Pembaharuan

Bertahun-tahun lamanya aku mengidam-idamkan template seperti ini namun tak kesampaian juga.  Karena tak adanya template yang cocok itu, maka blog ini menjadi terbengkalai sekian lama tidak diupdate (weleh lebaaaay deh).  Akhirnya hari ini aku menemukan template ini. Sekarang tiba saatnya merapikan kembali blog ini dimulai dari tampilan hingga isinya.

Sambil memikirkan isi yang lebih bermutu, berikut adalah rencana yang akan aku lakukan pada blog ini:

  1. Merapikan kategori
  2. Mengatur ulang sidebar -membuang yang tidak perlu, menambahkan yg perlu ditambahkan, dan menata ulang lokasinya.
  3. Mulai menulis lagi
Itu saja? Ya segitu saja dulu deh. Atau teman2 ada ide yg lain? Silahkan dikomen jika ada ya.

Haruskah dipertahankan?

Aku iseng-iseng melihat statistik blog ini di dashboard. Ternyata pengunjung dan pembaca blog ini sudah sangat berkurang drastis. Dulu ribuan pengunjung dalam 1 bulan, sekarang dalam 1 bulan hanya bebearpa ratus. Walah jauh amat ya berkurangnya sampai cuma satu per sepuluh dari yg pernah ada.

Hal ini sebetulnya bukan hal yg mengherankan, karena blog ini memang sudah sangat jarang sekali aku update sehingga para pengunjung barangkali sudah bosan melihat page ini dan tidak melihat satupun tulisan terbaru muncul di sini. Aku sempat terpikir untuk menghapus saja blog ini, karena aku sudah lama bercita2 untuk membuat blog dalam bahasa Inggris namun selalu aku urungkan karena pemirsa ndobosan di blog-ku ini barangkali menyukainya karena bahasa yg digunakan adalah bahasa Indonesia.  Jika tiba-tiba isinya diganti dengan bahasa Linggis eh Inggris tentu akan membuat banyak penonton kecewa.

Statistik yg menurun drastis ini membuatku berpikir ulang untuk mencoba melakukan rebranding terhadap blog ini, ditulis dengan bahasa Linggis sehingga memperbesar peluang datangnya pembaca ke blog ini tidak terbatas oleh kesulitan bahasa.

Bagaimana menurut teman2 yg masih setia membaca blog ini? Jika blog ini diganti pakai bahasa Engris kira2 akan lebih banyak dibaca atau justru malah tambah jarang yg mbaca ya?

Meraih ratusan juta tanpa harus sekolah

Setelah beberapa lama tidak menulis tentang peluang bisnis milyaran, maka kali ini tampaknya ada lagi peluang bisnis jutaan pada masa krisis seperti sekarang ini. Berbeda dengan peluang sebelumnya, bisnis kali ini memang dibutuhkan sedikit keahlian. Namun untuk mendapatkan keahlian ini tidak harus sekolah bertahun2 untuk meraih gelar sarjana ataupun mendapatkan sertifikasi tertentu.

Berikut adalah berita detail-nya:

LONDON, KOMPAS.com — Untuk urusan merapikan rambut, Sultan Brunei Hasanal Bolkiah dengan gampang merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah.

Seperti dilansir The Sun, Sultan yang masuk jajaran orang terkaya di dunia itu mengundang tukang cukur favoritnya, Ken Modestu, yang membuka kios di Dorchester Hotel di Mayfair, pusat kota London.

Tentu bagi orang sekaya Bolkiah jarak sama sekali bukan masalah. Menurut orang dekat Modestu, George Kadi, tukang cukur itu memang menjadi favorit raja berusia 62 tahun itu. “Ken sudah menangani rambut Sultan Bolkiah selama 16 tahun terakhir,† kata Kadi.

