Hidup ala Gangster Battle

Pada awalnya aku tak mengerti apa enaknya main game yg berkategori RPG (Role Playing Game) seperti Gangster Battle ini. Namun karena beberapa teman di FB tergila2 sampai termabuk2 memainkannya maka akhirnya berhubung adanya beberapa waktu luang akupun iseng-iseng mencobanya. Rupanya benar kata pepatah Jerman “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino” – yg artinya kira2 adalah  ”Cinta itu datang karena terbiasa.”, lama kelamaan ternyata aku mulai menikmati permainan ini.

Game ini sebetulnya hanya permainan sederhana, yg mana kita pura2 menjadi Gangster yang mempunyai pilihan untuk mendapatkan kekayaan dari menjalankan misi-misi tertentu, menyerang dan membunuh gangster lain, ataupun mendapatkan kekayaan dari harta curian yang diinvestasikan. Yang menarik dari game ini adalah bagaimana kita mengatur strategi sehingga bisa memutuskan kapan saat  membeli senjata, kapan saat membeli properti dan berinvestasi, dan kapan saat menyerang gangster lain.

Hal ini menjadi menarik karena megingatkanku bahwa hidup ini sebetulnya mirip juga dengan gangster battle. Dalam hidup kita juga harus memutuskan kapan saatnya untuk mengalokasikan dana dan waktu untuk investasi dan kapan saatnya meningkatkan kompetensi. Jika kita terlalu fokus bekerja hanya untuk mengumpulkan uang, maka suatu saat kita akan terjebak pada kondisi di mana kompetensi kita sudah tidak cukup lagi digunakan untuk bertahan karena lawan-lawan yg kita hadapi semakin tangguh. Jika pada gangster battle kita akan makin terancam atas serangan gangster lain yg makin kuat ketika level kita semakin tinggi, maka dalam hidup kita juga akan menghadapi masalah yg sama yaitu harus bersaing dengan kompetitor-kompetitor yg makin kuat.

Banyak orang yg terlengah mengupgrade kompetensi ini karena terbuai oleh kondisi saat ini yg ada di atas angin. Karena merasa penghasilan sudah besar dengan kompetensi yg dimiliki saat itu, maka dirinya tak lagi meluangkan waktu dan dana untuk belajar, memperluas network dan mengasah keterampilan. Hal ini akan membuatnya kewalahan ketika suatu saat nanti dia sadar bahwa dia harus bersaing dengan orang-orang yg lebih muda dengan kompetensi yg sama dengan yg dimilikinya namun tak lagi mampu bersaing dengan orang-orang sebaya karena orang-orang tersebut sudah memiliki kompetensi yg jauh di atas karena selalu di-upgrade.

Nah, bagaimana dengan anda? Kompetensi apa yg ingin anda upgrade di tahun 2009 ini?

Katakan pada teman anda bahwa anda sedang mencari pekerjaan

Tulisan di bawah menarik, yg menceritakan bahwa banyak orang yg mendapatkan pekerjaan melalui orang-orang yg mereka kenal. Namun dikatakan juga bahwa orang cenderung enggan untuk bercerita pada kenalan atau temannya bahwa dia sedang mencari pekerjaan. Makin butuh seseorang akan pekerjaan, maka makin tidak mau dia memberi tahu orang lain bahwa dia sedang mencari pekerjaan.
Bagaimana pengalaman anda? Apakah anda juga termasuk yg mendapatkan pekerjaan melalui orang-orang yg anda kenal?
salam,
-bank al-

http://career-advice.monster.com/career-networking/Broaden-Your-Network/home.aspx?WT.mc_n=MNL000308
Completely unscientific studies show that many people find their jobs through people they already know. It’s amazing that this ever happens at all since most people are so reluctant to tell anyone they know that they’re looking for work. And the more they need the job, the less likely they are to tell anybody who might actually be able to help.

Part of getting your career in shape is building up your awareness of relationships with people. You also need to practice asking people questions and telling them you’re looking. It does not come easy to most — but managing your career and building your networking skills are critical to finding a rewarding job.

Here’s a good exercise. Do this one even if you don’t need a job at the moment. Think of the kind of job you want: Graphic designer? Marketing analyst? Then think about the cities or even countries you would like to work in. Create a system for organizing these details.

