Made in Indonesia

Minggu yang lalu, Dindaku lagi lihat2 perabotan rumah tangga di salah satu mall di Dubai. Tiba2 dia tertarik pada sebuah cangkir indah bercorak batik. Cantik sekali cangkir itu dan dibelinya. Setelah sampai di rumah, maka kami tergelak, pantas saja ada cangkir corak batik. Karena ternyata cangkir itu made in Indonesia.

Tak selang berapa lama sesudah itu, kami sekeluarga jalan bareng ke mall dengan temanku sekeluarga juga. Saat itu temanku mau cari sepatu untuk marathon. Sambil lihat2, ketemu sepatu Nike. Pas lihat kotaknya, ternyata juga “made in Indonesia”.

Sebelum pulang kami juga mampir ke toko kamera. Ada sebuah kamera digital yg menarik perhatian kami. Kamera yg dirancang untuk konstruksi, sehingga lebih tahan banting. Eh begitu lihat bungkusnya, ternyata juga “made in Indonesia”

Dulu waktu masih tinggal di Indonesia, susah sekali melihat ada barang “made in Indonesia”. Bahkan Nike yg ada di Indonesia aja tidak bertuliskan “made in Indonesia”. Anehnya setelah tidak tinggal di Indonesia, malah sering melihat barang2 berkualitas bagus bertuliskan “made in Indonesia”.

Kenapa ya? Apakah karena orang Indonesia tidak suka beli produk buatan negaranya sendiri? Jangan2 Nike “made in Indonesia” yg sudah diexport itu kemudian diimport lagi ke Indonesia setelah labelnya di ganti menjadi “made in negara lain” ya?

Selamat datang, musim dingin !

Musim dingin telah datang. Suhu udara di pagi hari sudah mendekati 20 derajad celcius. Bagi kami yg tinggal di Dubai, musim ini adalah musim yang sangat kami nanti-nantikan untuk melakukan berbagai aktivitas outdoor seperti main di taman, pantai, BBQ dan tentu saja desert offroard.

Sabtu kemarin, kami sudah mulai kembali aktivitas main pasir untuk musim ini. Sebetulnya tim inti sedang sibuk beberapa minggu belakangan ini. Sulit sekali menemukan waktu untuk bisa bersama-sama di Dubai karena banyak yang mendapat tugas di lain negara. Sabtu kemarin sebetulnya juga bukan waktu yg ideal. Seorang teman baru saja kembali dari Indonesia. Seorang teman lagi -yg kebetulan seorang pilot- juga kebetulan sedang kena jadwal stand-by dan harus terbang pada malam harinya, sementara yang lainnya juga akan berangkat malam harinya.
Walaupun tak ideal, kami tetap memutuskan untuk main pasir kemarin karena minggu depan tampaknya sebagian besar dari kami tidak di Dubai dan entah kapan lagi akan bisa bertemu.

Dulu, sebelum pindah ke Dubai, aku heran melihat seorang teman SMA-ku yg begitu tergila-gila dengan desert offroad. Tiap minggu dia pergi bermain pasir. Waktu aku tanya dia apa yg membuatnya tertarik dia hanya menjawab bahwa dia hanya ingin bisa berkata “been there done that” yang dalam bahasa sederhananya ingin menambah pengalaman.Setelah aku mencobanya, ternyata aku jatuh cinta pada kegiatan ini. Beberapa lama tak menyentuh pasir, rasanya hidup tak lengkap. Kadang aku sengaja parkir di pasir hanya demi menikmati sedikit tergelincir di pasir pada saat memarkirkan kendaraanku.

Namun jika aku ditanya apa yg membuatku tergila2 pada bukit-bukit, jawabanku tak sama dengan jawaban teman SMA-ku. Aku tak hanya sekedar ingin mencicipi main pasir karena kebetulan di Arab, melainkan kegiatan ini adalah salah satu kegiatan yang multi-aspek yang meliputi:
– keterampilan fisik
– keahlian troubleshooting
– komunikasi dan kerja tim
– ajang silaturahmi
– sarana bermain bersama keluarga

Alasan yg terakhir ini yang menurutku istimewa. Tak banyak kegiatan bapak-bapak yg juga disukai oleh anggota keluarga yg lain. Anak2ku bahkan rela dibangunkan jam 4 pagi demi pergi ke pasir saking senangnya diajak main pasir oleh ayahnya.

