padang atau warung tegal di sekitar tempat tinggal.

Singat kata, aku akhirnya belajar sedikit demi sedikit dari Dinda. Dari berbagai percobaan memasak yg telah dilakukan, baru satu masakan yg aku kuasai, yaitu nasi goreng. Sisanya masih belum karuan rasanya. Kemarin aku memasak ayam goreng tepung, namun tepungnya hangus. Mencoba menggoreng ikan, bentuknya hancur nggak karuan. Begitulah, percobaan memasak bagiku memang seperti Thomas Alha Edison, dari 1000 percobaan, 999 gagal. Walaupun gagal, aku cukup senang karena nasi goreng adalah salah satu makanan favoritku. Dan kebetulan nasi goreng buatanku cukup enak, sehingga tak perlu harus menunggu tukang nasi goreng yg tak akan pernah lewat di sini.

Malam ini aku mau mencoba memasak sup ayam. Kemarin malam sudah belajar pada guru besar bagaimana caranya. Ada komentar yg menarik dari Dinda ketika mengajariku memasak bahwa aku selalu bertanya takarannya. Dinda sendiri kadang tidak ingat berapa takarannya (misalnya: berapa bawangnya, berapa cabe-nya, berapa garamnya, etc), karena semua ditakar berdasarkan perkiraan dan perasaan saja. Aku tergelak, ternyata otak programmer telah membuat acara memasak ini menjadi terasa sulit karena aku berpikir terlalu detail. Mungkin ada baiknya aku pakai acara coba-coba seperti bagaimana Dinda memasak.

Ah, sudah waktunya pergi belanja. Semoga sup-nya enak sehingga dari 1000 percobaan ada 2 yg berhasil.🙂

6 thoughts on “Memasak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s