Now, think of the people you know who can get you the details you need to get started. Contact them and explain what you’re looking for. The people you contact should be plugged in to the business and also have a real connection — former coworkers or bosses, someone who works within your desired industry, or has experience you can learn from, for example.

Ask your contacts about three things:

Jobs

Ask if they have heard about any openings in the industry. If nothing comes to mind immediately, don’t give up. Unless your contacts have very recently talked with friends or a recruiter who’s trying to fill a specific slot, chances are slim that they may know of any openings.

People

Ask your contacts for names of people who might be of help to you. It may be a friend from another company or a recruiter at a search firm. And, of course, ask if you can use their names. Everyone knows someone, so use this to your advantage.

Qualifications

Get feedback from your contacts. Ask them what you can do to make yourself a stronger candidate for the kind of job you want. Use this as a test closer. If a contact can’t think of a single thing that would make you a more attractive candidate or can’t think of anyone you can talk to, then he  probably isn’t the best contact. Thank the person and move on.

If your contacts are interested in you and your plans, they will have at least a couple of suggestions. They may suggest you look at a different kind of job, something they think you’d be better suited for or something that would be good preparation for the kind of job you want. Listen closely, because the message behind what they say will be one of three things — “I believe you can do this now,” or “I believe that with some preparation you could do this someday” or “I don’t believe this is the right path for you.”

Work through this exercise several times. Remember: Practice makes perfect. Whatever you do, don’t stop after just one, particularly if it’s a negative experience. A bad experience could mean you selected the wrong person. There are millions of people out there willing to help. By the time you’ve done this exercise a few times, you will have developed a pretty good picture of the kind of candidate you are for the type of job you want, and you’ll have strengthened your relationships with some people who can help.

Nasehat dari seorang mantan Boss

Di masa lalu, aku pernah mempunyai seorang manager yang sangat baik hati dan pengertian.  Hubungan kami tidak begitu baik saat awal-awal dia masuk ke perusahaan tersebut karena kebetulan aku lebih dulu ada di perusahaan tersebut dan dia masuk belakangan. Saat itu posisi IT manager sebetulnya sudah ada di depan mataku dan rasanya hanya tinggal sejengkal lagi aku raih mengingat prestasi dan reputasiku waktu itu. Kehadiran sang manager yang tiba-tiba menjadi boss-ku dan mengambil posisi yg aku idam-idamkan itu saat itu begitu melukai ego-ku. Selain karena dia masih orang baru, kebetulan secara teknis sang manager baru ini jauh sekali kemampuannya di bawahku sehingga aku saat itu berpikir bahwa beliau tidak pantas untuk menjadi managerku.

Ditambah dengan kipas-kipas yang bertebaran di sekitarku, maka hawa panas yg membara di hatiku membuatku bersikap bermusuhan dengan beliau di waktu itu. Apalagi dengan bakat pembangkang yg aku miliki, lengkaplah sudah aku membuat hidupnya menjadi sulit karena aku selalu melawan keputusan-keputusannya.

Hal ini terjadi beberapa tahun sehingga aku banyak kehilangan waktu untuk berpikir maju dan bahkan buta atas banyaknya peluang-peluang yg sebetulnya bisa aku raih.  Hingga akhirnya tiba suatu saat, karena kelembutan hati si boss, aku luluh juga. Dan sedikit demi sedikit aku mulai menunjukkan sikap bersahabat dan mulai bekerja sama dengannya.

Sayang memang kedekatan ini tak berlangsung lama karena roda kehidupan harus terus berputar dan aku harus pergi meninggalkan perusahaan tersebut. Satu yg aku syukuri adalah bahwa aku sudah berhasil memperbaiki hubungan sebelum aku pergi. Dan walaupun masa-masa itu cukup singkat, aku telah banyak belajar darinya dan mengambil pelajaran dari petuah-petuahnya.

Sekarang sang manager juga sudah bekerja di perusahaan lain. Untunglah Yahoo Messenger membuat dunia ini menjadi kecil sehingga aku masih bisa menemukannya lagi. Tadi sore aku berbincang-bincang lagi dengannya. Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya dari lubuk hati yg terdalam, sambil juga ingin tahu bagaimana kabarnya.