Selamat datang musim dingin !

note:
Foto ini diambil akhir tahun lalu, di rute 18 – Madam-to-Mahdah.
Image

Sudah pakai GPS kok

Saat aku kecil dulu, aku senang sekali bersepeda keluar masuk kampung. Aku menikmati saat melihat pemandangan baru, jalan-jalan yang tak pernah aku lewati, serta berbahagia ketika bisa menemukan sebuah jalan tembus atau jalan alternatif dari jalan yang biasa dilewati umum.

Ketika usia beranjak dewasa, kebiasaan main sepeda sudah tidak dilakukan. Jarak keliling kampung sudah tak menarik lagi, aku lebih tertarik untuk melakukan perjalanan antar kota atau mblasak-mblusuk di dalam kota mencari jalan baru sehingga membutuhkan kendaraan bermotor.

Kesenangan ini tidak hilang dan masih ada hingga saat ini. Oleh karenanya, setiap berada di tempat baru, aku biasanya menyempatkan diri untuk berkeliling entah naik bis, jalan kaki ataupun mengendara mobil. Untung saja aku sempat mengurus SIM internasional sebelum meninggalkan Kuwait beberapa bulan yang lalu, sehingga aku bisa memanfaatkan ijin mengemudi tersebut ketika ada kesempatan training pada bulan mei-juni lalu di lembah silikon.

Ada yang berbeda ketika mengendara di US dibandingkan dengan Kuwait atau Indonesia. Rambu-rambu lalu lintas agak berbeda dan tidak pernah aku lihat sebelumnya di Indonesia seperti jalur khusus sepeda, jalur khusus untuk kendaraan dengan penumpang minimun dua orang, dan warna tepi pembatas jalan yang menandakan berapa lama boleh parkir di pinggir jalan tersebut. Selain rambu, cara berkendaraan di sana juga agak berbeda. Salah satunya adalah tanda “stop” yg mana artinya harus benar-benar stop jika tak mau ditangkap polisi. Berbeda dengan di Indonesia atau Kuwait, para umumnya orang tidak benar2 berhenti pada tanda tersebut apalagi jika jalan di depannya kosong. Kepatuhan pengemudi pada tanda “stop” ini membuat lebih rileks ketika jalanan agak padat di persimpangan karena semua orang secara otomatis bergantian melewati persimpangan.

Masih ada satu lagi pengalaman yang berbeda ketika aku mengendara di Amriki yaitu pada saat itu adalah saat pertama kali aku mengendara menggunakan GPS. Sebagai anak ndeso dan kampungan -walaupun aku tahu apa itu GPS dan bagaimana cara kerjanya- namun aku belum pernah menggunakan alat tersebut sebelumnya untuk mengemudi. Rupanya teori tak sama dengan praktek. Aku pikir menggunakan GPS akan mempermudah perjalanan menuju tujuan. Walhasil yang terjadi tidak demikian. Aku malah mblasak-mblusuk selama satu jam di sekitar Santa Clara menyadari aku berada di tempat yang salah ketika tiba2 GPS berkata,”you reached the destination”.

Kenapa bisa mblasak-mblusuk sekian lama dan malah sampai di tempat yang salah? Yang pertama adalah karena aku selalu terlambat berbelok ketika seharusnya sudah berbelok. Aku mengira masih harus menunggu di belokan yg di depan, eh ternyata ketika belokan tersebut aku lewati kok si GPS protes dan berkata,”Calculating Route”. Sialnya, rute baru yg dilewati berputar-putar sehingga aku makin kehilangan orientasi aku ada di mana. Begitulah yang terjadi sehingga aku menghabiskan waktu satu jam lebih berputar2 di Santa Clara karena selalu luput ketika harus berbelok.

Lalu kok bisa sampai di tempat yang salah? Ini bukan disebabkan karena gagap teknologi melainkan karena gagap lokasi. Aku tak mengira ada dua tempat yang namanya hampir mirip, yaitu Monterey road dan Monterey highway. Ketika tidak melihat opsi yang highway ketika memilih yg road. Dan walhasil aku terpaksa harus termangu2 di tengah kota yang jauh dari tempat yang semestinya ingin aku tuju.

Huh, ternyata sudah pakai GPS masih juga nyasar. Dasar wong ndeso !!!

Tulisan terkait:

SIM internasional di Kuwait

Setelah mengobok2 blog mbak Susy berikut ini, aku akhirnya memutuskan untuk mengurus SIM internasional juga berdasarkan informasi yg ada di blog-nya mbak Susy tersebut.

Walaupun informasi sudah jelas dan rinci dituliskan di sana, namun berhubung aku tidak tahu persis di mana lokasi Sultan Centre Shuwaikh, maka aku berangkat ke sana pagi ini dengan kondisi siap mental bakalan kesasar lagi seperti biasanya jika aku mencari tempat tanpa alamat yg jelas.

