Namaku Bank Al

Catatan perjalanan penggemar strategi laut biru

Arsip untuk 'Science' Kategori


The strategist

Ditulis oleh bank_al di/pada Januari 12, 2008

Saya sudah pernah beberapa kali melakukan MBTI test di beberapa situs yg pernah saya singgahi. Pada saat pertama kali-nya, hasilnya adalah saya seorang ENTP (the inventor).  Entah mengapa, julukan itu kok rasanya kurang cocok dengan saya waktu itu. Namun karena saya belum menemukan situs lainnya untuk mengujinya, maka saya terima dulu label itu untuk sementara.

Cukup lama setelah itu, saya menemukan lagi sebuah situs dan tentu saja saya juga mencobanya. Ternyata kali ini saya bukan lagi ENTP, melainkan seorang INTJ. Saya jadi agak kebingungan yang mana yang lebih representatif di antara keduanya. Dan kali ini saya mendapat kesempatan lagi untuk melakukan MBTI test ini. Ternyata hasilnya INTJ lagi. Entah mengapa, the strategist rasanya lebih enak buat saya. Saya memang lebih suka memikirkan strategi daripada memberikan invention/penemuan.

Namun yg mana yg bener ? Saya nggak tahu. Apakah MBTI type ini terpengaruh juga oleh faktor nurture dan tidak hanya nature? Saya juga nggak tahu. Yg jelas saya pernah mendapatkan dua tipe MBTI yg berbeda.

Btw, ini hasil saya yg terakhir

Click to view my Personality Profile page

Ditulis dalam Science | 8 Komentar »

At first sight

Ditulis oleh bank_al di/pada Desember 27, 2007

At first Sight adalah sebuah film yang berdasarkan kisah nyata tentang seseorang yg sudah buta sejak kecil namun mendapatkan kesempatan untuk bisa melihat lagi setelah puluhan tahun lamanya. Kasus ini sangat menarik bagi saya karena dari sekian banyak usaha percobaan memulihkan penglihatan orang buta, baru 20 kasus saja yang bisa berhasil dalam rentang waktu 200 tahun.

Walaupun menurut seorang pengamat film bahwa film ini tidak layak untuk ditonton seperti yg tertulis pada website berikut , namun menurutku beberapa bagian dalam film ini cukup menarik, salah satunya adalah tentang apa yg terjadi ketika seseorang yg sudah buta sejak kecil dan bahkan lupa bahwa dia pernah bisa melihat namun tiba-tiba dia bisa melihat kembali. Mungkin karena aku bukan pengamat film, jadi lebih tertarik pada science-nya daripada film itu sendiri kali ya. :)

Virgil, nama tokoh dalam film itu yang bukan mana si buta yang asli, adalah seseorang yg buta sejak usia sangat belia. Dia tak ingat lagi bahwa dia pernah bisa melihat. Dan puluhan tahun setelah itu, dia mendapatkan kesempatan untuk berobat pada Dr Sacks sehingga akhirnya bisa melihat kembali. Yang menarik adalah bahwa ternyata walaupun Virgil bisa melihat, namun ternyata dia tidak bisa mengenali apa yg dilihatnya. Dia tidak mengenali pacarnya, kakaknya, dan benda-benda apapun yang sebelumnya justru dikenalnya sebelum dia bisa melihat. Matanya memang telah berfungsi seperti orang normal namun dia tidak mengerti apa yang dilihatnya bagaikan bayi yang baru saja dilahirkan.

Akhirnya Virgil belajar lagi seperti bayi, dengan cara meraba benda-benda yang dikenalinya dan juga melihatnya. Dari situ dia mencoba mengajari otaknya tentang apa yang dilihatnya dengan pengetahuan perabaannya. Beberapa hal sempat membuat Virgil bingung, seperti contohnya konsep 3 dimensi. Dia melihat apel dan kemudian memegangnya. Namun ketika dia melihat gambar apel, dia kebingungan karena apel yg dia lihat ternyata setelah diraba tidak sama rasanya dengan apel yang sebelumnya. Well, tentu saja dia bingung karena dia belum paham konsep 3D dan ternyata konsep ini tidak bisa diajarkan melainkan harus dipelajari sendiri oleh setiap manusia.

Aku jadi teringat diskusi beberapa saat yang lalu dengan Mas Rovick di milis ini tentang pemahaman 3D. Pada saat itu Mas Rovicky mengatakan bahwa pemahaman manusia tentang dimensi ini berevolusi. Dulu manusia hanya paham konsep 2D, dan ratusan (atau ribuan) tahun kemudian barulah manusia mengenal konsep 3D. Kesimpulan ini didapatkan dari peninggalan sejarah berupa gambar-gambar jaman dulu yang berbentuk 2D, dan tidak 3D.
Aku juga ingat bahwa aku membantah dugaan itu. Menurutku konsep 3D itu adalah konsep yang dipahami manusia sejak lahir dan berusaha memahami dunia. Konsep ini tidak diajarkan oleh orang lain, melain dipelajari sendiri oleh manusia sejak masih bayi.

