SIM internasional di Kuwait

Setelah mengobok2 blog mbak Susy berikut ini, aku akhirnya memutuskan untuk mengurus SIM internasional juga berdasarkan informasi yg ada di blog-nya mbak Susy tersebut.

Walaupun informasi sudah jelas dan rinci dituliskan di sana, namun berhubung aku tidak tahu persis di mana lokasi Sultan Centre Shuwaikh, maka aku berangkat ke sana pagi ini dengan kondisi siap mental bakalan kesasar lagi seperti biasanya jika aku mencari tempat tanpa alamat yg jelas.

Langkah pertama adalah melaju melalui Road 4 ke arah Sultan Center Shuwaikh. Berhubung aku tidak tahu persis di mana lokasi tempat belanja tersebut, maka aku mengira-ira saja di mana gerangan posisinya berada. Yang aku tahu hanyalah bahwa Sultan Center akan berada di sebelah kanan jika aku sudah melewati Alghanim Safat.

Tidak ada halangan yg berarti menemukan Sultan Center Shuwaikh, walaupun aku kebablasan sampai ke ujung jalan, namun aku bisa juga mendaratkan mobilku di depan Sultan Center Shuwaikh dengan selamat. Sesampainya di sana, maka dengan penuh percaya diri aku turun dari mobil dan bertanya pada Satpam pada hyper market tersebut dengan bahasa Inggris yg ancur2an,”Excuse me. Do you know where Kuwait Auto Mobile is ?”. Tidak seperti yg aku perkirakan, ternyata si satpam tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya bisa berbahasa Arab. Dia langsung memanggil seorang kolega-nya -salah seorang pelayan toko- dan merujukku ke sana. Rupanya masalah tidak terpecahkan karena ternyata dia juga tak bisa berbahasa Inggris.

Namun satu clue yg aku dapatkan di situ bahwa mereka tidak tahu apa yg sedang aku bicarakan, bahkan mereka barangkali tidak familiar dengan nama tersebut. Oleh karenanya – daripada membuang2 waktu untuk berbicara dengan bahasa isyarat- aku memutuskan untuk mohon permisi dan mencoba berjalan mengitari tempat tersebut sambil memanjangkan leher dengan harapan bisa menemukan tempat tersebut sendiri.

Setelah beberapa kali berputar2 dan bertanya pada orang yg sialnya tidak ada yg bisa berbahasa Inggris, maka akhirnya aku menemukan juga tempat tersebut. Rupanya tempat tersebut berada sebelum Sultan Center Shuwaikh sehingga aku tidak melihatnya karena patokanku adalah Sultan Center Shuwaikh.

Setelah menemukan tempat tersebut barulah aku tersadar bahwa nama tempat tersebut adalah “Kuwait International Auto Club”. Pantesan aja nggak ada yg tahu lokasinya, wong aku salah menyebutkan namanya. Begitulah akibatnya terlalu PD bahwa ingatan tak lagi seperti dulu sewaktu masih jamannya jadi programmer yg mampu mengingat ratusan baris kode yg pernah ditulis tanpa harus scrolling.

Masih untung aku cuma nyasar sekitar lokasi saja dan tidak tiba2 mak jendul di Iraq atau Arab Saudi. :D

Berikut adalah petanya di google maps

View Larger Map

Lokasinya Road 4, persis di seberang Alghanim Safat. Jika kita mengemudi di sisi jalan yg berseberangan dengan Alghanim Safat, maka lokasi KT ada di sebelah kanan sebelum jalan ke kanan di seberang Alghanim Safat.

Proses pengurusan SIM Internasional sangat singkat dan cepat, seperti yg telah dituliskan oleh mbak Susy. Hanya dibutuhkan satu lembar foto dan SIM Kuwait maka SIM sudah bisa didapat dalam waktu 5 menit.

Moral of the story: “Jangan lupa bawa catatan walaupun yakin bahwa ingatan masih bagus.”