Seperti biasa, Jeff masih rendah hati seperti dulu. Dia berkata bahwa dia dikeluarkan dari perusahaan tempat kami bekerja bersama dulu karena CIO menganggap dia tidak cukup kompeten untuk posisinya. Sungguh sebuah attitude yang sangat baik menurutku. Tidak mudah untuk bisa mempunyai sikap seperti itu. Kebanyakan orang akan mencaci maki mantan boss-nya itu, atau juga bekas perusahaan itu karena telah menendangnya begitu saja. Namun Jeff tidak begitu, dia justu mengakui kelemahannya dengan rendah hati. Dan hebatnya, dia sudah mendapatkan pekerjaan lagi di tempat lain dengan posisi yg menurut saya lebih bagus dan lebih menantang daripada posisi yg dipegangnya dulu.

Walaupun sudah tak lagi jadi manajerku, Jeff masih sempat menitipkan sebuah pesan bagiku pada sesi chat tadi yaitu,”just be confident and listen carefully to others, that way you can make an informed decision“.   Nasehat tersebut betul2 mengena bagiku. Aku memang banyak salah mengambil keputusan dan sikap di masa lalu karena aku tidak mendengarkan orang lain dengan hati2. Aku terlalu arogan. Aku terlau sombong dengan kecerdasanku dan kemampuanku sehingga cenderung merendahkan orang lain dan tidak mau mendengarkan.

Aku tahu bahwa memang tidak mudah menghilangkan arogansi yg sudah menempel dan menjadi kebiasaan ini. Namun jika tidak aku ubah, tentu aku akan banyak kehilangan kesempatan lagi seperti di masa lalu. Thanks a lot Jeff, you are one of the best boss I’ve ever had. Wish you all the best !!!

Sekolah demi IPK atau Skill?

Ada sebuah diskusi yg menarik antara aku, mas Rovicky dan beberapa teman-teman lainnya di milis kampung-UGM mengenai sekolah dan IPK sehubungan dengan tulisan Mas Rovicky yang juga dipajang di blog-nya mengenai sekolah-training-kerja. Salah satu diskusi yg paling hangat adalah tentang seberapa penting sebuah IPK bagi seorang fresh graduate.

Banyak orang masih berpendapat bahwa IPK adalah tujuan utama kuliah sehingga mereka menghabiskan waktunya mati2an untuk meraih IPK bahkan dengan mengorbankan hal-hal yg lain demi sebuah IPK. Harapan para pelajar ini adalah bahwa dengan pekerjaan akan mudah diraih jika mereka mendapatkan IPK setinggi-tingginya.

Aku pribadi berpendapat lain. Menurutku jika seseorang sekolah hanya mendapatkan IPK dan tidak mendapatkan lain-lainnya, maka dia telah membuang-buang umurnya sekolah bertahun-tahun hanya untuk selembar kertas yg tidak banyak gunanya. Sebaliknya, yg semestinya didapatkan oleh seorang alumni PT adalah skill dan IPK hanyalah sampingan saja.

“Lho bang, jika bukan untuk meraih IPK, lalu apa dong yg didapat di perguruan tinggi?”

Di sinilah kesalahan para pelajar yg kuliah tapi tidak tahu apa yg seharusnya mereka raih sewaktu kuliah. IPK bukanlah tujuan dari sebuah proses perkuliahan. Itu hanyalah sebuah standard pengukuran untuk engetahui keberhasilan mahasiswa tersebut dalam proses belajar.

Semestinya memang IPK itu menunjukkan skill seseorang. Namun pada kenyatannya, ada juga banyak metode yg bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa sehingga dia bisa meraih IPK tinggi namun tidak memiliki skill yg cukup. Oleh karenanya employer “tidak percaya” pada IPK . Employer tetap menguji si calon pegawai dengan wawancara dan berbagai test lainnya untuk melihat apakah si pelamar memiliki skill yg dibutuhkan atau tidak.