Modestu dipanggil ke Brunei tiap 3-4 minggu sekali. Modestu pun dimanja dengan penerbangan kelas satu yang tiket pulang perginya seharga 9.000 poundsterling atau Rp 147 juta. Sampai di darat, Modestu tidak perlu bingung karena hotel dan segala keperluannya sudah disediakan. “Semua keperluan, termasuk hotel, transportasi, sampai makanan mewah, sudah disediakan. Semua tinggal tanda tangan. Itu saja,† kata Kadi kepada The Sun.

Setelah selesai menunaikan tugasnya dan Sultan puas, Ken langsung menerima bayaran hingga ribuan poundsterling. †Pokoknya setelah selesai mencukur, Sultan memberinya amplop tebal, tentu saja isinya uang,† kata Kadi.

Wabah flu babi yang sudah menyerang Asia Tenggara membuat Sultan Bolkian lebih berhati-hati mendatangkan Modestu. Modestu pun dibelikan tiket kelas satu yang memungkinkan ia punya kabin sendiri sehingga tidak bercampur dengan penumpang lain. Untuk itu, Sultan Bolkiah dengan enteng mengeluarkan uang 11.000 poundsterling atau Rp 180 juta.

†Kalau ditotal, sultan bisa mengeluarkan uang 15.000 poundsterling (Rp 247 juta) hanya untuk sekali cukur. Padahal, di Inggris, Ken hanya mematok tarif 30 pound (sekitar Rp 490.000),† kata Kadi. sun/sas

Nah, ada yg mau memanfaatkan peluang ini?

Anjlok

Rupanya koneksi dari sini ke kampung-ugm.org sedang tidak begitu bagus sehingga wordpress tidak bisa menarik RSS dari agregator tersebut.  Bagian itu tidak terlalu menarik untuk ditulis di blog ini. Yg agak menggelitik adalah pesan kesalahan yg disampaikan oleh wordpress, yaitu seperti screen capture berikut:

anjlokEntah disengaja atau tidak oleh penterjemah, namun pesan tersebut agak ganjil terbaca bagiku. Anjlok? apakah kata tersebut sudah diserap menjadi bahasa Indonesia? :D

Matinya kebebasan beropini?

Aku agak terkejut mendengar berita adanya seseorang ibu RT yg masuk penjara karena terjerat UU ITE sehubungan dengan keluhan yg pernah dia tuliskan di sebuah milis. Bagaimana ceritanya sehingga Ibu Prita ini bisa terjerat pasal tersebut tentu bisa dibaca di berbagai ulasan yg ditulis teman-teman blogger, seperti  blognya Daus, Yuhendra, ataupun blog-nya Ndoro Kakung.

Aku bukanlah pakar hukum seperti para teman-teman tersebut di atas sehingga tak bisa mengulas panjang lebar mengapa Ibu Prita bisa ketiban sial. Namun kejadian ini membuatku berpikir bahwa kejadian ini bisa menjadi awal kematian kebebasan beropini di Indonesia.

Sebetulnya yg dilakukan oleh Ibu Prita itu sederhana saja, dia tidak puas dengan pelayanan rumah sakit Omni dan kemudian menceritakan uneq2-nya pada teman2nya (yg kebetulan adalah anggota milis).   Ndilalahe, tulisan tersebut terforward kemana-mana dan ternyata membuat pihak RS Omni tersinggung dan memperkarakan kasus tersebut sehinga Ibu Prita ditahan.

Aku tidak membaca surat Ibu Prita, namun katakanlah keluhan Ibu Prita itu sangat pedas dan tidak benar sehingga menyakitkan pihak RS Omni. Apakah pihak RS Omni layak membawa kasus ini ke meja hukum? Kok rasanya “cemen” banget sih? Apakah pihak RS tidak mampu menjawab dengan argumentasi tersebut dengan email juga sehingga ada informasi pembanding bagi pembaca? Mengapa ejekan verbal harus dibawa ke pengadilan?

