Do what you love to do

First priority, do what you love. If you can’t do what you love, then it’s OK to do what you don’t like as long as you don’t hate doing it. If you hate it, then just leave it and find something else that you will love to do.

Deretan kalimat di atas adalah tulisanku beberapa hari yang lalu (dengan bahasa inggris yg hancur2an) yg aku layangkan pada milis kampung-UGM dan ternyata dianggap inspiring oleh Mas EsHaPe sehingga kakak angkatanku yg baik hati ini sehingga terpikir untuk menayangkan kutipan tersebut di majalahnya.

Saat menulis kalimat tersebut, aku tidak merasa mengutipnya dari siapapun dan mengalir dengan sendirinya karena memang itulah yg aku lakukan sejak aku masih di bangku sekolah dulu. Rupanya pengakuanku ini diprotes oleh Kibroto karena ternyata kutipanku itu mirip dengan tulisan orang terkenal (walaupun aku sendiri baru pertama kali ini mendengar namanya), dengan sedikit modifikasi tambahan saja. Dan sebagai orang yg sudah sangat sukses dan berprestasi yang patut dibanggakan, Kibroto juga menunjukkan bahwa beliau pernah menulis tulisan serupa (namun beberapa langkah lebih advance) pada 5 tahun yg lalu.

Kritikan ini membuatku mencoba mengingat-ingat kembali, apakah betul aku membajak pendapat orang terkenal tersebut dan mengakuinya sebagai tulisanku sendiri?  Ataukan mungkin aku membajak pendapat Kibroto pada tulisannya 5 tahun yg lalu? Akhirnya aku menemukan jawabannya bahwa apa yg kutulis pada kutipan di atas itu adalah apa yg telah aku lakukan selama belasan tahun, dan aku ingat bahwa sumbernya adalah Ayahku.

Saat aku masih di bangku sekolah dulu, ayah sering mengingatkanku agar aku nanti kelak di kemudian hari bekerja pada sesuatu yg aku minati sehingga aku bisa menjalani hidup dengan senang. Hal ini juga yang membuatku sempat 1 tahun menjadi pengangguran setelah lulus SMA karena aku tidak berhasil masuk ke jurusan yg aku minati di Perguruan Tinggi yg aku cari.  Aku lebih baik jadi pengangguran dan berusaha lagi tahun depannya daripada harus sekolah di jurusan yg tidak aku minati dan terjebak di situ.  Begitulah hingga tahun depannya aku berhasil masuk kuliah di jurusan yang aku minati. Saat itu aku merasakan nasehat ayah benar bahwa aku harus mencari dan mengejar apa yg aku minati dan cintai. Aku merasakan sekolah di masa kuliah sangat nikmat, berbeda dengan waktu SMP-SMA yg mana pelajaran2 sekolah banyak sekali yg tidak aku sukai.

Setelah lulus kuliah, aku kemudian bekerja di sebuah perusahaan besar berskala Internasional. Beberapa tahun pertama bekerja di situ aku sangat bergairah, karena apa yang aku kerjakan di situ adalah apa-apa yang aku minati dan aku sukai. Kecintaanku pada apa yg aku lakukan inilah yg membuatku selalu merasa “Easy Money” walaupun sebagian orang lain melihatku sebagai seorang pekerja keras yang sering pulang larut malam.  Buatku uang seperti bonus, karena aku melakukan sesuatu yg sangat menggairahkan. Anak jakarta bilang,”Nggak dibayar aja gue kerjain kok. Apalagi dibayar.”

Seiring dengan bergeraknya waktu dan perubahan-perubahan yang terjadi di tempat kerjaku, aku mulai merasa kehilangan gairah dan mulai “work for money”.  Saat itu aku menyadari ada yg salah, dan harus membuat perubahan.  Walaupun penghasilanku termasuk besar untuk orang2 seusiaku, sehingga banyak orang yg menyarankan aku terus bertahan dan mensyukuri yg ada, namun setelah 6 tahun bertahan aku merasa bahwa aku harus berani membuat perubahan.