Berhubung anakku masih bayi, maka aku berkesempatan mengamati ini, dan tampaknya dugaanku tersebut memang benar. Aku ingat pada usia di bawah 1 bulan dulu, Kevin tidak suka melihat tayangan film kartun di TV. Dia lebih suka melihat sinetron. Dan setelah usianya di atas 1 bulan, barulah dia mulai suka melihat film kartun dan mulai menyukai baby TV. Hal ini mungkin disebabkan atas pemahamannya pada konsep 3D. Pada usia awal kelahirannya, Kevin mengira gambar2 di TV itu adalah manusia betulan, karena tampak seperti manusia-manusia yg biasa dilihatnya sehari-hari. Itulah sebabnya dia lebih tertarik pada sinetron dibandingkan dengan film kartun.

Sejak usia di atas 3 bulan, pemahaman konsep 3D-nya sudah terlihat baik. Pernah suatu saat aku keheranan karena mendapati Kevin sedang bermain di lantai, padahal terakhir kali dia ada di atas kasur bersama bundanya yg sedang tidur. Jika dia jatuh dari tempat tidur, semestinya sudah menangis dan aku tentu mendengarnya. Namun aku tak mendengarnya menangis, dan dia dengan tenang bermain di lantai samping tempat tidur. Dan karena kejadian ini sempat terjadi 2 kali, akhirnya karena penasaran aku mengujinya dengan meletakkan Kevin dekat dari pinggir tempat tidur. Ternyata memang dia sudah mengenali ketinggian sehingga dia tidak mau meloncat ke bawah dari pinggir tempat tidur. Dia memilih untuk berputar dan menurunkan kakinya terlebih dulu ke lantai. Dia sudah bisa mengukur bahwa tangannya tidak bisa menggapai lantai dan memutuskan untuk berputar dan menjatuhkan kakinya ke lantai.

Penelitian kecil-kecilan ini meyakinkanku bahwa konsep 3D ini memang tidak pernah diajarkan. Manusia mempelajarinya sendiri sejak pertama mengenali dunia. Dan rasanya tidak mungkin jika manusia-manusia jaman dulu tidak mengenal konsep 3D. Apa yg terjadi jika mereka tidak mengenal konsep 3D? Mungkin mereka sudah punah karena selalu jatuh ke jurang ketika berjalan. Jika mereka tidak bisa menggambar dalam bentuk 3D, itu hanya masalah kemampuan menggambar saja, dan bukan pemahaman konsep 3D sendiri.

Lantas bagaimana dengan konsep 4D atau Multiverse? Apakah suatu saat manusia akan memahami waktu berbeda dengan bagaimana kita memahaminya sekarang? Saat ini konsep 4D ada di kepala manusia hanya dalam batas khayalan atau imajinasi matematika saja. Jika 4D itu memang betul2 ada, namun tidak ada yg betul-betul memahami apa sebetulnya 4D itu. Konsep 4D ini hanya akan bisa dipahami manusia ketika sudah terjadi time-travelling. Pada saat itu barulah kita akan betul-betul memahami apa itu 4D. Sama seperti Virgil yang harus belajar lagi dan memahami konsep 3D setelah dia bisa melihat. Dia tak bisa diajari konsep ini sewaktu dia masih buta. Lalu kapankah perjalanan lintas waktu ini terjadi ? Entahlah, semoga sudah terjadi sebelum aku mati. Pasti asyik banget tuh bisa berjalan2 ke masa lalu dan masa datang.

Ditulis dalam Science | 7 Komentar »

Apakah keberuntungan itu ?

Ditulis oleh bank_al di/pada September 19, 2006

KeberuntunganSetiap kali saya menulis tentang keberuntungan, saya menemui banyak
orang salah memahami apa yg disebut keberuntungan itu. Ada yang
menganggap beruntung itu adalah “menjadi kaya”, Ada yg mengira
beruntung itu adalah “menjadi CEO”, ada yg berpendapat beruntung itu
“mendapat pekerjaan” dan lain sebagainya. Tampaknya diskusi tentang
keberuntungan itu akan menjadi ngalor ngidul jika tidak didefinisikan
terlebih dahulu. Oleh karenanya, ada baiknya tulisan ini akan aku
awali dengan definisi keberuntungan terlebih dahulu.

Keberuntungan (luck) didefinisikan oleh dict.die.net sebagai Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Science, Strategi | 14 Komentar »

Kidal dan Otak

Ditulis oleh bank_al di/pada September 8, 2006

OtakGambar di sebelah kiri ini adalah gambar yang aku dapat dari Cak Nur pada diskusiku pada milis psikologi tentang otak kiri dan otak kanan dan hubungannya dengan orang yg memiliki preferensi kidal atau non-kidal.

Kidal atau tidak itu sebetulnya bisa disebabkan dua faktor: Nature (bawaan lahir) atau nurture (pengasuhan). Orang yg kidal karena bawaan lahir, terjadi karena otak kanannya lebih dominan daripada otak kirinya.

Sementara bisa juga seseorang tidak tampak kidal namun karena budaya tidak berpihak pada orang kidak maka dia berusaha untuk menjadi tidak kidal walaupun sebenarnya otak kanannya lebih dominan daripada otak kiri.

Aku adalah seorang yg kidal. Namun aku menduga ada kemungkinan lain mengapa seseorang menjadi kidal karena data-data yang ada di sana tidak terlihat cocok bagiku. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Science | 39 Komentar »