Jawabannya tentu saja karena ada UU yg memungkinkan pihak RS untuk melakukan aksi ini, yaitu konon UU ITE namanya. Namun aku terus terang tidak paham apa sebetulnya esensi dari UU ITE pasal “pencemaran nama baik ini”. Dampak negatifnya sudah bisa kita lihat bahwa kebebasan berpendapat dan beropini di media elektronik jadi terpasung. Obrolan ala warung kopi tidak bisa lagi dilakukan di media elektronik karena salah-salah nanti ada pihak yg tersinggung dan membawa kasus ini ke pengadilan.

Ada usulan dari Daus untuk membuat sebuah kritikan yg sangat hati-hati sehingga tidak menyebutkan nama,tempat dan kejadian. Mungkin itu ide yg sangat bagus, tapi sangat sulit sekali untuk dilaksanakan. Saat ini-pun aku menjadi was-was, jangan2 Daus, NdoroKakung, ataupun Yuhendra tersinggung akan tulisanku ini. Jangan2 pendapatku di tulisan ini dianggap tidak menyenangkan dan patut dijerat UU ITE juga? Hiiii, ngeri banget jika itu terjadi. 

Ah sudahlah, aku tidak mau menulis panjang-panjang kali ini, takut masuk penjara. Namun masih ada sebuah pertanyaan di kepalaku,”Apa sih gunanya UU ITE tentang pencemaran nama baik” ? Apakah pasal ini tidak sebaiknya dihapuskan saja? Ada yg bisa member pencerahan?

Rasa ingin tahu

Beberapa bulan terakhir ini, aku makin jarang menulis. Tulisan-tulisanku baik di milis ataupun blog makin mandeg dan jarang diupdate. Lama aku bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi. Yg aku tahu hanyalah bahwa aku kekurangan ide, tidak tahu lagi apa yg pas dan bisa aku tulis. Cukup lama aku mentok di situ dan kehabisan akal bagaimana caranya memunculkan ide. Ada yg bilang bahwa ide itu bisa muncul di kamar mandi dan oleh karenanya bawalah Black Berry ke kamar mandi sehingga bisa menulis ketika sedang buang air besar. Ide ini selalu lupa aku coba, karena aku sangat menikmati buang hajat di kamar mandi dan juga nggak punya BlekBiri.

Belakangan ini, secara tak sengaja aku mengamati bahwa salah satu sebab aku kekurangan ide adalah karena aku juga memiliki rasa ingin tahu yg tidak terlalu besar. Aku sering memperhatikan beberapa teman yg tiba2 menanyakan sesuatu yg ternyata menarik untuk dibahas padahal tidak pernah terpikir olehku untuk mempertanyakan hal tersebut.
Katakanlah seperti misalnya pertanyaan,”bang, di Kuwait bisa lihat perempuan pakai bikini nggak?”. Aku nggak pernah terpikir untuk menanyakan demikian pada temanku yg pernah ke negara arab juga sebelumnya, namun temanku kok bisa ya terpikir demikian. Pertanyaan-pertanyaan ini jika dijawab tentu akan menambah pengetahuan si penanya yg pada suatu saat nanti mungkin bisa berguna bagi si penanya yang salah satunya adalah dengan menulis blog.

Mengapa aku bisa terpikir untuk menggugat rasa ingin tahuku yg kurang ini? Aku tergugah ketika beberapa hari yg lalu membaca tulisan Mas Rovick tentang “tersambar petir”. Topik ini sebetulnya simple sekali, yaitu rumahnya tersambar petir. Namun herannya dari topik sebegitu sederhana Mas Rovick bisa mengulas panjang lebar tentang petir dan
bahkan akhirnya bisa menampilkan foto-foto batu petir yg barangkali di miliki oleh Gundala si putra petir. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tampaknya karena rasa ingin tahu, yg membuat ingin mencari-cari, dan akhirnya kemudian dibungkus menjadi sebuah cerita yg menarik.

