I want to take care of my brother

Barusan Dinda cerita kalau kemarin Fadhel -anakku yg baru berusia 7 bulan- jatuh dari kursi makannya. Posisi jatuhnya kepala duluan. Dan yg makin mencemaskan adalah Fadhel mukanya biru, mata setengah tertutup, tidak menangis, dan tidak mengeluarkan suara apa-apa. Dia diam saja setelah jatuh itu.

Tentu saja hal ini membuat Dinda panik. Dan seperti biasa kalau panik kekasihku ini bingung mau berbuat apa, terlebih aku sedang di US dan saat itu sedang tidur sehingga tak mendengar panggilan telpon. Untungnya teriakan dan tangisan Dinda terdengar oleh tetangga depan apartemen. Tetangga yang baik hati itu langsung mengetuk pintu dan menanyakan ada apa.

Saat tetangga datang dan bertanya, Dinda masih kalut dan tak bisa berkata apa-apa kecuali berkata,”my son fell down”.
Terjadi suatu yg mengejutkan, Kevin -anak tertuaku yg baru berusia 5 tahun- yang kemudian menjawab pertanyaan tetangga.
Kevin berkata,”He cannot talk. Dedek Fadhel can’t talk and can’t cry. So we have to go to the hospital”

Akhirnya tetangga menolong mengantarkan ke rumah sakit. Kevin dan Jihan ikut mengantar. Dan alasan Kevin ikut adalah,”I want to take care of Fadhel”.
Setelah diperiksa dokter, alhamdulillah Fadhel tidak apa-apa. Dia hanya shock. Setelah sampai di rumah sakit dia bisa menangis. Dan setelah dilakukan berbagai pengujian dokter menyatakan tak apa2 dan boleh pulang.

Dinda heran dengan kedewasaan dan kemampuan Kevin menjelaskan pada tetangga, dan tahu bahwa Fadhel harus dibawa ke RS. Dinda lalu teringat bahwa sebelum aku berangkat ke US aku sempat berkata pada Kevin.

Aku: “Handsome, ayah is going to work in US again. You are the eldest man in this house when I’m away. Don’t fight your sister. Take care of your brother, sister and bunda.”
Kevin mengangguk dengan tegas waktu itu sambil berkata,”Yes, Ayah”
Aku hanya tersenyum sambil mengelus kepalanya dan tak mengira bahwa kata2ku itu diingat dengan baik oleh Kevin. Itu sebabnya dia ikut ke RS dan berkata,”I want to take care of Fadhel.”

Saat menulis ini air mataku menitik terharu. Tak aku kira sebelumnya bahwa ternyata anak umur 5 tahun sudah bisa menjaga sebuah amanah. I love you, handsome !

Milpitas, 22 November 2012

-bank al-

Ajari si Bayi tidur sendiri

Barusan aku chat dengan Anjar untuk memberikan ucapan selamat atas kelahiran bayi-nya (yg ternyata sekarang sudah 1 bulan, wah ucapannya telat banget ya?).  Dan dari sekejap pembicaraan itu terlontar sebuah pertanyaan dari Anjar,

priandoyo: begadang terus nih bang
priandoyo: mpe kapan to?
priandoyo: dah 1 bulan kok masih suka begadang
priandoyo: malah kayaknya makin parah

Karena Kevin di usia 1 bulan sudah tak membuat kami begadang lagi, Aku agak heran dan bertanya lebih jauh apa yg menyebabkan Anjar masih saja begadang, dan demikian jawabannya:

priandoyo: ya tiap malam minimal bangun 3-4 kali
priandoyo: tiap bangun itu butuh >1 jam untuk nidurinnya lagi
priandoyo: dah pake nyanyi2, goyang2
priandoyo: susah juga

Kelihatannya yg membuat Anjar begadang adalah karena ternyata Azkia (anaknya Anjar) membutuhkan waktu lebih dari 1 jam untuk bisa tertidur lagi setelah terjaga. Wajar jika hal ini membuat orang tuanya begadang.

Aku jadi teringat bahwa Kevin di usia segitu sudah bisa tidur sendiri. Dia tak begitu membutuhkan digendong-gendong, digoyang-goyang apalagi pakai nyanyi2 untuk bisa tidur. Pada awalnya memang Kevin sempat sulit juga untuk tidur dan membuat aku dan Dinda kelabakan. Namun setelah aku membaca sebuah artikel bahwa semestinya bayi itu diajarkan untuk bisa tidur sendiri, maka kami mengajarkannya dan berhasil.

