Nasehat dari seorang mantan Boss

Di masa lalu, aku pernah mempunyai seorang manager yang sangat baik hati dan pengertian.  Hubungan kami tidak begitu baik saat awal-awal dia masuk ke perusahaan tersebut karena kebetulan aku lebih dulu ada di perusahaan tersebut dan dia masuk belakangan. Saat itu posisi IT manager sebetulnya sudah ada di depan mataku dan rasanya hanya tinggal sejengkal lagi aku raih mengingat prestasi dan reputasiku waktu itu. Kehadiran sang manager yang tiba-tiba menjadi boss-ku dan mengambil posisi yg aku idam-idamkan itu saat itu begitu melukai ego-ku. Selain karena dia masih orang baru, kebetulan secara teknis sang manager baru ini jauh sekali kemampuannya di bawahku sehingga aku saat itu berpikir bahwa beliau tidak pantas untuk menjadi managerku.

Ditambah dengan kipas-kipas yang bertebaran di sekitarku, maka hawa panas yg membara di hatiku membuatku bersikap bermusuhan dengan beliau di waktu itu. Apalagi dengan bakat pembangkang yg aku miliki, lengkaplah sudah aku membuat hidupnya menjadi sulit karena aku selalu melawan keputusan-keputusannya.

Hal ini terjadi beberapa tahun sehingga aku banyak kehilangan waktu untuk berpikir maju dan bahkan buta atas banyaknya peluang-peluang yg sebetulnya bisa aku raih.  Hingga akhirnya tiba suatu saat, karena kelembutan hati si boss, aku luluh juga. Dan sedikit demi sedikit aku mulai menunjukkan sikap bersahabat dan mulai bekerja sama dengannya.

Sayang memang kedekatan ini tak berlangsung lama karena roda kehidupan harus terus berputar dan aku harus pergi meninggalkan perusahaan tersebut. Satu yg aku syukuri adalah bahwa aku sudah berhasil memperbaiki hubungan sebelum aku pergi. Dan walaupun masa-masa itu cukup singkat, aku telah banyak belajar darinya dan mengambil pelajaran dari petuah-petuahnya.

Sekarang sang manager juga sudah bekerja di perusahaan lain. Untunglah Yahoo Messenger membuat dunia ini menjadi kecil sehingga aku masih bisa menemukannya lagi. Tadi sore aku berbincang-bincang lagi dengannya. Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya dari lubuk hati yg terdalam, sambil juga ingin tahu bagaimana kabarnya.

Seperti biasa, Jeff masih rendah hati seperti dulu. Dia berkata bahwa dia dikeluarkan dari perusahaan tempat kami bekerja bersama dulu karena CIO menganggap dia tidak cukup kompeten untuk posisinya. Sungguh sebuah attitude yang sangat baik menurutku. Tidak mudah untuk bisa mempunyai sikap seperti itu. Kebanyakan orang akan mencaci maki mantan boss-nya itu, atau juga bekas perusahaan itu karena telah menendangnya begitu saja. Namun Jeff tidak begitu, dia justu mengakui kelemahannya dengan rendah hati. Dan hebatnya, dia sudah mendapatkan pekerjaan lagi di tempat lain dengan posisi yg menurut saya lebih bagus dan lebih menantang daripada posisi yg dipegangnya dulu.

Walaupun sudah tak lagi jadi manajerku, Jeff masih sempat menitipkan sebuah pesan bagiku pada sesi chat tadi yaitu,”just be confident and listen carefully to others, that way you can make an informed decision“.   Nasehat tersebut betul2 mengena bagiku. Aku memang banyak salah mengambil keputusan dan sikap di masa lalu karena aku tidak mendengarkan orang lain dengan hati2. Aku terlalu arogan. Aku terlau sombong dengan kecerdasanku dan kemampuanku sehingga cenderung merendahkan orang lain dan tidak mau mendengarkan.

Aku tahu bahwa memang tidak mudah menghilangkan arogansi yg sudah menempel dan menjadi kebiasaan ini. Namun jika tidak aku ubah, tentu aku akan banyak kehilangan kesempatan lagi seperti di masa lalu. Thanks a lot Jeff, you are one of the best boss I’ve ever had. Wish you all the best !!!

8 thoughts on “Nasehat dari seorang mantan Boss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s