Langkah pertama adalah melaju melalui Road 4 ke arah Sultan Center Shuwaikh. Berhubung aku tidak tahu persis di mana lokasi tempat belanja tersebut, maka aku mengira-ira saja di mana gerangan posisinya berada. Yang aku tahu hanyalah bahwa Sultan Center akan berada di sebelah kanan jika aku sudah melewati Alghanim Safat.

Tidak ada halangan yg berarti menemukan Sultan Center Shuwaikh, walaupun aku kebablasan sampai ke ujung jalan, namun aku bisa juga mendaratkan mobilku di depan Sultan Center Shuwaikh dengan selamat. Sesampainya di sana, maka dengan penuh percaya diri aku turun dari mobil dan bertanya pada Satpam pada hyper market tersebut dengan bahasa Inggris yg ancur2an,”Excuse me. Do you know where Kuwait Auto Mobile is ?”. Tidak seperti yg aku perkirakan, ternyata si satpam tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya bisa berbahasa Arab. Dia langsung memanggil seorang kolega-nya -salah seorang pelayan toko- dan merujukku ke sana. Rupanya masalah tidak terpecahkan karena ternyata dia juga tak bisa berbahasa Inggris.

Namun satu clue yg aku dapatkan di situ bahwa mereka tidak tahu apa yg sedang aku bicarakan, bahkan mereka barangkali tidak familiar dengan nama tersebut. Oleh karenanya – daripada membuang2 waktu untuk berbicara dengan bahasa isyarat- aku memutuskan untuk mohon permisi dan mencoba berjalan mengitari tempat tersebut sambil memanjangkan leher dengan harapan bisa menemukan tempat tersebut sendiri.

Setelah beberapa kali berputar2 dan bertanya pada orang yg sialnya tidak ada yg bisa berbahasa Inggris, maka akhirnya aku menemukan juga tempat tersebut. Rupanya tempat tersebut berada sebelum Sultan Center Shuwaikh sehingga aku tidak melihatnya karena patokanku adalah Sultan Center Shuwaikh.

Setelah menemukan tempat tersebut barulah aku tersadar bahwa nama tempat tersebut adalah “Kuwait International Auto Club”. Pantesan aja nggak ada yg tahu lokasinya, wong aku salah menyebutkan namanya. Begitulah akibatnya terlalu PD bahwa ingatan tak lagi seperti dulu sewaktu masih jamannya jadi programmer yg mampu mengingat ratusan baris kode yg pernah ditulis tanpa harus scrolling.

Masih untung aku cuma nyasar sekitar lokasi saja dan tidak tiba2 mak jendul di Iraq atau Arab Saudi. :D

Berikut adalah petanya di google maps

View Larger Map

Lokasinya Road 4, persis di seberang Alghanim Safat. Jika kita mengemudi di sisi jalan yg berseberangan dengan Alghanim Safat, maka lokasi KT ada di sebelah kanan sebelum jalan ke kanan di seberang Alghanim Safat.

Proses pengurusan SIM Internasional sangat singkat dan cepat, seperti yg telah dituliskan oleh mbak Susy. Hanya dibutuhkan satu lembar foto dan SIM Kuwait maka SIM sudah bisa didapat dalam waktu 5 menit.

Moral of the story: “Jangan lupa bawa catatan walaupun yakin bahwa ingatan masih bagus.”

Surat cinta di pagi ini

Hari ini aku terbangun dari tidur pada jam yg tidak biasa. Tidak ada mimpi buruk ataupun mimpi aneh sama sekali ketika aku tertidur tadi malam. Tidak ada jari jemari, jempol, kelopak mata, ataupun berbagai anggota tubuh lainnya yg bergetar2 atau berdenyut2 yg konon katanya memberikan firasat atau apapun. Pokoknya semua berjalan seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda akan ada yg terjadi pagi ini.

Namun hari ini berubah menjadi tidak biasa ketika aku sampai di mobilku dan menemukan catatan berikut menempel di kaca spion mobilku.

Ada yg tahu apa artinya? Apakah itu surat cinta dari salah satu penggemar? atau apa ya?

Bulan Madu

Berikut adalah pembicaraanku kemarin dengan seorang client

aku: Where is Mr X?
teman: He is going for honeymoon.
aku: He’s been married for a long time, right? Is this a second honeymoon?
teman: Kuwaitis have a lot of honeymoons
aku: Ah, I didn’t know that Kuwaitis have a lot of honeymoons. Are they going for honeymoon every year?

Temanku nyengir kuda….. dan lalu dia berkata,
“actually, Kuwaitis have a lot of wifes”

Dialog yang sering berulang

“Are you philiphino?”, begitu pertanyaan pembuka yg dilontarkan oleh sang supir taksi.

“No, I’m Indonesian.”,  timpalku atas pertanyaannya

“Indonesian? I see no Indonesian man here. But lady? too much.”, sambung sang supir Taksi.

“Where are you working?”, lanjut sang supir Taksi

“Somewhere in the city.”, jawabku

“Salary, how much?”, tanya supir taksi lagi

—–

Percakapan di atas bukan sekali dua kali aku alami sejak tinggal di Kuwait ini. Entah sudah beberapa puluh kali aku mengalaminya. Wajah Indonesia yg mirip sekali Filipino ini membuatku sering dikira orang Filipina yang relatif lebih banyak dibanding orang Indonesia di sini. Namun tidak berarti mereka tak mengetahui keberadaan orang Indonesia di sini. Orang Indonesia sering juga mereka jumpai di sini, namun rata2 para TKW, sehingga mereka mengira orang Indonesia itu perempuan semua.

Selanjutnya, entah mengapa, orang-orang di sini senang sekali menggunakan “too much” ketika ingin mengatakan “sangat”. Agak menggelikan memang pada saat-saat pertama mendengar mereka mengatakan,”Kuwait is too much hot. When comes Winter, too much cold.” . Namun hari demi hari, dialog ini sudah tidak terasa lucu lagi di telinga. Hanya efek sampingnya agak kurang baik, bahasa Inggrisku jadi hancur lebur sejak tinggal di sini. Kadang2 aku juga tidak sengaja mengucapkan “too much hot” atau “too much traffic” ketika mengatakan jalanan sedang macet.

Dan satu lagi pertanyaan yg sering aku dengar dan cukup mengagetkan di sini yaitu,”salary, how much.” Di Indonesia pertanyaan seperti ini tidak begitu etis jika ditanyakan pada orang yg baru dikenal. Jangankan untuk orang yg baru dikenal, untuk orang yg sudah dikenal lama saja kadang kita sungkan menanyakannya. Namun setelah aku pikir-pikir, kebiasaan seperti ini sebetulnya ada baiknya juga. Setidaknya dengan mengetahui berapa gaji si anu dan si dia, maka mereka bisa mengetahui harga pasar sehingga bisa menentukan posisi tawar yg lebih baik. Tidak sama dengan di Indonesia, yang mana seringkali kita tidak tahu dan hanya bisa mengira-ira berapa harga yang harus kita pasang ketika ditanya dalam proses interview karena kurangnya pengetahuan akan harga pasar ini.

Ah, too much sleepy now. I need to go to bed after finishing some dynamips exercise.

Memasak

Sejak ada facebook, aku makin jarang menulis dan mengisi blog lagi. Bukan hanya Multiply, namun wordpress juga hampir tak pernah lagi aku update. Sebetulnya bukan facebook-nya yang menyita waktuku sehingga aku malas menulis. Facebook hanya mengenalkan aku pada game RPG, yg pada waktu itu adalah gangster battle. Namun rupaya setelah bosan dengan game tersebut, aku jadi tertarik untuk mencoba game satu ke game lainnya sehingga waktuku banyak tersita untuk main game sejenis itu.

Sebelumnya aku tidak pernah menyukai game-game seperti itu. Mungkin benar kata pepatah kuno dulu, tak kenal maka tak sayang. Gara2 iseng mencoba, maka aku jadi ketagihan.

Saat ini kecanduan main game sudah mulai hilang. Tentu saja aku masih main game, hanya saja tidak begitu fokus seperti dulu. Sebagian game sudah aku kuasai sehingga aku hanya cukup melihatnya beberapa kali saja dalam sehari dan tidak banyak menyita waktu.

Nah, lalu apa yg sekarang sedang aku coba? Yap, anda benar, aku saat ini sedang belajar memasak. Kegiatan memasak ini juga bukan sesuatu yg pernah aku ingin pelajari sejak kecil. Namun sejak ada di rantau, aku merasa ada perlunya juga bisa memasak karena kadangkala aku kepingin merasakan masakan Indonesia namun tidak kutemukan warung padang atau warung tegal di sekitar tempat tinggal.

Singat kata, aku akhirnya belajar sedikit demi sedikit dari Dinda. Dari berbagai percobaan memasak yg telah dilakukan, baru satu masakan yg aku kuasai, yaitu nasi goreng. Sisanya masih belum karuan rasanya. Kemarin aku memasak ayam goreng tepung, namun tepungnya hangus. Mencoba menggoreng ikan, bentuknya hancur nggak karuan. Begitulah, percobaan memasak bagiku memang seperti Thomas Alha Edison, dari 1000 percobaan, 999 gagal. Walaupun gagal, aku cukup senang karena nasi goreng adalah salah satu makanan favoritku. Dan kebetulan nasi goreng buatanku cukup enak, sehingga tak perlu harus menunggu tukang nasi goreng yg tak akan pernah lewat di sini.

Malam ini aku mau mencoba memasak sup ayam. Kemarin malam sudah belajar pada guru besar bagaimana caranya. Ada komentar yg menarik dari Dinda ketika mengajariku memasak bahwa aku selalu bertanya takarannya. Dinda sendiri kadang tidak ingat berapa takarannya (misalnya: berapa bawangnya, berapa cabe-nya, berapa garamnya, etc), karena semua ditakar berdasarkan perkiraan dan perasaan saja. Aku tergelak, ternyata otak programmer telah membuat acara memasak ini menjadi terasa sulit karena aku berpikir terlalu detail. Mungkin ada baiknya aku pakai acara coba-coba seperti bagaimana Dinda memasak.

Ah, sudah waktunya pergi belanja. Semoga sup-nya enak sehingga dari 1000 percobaan ada 2 yg berhasil. :)

Pajak Penghasilan

Setelah ada penjelasan soal UU PPh, ternyata masih ada yg bingung juga. Andai UU Pajak dan UU lainnya ditulis dengan format seperti di bawah, barangkali nggak akan menimbulkan kebingungan lagi ya?

int execute_UU_PPh(int status_seseorang)

{

    int tax;

    if (status_seseorang == SPLN) {

      tax = hitung_pajak(penghasilan_DN);

    } else {

      tax = hitung_pajak(penghasilan_LN+penghasilan_DN);

    }

   return tax;

}

   

int main() {

  int pajak;

  if (seseorang_tinggal_di_LN > 183)  {

    status_seseorang = SPLN;

  } else {

     status_seseorang = SPDN;

  }

  pajak = execute_UU_PPh(status_seseorang);

}

 

Nah, masih ada yg bingung nggak?

Kenapa kertas ada di Kiri?

pen-and-paperBeberapa saat yg lalu, seorang kolega saya yg kebetulan berkebangsaan India bertanya kepada saya mengapa kertas dan pulpen saya ada di sebelah kiri laptop saya. Dia kemudian bertanya, “are you left handed?” atau dalam bahasa Jermannya,”Sampeyan kidal pho?

Pertanyaan si mpok tersebut membuatku terkagum-kagum akan kemampuan observasinya. Aku kok nggak pernah sempat2nya memperhatikan di mana letak kertas seseorang dan apalagi sampai berpikir untuk menganalisa apakah orang tersebut kidal atau nggak. Kalaupun aku sempat memperhatikan meja seorang teman, barangkali yg aku perhatikan adalah apakah dia cantik atau ndak. Nggak bakalan deh terpikir untuk melihat di mana posisi kertas dan pulpen teman tersebut.

Terlepas dari kebenaran tebakan mpok Indihe tersebut, aku jadi tergugah untuk bertanya-tanya lagi dalam hati,”apakah iya aku meletakkan kertas di kiri laptop karena aku kidal?“. Setelah aku pikir-pikir lagi, jawaban itu tidak sepenuhnya benar. Aku meletakkan kertas dan pulpen sebelah kiri laptop karena di sebelah kanan laptop ada mouse. Oleh karena aku tak ingin kegiatan menulis terganggu oleh mouse, maka aku letakkan puplen dan kertas di sebelah kiri sehingga aku bisa menggerakkan mouse (dengan tangan kanan) sambil menulis (dengan tangan kiri) tanpa kesulitan. Seandainya saja aku menggunakan tangan kiri untuk memindahkan mouse, maka kemungkinan besar kertas dan pulpen akan aku letakkan di kanan dan aku akan menulis dengan tangan kanan.  Kasus yg mirip dengan ini adalah ketika aku menggunakan PDA, maka aku menulis dengan tangan kanan. Mengapa? Karena aku terbiasa memegang telpon dengan tangan kiri, sehingga karena tangan yg terbebas adalah tangan kanan maka tangan tersebutlah yg aku gunakan untuk menulis. Jika dibalik menulis dengan tangan kiri, aku malah jadi kikuk alias kagok.

Nah, bagaimana dengan anda? Di mana anda meletakkan kertas dan pulpen di meja anda? Di sebelah kanan atau kiri laptop (komputer)?

tulisan yg berhubungan: kidal dan otak