Lagi-lagi aku teringat cerita Ayah yang mana beliau sangat berani memutuskan untuk keluar dari PNS (pada saat itu PNS adalah pekerjaan yg cukup bergengsi) karena Ayah sadar bahwa penghasilan PNS nggak cukup untuk menghidupi keluarganya ditambah lagi sulitnya menjadi PNS tanpa kecipratan korupsi karena teman-temannya yg lain jika mendapat uang dari korupsi akan dibagi-bagikan pada semua teman-temannya. Hal ini membuat beliau dalam posisi sulit, jika uang itu tak diambil maka dia akan terkucil karena berbeda dengan arus sementara jika dia ambil maka itu bertentangan denga hati nuraninya. Dengan berani, walaupun dikecam banyak orang, Ayah mengambil keputusan untuk keluar dari PNS. Nyatanya Ayah berhasil mendapatkan pekerjaan yg lebih baik, bisa menghidupi keluarganya dengan kecukupan, dan bisa menyekolahkan semua anak-anaknya di perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Semangat dan keberanian Ayah menyadarkanku bahwa aku belum berbuat apa-apa untuk mengejar apa yg aku cintai dan saat itu masih terjebak dalam situasi yg aku tidak sukai hanya karena ketakutan kehilangan apa yg aku miliki saat itu.  Aku sadar bahwa aku harus lebih berani mengejar mimpi sehingga mimpi tak lagi hanya menjadi mimpi siang bolong yg tak pernah menjadi nyata. Singkat cerita, cerita dan semangat ayah membuatku akhirnya memutuskan untuk mengejar mimpiku dan berani mengambil langkah yang spektaluler sehingga akhirnya saat ini aku sudah kembali lagi pada track yg benar,  I’m doing what I love to do.  Aku merasakan hari-hari kembali indah dan bersemangat karena aku sedang melihat aku sedang berlari mewujudkan mimpi.

Hal ini memberi kesadaran baru bagiku, bahwa kadang kita merasa terpaksa melakukan hal-hal yg kita tidak sukai atau bahkan kita benci, hanya karena kita kurang berani mengambil resiko sehingga tak bisa melihat bahwa ada ribuan peluang di luar sana yg bisa kita gapai jika kita berani dan bersemangat untuk mengejarnya.  Kesadaran ini membuatku tersenyum karena ternyata tak harus menunggu usia pensiun dulu baru bisa bahagia. Jika bisa bahagia sekarang, mengapa harus menunggu pensiun dulu? Bukan begitu?

Do what you love to do. Do what you are passion for. Then you will know how great to be an “easy money”.

PS:

Tulisan ini aku dedikasikan untuk Ayah, yg telah dan selalu memberiku begitu banyak pelajaran dan dukungan sehingga aku bisa menjadi seperti sekarang. Saat ini, aku telah menjadi seorang ayah juga. Semoga aku juga bisa membuat anak2ku bangga seperti bagaimana aku bangga pada Ayah.

Ayah, I’m very proud of you.

Standing Out of The Crowd

Seorang adik sepupuku pernah mengalami kesulitan mencari pekerjaan setelah menamatkan program diplomanya dari sebuah PTN. Karena sudah begitu banyak lamaran dikirim namun tidak mendapat tanggapan, akhirnya dia meminta saranku tentang bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan panggilan interview.

Agar bisa memberikan jawaban yang pas, aku mencoba memposisikan diriku sebagai hiring manager. Dan sebagai langkah pertama akupun meminta resume-nya. Resume-nya terlihat sangat standard yg formatnya persis seperti formulir riwayat hidup yg suka dijual di warung2 kelontong. Dari situ saja sudah bisa aku duga bahwa HRD tidak melirik resume-nya sama sekali sehingga besar kemungkinan lamaran-lamaran yang dia kirimkan tidak dibaca oleh HR dan mungkin sudah langsung masuk ke tempat sampah. Oleh karenanya saran pertama yg kuberikan padanya adalah agar memperbaiki resume-nya.

Setelah itu, dengan mengasumsikan bahwa resume-nya bagus, maka aku mencoba memposisikan diri sebagai interviewer. Dan si adik sepupu kuberikan sebuah pertanyaan sederhana yaitu,”Saat ini ada banyak pelamar-pelamar lain yg menginginkan pekerjaan yg sama. Banyak di antara mereka bahkan berasal dari PTN-PTN yg lebih terkenal dan terpercaya daripada PTN tempatmu kuliah. Nah, tolong berikan alasan pada saya mengapa saya memilihmu dan tidak pelamar-pelamar yg lain?” Pertanyaan saya ini ternyata tidak bisa dijawab oleh adik sepupu saya. Dari sini saya sudah bisa mengetahui sebab-sebab mengapa sulit baginya mencari kerja. Oleh karenanya saya sarankan padanya untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu dulu supaya lebih sukses berburu pekerjaan.

Kasus di atas mirip dengan kasus keponakan salah seorang teman saya. Beberapa hari yg lalu teman saya ini bertanya pada saya,”Bang, punya teman cowok yg sedang mencari jodoh nggak?”. Aku menjawab,”Saat ini tidak. Tapi mungkin saja besok2 ketemu.” Kemudian akupun meminta temanku itu untuk mendeskripsikan lebih jauh keponakannya supaya saya punya bayangan kepada siapa saya bisa mengenalkan keponakannya tersebut. Teman saya hanya bersedia memberikan jawaban bahwa keponakannya itu angkatan 94 dan berjilbab. Tidak ada informasi lebih jauh yg diberikan padaku sehingga membuatku melongo. Bahkan foto-nyapun aku tidak bisa melihatnya.

Aku mencoba membayangkan seandainya aku adalah seorang lelaki single yg sedang mencari calon istri dan kemudian ada teman yg datang pada saya,”Bang, aku punya teman perempuan berjilbab angkatan 94 lagi cari jodoh. Mau kenalan nggak?” Jika aku yg ditanya demikian, besar sekali kemungkinan aku akan menjawab “Males ah.” Mengapa demikian? Karena ada begitu banyak perempuan yg berumur di bawah 30 yg juga sedang mencari jodoh. Dan seandainya kriteriaku adalah perempuan berjilbab, maka ada banyak sekali perempuan berjilbab di Indonesia ini yg juga sedang mencari jodoh. Jika aku bisa mendapatkan yg masih berumur 20-an, lantas mengapa aku harus memilih yg berumur 32 tahun?

Well, tentu saja jawabanku itu mengasumsikan bahwa pada umumnya laki2 mencari istri yg lebih muda darinya. Sehinga, jika usia si perempuan adalah 32, maka dia harus mencari pria-pria yg usianya di atas itu, sementara di Indonesia relatif tidak banyak pria-pria berusia di atas 30 yang masih lajang. Dan bahkan pria berumur di atas 30 sekalipun, ternyata juga masih mencari calon istri yg berumur 20-an. Oleh karenanya, peluang keponakan teman saya ini relatif kecil jika dia harus bersaing dengan perempuan-perempuan muda lainnya sementara dia tidak menunjukkan kelebihan lain.”

Cerita tentang adik sepupuku dan keponakan temanku ini menunjukkan bahwa seringkali kita tidak sadar bahwa kita sedang tersembunyi di antara keramaian dan berharap untuk terlihat dan dipilih. Kita tidak sadar dan terlupa untuk berdiri di tempat yg tidak tertutup oleh keramaian sehingga terlihat, atau dengan bahasa Jawa-nya adalah,”Standing out of the crowd”.

Untuk bisa “standing out of the crowd”, maka kita harus mengetahui apa kelebihan kita dibandingkan dengan pesaing-pesaing kita. Pada kebanyakan kasus, kita sering kelabakan jika ditanya apa kelebihan kita. Persis seperti kasus keponakan saya yg cuma bisa melongo ketika saya tanya kelebihannya dari pelamar-pelamar lain. Dalam kasus yg lain, kita mungkin tahu bahwa kita punya kelebihan, namun kita terlupa bahwa kita sedang berada di balik kerumunan orang banyak sehingga kita tidak berusaha untuk keluar. Contohnya adalah teman saya yg tidak mau menunjukkan kelebihan keponakannya sehingga akupun jadi malas-malasan mengenalkannya pada temanku (jika kebetulan ada). Aku tidak mau kelabakan ditanya oleh temanku,”Apa kelebihan keponakan temanmu itu sehingga kau perkenalkan dia kepadaku ?”

Demikianlah kiranya dongenganku tentang salah satu strategi untuk bersaing di laut merah yaitu “standing out of the crowd”. Nah, selain dengan mengetahui dan menunjukkan kelebihan kita, cara apa lagikah yg kira-kira bisa membuat kita standing out of the crowd? Monggo, ditunggu masukannya.

Strategi orang telanjang

Kemarin aku iseng-iseng membuka kembali blog lama, yaitu blog yg pertama kali aku buat sebelum pindah ke wordpress ini, yg beralamatkan http://bank-al.blogdrive.com/. Aku sudah lupa bahwa ternyata aku bisa menulis begitu renyah dan santai pada saat itu dan begitu mudahnya juga melahirkan tulisan-tulisan yg membuatku mengingat-ingat kembali momen-momen lama yg layak dikenang. Sungguh berbeda sekali rasanya dengan mood-ku ngeblog beberapa bulan terakhir ini yg seringkali membuat keningku berkerut hanya untuk melahirkan tulisan.

Aku mencoba memutar kembali ke masa lalu dan mencoba mengingat mengapa hal ini bisa terjadi. Selidik punya selidik ternyata tulisan-tulisanku mulai macet setelah blog-ku mendapat kehormatan dari Ronny untuk masuk Planet Terasi. Mungkin karena sebagian dari penulis-penulis di sana adalah tipe-tipe serius yang memiliki gaya menulis kelas berat sehingga kadang membuat kepala yg membacanya juga berat, maka aku terbawa suasana untuk menulis yg berat-berat juga. Akibatnya, karena gaya asliku yang cenderung santai ini bertentangan dengan suasana yg ada, otakku jadi macet dan tulisan-tulisanku jadi makin jarang keluar.

Untunglah, ribut-ribut bru-ha-ha telah mengakibatkan blog-ku ini keluar dari Planet Terasi. Walaupun sedikit kecewa karena blog-ku dikeluarkan tanpa pemberitahuan, namun hari ini aku menyadari bahwa sebetulnya ini adalah ide yang baik. Dengan tidak munculnya tulisanku di sana, itu berarti aku bisa kembali lagi pada style lamaku menulis dengan santai tanpa beban sehingga blog yg semestinya personal ini memang betul-betul menjadi sebuah tulisan personal dan bukan sebuah situs penyedia artikel seperti media-media cetak atau online lainnya.

Agak aneh juga mengapa aku bisa grogi ketika menulis padahal aku bisa mengatasi kegugupan ketika harus spontanitas bicara di depan publik. Mungkin karena ada tips dari pembicara-pembicara kaliber agar kita membayangkan sedang berbicara di depan orang telanjang ketika sedang berada di atas panggung untuk mengatasi kegugupan. Entah mengapa, ketika aku coba menggunakan strategi orang telanjang ini, it didn’t work at all. Aku nggak ngerti strategi apa yg digunakan oleh pak BR dan Paman Tyo sehingga bapak-bapak ini bisa menulis dengan santai tanpa beban walaupun tulisan-tulisan mereka juga seringkali tidak berbau teknologi. Mungkin mereka bisa merecovery bayangan orang telanjang yg tepat sehingga bisa tetap santai sementara aku salah mengambil model.

Nah bagaimana dengan teman-teman, ada yg merasa grogi juga ketika menulis dan dibaca banyak orang sehingga menambahkan beban ketika menulis? Jika memang ada, apa taktik yg anda gunakan untuk mengatasinya?

Menghadapi Pilihan

Hidup ini memang penuh dengan seni. Kadang kita berada dalam satu kondisi di mana kita menginginkan perubahan namun kita tidak punya pilihan. Namun kadang di suatu saat yg lain, kita berada di suatu kondisi di mana pilihan terlalu banyak sehingga kita kebingungan memilih satu yang terbaik dari pilihan-pilihan tersebut karena masing-masing pilihan itu mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Jika anda berada dalam kondisi kedua, yaitu harus memilih satu dari begitu banyak pilihan yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan, langkah apa yg akan anda lakukan untuk mengambil keputusan yang terbaik?

Jurus Mencari Jodoh

Berkat adanya YM, aku seringkali dicurhati teman-teman perempuan yg kepingin punya pasangan namun kebingungan bagaimana caranya mencari jodoh. Salah satu diantaranya, sebut saja namanya Lady, mengaku bahwa dia tinggal di sebuah daerah yg terpencil sehingga semua laki-laki yang mendapatkannya menjadi minder dan mundur. Banyak laki2 yg dikenalkan pada Lady, namun semua mundur teratur ketika mengetahui Lady ini pintar dan berpendidikan tinggi.

Tidak hanya Lady, ternyata Ndek dan teman2nya juga mengalami hal yg serupa sehingga frustasi. Tentu saja ke-frustasi-an ini bukan karena tidak ada laki2 yang mendekati. Banyak laki2 yang mendekatinya, namun sialnya yg datang itu belum ada yg cocok dengan kriteria pria idaman yang dinanti2kan.

Kisah Lady ini mengingatkanku tentang masalah yg pernah aku hadapi juga beberapa tahun yang lalu. Aku lihat teman-teman yg kesulitan mencari jodoh ini bukan karena tidak ada laki2 yg tertarik pada mereka. Hanya saja mereka berada dalam kolam yang salah.

