Work Hard, Play/Pray Hard

Tulisan berikut adalah tanggapan Ki Broto di milis atas tayanganku yg berjudul “Strategi Laut Biru“. ———————————————————————kibroto <Kibroto@gmail.com> Sun, Jul 30, 2006 at 9:53 AM
Reply-To: kampung-ugm@yahoogroups.comTo: kampung-ugm@yahoogroups.com
> Pada acara tersebut, Pak Joko yang menjadi nara sumber pada acara
tersebut sempat berkelakar bahwa dia meraih sukses seperti saat ini
adalah karena dia dulu bukan mahasiswa yg berprestasi cemerlang.
Kemudian Pak Joko yg saat itu menjabat sebagai general manager di
Indosat juga menambahkan bahwa seandainya saja dia dulu mahasiswa
berprestasi, tentu dia akan sudah menjadi dosen seperti Pak X (dia
menyebutkan nama salah seorang dosen yg kebetulan teman
seangkatannya)# Joko Prayitno adalah teman seangkatan saya, ia di TE saya di TM.
Dulunya TE & TM jadi satu. Joko dikenal sebagai Joko rambut jagung
karena rambutnya kemerahan. Ia memang ndak menonjol dalam hal
prestasi akademis. Ia pekerja yang sangat keras, sangat prihatin
karena saat itu beliau miskin sekali dan kawin muda. Untuk menyoldir
ia terpaksa tidak pakai listrik tetapi pakai dian teplok. Ia sangat
relijius, hampir setiap tahun naik haji/umrah. Salah satu rahasia
suksesnya adalah karena ia pekerja extremely hard. Kedua, ia
berbakat dalam hal elektronika.Pedomannya barangkali : work hard pray hard. Kesamaan dengan saya :
work hard. Perbedaannya : ia pray hard saya PLAY hard … hehehe. Ia
praktis kurang hura2 dan poya2 yang sangat kontras dengan saya. Saya
nyaris ndak pray.Dosen2 yang ia tunjuk barangkali Sasongko, Mulyono, dan Lita Sari
yang diplesetken menjadi Lita Saru. Dosen2 ini prestasi akademisnya
memang lebih baik dari saya dan Joko tetapi tidak tergolong
istimewa. Saat itu UGM sedang kurang dosen. Mulyono itu dolo konco
saya keliling2 naik motor ke Jatim. Sekarang ia tidak mampu
menerusken kesenangannya naik motor karena  sangat sulit bagi dosen
beli Dapitsong.

Saya sampai sekarang masih work hard, play hard, … no pray 😉

Menurut MBTI saya alamiah (nature) hard worker. Saya serius dalam
bekerja, sama dengan Joko. Saya benci pemalas dan ndak segan2 naboki
pemalas. Saya besar dilingkungan (nurture) orang2 yang PLAY hard
serta ogah2an PRAY hard.

> Mungkin saja pengamatanku itu hanya pengamatan sepintas, tidak
valid,
dan fakta-fakta yang aku dapat hanya karena kebetulan. Namun beberapa
hari ini aku pikir-pikir lagi dan melihat kemungkinan bahwa
orang-orang yg prestasi akademis-nya biasa-biasa saja itu memang
memiliki peluang untuk sukses lebih besar daripada orang-orang yg
berprestasi cemerlang semasa sekolah.

# Pengamatan saya kurang lebih sama. tidak ada korelasi prestasi
akademik dengan sukses dalam bekerja. Data2 saya jelas lebih baik
dari bung Al karena rentang waktu pengamatan lebih panjang.
Contohnya tiga teman2 saya, yang dua temen SMP yang satu SMU.
Ketiganya prestasi akademiknya dibawah saya yang juga standar.
Tetapi tiga2nya perwira TNI berbintang satu, dua, dan tiga. Yang
berbintang dua dan tiga karakter tentara sangat kelihatan pada saat
mereka mangsih muda : disiplin dan tegas. Ada juga yang mangsih
kolonel. Tanya kenapa? Malas! Ia pemalas!

Memang, pandai tidak menjamin sukses tetapi kalau dibalik apakah
yang sukses tidak pandai? Tidak sesederhana itu. Untuk bidang2
tertentu, misalnya Indosat tadi, dibutuhken kecerdasan minimum. Ndak
sembarang orang bisa. Apa Dorce bisa? Ndak bisa, to?

> Strategi laut biru (atau Blue Ocean Strategy) ini adalah sebuah
strategi untuk mendapatkan pasar dengan cara membuat pasar baru di
mana tidak banyak pemain yang ada di pasar tersebut. Lawan dari
strategi laut biru ini adalah Red Ocean Strategy (atau strategi laut
merah), yaitu sebuah strategi dimana orang-orang berebut pasar di
mana
begitu banyak orang yang ingin mendapatkan pasar tersebut dan
bertarung saling membunuh satu sama lain sehingga membuat laut
menjadi
merah karena banyak darah yg tertumpah.

# Itu sudah saya lakuken lebih dari 25 tahun yang lalu dengan kiat
sederhana : bahasa Inggris! Saya hanya masuk keprusahaan2
Internasional. Kawan2 saya yang bisa Bahasa Inggris hanya do-re-mi.
Akbatnya saya lelenggang hanya berbekal Bahasa Inggris biarpun
mangsih èng ing èng mangsih jauh lebih baik dari yang lain.

Begitupun dalam bisnis, saya lagi2 go Internasional. Musuhnya ndak
sebanyak kalo saya main lokal. Waktu itu mitra saya SATU2nya yang
punya pikiran jualan mebel kulit. Tanpa keraguan sedikitpun saya
gelontor dia dengan das kapital dan …. padipun menguning 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: