Namaku Bank Al

Catatan perjalanan penggemar strategi laut biru

Arsip untuk 'life-style' Kategori


Taksi

Ditulis oleh bank_al di/pada Juni 22, 2008

Lain bis, lain pula dengan taksi.  Di Jakarta ada begitu banyak taksi. Ada yang kelas mewah dengan harga mahal denga layanan limo, ada yg kelas menengah dengan servise nama baik, ada yg tarif lama dengan taksi yang bagus dan nyaman, dan ada juga beberapa taksi bobrok yg nggak jelas apakah bisa sampai tujuan atau nggak. Karena begitu banyak pilihan taksi yg ada, penumpang taksi di Jakarta adalah raja, bisa memilih taksi mana saja yg sesuai dengan kebutuhan.

Di kuwait, taksi nggak sebanyak di Jakarta. Walaupun tidak sulit mencari taksi, namun di sini tidak ada taksi yg mau jalan dengan argo.  Kalau mau naik taksi harus tawar-menawar, mirip seperti Jakarta puluhan tahun yg lalu sewaktu hanya ada presiden taksi yg menguasai Jakarta.  Di jakarta sekarang, tentu saja masih ada taksi jelek yg pakai tawar menawar.  Namun kalau nggak suka tawar-menawar, bisa naik taksi yg pakai argo yg ada bejibun di Jakarta. Dan anehnya, di sini walaupun sudah tawar-menawar, taksi tetap jalan pakai argo. Jadi makin mangkel lihat argo-nya karena argo selalu lebih kecil dari hasil tawar-menawar deh. Makanya aku sampai sekarang malas naik taksi sendiri. Wong bahasa Arab aja belom bisa, gimana mau tawar-menawar? :D

Yg unik lagi di sini, taksi yg sudah kita tumpangi bisa tiba2 ditambahi penumpang lain di jalan seperti pengalaman Andra yg ditulisnya di sini. Beberapa hari yg lalu, sempat juga mengalami pengalaman yg mirip ketika pulang bareng Didats naik taksi. Tiba2 di jalan ada orang Indiahe ikut2an. Anehnya, dia yg nebeng belakangan, tapi maunya dianter duluan. Dan karena supirnya nggak mau anterin dia duluan, dia turun lagi deh. Aku yg nggak ngerti bahasa arab cuma bengong aja. Bayangkan jika yg masuk dan ikutan numpang itu homo, apa ndak ngeri?

Hmm, kapan ya taksi di sini bisa pakai argo dan banyak pilihan seperti di Jakarta?

Ditulis dalam Kuwait, life-style | 3 Komentar »

Bis 38

Ditulis oleh bank_al di/pada Juni 21, 2008

Ketika dulu di jakarta, aku beberapa kali menulis review tentang pengalamanku numpak Bus Way.  Sekarang setelah beberapa minggu di Kuwait, rasanya ada bagusnya kalau aku review juga pengalaman numpak Bis 38 yang setiap hari aku tumpangi dalam perjalanan dari rumah menuju kantor.

Bis 38 ini adalah satu-satunya bis yang rute-nya melewati daerah tempat kos-ku di sini dan kantor. Ukuran bis-nya ukuran sedang, sedikit lebih besar dari metro mini, namun lebih kecil dari patas AC di jakarta. Kondisi fisik bis-nya biasa-biasa aja, nggak jelek kayak metro mini dan juga nggak bagus kayak bus way. Di dalamnya cukup nyaman, karena AC-nya selalu dingin dan penumpangnya ngga pernah berjubel seperti bis-bis di Jakarta.

Perilaku bis agak beda dengan di Jakarta. Walaupun tidak memiliki jalur khusus seperti Bus Way, namun bis tidak pernah nge-tem (note: bis berhenti menunggu penumpang sementara supirnya pipis di pintu bis) . Bis secara teori hanya berhenti di halte, walaupun pada kenyataannya satu dua orang nyetop di jalan bis juga berhenti. Dan bis juga tidak selalu berhenti di halte jika nggak ada penumpang yg turun, jadi kalau kita bengong maka ada kemungkinan akan ketinggalan bis.

Di dalam bis, jarang diiringi musik seperti bis antar kota di Indonesia. Namun radio-nya sepertinya dinyalakan, karena terdengar ceramah agama di dalam bis. Terakhir sewaktu naik bis di jakarta (Patas AC, dan bukan bus way) juga pernah dapat ceramah agama di dalam bis. Cuma kalau di Jakarta yg ceramah itu setelah selesai ceramah akan mengeluarkan kotak kecil dan berkeliling menunggu sedekah dari penumpang. Di sini ceramahnya dari radio, jadi nggak ada yg bertugas bekeliling minta recehan.

Penumpang perempuan di sini enak-enak, karena mereka selalu dapat duduk. Barisan bangku paling depan untuk perempuan. Jika bangku2 depan sudah terisi semua, namun masih ada perempuan yg naik, maka yg laki2 harus dengan sadar diri berdiri dan menyerahkan bangku itu pada penumpang perempuan. Agak beda dengan di Jakarta yg mana penumpang masih boleh pura2 tidur bahkan ketika ada perempuan hamil yg sedang berdiri sekalipun.  Makanya kalau naik bis aku memilih duduk di barisan belakang, daripada nanti berdiri kalau ada perempuan. :D

Begitulah pengalaman naik bis 38. So far belum ada complain, karena jarak tempuh yg relatif dekat maka jarak perjalanan juga nggak lama, dan bisa santai2 berangkat dari rumah.

Ditulis dalam Kuwait | 7 Komentar »

Lyrics Plugin

Ditulis oleh bank_al di/pada Juni 17, 2008

Sewaktu jaman masih ABG dulu, begitu banyak sekali lagu yg kuhapal hanya dengan beberapa kali mendengarkannya saja baik lewat radio, kaset ataupun televisi. Sekarang, di masa ABG sudah lewat (walaupun kelakuan kadang masih kayak ABG juga), ditambah dengan bertumbuhnya hal-hal yang harus dihapal, maka aku mengalami masalah dalam manajemen memory sehingga lebih mudah mengingat beberapa command line dibandingkan dengan mengingat lirik-lirik lagu.

Untunglah di jaman sekarang ini ada begitu banyak utiliti yang bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan kecil seperti misalnya bisa ikut2an bernyanyi sambil mendengarkan sebuah lagu. Lyrics Plugin adalah salah satu plugin (aku belum memeriksa apakah ada juga yg lain) yg bisa menampilkan lirik dari sebuah lagu yang kita putar pada media player ataupun winamp. Sebagai penyanyi karaoke amatiran yg memiliki fans tersendiri, plugin ini sangat berguna bagiku karena bisa membantuku memudahkan untuk mengasah kemampuan bernyanyi karena didukung dengan adanya text. Plugin ini melakukan pencarian ke Internet ketika media sedang diputar dan hasilnya ditampilkan pada media player ataupun winamp.

Anda juga penyanyi amatiran seperti saya? Mungkin plugin ini layak dicoba jika anda memiliki kebutuhan seperti saya.

Ditulis dalam life-style | 2 Komentar »

Panasnya kayak di arab

Ditulis oleh bank_al di/pada Juni 9, 2008

Sewaktu masih di Jakarta dulu, saat suhu Jakarta sedang panas entah karena AC sedang mati atau karena hari itu sedang naik metro mini sehingga badan terasa lengket dan bersimbah peluh, aku dan teman-teman kadang bercanda dan berkata,”Panas banget nih, kayak di Arab aja.”. Yang ada di bayangan kami pada saat itu adalah bahaw Arab itu panas, dan suasana seperti itulah yg terbayang di kepalaku.

Sekarang aku betul-betul di Arab, pada saat-saat mendekati puncak musim panas, yang rupanya memang panas di sini. Hanya saja, panasnya ternyata tidak sama dengan panas yg dirasakan ketika ada di metro mini atau sedang berjemur di lapangan di tengah teriknya matahari Jakarta. Matahari di sini rasanya tidak terlalu panas, dan badan juga hampir tidak berkeringat walaupun panas. Berbeda dengan Jakarta, udara di sinilah yg rasanya panas. Jika di Jakarta rasanya sejuk ketika terkena tiupan angin, maka di sini angin itu rasanya panas. Ketika berteduh di bawah pohon yg rasanya sejuk ketika cuaca berangin di Jakarta, maka di sini berteduh di bawah pohon sama saja panasnya jika angin sedang bertiup. Rasanya seperti berada di belakang kulkas, yg mana dari situ biasanya berhembus angin panas.

Yg membuat sensor tubuhku makin eror adalah ketika aku keluar di malam hari. Pada awalnya aku merasa aneh, seperti ada yg tidak cocok dan tidak tahu sebabnya kenapa. Aku saat itu ada di ruang terbuka pada jam 7 malam lebih. Aku melihat bahwa hari sudah gelap pada jam segitu. Namun perasaanku merasa hari itu masih siang. Setelah beberapa lama aku baru sadar bahwa aku merasa masih siang karena udara yg berhembus masih panas seperti hembusan angin belakang kulkas. Tidak heran mengapa aku menjadi linglung, karena mata mengatakan saat itu hari sudah malam sementara kulit mengatakan hari masih siang.

Hembusan angin panas ini juga mengingatkanku pada sebuah metode perawatan wajah di tempat terkenal Jakarta yang melakukan penyinaran pada wajah untuk menghilangkan jerawat. Konon jerawat-jerawat tersebut kemudian mati dan mengering karena panas yang dipancarkan ke wajah selama waktu treatment tersebut. Mungkin itu sebabnya kali ya mengapa nggak banyak orang jerawatan di sini. Entah karena aku kebetulan aja belum ketemu, atau mungkin ada hubungannya dengan udara panas yg ada di sini.

Mau coba perawatan wajah gratis? Coba aja ke Arab deh.

Ditulis dalam Kuwait | 4 Komentar »

We Shape our Environment and then our environments shape us

Ditulis oleh bank_al di/pada April 7, 2008

Akhir-akhir ini aku merasakan bahwa badan-ku tidak lagi se-fit dulu. Kondisi ini mungkin karena dipicu oleh gaya hidup orang kantoran yg terlalu lama berada di ruangan ber-AC sehingga jarang sekali terkena langsung sinar matahari dan juga jarang bergerak karena di kantor lebih banyak duduk daripada lari-lari (lah iya lah, memangnya di lapangan basket?). Walaupun aku belum masuk dalam kategori sakit, namun rasanya tidak nyaman dan ada sesuatu yg kurang.

Minggu kemarin aku bangun lebih pagi daripada biasa. Dan teringat pada taman yg sudah agak lama tidak dirawat. Akhirnya aku putuskan untuk mengambil gunting, pupuk dan mulai berkebun lagi. Walaupun gerakan berkebun ini tampak santai saja, namun ternyata mampu mengundang keringat juga. Apalagi ditambah dengan belaian sinar matahari pagi yang membuatku merasa seperti sedang berjemur di pantai.

Selesai berkebun, badan terasa lebih enteng dan nyaman. Padahal aku tidak menghabiskan waktu terlalu lama untuk berkebun. Aku jadi terpikir bahwa ini barangkali yang membuat orang-orang ABG (angkatan bapak-e bapak gue) relatif lebih sehat daripada orang-orang di generasi saya. Pada saat itu jarang sekali ada kerja kantoran dan pagi2 orang pergi berladang atau berkebun. Tubuh mereka lebih sering terkena sinar matahari (tanpa harus disengajakan pergi berjemur di pantai) dan anggota tubuh lebih sering dioperasikan (tanpa harus dijadwalkan pergi ke fitness centre). Walhasil mereka relatif lebih fit, sehat dan panjang umur.

Aku jadi tersenyum sendiri. Di jaman dulu orang berolah raga dan berjemur itu terjadi secara otomatis (tanpa dijadwalkan karena memang aktifitas sehari2 adalah demikian). Saat sekarang, yang mana duduk di belakang meja terkesan lebih trendy, justru membuat kita harus membuat jadwal khusus untuk berolahraga dan berjemur agar badan sehat.

Ah, jadi teringat kalimat terkenal yg pernah disampaikan oleh Winston Churchill , “We shape our environments, then our environments shape us.”. Mungkin yg dimaksudkan Winston tidak persis sama dengan cerita ini, namun aku kok merasa cocok ya? Bagaimana pendapat anda?

Ditulis dalam life-style | 7 Komentar »

Pornografi dan Proyek

Ditulis oleh bank_al di/pada Maret 26, 2008

Beberapa saat yang lalu aku sempat mendapatkan kiriman tulisan dari seorang teman di mailinglist kampung-ugm tentang Maria Ozawa aka Miyabi yang ternyata mendapat begitu banyak penggemar dengan berdasarkan statistik data pencarian di google. Tak lama setelah itu, cerita ini bersambung dengan perbandingan yang tidak mutu yaitu membandingkan score Maria Ozawa dibandingkan dengan SBY.

Ketika itu aku mulai mencium bahwa akan segera ada tanggapan dari pemerintah berupa kebijakan atau apapun sehubungan dengan kasus Maria Ozawa ini. Rupanya dugaanku ini nggak meleset, bebearpa hari kemudian terdengar kabar di radio bahwa pemerintah akan membuat kebijakan untuk menutup akses ke situs-situs pornografi. Seorang teman berkelakar bahwa kebijakan ini muncul karena SBY tersinggung karena dirinya kalah populer dibandingkan dengan Maria Ozawa. Apa betul begitu? Entahlah, yg aku tangkap ribut-ribut pornografi ini semata hanyalah karena kepintaran orang-orang Indonesia mencari proyek dengan memanfaatkan lembaga-lembaga pemerintah yg reaktif.

Mengapa aku katakan bahwa ribut-ribut pornografi ini hanya semata proyek? Simple saja karena solusi yang ditawarkan pemerintah ini sama sekali tidak efektif. Yang akan ditutup itu hanyalah akses ke situs pornografi melalui browser. Padahal lubang masuknya konten-konten pornografi banyak sekali seperti FTP, P2P dan bahkan yg paling simple dan populer adalah e-mail. Coba saja ingat-ingat lagi darimana anda mendapatkan video mesum anggota DPR dan penyanyi dangdut? Situs-situs di Internet atau e-mail? Bagaimana dengan Foto-foto bugil artis telanjang? Dari search engine atau forward kiriman dari seorang teman?

Nah sekarang, apakah yg akan dilakukan oleh pemerintah untuk menutup masuknya pornografi melalui e-mail? Saya kok nggak melihat celah-celah lain masuknya pornografi ini juga ditutup oleh pemerintah. Dengan kata lain, proyek yg seolah-olah mulia bertujuan menutup akses pornografi di Internet ini hanyalah sebuah usaha menutup sebuah lubang kecil pada sebuah kaleng bocor yang memiliki ribuan lubang. Hasilnya kaleng tetap bocor, dan air tetap saja mengalir.

Lantas,  jika usaha ini hanya usaha yg sia-sia, mengapa Indonesia harus mengeluarkan uang rakyat lagi untuk proyek percuma ini? Mengapa tidak disalurkan saja pada usaha-usaha positif lain yg bisa menyalurkan minat-minat generasi muda bangsa ini sehingga tidak sempat lagi browsing Internet dan ngublek-ublek materi pornografi? Pertanyaan yg sulit aku jawab, dan semoga pemerintah juga terpikir untuk mencari jawaban atas pertanyaan ini.

Ditulis dalam life-style, teknologi | 3 Komentar »