Ah, jadi ingat tulisan yg pernah aku tulis di tahun 2004, dan mungkin ada baiknya aku angetin lagi di sini.

Jurus-Jurus Mencari Jodoh I
by: Alfred Alinazar, 30 April 2004

Jurus pertama: “Anda mungkin saja bisa mencari ikan dengan memancing di sungai, kolam ikan, danau, ataupun bak mandi. Namun jika anda ingin lebih mudah mendapat ikan, pergilah ke kolam pemancingan yg ikan2nya sedang kelaparan.” Baca lebih lanjut

Kehidupan si beruntung dan si malang

Ngobrolin tentang definsi keberuntungan saja tentu tidak akan mengasyikkan jika tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan keberuntungan itu. Untungnya, ada riset Om Wismawan eh maksudnya Wiseman ini yang mencoba menunjukkan bahwa keberuntungan itu sebetulnya adalah sesuatu yang bisa diusahakan. Wiseman juga mencoba membuktikan hasil penelitiannya tersebut dengan membuat sebuah sekolah yang disebutnya dengan nama “luck school” untuk membuat orang-orang menjadi lebih beruntung.

Riset Om Wiseman dilakukan dengan meneliti titik-titik ekstrim, yaitu orang-orang yang mengaku mengalami keberuntungan terus menerus dari waktu ke waktu dan juga orang-orang yang mengalami kesialan terus-menerus. Orang-orang yg super beruntung dan super sial ini kemudian dianalisa perilakunya sehingga akhirnya Wiseman menemukan bahwa orang-orang yang beruntung ini mempunyai sikap yg berbeda dalam menghadapi hidup dibandingkan dengan orang-orang yg sial.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kehidupan orang-orang super beruntung dan super sial ini berbeda dalam 4 kategori besar berikut:

  1. Si beruntung terus menerus menemukan kesempatan untuk beruntung. Mereka seringkali secara tidak sengaja bertemu dengan orang-orang dan peluang-peluang yg bisa menguntungkan baginya. Sementara si malang kebalikannya, mereka seringkali bertemu dengan orang-orang yg merugikan hidupnya.
  2. Si beruntung bisa mengambil keputusan yang baik tanpa berpikir panjang dan bahkan mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka mengambil keputusan itu. Mereka sepertinya tahu kapan mengambil keputusan yg baik dan kepada siapa mereka harus percaya atau tidak percaya. Sementara sebaliknya, si malang justru cenderung mengambil keputusan yg merugikan hidupnya.
  3. Mimpi, ambisi dan tujuan si beruntung hampir selalu menjadi kenyataan. Sementara si malang mimpinya hanya mimpi tinggal mimpi.
  4. Si beruntung bisa membalikkan kejadian buruk menjadi sebuah keberuntungan. Sementara si malang hanya bisa menggerutu dan meratap ketika menghadapi sebuah kejadian buruk.

Wiseman akhirnya menyimpulkan bahwa sikap dan pola pikir orang beruntunglah yg membuat seseorang itu menjadi super beruntung atau super sial. Dengan berbekalkan kesimpulan itu, Wiseman membuat sekolah keberuntungan dan berhasil membuat murid-muridnya itu menjadi lebih sering menemukan keberuntungan.

Dari penelitian ini, saya menduga bahwa kesempatan untuk menjadi beruntung itu sebetulnya banyak sekali. Yg membedakan si beruntung dan si malang sebetulnya hanyalah bahwa si beruntung memperbesar peluang untuk mendapatkan kesempatan itu dan sementara si malang tidak melihat dan menangkap kesempatan-kesempatan yang datang.

Lantas bagaimana caranya si beruntung meningkatkan peluang untuk menemukan keberuntungan itu? Silahkan tunggu lanjutan cerita ini.

Ngebor Minyak tidak mengejar Keberuntungan

Tulisan Mas Rovick di sini membuatku agak tergelitik. Walaupun betul bahwa peluang untuk mendapatkan minyak itu adalah 1:10, namun faktor itu saja tidak cukup untuk menganggap keberhasilan mendapatkan sumur minyak itu adalah keberuntungan. Mengapa? Karena faktor biaya dan keuntungan belum dihitung. 

