Kultur Berbagi adalah Natural ?

Pak Budi Rahardjo menulis dalam blog-nya bahwa Kultur kita itu sebetulnya adalah Kultur berbagi. Pak Budi yg juga terkenal dengan Mr GBT ini makin meyakini pendapat tersebut setelah membaca buku-nya Lawrence Lessig yg berjudul “Free Culture”.

Aku sendiri belum pernah membaca buku Om Lessig tersebut. Namun sekilas aku menangkap ide yg dibawa Om Lessig ini mirip dengan Ide-ide pendukung Free Software dan Open Source yang sudah kita dengar dengungannya bertahun-tahun.

Apakah betul kultur berbagi ini adalah kultur natural manusia sedangkan kultur “minta izin” bukan kultur natural ? Aku meragukan keabsahan pendapat tersebut. Dari pengamatan saya selama ini, aku setuju bahwa kita memang senang berbagi. Namun kita tidak selalu ingin berbagi segala sesuatu. Ada hal-hal yang tidak ingin kita bagikan pada orang lain. Dan ada juga hal-hal yang hanya ingin kita berikan pada orang lain jika kita juga mendapatkan imbalan atau barter dengan orang tersebut.

Contoh yang gampang saja: Saya punya seorang istri cantik. Apakah istri saya ini akan saya bagi2kan pada orang lain ? Ya tentu saja tidak. Biarpun barter sekalipun saya ndak mau berbagi. So, teori “kultur berbagi” sudah gugur di situ. Dan saya pikir ketidakinginan saya berbagi ini adalah sesuatu yg nature, dan bukan terjadi karena nurture (note: silahkan baca nature vs nurture untuk lebih jelasnya)

Lain lagi dengan Ilustrasi Pak Budi mengenai pencipta lagu yg menginginkan orang lain minta izin dulu sebelum menyanyikan lagu-nya juga. Untuk hal seperti ini, si pencipta lagu ingin berbagi dengan orang lain. Namun tak hanya berbagi, si pencipta lagu ingin mendapatkan imbalan jika orang menggunakan karya ciptanya tersebut.

Coba bayangkan jika saja si pencipta lagu rela berbagi lagu ciptaanya tanpa imbalan dan padahal satu-satunya keahlian yg dia miliki adalah menciptakan lagu. Bagaimana si pencipta lagu bisa hidup ? Bagaimana cara dia makan ? apa dia harus menunggu sedekah dari Pak Tani yg punya beras ? Masih untung kalau dia mendapat sedekah dari Pak Tani. kalau dia hanya mendapat sedekah dari pemilik kebun jeruk gimana ? apa dia mau makan jeruk sampai mencret ? Itu masih untung karena ada yg memberi sedekah. Kalau ndak ada yg memberi sedekah lalu bagaimana ?

Tidak hanya profesi pencipta lagu yg demikian. Namun juga berlaku untuk keahlian mengajar, keahlian membuat meja, keahlian berburu dan lain sebagainya. Jika saja seseorang diminta mengajar dengan gratis, belum tentu dia akan mau mengalokasikan waktunya sebanyak yang dia sediakan ketika dia digaji untuk pekerjaan mengajarnya tersebut. Dia hanya akan mengalokasikan waktu tersisa-nya untuk mengajar. Dan demikian juga untuk profesi-profesi lainnya.

Oleh karenanya, kultur berbagi itu memang natural ketika si manusia dalam kondisi berlebih (entah kelebihan waktu, kelebihan uang, dan lain sebagainya). Namun ketika si manusia tidak dalam kondisi berlebih, atau bahkan dalam kondisi kekurangan, secara natural si manusia itu tidak ingin berbagi secara gratis. Si manusia akan cenderung mengharapkan barter atau pertukaran sehingga terjadi kondisi win-win solution atau dalam bahasa gaulnya suka sama suka.

Tentu saja mungkin seseorang berbagi pada orang lain pada saat dia juga sedang kekurangan. Namun ini hanyalah peristiwa insidentil dan tidak terus menerus dilakukan. Sebagai contoh saja seperti dalam reality show “tolong” di mana orang miskin rela menolong orang lain yg membutuhkan walaupun dia sendiri juga orang yg sedang kekurangan. Mengapa ini terjadi ? Karena orang yg minta tolong ini hanya sekali-sekali dia temui. Coba deh kalau tiap hari (apalagi tiap jam) dia ditemui orang yg minta tolong, apa iya dia lama-lama nggak jengah dan jera menolong orang ?

Free Culture, Free Software, Free Song, Free Sex hanya cocok untuk orang-orang yg memberi karena sedang kelebihan atau one time occation. Hal ini tidak selalu natural. Sosialisasi konsep ini mungkin akan memakan korban juga, seperti beberapa programmer yg dulu bisa mencari uang dengan kemampuan programmingnya sekarang kehilangan sedikit kesempatan untuk itu karena mulai banyaknya free software. Entah siapa lagi yg akan kehilangan jika budaya berbagi ini disalah pahami dan disalahterapkan.

3 thoughts on “Kultur Berbagi adalah Natural ?

  1. Coba deh baca bukunya Lessig yang bisa didownload. Baru kebayang betapa benarnya dia.

    Bayangkan kalau setiap kali kita mau pakai rumus e=mc^2 harus minta ijin ke Einstein. Atau kalau kita di jalan mau bersenandung lagunya ADA Band harus minta ijin dulu. Atau kalau kita ingin membacakan puisi-nya Khairil Anwar kita harus minta ijin dulu. Kalau kita perhatikan, sebagian besar dari kehidupan kita sehari-hari tidak perlu pakai ijin. Akan tidak natural kalau untuk ngeband di acara sunatan harus minta ijin ke The Beatles dulu. hi hi hi.

    Tapi … Lawrence Lessig lebih lugas dalam menjelaskannya. Serius deh. Tidak menyesal baca bukunya. Oh ya, Lawrence Lessig ini memang sangat mengerti Open Source. Seorang pakar hukum yang SANGAT MENGERTI teknologi informasi. Jarang ini … Gak bakalan nyesel baca bukunya. Serious!

    Suka

  2. Einstein khan sudah tidak dalam kondisi kekurangan ketika rumus e=mc^2-nya dia berikan secara free. Demikian juga ADA Band dan the Beatles, mereka sudah mendapatkan uang dari penjualan kaset-kasetnya. Om Khairil aku yakin juga demikian.
    Oleh kaernanya mereka rela memberi sedekah karena mereka sudah berlebih.

    Coba bayangkan kalau ADA Band dan the Beatles disuruh ngarang lagu tanpa pernah mendapat uang dari penjualan kaset-nya, apa iya mereka mau membuat lagu ?

    Anyway, aku coba download bukunya dan baca deh. Siapa tahu dapat pencerahan.

    Suka

  3. Sepertinya ada kerancuan deh ttg apa2 yg bisa dan layak untuk dibagikan. Saya sepakat dg bang Al bhw kita liat dulu issue yg diperbincangkan.

    Klo bicara ttg bisnis, hal2 yg bisa dibagi adl hal2 yg berlaku secara general, dan bukan strategi dan taktik spesifik yg menjadikannya unggul di pasaran.

    Google sendiri waktu diejek ma para rival lagi bingung menemukan bentuk (dg banyaknya layanan yg dia kembangkan), akhirnya bilang gini, ” Ndak papa. Lebih baik kami dianggap kebingungan daripada strategi dan taktik bisnis kami dicuri orang”

    Tapi secara umum, hikmah dan kebaikan memang dimaksudkan untuk dibagi dan disebarluaskan🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s