Surat cinta di pagi ini

Hari ini aku terbangun dari tidur pada jam yg tidak biasa. Tidak ada mimpi buruk ataupun mimpi aneh sama sekali ketika aku tertidur tadi malam. Tidak ada jari jemari, jempol, kelopak mata, ataupun berbagai anggota tubuh lainnya yg bergetar2 atau berdenyut2 yg konon katanya memberikan firasat atau apapun. Pokoknya semua berjalan seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda akan ada yg terjadi pagi ini.

Namun hari ini berubah menjadi tidak biasa ketika aku sampai di mobilku dan menemukan catatan berikut menempel di kaca spion mobilku.

Ada yg tahu apa artinya? Apakah itu surat cinta dari salah satu penggemar? atau apa ya?

Bulan Madu

Berikut adalah pembicaraanku kemarin dengan seorang client

aku: Where is Mr X?
teman: He is going for honeymoon.
aku: He’s been married for a long time, right? Is this a second honeymoon?
teman: Kuwaitis have a lot of honeymoons
aku: Ah, I didn’t know that Kuwaitis have a lot of honeymoons. Are they going for honeymoon every year?

Temanku nyengir kuda….. dan lalu dia berkata,
“actually, Kuwaitis have a lot of wifes”

Dialog yang sering berulang

“Are you philiphino?”, begitu pertanyaan pembuka yg dilontarkan oleh sang supir taksi.

“No, I’m Indonesian.”,  timpalku atas pertanyaannya

“Indonesian? I see no Indonesian man here. But lady? too much.”, sambung sang supir Taksi.

“Where are you working?”, lanjut sang supir Taksi

“Somewhere in the city.”, jawabku

“Salary, how much?”, tanya supir taksi lagi

—–

Percakapan di atas bukan sekali dua kali aku alami sejak tinggal di Kuwait ini. Entah sudah beberapa puluh kali aku mengalaminya. Wajah Indonesia yg mirip sekali Filipino ini membuatku sering dikira orang Filipina yang relatif lebih banyak dibanding orang Indonesia di sini. Namun tidak berarti mereka tak mengetahui keberadaan orang Indonesia di sini. Orang Indonesia sering juga mereka jumpai di sini, namun rata2 para TKW, sehingga mereka mengira orang Indonesia itu perempuan semua.

Selanjutnya, entah mengapa, orang-orang di sini senang sekali menggunakan “too much” ketika ingin mengatakan “sangat”. Agak menggelikan memang pada saat-saat pertama mendengar mereka mengatakan,”Kuwait is too much hot. When comes Winter, too much cold.” . Namun hari demi hari, dialog ini sudah tidak terasa lucu lagi di telinga. Hanya efek sampingnya agak kurang baik, bahasa Inggrisku jadi hancur lebur sejak tinggal di sini. Kadang2 aku juga tidak sengaja mengucapkan “too much hot” atau “too much traffic” ketika mengatakan jalanan sedang macet.

Dan satu lagi pertanyaan yg sering aku dengar dan cukup mengagetkan di sini yaitu,”salary, how much.” Di Indonesia pertanyaan seperti ini tidak begitu etis jika ditanyakan pada orang yg baru dikenal. Jangankan untuk orang yg baru dikenal, untuk orang yg sudah dikenal lama saja kadang kita sungkan menanyakannya. Namun setelah aku pikir-pikir, kebiasaan seperti ini sebetulnya ada baiknya juga. Setidaknya dengan mengetahui berapa gaji si anu dan si dia, maka mereka bisa mengetahui harga pasar sehingga bisa menentukan posisi tawar yg lebih baik. Tidak sama dengan di Indonesia, yang mana seringkali kita tidak tahu dan hanya bisa mengira-ira berapa harga yang harus kita pasang ketika ditanya dalam proses interview karena kurangnya pengetahuan akan harga pasar ini.

Ah, too much sleepy now. I need to go to bed after finishing some dynamips exercise.

Makanya, pakai GPS dong !

Sejak kepindahanku ke Apartment baru di Hawally, rute bis yg aku tumpangi setiap pagi lebih beragam karena daerah ini dilewati lebih banyak bis daripada tempat tinggal lama yg hanya dilewati jalur 38.  Keberagaman rute bis dan bekal jiwa petualang yg ada mengalir di darah petualang yg aku miliki, membuatku ingin mencoba-coba rute bus yg ada sambil menikmati pemandangan alam sekitar.

Dua hari yang lalu, tepatnya hari Minggu, sepulang dari kantor aku mencoba rute bis 999 dari Shark. Saat itu aku sebetulnya tidak begitu yakin bahwa Bis ini akan lewat di Hawally.  Aku hanya ingat samar-samar bahwa nomer ini tertera pada halte tempat aku menunggu bis ketika akan berangkat bekerja. Dengan sedikit kesadaran resiko akan nyasar, aku coba saja naik bis ini tanpa bertanya-tanya (lah tanya pakai bahasa Arab susah jhe) dan seperti biasa menikmati pemandangan jalanan.

Dalam beberapa menit perjalanan, aku mulai menyadari bahwa Bis ini agak sedikit berbelok arah dan tidak menuju ke Hawally. Namun aku tetap berbaik sangka bahwa Bis ini akan melewati Hawally dari arah lain. Oleh karenanya aku masih saja duduk manis di bis sambil melihat-lihat kiri-kanan. Tak lama kemudian, aku melihat pantai dan tiba di Salmiya. Saat ini aku mulai sedikit ragu bahwa bis ini akan sampai ke Hawally. Tapi lagi-lagi aku masih tetap duduk manis di bis karena aku tidak tahu persis di mana posisi Salmiya dan berpikir “ah, siapa tahu nanti bisa masuk ke Hawally juga”.

Perjalanan makin jauh, dan pemandangan di sekitar makin berbeda. Jika sebelumnya ada banyak apartemen dan mall di jalan-jalan yg aku lewati, maka kali ini jalan makin sepi dan makin sepi saja. Di kiri-kanan jalan mulai aku lihat pasir-pasir dan jarak antar rumah makin jarang. Aku-pun tidak melihat lagi ada banyak orang lalu lalang di pinggir jalan. Nyasar? Yup, aku saat ini sudah mulai sadar kalau bis yg aku tumpangi tidak akan pernah lewat di Hawally. Namun karena jalanan sangat sepi, maka lagi2 aku tidak turun dari bis. Kali ini aku tidak turun bukan karena berharap bis akan sampai Hawally, namun lebih karena takut nggak ketemu bis arah kembali pulang. Mengingat jalan yg begitu sepi, aku pikir lebih baik ikut di bis dan menikmati pemandangan daripada bengong sendirian di pinggir jalan. Masih untung jika disamperin tante-tante seperti yg biasa berkeliaran di daerah Blok-M. Kalau di padang pasir ini paling-paling yg berkeliaran ya Jin Gundul dan Jin Gondrong.

Rupanya rute bis ini sangat panjang. Aku yg biasanya hanya beberapa menit di bis dan sampai tujuan, kali ini sampai satu jam belum juga sampai di tempat ramai. Dan setelah satu jam lebih, barulah aku sampai di sebuah tempat yg aku duga bernama Fahaheel. Saat itu aku sudah membayangkan bahwa bis itu akan berjalan demikian jauh sehingga aku tiba2 melihat Ka’bah dan sampai di Arab Saudi (eh, mungkin nggak sih?). Untunglah tidak demikian, karena ternyata Arab Saudi tidak sedekat yg aku kira.

Sesampai di Fahaheel, aku mengambil bis dengan rute yg sama dan kembali pulang. Lagi2 aku menghabiskan waktu 1 jam lebih di perjalanan sehingga sampai lagi di Shark. Saat itu aku sudah terpikir apa komentar Andra jika aku ceritakan kisah ini. Dia pasti akan bilang,”Makanya, beli HP yg pakai GPS”.