Aku tidak memiliki data yang akurat tentang bisnis minyak ini, tolong dikoreksi jika memang salah. Yang sering aku dengar,  keuntungan yang bisa didapat oleh sebuah perusahaan minyak dari satu sumurnya yang berhasil ditemukan ternyata jauh lebih besar daripada biaya 10 kali ngebor.  Misalkan (ini misalkan lho) biaya ngebor satu sumur cuma 10 rupiah, dan kemudian keuntungan yg bisa didapat oleh satu sumur yang produktif adalah 1000 rupiah, maka perusahaan minyak yang punya uang 100 rupiah akan memilih ngebor minyak. Mengapa? Karena biaya ngebor 10 kali cuma 100 rupiah, sementara jika nasibnya dalam kurva statistik maka dia bisa mendapatkan 1000 rupiah. Perusahaan ini masih untung 900 rupiah.

Apa yang tidak cocok dalam kasus di atas sehingga tidak aku sebut sebagai keberuntungan? Seperti telah ditulis sebelumnya, bahwa syarat agar sebuah peristiwa disebut keberuntungan ada 2, yaitu: harapan dan proses yang tidak terencana/terduga. Dalam kasus di atas, si perusahaan minyak sudah menduga bahwa satu sumur dari 10 kali ngebor akan menjadi sumur yang produktif. Sehingga jika dia mendapatkan satu sumur dari 10 kali ngebor, maka proses tersebut masih proses yang terduga dan direncanakan.

Kejadiannya hanya akan disebut keberuntungan jika kumpeni minyak ini mendapatkan sumur minyak dalam hanya dalam 2 kali (atau kurang dari 10 kali) ngebor. Sebaliknya dia akan merasa apes kalau sudah lebih dari 10 kali ngebor namun ndak dapet sumur minyak juga. Sementara jika dia mendapatkan satu sumur dalam 10 kali ngebor, maka itu adalah sesuatu yang sudah diduga sebelumnya (alias tidak bejo dan tidak apes).

Jadi, ngebor minyak itu tidak selalu mengejar keberuntungan. Ngebor minyak ini dilakukan karena adanya perhitungan untung-rugi jika si perusahaan itu mempunyai biaya untuk melakukan 10 kali pengeboran. Kumpeni minyak itu baru disebut mengejar keberuntungan jika dia nekad ngebor padahal dia cuma punya uang untuk 3 kali (atau di bawah 10) kali gebor.  Dan kumpeni ini memang bejo ketika mendapatkannya.

Bagaimana? Makin jelas tentang apa yg sebetulnya disebut keberuntungan? Kalau masih belum jelas juga, berarti saya masih apes.  :)  

Tulisan terkait:

Keberuntungan itu ilmiah

Walaupun justifikasi keberuntungan itu subjektif alias datang dari masing-masing individu dan bukan orang lain, namun bagaimana jika misalnya ada jurus atau strategi yang mengajarkan anda sehingga anda bisa didatangi keberuntungan demi keberuntungan? Apakah anda tidak akan tertarik untuk mempelajari dan menguasainya? Saya pribadi sangat tertarik karena keberuntungan ini bisa membawa kita mendapatkan apa-apa yang kita inginkan walaupun kita tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan keinginan tersebut.

Alkhisah ada seorang pesulap terkenal dari Inggris yg bernama Richard Wiseman. Pada suatu acara pentas sulapnya, dia mempertunjukkan sebuah trick yang semestinya amat memukau penonton. Pada pertunjukan itu, Richard meminjam uang kertas 10 pound dari salah seorang pentonton yg kebetulan perempuan. Dia meletakkan uang tersebut pada 1 dari 20 amplop yg identik, dan mengaduk2 amplop tersebut. Kemudian dia meminta si perempuan untuk memilih salah satu dari amplop tersebut. Setelah itu, Richard membakar sisa amplop yg tidak dipilih oleh si perempuan tersebut. Akhirnya Richard membuka amplop yg dipilih tersebut, mengeluarkan uang dari amplop tersebut dan mengucapkan selamat pada si perempuan pemilik duit tadi.

Para penonton tertawa dan memberikan tepuk tangan yg meriah atas pertunjukan yg menarik itu, namun si empunya duit malah tidak tampak terkejut sama sekali dengan pertunjukan itu. Richard agak terkejut akan kejadian yang tidak biasa ini. Biasanya partisipan yg meminjamkan duitnya akan terkejut dan terheran-heran sementara kali ini perempuan ini tampak biasa-biasa saja. Akhirnya Richard bertanya kepada si empunya duit tentang apa yang dirasakan si perempuan. Dengan tenang si perempuan menjawab bahwa ini hal yg biasa terjadi sepanjang hidupnya. Dia selalu berada pada tempat yg tepat, pada saat yg tepat, dan mengalami banyak keberuntungan besar dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya. Dia memang tak begitu mengerti bagaimana itu terjadi, tapi dia merasa yakin bahwa dirinya selalu beruntung.

