Matinya kebebasan beropini?

Aku agak terkejut mendengar berita adanya seseorang ibu RT yg masuk penjara karena terjerat UU ITE sehubungan dengan keluhan yg pernah dia tuliskan di sebuah milis. Bagaimana ceritanya sehingga Ibu Prita ini bisa terjerat pasal tersebut tentu bisa dibaca di berbagai ulasan yg ditulis teman-teman blogger, seperti  blognya Daus, Yuhendra, ataupun blog-nya Ndoro Kakung.

Aku bukanlah pakar hukum seperti para teman-teman tersebut di atas sehingga tak bisa mengulas panjang lebar mengapa Ibu Prita bisa ketiban sial. Namun kejadian ini membuatku berpikir bahwa kejadian ini bisa menjadi awal kematian kebebasan beropini di Indonesia.

Sebetulnya yg dilakukan oleh Ibu Prita itu sederhana saja, dia tidak puas dengan pelayanan rumah sakit Omni dan kemudian menceritakan uneq2-nya pada teman2nya (yg kebetulan adalah anggota milis).   Ndilalahe, tulisan tersebut terforward kemana-mana dan ternyata membuat pihak RS Omni tersinggung dan memperkarakan kasus tersebut sehinga Ibu Prita ditahan.

Aku tidak membaca surat Ibu Prita, namun katakanlah keluhan Ibu Prita itu sangat pedas dan tidak benar sehingga menyakitkan pihak RS Omni. Apakah pihak RS Omni layak membawa kasus ini ke meja hukum? Kok rasanya “cemen” banget sih? Apakah pihak RS tidak mampu menjawab dengan argumentasi tersebut dengan email juga sehingga ada informasi pembanding bagi pembaca? Mengapa ejekan verbal harus dibawa ke pengadilan?

Jawabannya tentu saja karena ada UU yg memungkinkan pihak RS untuk melakukan aksi ini, yaitu konon UU ITE namanya. Namun aku terus terang tidak paham apa sebetulnya esensi dari UU ITE pasal “pencemaran nama baik ini”. Dampak negatifnya sudah bisa kita lihat bahwa kebebasan berpendapat dan beropini di media elektronik jadi terpasung. Obrolan ala warung kopi tidak bisa lagi dilakukan di media elektronik karena salah-salah nanti ada pihak yg tersinggung dan membawa kasus ini ke pengadilan.

Ada usulan dari Daus untuk membuat sebuah kritikan yg sangat hati-hati sehingga tidak menyebutkan nama,tempat dan kejadian. Mungkin itu ide yg sangat bagus, tapi sangat sulit sekali untuk dilaksanakan. Saat ini-pun aku menjadi was-was, jangan2 Daus, NdoroKakung, ataupun Yuhendra tersinggung akan tulisanku ini. Jangan2 pendapatku di tulisan ini dianggap tidak menyenangkan dan patut dijerat UU ITE juga? Hiiii, ngeri banget jika itu terjadi. 

Ah sudahlah, aku tidak mau menulis panjang-panjang kali ini, takut masuk penjara. Namun masih ada sebuah pertanyaan di kepalaku,”Apa sih gunanya UU ITE tentang pencemaran nama baik” ? Apakah pasal ini tidak sebaiknya dihapuskan saja? Ada yg bisa member pencerahan?

11 thoughts on “Matinya kebebasan beropini?

  1. UU ITE vs RUU keterbukaan informasi, namun ada juga UU rahasia negara. Untungnya Rancangan keputusan mentri tentang pengawasan konten sudah mati sebelum berkembang ya hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s