Bayi menjadi sulit tidur biasanya juga orang tuanya tidak tega mendengar bayi-nya menangis. Padahal konon bayi tidak akan apa-apa dibiarkan menangis selama kita bisa menunjukkan bahwa kita mendengarkan keluhannya dan tidak mengacuhkannya. Dalam kasus Kevin, pada masa awal-awal kelahirannya dulu, kami mencoba mencari sebab mengapa Kevin sulit tidur dan memfasilitasinya sehingga si ganteng ini mau tidur. Pada akhirnya kami menemukan bahwa Kevin merasa lebih nyaman jika tidur telungkup daripada telentang. Oleh karenanya, setiap Kevin nggak mau tidur, kami menidurkannya dengan posisi telungkup dan Kevin-pun tertidur. Setelah kami lakukan itu beberapa kali maka Kevin belajar sendiri bahwa dia harus telungkup agar bisa tidur nyenyak dan Kevin telungkup sendiri jika sudah mengantuk.

Apa yg menjadi penyebab bayi sulit tidur memang tidak sama satu dengan yg lain. Sebagai orang tua kita perlu menemukan ini supaya kita memberikan solusi dan mengajarinya tidur. Walaupun memang rasanya sedikit nggak tega membiarkan si kecil menangis, namun pada jangka panjang ini lebih baik bagi si bayi yg menjadi lebih mandiri dan juga bagi orang tua yg nggak harus terlalu lama begadang. Lagipula, menangis itu khan juga berguna bagi perkembangan paru2 si bayi bukan?

Nah, bagaimana dengan anda? Apa tips anda supaya bisa mengurangi jam begadang karena punya bayi?

Jangan marah dulu dong Ayah

Kevin tidak biasanya rewel sehingga sudah beberapa kali ditinggal seminggu berdua saja bersama Dinda tidak merepotkan Bundanya sehingga Dinda masih belum membutuhkan pembantu. Namun minggu kemarin ketika aku di Balikpapan, Dinda sempat mengirim SMS dan mengatakan Kevin minumnya tak henti-henti dan membuat Dinda tidak bisa tidur.

Aku tadinya tidak begitu percaya, namun setelah hari Sabtu tiba di Jakarta aku melihat sendiri Kevin tidak mau tidur dan minta minum terus. Aku mencoba mempelajari apa yang terjadi dan menyadari bahwa Kevin sebetulnya tidak haus. Kevin tidak mau minum dari botol walaupun minum dari Bunda sudah habis. Dan dia cuma mau minum dari Bunda sehingga Bunda-nya yang sudah ngantuk berat karena sudah beberapa hari nggak tidur itu menjadi kesal.

Akhirnya aku putuskan untuk menggendong Kevin keluar kamar dan menyuruh Dinda tidur. Awalnya Dinda memang tidak tega melihat Kevin menangis, namun aku menyuruhnya tidur dan memilih untuk bicara dengan Kevin.

Kevin tidak berhenti menangis dalam gendonganku. Walaupun demikian aku tetap menggendongnya dan menahan diri supaya tidak marah (lah, aku ngantuk juga jhe baru pulang dari Balikpapan dan sempat begadang beberapa hari). Aku memilih untuk tidak marah karena memang aku seharusnya tidak marah. Aku hanya butuh berbicara dengan anakku tersayang ini dan bernegosiasi.

Sambil menangis Kevin menatap wajahku dengan sangat memelas. Kalau Kevin sudah bisa ngomong mungkin dia berkata,”Ayah, aku mau minum sama Bunda.” Dan oleh karenanya aku mengatakan pada Kevin,”Nak, nenen Bunda udah nggak ada airnya. Kalau Kevin mau minum, ayo minum sama Ayah pakai botol. Kalau Kevin ngggak haus dan cuma kepingin tidur, Ayah bantu supaya Kevin bisa tidur.

Ndak lama setelah itu Kevin berhenti menangis, dan tidur di dada Ayahnya. Aku terus menepuk2 pinggulnya supaya tidurnya nyenyak dan mengulangi lagi,”Nah gitu dong anak Ayah yang pintar. Kalau mau tidur, jangan minta nenen dan gangguin Bunda yang udah capek. Bobok sama Ayah aja kalau ngantuk, dan minum botol kalau nggak ada nenen bunda dan Kevin masih haus.”

Ajaib ! Kevin bobok sampai pagi dan tidak menangis lagi sehingga Bunda dan Ayahnya bisa tidur nyenyak. Bahkan sempat aku lirik Kevin tersenyum ketika tidur. Pagi hari Kevin bangun dan haus, tapi dia tidak menangis cuma bilang “eh, eh eh” seperti biasanya ketika Kevin haus. Besok harinya Kevin juga tidak rewel sampai hari ini. Rupanya walaupun masih kecil dia sudah bisa belajar bahwa apa yang diinginkannya belum tentu bisa didapatkannya. Dan jika itu terjadi, dia harus bisa memilih alternatif yang ada.

Lesson learned, Kevin yang umurnya baru 1 bulan itu ternyata sudah bisa diajak berdiskusi dan bernegosiasi. Kadang kita sering kepingin marah saja ketika anak kita rewel, padahal yang dibutuhkan hanyalah komunikasi saja.