Tergugah atas kepercayaan-diri si perempuan tersebut, Richard kemudian bertanya kepada seluruh penonton jika ada yg merasa sangat beruntung seperti wanita tadi, atau ada yg merasa sangat tidak beruntung. Seorang wanita lain yg duduk di bangku paling depan segera mengangkat tangannya dan mengaku bahwa dia selalu beruntung sepanjang hidupnya. Sebaliknya, ada seorang laki2 yg duduk di deretan bangku belakang justru mengaku sangat tidak beruntung. Laki2 tersebut begitu yakin bahwa jika uang-nya yg dipinjam Richard, tentu uangnya sudah terbakar dan tak akan didapatkannya kembali. Laki2 ini merasa ketidakberuntungan selalu datang sepanjang hidupnya.

Kejadian ini sangat menarik bagi Richard Wiseman, yg kemudian mendapatkan gelar doctor-nya pada fakultas psikologi di Univeritas Edinburgh ini. Professor Wiseman bertanya-tanya mengapa ada orang yang merasa sangat beruntung sementara ada juga orang lain merasa sangat tidak beruntung. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengadakan riset mengenai keberuntungan ini, dan salah satu tulisannya bisa dibaca pada buku-nya yg berjudul “The Luck Factor”.

Sang Professor kemudian melakukan survey dengan rentang yg sangat lebar dari beberapa orang – laki2 dan perempuan, tua dan muda. Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa 50 % dari partisipan mengaku bahwa mereka mendapatkan keberuntungan dengan konsisten dan selalu beruntung sepanjang hidupnnya. Sementara 14% yang lain berpendapat bahwa mereka selalu ditimpa ketidakberuntungan sepanjang hidupnya, ibarat pepatah terkenal Indonesia yaitu “sudah jatuh, tertimpa tangga”. Sedangkan sisa-nya, 36% mengaku kadang-kadang beruntung dan kadang-kadang tidak beruntung. Dengan kata lain, 64 % dari partisipan mengaku mendapatkan keberuntungan atau ketidak beruntungan secara konsisten. Yg membuat lebih menarik adalah bahwa orang-orang yg beruntung dalam salah satu area kehidupannya ternyata juga beruntung dalam beberapa area lain dalam kehidupannya. Orang yang beruntung dalam pekerjaan ternyata juga beruntung dalam kehidupan rumah tangganya. Sebaliknya orang yang tidak beruntung dalam karir-nya ternyata juga tidak beruntung dalam cerita cinta-nya.

Penelitian ini membuat Richard yakin bahwa keberuntungan ini tentu bukan hanya semata sebuah kebetulan. Sesuatu yang kebetulan tentunya tidak akan terjadi berulang2 dan konsisten. Tentunya ada sesuatu yang menyebabkan seseorang mendapatkan keberutungan secara konsisten sementara yang lainnya justru mendapatkan kesialan secara konsisten.

Apakah itu ? Tunggu serial selanjutnya.

Tulisan terkait:

  1. Meraih cita tanpa peta menuju cita
  2. Apakah keberuntungan itu?
  3. Bagaimana menghentikan Bad Luck?

Goal Setting yang Efektif

Mas Rovicky pernah bilang bahwa kita bisa belajar dari siapa saja, termasuk dari yang lebih muda. Berdasarkan inspirasi tersebut, kali ini aku belajar dari Kevin, bayiku yang baru berusia 4 bulan tentang cara membuat goal setting yang efektif.

Kok bisa begitu? Ceritanya dimulai pada saat Kevin belajar merayap. Di usianya yg sudah lewat 4 bulan ini, Kevin sudah mulai bisa merayap, walaupun dia hanya merayap kalau sedang mau. Karena Kevin hanya merayap ketika sedang mau, maka orang tuanya agak kesulitan mengabadikan adegan merayapnya itu. Oleh karenanya, agar Kevin mau merayap, kami mencoba memancingnya dengan meletakkan mainan gajah kesukaanya di depannya. Pada awalnya aku letakkan mainan itu dalam jarak 50 cm di depannya, dengan harapan Kevin akan merayap mengejar mainannya. Namun tidak seperti yg diperkirakan, Kevin hanya ketawa saja memandang mainannya itu dan tidak merayap. Aku mencoba memanggil-mangilnya agar mau mendekat. Namun sia-sia, Kevin hanya senyum-senyum aja dan tidak mau merayap.