Mas Rovicky: “Maksudte skill iki opo ? Mungkin Knowledge ya. Kalau skil itu dari kursus yg sudah spesifik”

Skill tidak sama dengan Knowledge. Yg aku maksud itu memang skill alias keahlian. Knowledge itu hanyalah sebuah pengetahuan. Knowledge tidak bisa menjamin apakah seseorang itu mampu melakukan sesuatu atau tidak karena dia baru sampai di tahap tahu. Sementara seserang yg memiliki skill, tentu bisa melakukan sesuatu yg membutuhkan skill-nya tersebut.

Secara umum, skill itu bisa dibagi menjadi 3 kelompok besar yaitu:

  1. Skill terhadap benda/alat
  2. Skill terhadap manusia
  3. Skill terhadap data

Di tempat kursus, yg bisa didapat hanyalah skill untuk menangani atau menghadapi benda-benda atau alat-alat. Sebagai contoh, seorang yg kursus montir, akan mampu mengganti busi, membuka roda mobil dan keahlian-keahlian lainnya untuk menangani benda tersebut (yg dalam hal ini adalah mobil). Tentu saja tidak semua tempat kurus juga bisa memberikan skill. Ada juga beberapa tempat kurus yg hanya memberikan knowledge/pengetahuan sementara lulusan kursus harus tetap berlatih di luar untuk mendaptkan skill.

Skill terhadap manusia tidak didapat dari tempat kursus. Skill ini didapat dari bersosialisasi dan berorganisasi. Di tempat kursus atau seminar hanya mungkin diberikan pengetahuan tentang skill ini, namun jika ingin menguasainya maka seseorang harus melatih dan menggunakannya. Tempat kursus/seminar tidak bisa menyediakan arena yg memadai untuk mendapatkan skill dalam kategori ini. Contoh skill yg masuk dalam kategori ini adalah: skill bernegosiasi, skill memotivasi orang lain, skill berkomunikasi yg efektif dan lain sebagainya.

Yg terakhir adalah skill terhadap data. Skill inilah yg semestinya didapatkan di bangku kuliah. Seorang lulusan perguruan tinggi diharapkan mempunyai skill untuk berhadapan dengan data. Seperti bagaimana waktu kuliah dulu, kita diajarkan dan dilatih bagaimana caranya melakukan observasi, memilih dan mengumpulkan sampling, mengolah data, menganalisa data, dan kemudian memberi kesimpulan atas data-data yg kita hadapi tersebut.

Jadi apakah berbeda orang yg masuk tempat kursus dengan orang yg sekolah? Jika si mahasiswa belajar dengan baik, maka tentu saja akan berbeda. Orang yg masuk tempat kursus itu melatih skill menghadapi benda, sementara orang yg masuk di bangku kuliah (S1, S2, S3) mengasah skill menghadapi data.

Yg perlu dicatat adalah bahwa Employer mencari pekerja-pekerja yg memiliki skill, bukan selembar kertas.
Di tempat kursus seseorang bisa memiliki sertifikat lulus ujian kursus. Dari PT, seseorang bisa mendapat ijazah dengan IPK tinggi. Namun itu semua bukan hal yg benar-benar dicari employer. Oleh karenanya employer menggunakan tahap seleksi lebih lanjut untuk menguji apakah orang-orang pemegang kertas ini memang benar-benar memilikk skill atau tidak.

So, jika anda memiliki selembar kertas, baik itu ijazah dengan IPK tinggi ataupun sertifikasi-sertifikasi lainnya, maka pastikan bahwa anda juga memiliki skill-nya. Jika tidak, maka anda mungkin akan kecewa karena employer tidak mau percaya  begitu saja dengan kertas yg anda miliki sehingga masih menguji anda dengan wawancara dan metode uji lainnya untuk meyakinkan mereka.

Bukan berjudi, tapi berhitung

Kira2 begitulah yg dikatakan oleh Professor Micky Rossa tentang “Black Jack” pada Ben dalam film yg berjudul 21. Film yg mengisahkan tentang satu tim pemain black jack yg bisa menaklukan Las Vegas ini menjadi menarik perhatianku karena ternyata film ini bersumber dari sebuah kisah nyata yang dikenal dengan nama the MIT black Jack team. Film ini membuka mataku bahwa ternyata permainan Black Jack itu bukan hanya sekedar main untung-untungan. Aturan-aturan yg ada dalam Black Jack, yg sebelumnya tidak aku pahami, ternyata memberikan peluang pada pemain untuk menghitung probabilitas kemenangan sehingga dengan strategi yg tepat akan bisa mengeruk keuntungan secara kumulatif. Strategi berhitung inilah yg digunakan oleh the MIT Black Jack team untuk meruntuhkan Las Vegas, seperti juga telah dibukukan dalam buku “Bringing Down the house“.