Esok harinya, setiba di kantor, kisah ini menjadi perwarna hari itu. Dan betul dugaanku, Komentar Andra yg baru saja punya HP merek HTC ini tidak jauh dari yg aku duga sebelumnya. Aku pikir dia ada benarnya juga, kenapa pakai HP yg nggak ada GPS? :D

Taksi

Lain bis, lain pula dengan taksi.  Di Jakarta ada begitu banyak taksi. Ada yang kelas mewah dengan harga mahal denga layanan limo, ada yg kelas menengah dengan servise nama baik, ada yg tarif lama dengan taksi yang bagus dan nyaman, dan ada juga beberapa taksi bobrok yg nggak jelas apakah bisa sampai tujuan atau nggak. Karena begitu banyak pilihan taksi yg ada, penumpang taksi di Jakarta adalah raja, bisa memilih taksi mana saja yg sesuai dengan kebutuhan.

Di kuwait, taksi nggak sebanyak di Jakarta. Walaupun tidak sulit mencari taksi, namun di sini tidak ada taksi yg mau jalan dengan argo.  Kalau mau naik taksi harus tawar-menawar, mirip seperti Jakarta puluhan tahun yg lalu sewaktu hanya ada presiden taksi yg menguasai Jakarta.  Di jakarta sekarang, tentu saja masih ada taksi jelek yg pakai tawar menawar.  Namun kalau nggak suka tawar-menawar, bisa naik taksi yg pakai argo yg ada bejibun di Jakarta. Dan anehnya, di sini walaupun sudah tawar-menawar, taksi tetap jalan pakai argo. Jadi makin mangkel lihat argo-nya karena argo selalu lebih kecil dari hasil tawar-menawar deh. Makanya aku sampai sekarang malas naik taksi sendiri. Wong bahasa Arab aja belom bisa, gimana mau tawar-menawar? :D

Yg unik lagi di sini, taksi yg sudah kita tumpangi bisa tiba2 ditambahi penumpang lain di jalan seperti pengalaman Andra yg ditulisnya di sini. Beberapa hari yg lalu, sempat juga mengalami pengalaman yg mirip ketika pulang bareng Didats naik taksi. Tiba2 di jalan ada orang Indiahe ikut2an. Anehnya, dia yg nebeng belakangan, tapi maunya dianter duluan. Dan karena supirnya nggak mau anterin dia duluan, dia turun lagi deh. Aku yg nggak ngerti bahasa arab cuma bengong aja. Bayangkan jika yg masuk dan ikutan numpang itu homo, apa ndak ngeri?

Hmm, kapan ya taksi di sini bisa pakai argo dan banyak pilihan seperti di Jakarta?

Update:

Walaupun taksi di sini tawar menawar, namun setelah aku perhatikan, tawarannya ya cuma berkisar dari 1 hingga 1.5 KD. Jadi nggak butuh ilmu tawar-menawar yg ampuh. Cukup hapalkan saja: Dinar, Dinar ruba atau Dinar Nus.

Bis 38

Ketika dulu di jakarta, aku beberapa kali menulis review tentang pengalamanku numpak Bus Way.  Sekarang setelah beberapa minggu di Kuwait, rasanya ada bagusnya kalau aku review juga pengalaman numpak Bis 38 yang setiap hari aku tumpangi dalam perjalanan dari rumah menuju kantor.

Bis 38 ini adalah satu-satunya bis yang rute-nya melewati daerah tempat kos-ku di sini dan kantor. Ukuran bis-nya ukuran sedang, sedikit lebih besar dari metro mini, namun lebih kecil dari patas AC di jakarta. Kondisi fisik bis-nya biasa-biasa aja, nggak jelek kayak metro mini dan juga nggak bagus kayak bus way. Di dalamnya cukup nyaman, karena AC-nya selalu dingin dan penumpangnya ngga pernah berjubel seperti bis-bis di Jakarta.

Perilaku bis agak beda dengan di Jakarta. Walaupun tidak memiliki jalur khusus seperti Bus Way, namun bis tidak pernah nge-tem (note: bis berhenti menunggu penumpang sementara supirnya pipis di pintu bis) . Bis secara teori hanya berhenti di halte, walaupun pada kenyataannya satu dua orang nyetop di jalan bis juga berhenti. Dan bis juga tidak selalu berhenti di halte jika nggak ada penumpang yg turun, jadi kalau kita bengong maka ada kemungkinan akan ketinggalan bis.