Akhirnya, karena penasaran aku mencoba memindahkan mainan tersebut 10 cm di depannya. Ternyata hasilnya berbeda, Kevin segera merayap berusaha menggapai mainannya tersebut. Dan karena gerakan merayapnya cukup kencang, maka mainan tersebut tersentuh tangannya dan malah menjauh. Kevin ternyata tidak berhenti mengejar mainannya. Dia merayap lagi mencoba meraih mainan tersebut, dan lagi-lagi mainan tersebut tersentuh tangannya dan bergerak menjauh lagi. Lagi-lagi Kevin mengejarnya dan mainan itu tergerak menjauh lagi. Demikian terus terjadi sampai Kevin bergerak lebih dari 1 m ke depan dan dia berhasil meraih mainannya.

Hal tersebut mengingatkanku tentang pelajaran Goal setting. Seringkali aku belum berhasil meraih sebuah keinginan karena aku membuat goal setting yang terlalu tinggi sehingga menjadi malas karena tidak yakin bisa meraihnya. Dan walaupun aku sudah pernah belajar tentang goal setting, namun aku seringkali terlupa pelajaran ini sampai kali ini diingatkan oleh Kevin. Andai saja aku membuat sebuah target yg cukup sulit namun terasa mungkin diraih, mungkin aku sudah dapat menggapainya. Langkah selanjutnya hanyalah memindahkan lagi target itu ke depan sehingga aku merayap lagi ke depan. Jika hal tersebut dilakukan dengan konsisten dan mengarah ke tujuan yang jauh, mungkin aku sudah jauh merayap seperti bagaimana Kevin yang ternyata mampu merayap lebih dari 1 m karena adanya goal setting yang bertahap ini.

Ah, jadi teringat bahwa aku masih punya banyak cita-cita yang belum tercapai. Mungkin saat ini masih terasa tidak masuk akal. Namun dengan penentuan goal setting seperti ini, keajaiban bisa saja terjadi. Kadang kita tidak pernah tahu seberapa jauh kita akan mampu bergerak ke depan bukan?

If you believe in something, go for it !

Guy Kawasaki adalah seorang venture capitalist di Sillicon Valley yang
namanya tentu tidak asing lagi bagi para pemerhati teknologi IT.

Beberapa saat yang lalu dia membuat sebuah entry di blog-nya yang
berisi penawaran bergabung bagi orang-orang yang tertarik dengan
rumor. Saat ini tampaknya dia sedang membuat sebuah portal dengan
contain rumor yang sampai saat ini masih belum dibuka untuk umum.

Sangat menarik bahwa ternyata himbauan Guy tersebut mendapat cukup
banyak kritikan negatif atas ide-nya itu walaupun sebagian yang
lainnya mendukung ide-nya dengan positif. Dan berdasarkan peristiwa
itu, Guy memberikan tiga pelajaran berharga yang membuatku sangat
terinspirasi, yaitu:

1. If you believe in something, go for it. This is the only way to
really find out. Mathematically, the naysayers are right 95% of the
time, but believing you’re in the 5% is what makes entrepreneurs
entrepreneurs.

Saya saat ini sedang mempercayai sesuatu yang pernah saya kemukakan
dan mendapat lebih banyak komentar negatif daripada yang positif.
Namun saya percaya bahwa saya termasuk yg 5%, maka saya akan tetap go
for it walaupun banyak orang yg mengatakan “you’ll never make it”

2. if you want help, ask for it. There is a cost to keeping something
completely secret and trying to avoid public criticism. As my mother
used to say, “If you don’t blog, you don’t get.”

Kadang saya melemparkan pertanyaan dan pendapat saya ke publik untuk
meminta masukan. Dan Guy benar bahwa saya memang mendapat kritikan.
Namun dibalik itu semua, saya tetap mendapatkan banyak inspirasi
daripada menyimpan pertanyaan itu sendiri.

3. “Have you tried it yet or are you just reacting to what you’ve heard?”

Banyak orang yg tanpak sangat mententang namun mereka sebetulnya hanya
berpendapat dan belum mencoba sendiri. Pendapat orang-orang seperti
ini jangan sampai mematahkan semangat karena bisa jadi teori-nya juga
tidak tepat.