Saking bersemangatnya aku setelah menonton film ini, aku bahkan kemudian untuk pertama kalinya mencoba permainan Black Jack ini di MSN sambil mencoba menguji kemampuanku berhitung. Ternyata permainan ini memang mengasyikkan, dan aku akhirnya mendapatkan keuntungan 200 dollar (cuma uang virtual) ketika selesai satu putaran.  Bukan hasil yg buruk untuk permainan pertama, yg mana strategi bermain masih sedang diuji coba.

Selain menguji strategi bermain Black Jack, ada satu hal yg aku pelajari dari permainan tersebut bahwa ternyata yang namanya tebak-menebak itu mengasyikkan. Aku menemukan kenikmatan ketika aku bisa menebak-nebak dan bertaruh atas tebakanku tersebut.  Pada awalnya agak mengherankan, karena aku buka termasuk orang yg pernah tertarik untuk membeli kode buntut. Keheranan ini baru terjawab setelah aku melihat perbedaan antara berjudi dan berhitung. Keduanya memang sama-sama menghadapi sebuah ketidakpastian. Namun yg satu lagi menebak dan bertaruh pada sesuatu yg memiliki probabilitas kecil untuk benar sementara yg satunya lagi menebak sesuatu yg probabilitasnya lebih besar untuk menang.

Aku jadi teringat komentar Raymund, salah seorang mantan kolegaku dulu bahwa dia menyukai proses tender karena ada unsur judinya. Tender itu, menurut Raymund yg pernah jadi mentorku ini, memiliki unsur judi ketika menentukan berapa harga yang tepat supaya bisa menang tender. Dan dia menemukan kenikmatan tersendiri dalam main tebak-tebakan ini. Baru sekarang aku memahami apa yg dimaksud Raymund bahwa “berjudi” itu memang nikmat. Hanya saja permainan tebak2an ini tidak dinamai judi oleh the MIT black Jack team, melainkan a counting game.

Dalam hidup dan berkarir,  main tebak2an ini  rupanya juga banyak dilakukan oleh orang. Namun mereka memberinya nama lain,  yaitu Tantangan. Aku jadi teringat alasan Mas Nukman mengapa dulu meninggalkan pekerjaannya yg sudah mapan dan memilih menjadi pengusaha. Salah satu alasan Mas Nukman adalah karena selebriti kampung-UGM ini menyukai tantangan. Dalam kalimat yg lain bisa dibahasakan bahwa Mas Nukman meninggalkan karir yg sudah pasti menuju sesuatu yg belum pasti dan menghadapi probabilitas. Hal ini juga disampaikan oleh Jeff Ma,  tokoh asli MIT black Jack team yg menginspirasi film tersebut, bahwa pada awalnya dia sulit menerima konsep “gambling for living” ini. Namun akhirnya dia menyadari bahwa dalam hidup kita juga mengalami hal-hal tersebut yg mana kita harus menebak-nebak dan bertaruh atas tebakan kita tersebut.

Aku ternyata mirip dengan Raymund dan Mas Nukman, yaitu menikmati tantangan dan merasa bosan dengan sebuah kepastian. Tentu saja tantangan yg ingin aku hadapi adalah sebuah tantangan yg mungkin dimenangkan, dan bukan tantangan yg hampir tidak mungkin dimenangkan. Yg harus aku pelajari dan asah lebih lanjut adalah menemukan seberapa jauh tantangan itu aku letakkan sehingga bisa aku raih namun juga tidak terlalu dekat sehingga terlalu mudah untuk didapatkan.  Seperti permainan Black Jack, aku harus menemukan strategi yg tepat untuk menentukan kapan harus memasang taruhan besar dan kapan harus memasang taruhan dengan nominal kecil.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda juga suka main tebak-tebakan seperti saya?

