Do what you love to do

First priority, do what you love. If you can’t do what you love, then it’s OK to do what you don’t like as long as you don’t hate doing it. If you hate it, then just leave it and find something else that you will love to do.

Deretan kalimat di atas adalah tulisanku beberapa hari yang lalu (dengan bahasa inggris yg hancur2an) yg aku layangkan pada milis kampung-UGM dan ternyata dianggap inspiring oleh Mas EsHaPe sehingga kakak angkatanku yg baik hati ini sehingga terpikir untuk menayangkan kutipan tersebut di majalahnya.

Saat menulis kalimat tersebut, aku tidak merasa mengutipnya dari siapapun dan mengalir dengan sendirinya karena memang itulah yg aku lakukan sejak aku masih di bangku sekolah dulu. Rupanya pengakuanku ini diprotes oleh Kibroto karena ternyata kutipanku itu mirip dengan tulisan orang terkenal (walaupun aku sendiri baru pertama kali ini mendengar namanya), dengan sedikit modifikasi tambahan saja. Dan sebagai orang yg sudah sangat sukses dan berprestasi yang patut dibanggakan, Kibroto juga menunjukkan bahwa beliau pernah menulis tulisan serupa (namun beberapa langkah lebih advance) pada 5 tahun yg lalu.

Kritikan ini membuatku mencoba mengingat-ingat kembali, apakah betul aku membajak pendapat orang terkenal tersebut dan mengakuinya sebagai tulisanku sendiri?  Ataukan mungkin aku membajak pendapat Kibroto pada tulisannya 5 tahun yg lalu? Akhirnya aku menemukan jawabannya bahwa apa yg kutulis pada kutipan di atas itu adalah apa yg telah aku lakukan selama belasan tahun, dan aku ingat bahwa sumbernya adalah Ayahku.

Saat aku masih di bangku sekolah dulu, ayah sering mengingatkanku agar aku nanti kelak di kemudian hari bekerja pada sesuatu yg aku minati sehingga aku bisa menjalani hidup dengan senang. Hal ini juga yang membuatku sempat 1 tahun menjadi pengangguran setelah lulus SMA karena aku tidak berhasil masuk ke jurusan yg aku minati di Perguruan Tinggi yg aku cari.  Aku lebih baik jadi pengangguran dan berusaha lagi tahun depannya daripada harus sekolah di jurusan yg tidak aku minati dan terjebak di situ.  Begitulah hingga tahun depannya aku berhasil masuk kuliah di jurusan yang aku minati. Saat itu aku merasakan nasehat ayah benar bahwa aku harus mencari dan mengejar apa yg aku minati dan cintai. Aku merasakan sekolah di masa kuliah sangat nikmat, berbeda dengan waktu SMP-SMA yg mana pelajaran2 sekolah banyak sekali yg tidak aku sukai.

Setelah lulus kuliah, aku kemudian bekerja di sebuah perusahaan besar berskala Internasional. Beberapa tahun pertama bekerja di situ aku sangat bergairah, karena apa yang aku kerjakan di situ adalah apa-apa yang aku minati dan aku sukai. Kecintaanku pada apa yg aku lakukan inilah yg membuatku selalu merasa “Easy Money” walaupun sebagian orang lain melihatku sebagai seorang pekerja keras yang sering pulang larut malam.  Buatku uang seperti bonus, karena aku melakukan sesuatu yg sangat menggairahkan. Anak jakarta bilang,”Nggak dibayar aja gue kerjain kok. Apalagi dibayar.”

Seiring dengan bergeraknya waktu dan perubahan-perubahan yang terjadi di tempat kerjaku, aku mulai merasa kehilangan gairah dan mulai “work for money”.  Saat itu aku menyadari ada yg salah, dan harus membuat perubahan.  Walaupun penghasilanku termasuk besar untuk orang2 seusiaku, sehingga banyak orang yg menyarankan aku terus bertahan dan mensyukuri yg ada, namun setelah 6 tahun bertahan aku merasa bahwa aku harus berani membuat perubahan.

Lagi-lagi aku teringat cerita Ayah yang mana beliau sangat berani memutuskan untuk keluar dari PNS (pada saat itu PNS adalah pekerjaan yg cukup bergengsi) karena Ayah sadar bahwa penghasilan PNS nggak cukup untuk menghidupi keluarganya ditambah lagi sulitnya menjadi PNS tanpa kecipratan korupsi karena teman-temannya yg lain jika mendapat uang dari korupsi akan dibagi-bagikan pada semua teman-temannya. Hal ini membuat beliau dalam posisi sulit, jika uang itu tak diambil maka dia akan terkucil karena berbeda dengan arus sementara jika dia ambil maka itu bertentangan denga hati nuraninya. Dengan berani, walaupun dikecam banyak orang, Ayah mengambil keputusan untuk keluar dari PNS. Nyatanya Ayah berhasil mendapatkan pekerjaan yg lebih baik, bisa menghidupi keluarganya dengan kecukupan, dan bisa menyekolahkan semua anak-anaknya di perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Semangat dan keberanian Ayah menyadarkanku bahwa aku belum berbuat apa-apa untuk mengejar apa yg aku cintai dan saat itu masih terjebak dalam situasi yg aku tidak sukai hanya karena ketakutan kehilangan apa yg aku miliki saat itu.  Aku sadar bahwa aku harus lebih berani mengejar mimpi sehingga mimpi tak lagi hanya menjadi mimpi siang bolong yg tak pernah menjadi nyata. Singkat cerita, cerita dan semangat ayah membuatku akhirnya memutuskan untuk mengejar mimpiku dan berani mengambil langkah yang spektaluler sehingga akhirnya saat ini aku sudah kembali lagi pada track yg benar,  I’m doing what I love to do.  Aku merasakan hari-hari kembali indah dan bersemangat karena aku sedang melihat aku sedang berlari mewujudkan mimpi.

Hal ini memberi kesadaran baru bagiku, bahwa kadang kita merasa terpaksa melakukan hal-hal yg kita tidak sukai atau bahkan kita benci, hanya karena kita kurang berani mengambil resiko sehingga tak bisa melihat bahwa ada ribuan peluang di luar sana yg bisa kita gapai jika kita berani dan bersemangat untuk mengejarnya.  Kesadaran ini membuatku tersenyum karena ternyata tak harus menunggu usia pensiun dulu baru bisa bahagia. Jika bisa bahagia sekarang, mengapa harus menunggu pensiun dulu? Bukan begitu?

Do what you love to do. Do what you are passion for. Then you will know how great to be an “easy money”.

PS:

Tulisan ini aku dedikasikan untuk Ayah, yg telah dan selalu memberiku begitu banyak pelajaran dan dukungan sehingga aku bisa menjadi seperti sekarang. Saat ini, aku telah menjadi seorang ayah juga. Semoga aku juga bisa membuat anak2ku bangga seperti bagaimana aku bangga pada Ayah.

Ayah, I’m very proud of you.

8 thoughts on “Do what you love to do

  1. Mas Eko: Mas Eko memang baik hati kok. Itu yg aku lihat selama kenal sama mas Eko

    Adien: Tahu aje lo.🙂

    Pribadi: Steve Jobs mungkin pernah baca ini? Halah, gak mungkin ya….😀

    Oki: Betul banget tuh. Do your best !!! Makasih pencerahannya

    Koko: Setuju Ko, makasih ya.

    DukonBesar: Makasih ya dah berkunjung dan berkomentar.🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s