Di dalam bis, jarang diiringi musik seperti bis antar kota di Indonesia. Namun radio-nya sepertinya dinyalakan, karena terdengar ceramah agama di dalam bis. Terakhir sewaktu naik bis di jakarta (Patas AC, dan bukan bus way) juga pernah dapat ceramah agama di dalam bis. Cuma kalau di Jakarta yg ceramah itu setelah selesai ceramah akan mengeluarkan kotak kecil dan berkeliling menunggu sedekah dari penumpang. Di sini ceramahnya dari radio, jadi nggak ada yg bertugas bekeliling minta recehan.

Penumpang perempuan di sini enak-enak, karena mereka selalu dapat duduk. Barisan bangku paling depan untuk perempuan. Jika bangku2 depan sudah terisi semua, namun masih ada perempuan yg naik, maka yg laki2 harus dengan sadar diri berdiri dan menyerahkan bangku itu pada penumpang perempuan. Agak beda dengan di Jakarta yg mana penumpang masih boleh pura2 tidur bahkan ketika ada perempuan hamil yg sedang berdiri sekalipun.  Makanya kalau naik bis aku memilih duduk di barisan belakang, daripada nanti berdiri kalau ada perempuan. :D

Begitulah pengalaman naik bis 38. So far belum ada complain, karena jarak tempuh yg relatif dekat maka jarak perjalanan juga nggak lama, dan bisa santai2 berangkat dari rumah.

Panasnya kayak di arab

Sewaktu masih di Jakarta dulu, saat suhu Jakarta sedang panas entah karena AC sedang mati atau karena hari itu sedang naik metro mini sehingga badan terasa lengket dan bersimbah peluh, aku dan teman-teman kadang bercanda dan berkata,”Panas banget nih, kayak di Arab aja.”. Yang ada di bayangan kami pada saat itu adalah bahaw Arab itu panas, dan suasana seperti itulah yg terbayang di kepalaku.

Sekarang aku betul-betul di Arab, pada saat-saat mendekati puncak musim panas, yang rupanya memang panas di sini. Hanya saja, panasnya ternyata tidak sama dengan panas yg dirasakan ketika ada di metro mini atau sedang berjemur di lapangan di tengah teriknya matahari Jakarta. Matahari di sini rasanya tidak terlalu panas, dan badan juga hampir tidak berkeringat walaupun panas. Berbeda dengan Jakarta, udara di sinilah yg rasanya panas. Jika di Jakarta rasanya sejuk ketika terkena tiupan angin, maka di sini angin itu rasanya panas. Ketika berteduh di bawah pohon yg rasanya sejuk ketika cuaca berangin di Jakarta, maka di sini berteduh di bawah pohon sama saja panasnya jika angin sedang bertiup. Rasanya seperti berada di belakang kulkas, yg mana dari situ biasanya berhembus angin panas.

Yg membuat sensor tubuhku makin eror adalah ketika aku keluar di malam hari. Pada awalnya aku merasa aneh, seperti ada yg tidak cocok dan tidak tahu sebabnya kenapa. Aku saat itu ada di ruang terbuka pada jam 7 malam lebih. Aku melihat bahwa hari sudah gelap pada jam segitu. Namun perasaanku merasa hari itu masih siang. Setelah beberapa lama aku baru sadar bahwa aku merasa masih siang karena udara yg berhembus masih panas seperti hembusan angin belakang kulkas. Tidak heran mengapa aku menjadi linglung, karena mata mengatakan saat itu hari sudah malam sementara kulit mengatakan hari masih siang.

Hembusan angin panas ini juga mengingatkanku pada sebuah metode perawatan wajah di tempat terkenal Jakarta yang melakukan penyinaran pada wajah untuk menghilangkan jerawat. Konon jerawat-jerawat tersebut kemudian mati dan mengering karena panas yang dipancarkan ke wajah selama waktu treatment tersebut. Mungkin itu sebabnya kali ya mengapa nggak banyak orang jerawatan di sini. Entah karena aku kebetulan aja belum ketemu, atau mungkin ada hubungannya dengan udara panas yg ada di sini.

Mau coba perawatan wajah gratis? Coba aja ke Arab deh.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.