Hal yg sama juga terjadi pada Kibroto yg rasa ingin tahunya juga aku lihat sangat besar. Bayangkan saja, beliau bisa menghubungkan topik Investasi dan rasio jari manis vs jari telunjuk seseorang. Tidak banyak orang yg sebelumnya terpikir bahwa rasio jari bisa dihubungkan dengan investasi. Namun begitulah, topik ini sempat membuat ramai
jagad milis dan bahkan mampu memancing para penghuni kampung menampilkan foto-foto lucu, yaitu orang-orang tidak tampan yg memamerkan jari2nya. Topik ini juga mampu membuatku di rumah mainan jari sambil membandingkan jari2ku dengan jari2 istriku. Dugaanku ada juga berapa warga milis kampung yg lain yg juga mainan jari di rumah gara2 topik yg menarik ini.

Aku mencoba berkaca dan belajar dari orang-orang sukses tersebut di atas dan menyadari bahwa rasa ingin tahuku tidak begitu besar. Kecilnya rasa ingin tahu ini membuatku jarang bertanya sehinga seringkali juga kehabisan bahan kalau sedang berbincang-bincang dengan seorang teman. Rasanya akan ada banyak perubahan dalam hidupku jika
aku bisa meningkatkan rasa ingin tahu ini. Nah yg menjadi pertanyaan saya, apakah rasa ingin tahu ini bawaaan genetik? Ataukan disebabkan oleh nurture? Dan bisakah rasa ingin tahu ini ditingkatkan? Jika bisa, bagaimana caranya? Ada yg bisa memberi masukan?

Proposal Bisnis modal kecil hasil Milyaran

Anda sedang kesulitan keuangan namun ingin menjadi milyarder?
Mau memulai usaha tidak mempunyai modal yg cukup?
Pinjam ke bank nggak punya sesuatu untuk agunan?

Barangkali tawaran bisnis di bawah bisa di coba.
Modalnya hanya beberapa ratus ribu.
Untuk lengkapnya silahkan dibaca lebih lanjut.

BAGHDAD, RABU — Sepasang sepatu yang dilemparkan ke arah Presiden AS

George W Bush rupanya menjadi barang berharga. Beberapa laporan koran
lokal di Irak menyebut, mantan pelatih kesebelasan nasional Irak Adnan
Hamad menawarkan harga 100.000 dollar AS (sekitar Rp 1,1 miliar) untuk
mendapatkan sepasang sepatu itu.

Lengkapnya silahkan baca di situs kompas berikut.

Asyik khan? cuma modal beberapa ratus ribu untuk beli sepatu, bisa menghasilkan uang milyaran. Nah, ada yg ingin mencoba?

Berbagai alasan tidak nge-blog

Sudah cukup lama blog ini tidak aku update karena berbagai alasan klasik. Alasan yg paling basi tentu saja adalah nggak ada ide. Alasan ini sudah seringkali aku kemukakan, namun hingga hari ini alasan ini masih menjadi alasan yg hingga hari ini masih saja up-t0-date.

Alasan kedua adalah mood. Kadangkala ada ide telintas di kepala. Namun ketika ide itu muncul, mood tidak sedang baik, sehingga ide yang terlintas itu sulit sekali diterjemahkan menjadi sebuah tulisan. Dan karena saking sulitnya menterjemahkan ide tersebut, maka blog yg sempat dibuat draft tersebut tidak jadi diteruskan dan bahkan akhirnya didelete lagi karena ketika mood sudah ada ternyata ide itu sudah tidak dirasa menarik lagi.

Karena dua alasan saja tidak cukup, maka perlu ditambahkan satu alasan lagi mengapa aku malas ngeblog. Alasan ini juga alasan yg cukup populer digunakan oleh orang-orang yg jarang mengupdate blog-nya. Alasan tersebut adalah “sibuk”. Entah apa yg membuatku sibuk, yg jelas aku pura2 mengaku sibuk sehingga para pembaca maklum mengapa blog ini jarang di-update. 