Sang Mentor

Ada berbagai hal yg membuat hidup ini menarik buatku. Salah satunya adalah ada begitu banyak hal-hal menarik yang bisa aku pelajari. Hidup rasanya nikmat, ketika aku menjadi seperti seorang anak kecil yang senantiasa belajar.

Kemarin, aku bertemu via YM dengan seorang sahabat sejak masa kuliah dulu. Namanya Rahmat Ali Hakim, adik kelasku, yg pernah juga menjadi ketua KMTE (Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro). Sempat kerja di Schlumberger dan melanglang buana di Timur Tengah, lalu kembali ke Indonesia dan melanjutkan perjalannya di BP.

Berikut adalah bincang-bincang dengan Hakim.

Hakim: saya punya pelajaran bagus: bahwa ternyata memiliki seoarang atau beberapa mentor itu sangat penting.
bank_al: : oh ya? bagaimana tuh pentingnya Kim?
Hakim: mereka bisa memberi saya arahan yang jelas sekaligus balancing terhadap boss saya.

Hakim: mentor itu memberi saya kesempatan belajar lebih cepat daripada harus mengalami sendiri.
Hakim: mereka sering memberi target yang melebihi apa yang pernah saya bayangkan dan ternyata sejauh ini bisa dicapai.

bank_al: : siapa aja tuh yg jadi mentormu Kim?
Hakim: mentor saya: ada dari HR dia HR head country, ada juga dari pejabat di project management dan satu lagi seorang manager reservoir & well.

bank_al: : gimana caramu menemukan para mentor itu Kim?
Hakim: caranya: saya langsung saja temuin satu persatu. Paling tidak berjumpa 3 kali setahun dan sering kali lewat telpon & emails.
Hakim: saya jujur bilang kalau ingin jadikan dia mentor saya.
Hakim: coba saja deh, saya yakin dalam tiga bulan akan tampak hasilnya.

bank_al: : terus kriteria apa yg membuatmu memilih seseorang jadi mentor?
Hakim: mentor itu bagi saya:
Hakim: 1. Harus punya leadership yang kuat, karena posisi saya sekarang mengharuskan saya jadi leader.
Hakim: 2. Harus punya track record yang jelas, maksudnya punya prestasi yang bisa diakui orang banyak.
Hakim: 3. telah punya pengalaman yang cukup untuk dikatakan sebagai Tier-1 (istilah saja di bp).
Hakim: 4. punya komitmen untuk membangun binaannya.
Hakim: 5. selalu memberi tantangan dan tidak mudah menerima alasan sembarangan.
Hakim: 6. terakhir … sering minjemin buku he he he … mahal kan kalau sekarang beli buku-buku keren.
Hakim: saya yakin setiap orang punya gambaran lain tentang mentor.
Hakim: tapi coba dulu saja, dan sebaiknya dia punya spesialisasi yang berbeda dengan bidang kerja kita. Agar lebih FRESH …

Demikianlah bincang-bincang saya dengan Hakim kemarin yang membuat saya ingin mencari satu atau beberapa mentor. Hakim memang adik kelas saya, tapi saya banyak belajar dari dia. Saya jadi ingat pesan salah seorang sahabatku yg lain yaitu Mas Rovicky, bahwa kita bisa belajar dari siapa saja, bahkan dari orang yg lebih muda.

Nah bagaimana dengan anda, apakah juga punya dan suka punya mentor? Siapa yg menjadi mentor anda? Bagaimana anda menemukan mentor anda? Apa yg anda pelajari dan dapatkan dari sang mentor? Monggo di-sharing pengalamannya.

Do what you love to do

First priority, do what you love. If you can’t do what you love, then it’s OK to do what you don’t like as long as you don’t hate doing it. If you hate it, then just leave it and find something else that you will love to do.

Deretan kalimat di atas adalah tulisanku beberapa hari yang lalu (dengan bahasa inggris yg hancur2an) yg aku layangkan pada milis kampung-UGM dan ternyata dianggap inspiring oleh Mas EsHaPe sehingga kakak angkatanku yg baik hati ini sehingga terpikir untuk menayangkan kutipan tersebut di majalahnya.

