Buang-buang uang rakyat dengan ICR

Aku terkaget-kaget dan terheran-heran ketika mendengar adanya penggunaan scanner dalam proses penghitungan suara pada pemilu 2009 yg baru saja berlalu.  Aku tidak mengerti mengapa scanner dibutuhkan dalam proses ini dan mencoba bertanya sana bertanya sini terutama di milis kampung-UGM.  Akhirnya seorang teman menunjukkan website berikut yg menjelaskan tujuan penggunaan scanner pada penyelengaraan pemilu kali ini.

Berikut adalah tujuan penggunaan scanner, berdasarkan website tersebut:

Tujuan utama yang ingin dicapai dengan penggunaan mesin pemindai yang berbasis ICR tersebut adalah:

  1. mempercepat proses perhitungan suara
  2. memperoleh tabulasi yang akurat
  3. memperoleh salinan dokumen elektronik yang otentik dan teramankan
  4. transparan dalam mendukung fungsi pengawasan langsung oleh masyarakat.

Sekarang mari kita coba gunakan akal sehat apakah kira2 tujuan tersebut di atas memang membutuhkan ICR atau tidak dengan meninjau masing-masing tujuan tersebut.

1. apakah mempercepat proses penghitungan suara?

Untuk mengetahui betul atau tidaknya, mari kita tinjau proses penghitungan suara yg juga ditulis oleh website tersebut pada rujukan berikut, yaitu:

  1. Formulir C1-IT yang telah diisi oleh petugas KPPS diproses oleh software ICR di KPU Kabupaten/Kota
  2. Hasil pembacaan ICR akan ditampilkan di layar monitor, dan operator melakukan koreksi terhadap hasil pembacaan itu. Setelah operator memastikan  tidak ada salah baca, file disimpan dan dikirim ke KPU
  3. Di KPU, aplikasi Sistem Integrasi akan memeriksa keamanan dan otentikasi file yang dikirimkan oleh KPU Kabupaten/Kota tersebut untuk ditayangkan di pusat tabulasi nasional.

Dari prosedur di atas bisa dilihat bahwa hasil pembacaan ICR ternyata harus diverifikasi lagi oleh operator. Operator harus memeriksa data satu per satu untuk memastikan tidak adanya kesalahan baca. Verifikasi ini artinya si operator harus membaca formulir secara manual dan membandingkannya dengan hasil dari ICR. Operator harus membaca dua formulir, yaitu formulir asli dan formulir hasil ICR.  Coba bandingkan dengan tanpa ICR. Operator hanya perlu membaca formulir kertas dan kemudian menuliskan apa yg di bacanya tersebut dengan menggunakan keyboard.  Waktu yg dibutuhkan akan setara dengan menggunakan ICR, dan bahkan menggunakan ICR bisa lebih lama karena pembacaan ICR bisa salah sehinga operator harus membaca form hasil ICR dengan hati2.

2. Apakah memperoleh tabulasi yang akurat?

Rasanya tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan bahwa hasil intepretasi ICR tidak akurat. Bisa dilihat sendiri pada penjelasan dari situs berikut bahwa telah terjadi kesalahan yg fatar pada pemilu kemarin. Komentar salah seorang pembaca di sana sangat menarik, yaitu bahwa cukup ditemukan satu kesalahan untuk menunjukkan hasil pembacaa ICR ini tidak akurat.  Namun dibutuhkan untuk menguji seluruh domain untuk mengetahui apakah hasil pembacaannya memang akurat. Dalam hal ini, sudah jelas2 ditemukan kesalahan pembacaan, yg artinya tabulasi yang akurat tidak tercapai.

3. memperoleh salinan dokumen elektronik yang otentik dan teramankan

Saya pikir inilah satu2nya yg bisa didapat dari penggunaan ICR ini, yaitu mendapatkan dokumen elektronik. Namun pertanyaan lebih lanjut adalah,”untuk apa dokumen elektronik ini?” Jika hanya sekedar untuk arsip, apakah dokumen dalam bentuk kertas tidak cukup? Toh dokumen original dalam bentuk kertas sudah ada sehinga dokumen elektronik ini sebetulnya tidak jelas kegunaannya.

4. Apakah transparan dalam mendukung fungsi pengawasan langsung oleh masyarakat?

Point yg ke-4 ini tidak berhubungan dengan ICR.  Teknologi ICR ini hanya digunakan untuk menginput data dan tidak ada hubungan sama sekali dengan pengawasan. Jika kemudian hasilnya disimpan pada pusat data yg dipubikasikan, maka bisa jadi memang data tersebut bisa dipantau dan diawasi oleh masyarakat. Namun apakah data yang disimpan itu harus dalam bentuk image? Ya tentu saja tidak. Data yg dibutuhkan masyarakat untuk diawasi hanyalah berupa angka-angka. Dan data seperti ini bisa diinput oleh operator melalui keyboard dan tidak membutuhkan ICR. 

Lho, jadi lebih banyak tujuan yg tidak tercapai?

Dari penjelasan di atas, bisa dilihat bahwa hampir semua tujuan penggunaan ICR yg diangkat oleh website tersebut tidak tercapai. Satu2nya tujuan yg tercapai adalah ketersediaan dokumen elektronik berbentuk image, yg mana keberadaan dokumen model begini juga tidak diperlukan. 

Di sisi lain, penggunaan ICR ternyata justru merugikan karena membutuhkan cost yg besar (yaitu: untuk membeli scanner, software pembaca dan interpretasi ICR yg kerjanya tidak akurat, dan lain sebagainya), dan juga boros bandwidth. Jika saja yg dikirimkan data berupa text, maka penggunaan bandwidth akan jauh lebih hemat.

Lalu kenapa dong ICR dipakai pada pemilu 2009? Mungkin Indonesia sudah terlalu kaya sehingga tidak tahu mau dibuang ke mana uangnya.  Solusi ICR pada pemilu 2009 ini cocok untuk tujuan tersebut, buang2 uang.

Bagaimana menurut pendapat anda?

29 thoughts on “Buang-buang uang rakyat dengan ICR

  1. Menurut hemat saya kalo besok ada pemilu lagi mendingan pake touchscreen kaya di Berita Metro TV, lebih hemat, cepat tapi keakuratan tergantung operator it-nya.
    jadi ikut-ikutan sok teu deh….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s