Tiga alasan saja sudah cukup? Semoga demikian adanya.  Akupun sebetulnya agak ragu meneruskan tulisan ini dan meng-click tombol publish. Namun berhubung blog sudah lama tidak di-update, maka apa boleh buat, tulisan yg sangat tidak mutu ini akan aku publikasikan juga hari ini. Semoga malam ini bisa tidur nyenyak, karena selain aku malam ini sudah nge-blog, aku juga sudah beli heater mengingat hari makin dingin dan makin dingin saja dan malam kemarin tidak bisa tidur karena konon suhu berkisar 10 derajad celcius (atau mungkin kurang) sehingga selimut rasanya sudah tidak terlalu hangat lagi.

Sampai jumpa di tulisan basi berikutnya ya.

Tulisan kategori apa yg anda sukai?

Sehubungan dengan terintegrasinya Wodpress dengan Polldaddy sehingga memudahkan untuk membuat polling pada wordpress. Aku tertarik untuk menggunakan fitur ini sekaligus juga untuk mengetahui minat para pengunjung dan pembaca setia dobosan-dobosanku di sini.

Berikut adalah poll-nya.

Mohon diisi ya teman-teman? Matur Nuwun lho. :)

Sebuah Tulisan Sederhana

Beberapa tahun yang lalu -tepatnya di penghujung tahun 2006- aku pernah menulis sebuah tulisan yg berjudul “Ingin sukses? Ubahlah pertanyaan anda.“. Tulisan itu rasanya hanya sebuah tulisan sederhana, yg tidak pernah kukira akan banyak berguna bagi orang lain.

Hari ini, sebuah tayangan di milis psikologi tiba-tiba dikomentari oleh Cak Nur -seorang direktur pada sebuah Biro Psikologi- seperti berikut:

Mas Eko, pertanyaan mengapa ini juga dulu sering saya kemukakan. Namun
ketika saya membaca sebuah artikel, lupa artikel apa, di sana dikatakan,
jangan bertanya mengapa. Mengapa itu tidak menyelesaikan masalah. Namun
bertanyalah “bagaimana”.

Ya, akhirnya saya sadar. Ketika saya bertanya kepada anak buah saya,
“mengapa omset perusahaan menurun?” jawabanya bisa aneh-aneh. Mulai dari
yang ilmiah sampai yang klenik. :-) Misalnya ada yang bilang, ya mungkin
musimnya. Ha ha ha… musim apa? :-)

Jadi, pertanyaan mengapa ini tidak akan berguna. Selain anak buah kelihatan
bodoh karena jawabannya sering tidak masuk akal, namun pertanyaan bagaimana
itu jauh lebih baik, misalnya, “Bagaimana mengatasi agar penjualan meningkat
bulan depan?”

Sejak saat itu, saya membiasakan diri untuk tidak lagi bertanya mengapa,
tapi bagaimana…

Salam,
nur agustinus

Komentar Cak Nur tersebut mengingatkanku pada tulisan lama ini, dan sehingga aku forwardkan tulisanku ini ke milis psikologi.  Dan jawaban dari Cak Nur sungguh tidak aku duga, yaitu:

Sepertinya artikelnya Bang Al nih yang saya baca dulu hehehe :-)

Tulisan Bang Al sangat bagus, bermanfaat, mengubah cara pandang saya waktu
itu lho. Terima kasih.

Rupanya tulisan yg dirujuk Cak Nur itu memang tulisanku itu. Sungguh senang rasanya karena tulisanku yg aku pikir sederhana itu ternyata berguna bagi orang lain. 

Lesson learned, tetaplah menulis dan berbagi walaupun ide yang kita sampaikan itu mungkin hanya ide-ide sederhana. Kita tak pernah tahu bahwa ide sederhana yg kita lemparkan kadang bisa menjadi sesuatu yg brilliant di tangan orang lain.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.