Saat menulis kalimat tersebut, aku tidak merasa mengutipnya dari siapapun dan mengalir dengan sendirinya karena memang itulah yg aku lakukan sejak aku masih di bangku sekolah dulu. Rupanya pengakuanku ini diprotes oleh Kibroto karena ternyata kutipanku itu mirip dengan tulisan orang terkenal (walaupun aku sendiri baru pertama kali ini mendengar namanya), dengan sedikit modifikasi tambahan saja. Dan sebagai orang yg sudah sangat sukses dan berprestasi yang patut dibanggakan, Kibroto juga menunjukkan bahwa beliau pernah menulis tulisan serupa (namun beberapa langkah lebih advance) pada 5 tahun yg lalu.

Kritikan ini membuatku mencoba mengingat-ingat kembali, apakah betul aku membajak pendapat orang terkenal tersebut dan mengakuinya sebagai tulisanku sendiri?  Ataukan mungkin aku membajak pendapat Kibroto pada tulisannya 5 tahun yg lalu? Akhirnya aku menemukan jawabannya bahwa apa yg kutulis pada kutipan di atas itu adalah apa yg telah aku lakukan selama belasan tahun, dan aku ingat bahwa sumbernya adalah Ayahku.

Saat aku masih di bangku sekolah dulu, ayah sering mengingatkanku agar aku nanti kelak di kemudian hari bekerja pada sesuatu yg aku minati sehingga aku bisa menjalani hidup dengan senang. Hal ini juga yang membuatku sempat 1 tahun menjadi pengangguran setelah lulus SMA karena aku tidak berhasil masuk ke jurusan yg aku minati di Perguruan Tinggi yg aku cari.  Aku lebih baik jadi pengangguran dan berusaha lagi tahun depannya daripada harus sekolah di jurusan yg tidak aku minati dan terjebak di situ.  Begitulah hingga tahun depannya aku berhasil masuk kuliah di jurusan yang aku minati. Saat itu aku merasakan nasehat ayah benar bahwa aku harus mencari dan mengejar apa yg aku minati dan cintai. Aku merasakan sekolah di masa kuliah sangat nikmat, berbeda dengan waktu SMP-SMA yg mana pelajaran2 sekolah banyak sekali yg tidak aku sukai.

Setelah lulus kuliah, aku kemudian bekerja di sebuah perusahaan besar berskala Internasional. Beberapa tahun pertama bekerja di situ aku sangat bergairah, karena apa yang aku kerjakan di situ adalah apa-apa yang aku minati dan aku sukai. Kecintaanku pada apa yg aku lakukan inilah yg membuatku selalu merasa “Easy Money” walaupun sebagian orang lain melihatku sebagai seorang pekerja keras yang sering pulang larut malam.  Buatku uang seperti bonus, karena aku melakukan sesuatu yg sangat menggairahkan. Anak jakarta bilang,”Nggak dibayar aja gue kerjain kok. Apalagi dibayar.”

Seiring dengan bergeraknya waktu dan perubahan-perubahan yang terjadi di tempat kerjaku, aku mulai merasa kehilangan gairah dan mulai “work for money”.  Saat itu aku menyadari ada yg salah, dan harus membuat perubahan.  Walaupun penghasilanku termasuk besar untuk orang2 seusiaku, sehingga banyak orang yg menyarankan aku terus bertahan dan mensyukuri yg ada, namun setelah 6 tahun bertahan aku merasa bahwa aku harus berani membuat perubahan.

Lagi-lagi aku teringat cerita Ayah yang mana beliau sangat berani memutuskan untuk keluar dari PNS (pada saat itu PNS adalah pekerjaan yg cukup bergengsi) karena Ayah sadar bahwa penghasilan PNS nggak cukup untuk menghidupi keluarganya ditambah lagi sulitnya menjadi PNS tanpa kecipratan korupsi karena teman-temannya yg lain jika mendapat uang dari korupsi akan dibagi-bagikan pada semua teman-temannya. Hal ini membuat beliau dalam posisi sulit, jika uang itu tak diambil maka dia akan terkucil karena berbeda dengan arus sementara jika dia ambil maka itu bertentangan denga hati nuraninya. Dengan berani, walaupun dikecam banyak orang, Ayah mengambil keputusan untuk keluar dari PNS. Nyatanya Ayah berhasil mendapatkan pekerjaan yg lebih baik, bisa menghidupi keluarganya dengan kecukupan, dan bisa menyekolahkan semua anak-anaknya di perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Semangat dan keberanian Ayah menyadarkanku bahwa aku belum berbuat apa-apa untuk mengejar apa yg aku cintai dan saat itu masih terjebak dalam situasi yg aku tidak sukai hanya karena ketakutan kehilangan apa yg aku miliki saat itu.  Aku sadar bahwa aku harus lebih berani mengejar mimpi sehingga mimpi tak lagi hanya menjadi mimpi siang bolong yg tak pernah menjadi nyata. Singkat cerita, cerita dan semangat ayah membuatku akhirnya memutuskan untuk mengejar mimpiku dan berani mengambil langkah yang spektaluler sehingga akhirnya saat ini aku sudah kembali lagi pada track yg benar,  I’m doing what I love to do.  Aku merasakan hari-hari kembali indah dan bersemangat karena aku sedang melihat aku sedang berlari mewujudkan mimpi.

Hal ini memberi kesadaran baru bagiku, bahwa kadang kita merasa terpaksa melakukan hal-hal yg kita tidak sukai atau bahkan kita benci, hanya karena kita kurang berani mengambil resiko sehingga tak bisa melihat bahwa ada ribuan peluang di luar sana yg bisa kita gapai jika kita berani dan bersemangat untuk mengejarnya.  Kesadaran ini membuatku tersenyum karena ternyata tak harus menunggu usia pensiun dulu baru bisa bahagia. Jika bisa bahagia sekarang, mengapa harus menunggu pensiun dulu? Bukan begitu?

Do what you love to do. Do what you are passion for. Then you will know how great to be an “easy money”.

PS:

Tulisan ini aku dedikasikan untuk Ayah, yg telah dan selalu memberiku begitu banyak pelajaran dan dukungan sehingga aku bisa menjadi seperti sekarang. Saat ini, aku telah menjadi seorang ayah juga. Semoga aku juga bisa membuat anak2ku bangga seperti bagaimana aku bangga pada Ayah.

Ayah, I’m very proud of you.

Tidak Comfort di Comfort Zone

Berkali-kali aku mendengar dan membaca istilah comfort zone dalam berbagai wacana menganai pengembangan karir. Hampir semua narasumber atau tukang ndobos menyarankan agar supaya kita tidak terjebak dalam confort zone yg konon katanya bisa membuai, membius dan membunuh.

Konon yg disebut Comfort Zone alias Zona Nyaman ini adalah suatu kondisi di mana seseorang merasa aman dan nyaman dengan keadaan yg dimilikinya saat ini sehingga tidak ingin dan takut untuk berubah.

Contoh kasus orang yang berada dalam Zona Nyaman adalah orang yang sudah mempunyai posisi bagus di tempat kerjanya, gaji besar, asuransi kesehatan ditanggung penuh, bonus besar dan lain sebagainya. Dalam keadaan seperti ini, orang ini berhenti untuk bermimpi dan berharap sesuatu yg lain dan bahkan takut kehilangan apa yg didapatnya.

Aku mencoba bertanya pada diri sendiri, apa iya begitu ? Entahlah, barangkali aku memang kurang menyimak sewaktu orang bicara soal Zona Nyaman. Aku pribadi saat ini berada pada situasi yang menurut orang-orang adalah zona nyaman. Anehnya, aku justru tidak merasa nyaman dengan keadaan seperti sekarang ini. Aku merasa tidak nyaman karena tidak lagi banyak belajar. Aku merasa tidak nyaman karena tidak lagi terus berkembang. Aku tidak nyaman karena terlalu lama tidak lagi bermimpi.

Banyak orang yg heran dan bertanya.  Apa lagi sih yg kamu cari Bank Al ? Sulit bagiku menjelaskan bahwa aku tidak nyaman di zona nyaman. Lah, piye toh ? Apakah Zona Nyaman ini memang Oxymoron bagiku ya ?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.