Circle pada Google+

Beberapa orang yang terbiasa dengan FB mencoba membandingkan Circle pada G+ dengan Group pada FB. Sebagian lagi mencoba membandingkan Circle dengan Friendlist pada FB.  Sebaliknya, saya tak melihat Circle adalah sekedar friendlist pada FB, apalagi diharapkan untuk menggantikan group pada FB. Circle adalah sebuah konsep yang berbeda yg menurutku akan membuat G+ jauh lebih unggul dibandingkan dengan FB.

Apakah konsep Circle pada Google+ itu?

Circle adalah sebuah konsep mengelompokan teman-teman, relasi-relasi, atau saudara-saudara kita dalam kategori tertentu yang memungkinkan kita untuk berinterasi dengan masing-masing kelompok tersebut tanpa tercampuri dengan kelompok lain.

Jika dilihat sekilas saja, circle memang tampak seperti friendlist pada FB. Namun sebagai pengguna FB bertahun-tahun, saya sudah mencoba menggunakan friendlist ini sebisa mungkin dan sampai hari ini buatku friendlist ini masih tak banyak gunanya. Mengapa tidak berguna? Karena friend list pada FB hanya sekedar daftar dan tidak lebih dari itu. Apa yang kita bisa kita lakukan pada daftar tersebut? Ternyata tak banyak yg bisa dilakukan.

Sebaliknya pada konsep Circle, daftar tersebut bukan hanya sekedar daftar. Kita bisa berinteraksi dengan circle atau kelompok tersebut secara terpisah dengan kelompok yg lain.

Lalu, bagaimana implementasinya?

Agar lebih jelas, mari kita lihat implementasi circle pada kasus-kasus berikut ini:

1. Circle memungkinkan kita menyaring stream dari kelompok mana saja yg ingin kita lihat

Pada gambar di samping terlihat bagaimana aku berinteraksi dengan circle yg bernama Dubai. Ketika aku memilih Dubai pada circle yg ada di sebelah kiri (di bawah tulisan stream), maka stream dari teman-teman yang terlihat hanyalah stream-stream dari teman-teman yang ada di dalam circle Dubai saja.

Hal ini berguna untuk menyaring berita-berita dari teman-teman yg sedang ingin kita lihat saja.  Bayangkan jika teman kita ada ratusan (seperti jumlah temanku yg ada di facebook), bagaimana caranya memantau tulisan ratusan teman tersebut jika tidak disaring? Lebih parah lagi jika yang aktif mengupdate status dan berita adalah spammer atau orang-orang lain yg tidak ingin kita baca statusnya. Ini akan membuat update dari teman-teman yg lebih penting malah tenggelam.

Facebook pernah mempunyai fasilitas filtering ini beberapa saat yang lalu. Herannya fitur sebaik ini malah dihapuskan oleh facebook sehingga news feed saya menjadi terlalu ramai dan sulit dipantau lagi.

2. Circle memudahkan kita untuk menulis update pada teman-teman dalam kelompok tertentu saja

Seperti bisa dilihat pada gambar di atas, ketika saya membuka stream Dubai maka secara otomatis setiap update yang saya tulis juga akan dikirim hanya untuk cirle tersebut. Oleh karenanya, jika saya menulis status dalam kondisi tersebut maka hanya teman-teman dalam circle Dubai yang membaca dan teman2 yg di luar itu tidak bisa melihatnya.

Bagaimana hal ini bisa berguna? Saya sering membutuhkan hal ini ketika saya menulis status dalam bahasa Indonesia padahal sebagian teman-teman saya hanya berbahasa Inggris dan tidak mengerti bahasa Indonesia. Jika saya terlalu sering menulis status atau tulisan-tulisan dalam bahasa Indonesia, maka tulisan-tulisan saya tersebut tentu hanya akan menyampah karena mereka tak tahu apa artinya.

Hal ini dimungkinkan juga di facebook dengan mengubah permission setiap kali hendak posting. Tapi mengubah setting itu perlu langkah yang panjang sehingga ketika permission berhasil diubah saya sudah terlanjur malas untuk menulis status. Saya juga pernah mencoba mengubah default permission agar hanya teman2 yg berbahasa Indonesia saja yg membaca status secara default. Hasilnya? Ternyata teman-teman lain malah tidak bisa membaca wall saya sama sekali.

Kasus saya di atas masih kasus yg sepele. Kisah yg sangat dramatis adalah ketika seseorang dipecat dari tempat dia bekerja karena boss-nya membaca statusnya ketika dia sedang curhat di facebook. Hal ini yg membuat sebagian orang menghapus account di FB karena takut keceplosan menulis sesuatu yg membahayakan dirinya.

Di google plus? Kita bisa dapatkan ini dengan mudah

3. Mengetahui kepada siapa saja kita bicara

Pada Facebook, kita tidak bisa mengetahui dengan pasti siapa saja yg bisa melihat tulisan kita ketika kita mengomentari status orang lain. Hal ini bisa berakibat fatal jika ternyata ada orang lain yang membaca tulisan kita padahal kita tak ingin orang tersebut membacanya. Coba saja bayangkan misalnya saya mengomentari status teman saya bahwa dia kemarin bolos ngantor dan pura2 sakit. Namun karena saya tak tahu siapa saja yg bisa membaca status tersebut, ternyata boss-nya membaca status tersebut dan teman saya dalam bahaya.

Atau coba bayangkan jika saya mengomentari status teman dan menyebutkan kasus perselingkuhannya namun ternyata istinya membaca tulisan tersebut. Apa tidak lebih runyam?

Di Google+ resiko seperti ini bisa dikurangi karena kita bisa melihat siapa saja audience-nya.

Pada gambar disamping bisa dilihat salah satu stream teman saya. Dia menulis stream tersebut pada kelompok terbatas – bisa dilihat pada tulisan limited di sana.

Jika di-click di tulisan limited tersebut, maka akan terlihat siapa saja orang-orang yang bisa membaca stream tersebut.  Oleh karenanya, kita bisa memberikan komentar yang lebih pribadi sesuai dengan para pembaca di sana.

Jika yg tertulis di sana bukan limited – melainkan extended circles atau Public,  maka kita perlu berhati-hati karena tulisan tersebut untuk umum.

Menarik bukan? Ya, menurut saya konsep circle ini sangat menarik karena saya bisa mengatur sikap kapan bicara di depan umum, di antara anak-anak, di dalam kelompok ancur, atau di sekeliling kelompok pengajian.

Kesimpulan

  • Friendlist pada FB tidak bisa menggantikan Circle karena Friend List hanyalah sebuah daftar. Kita tak bisa berinteraksi dengan daftar tersebut. Sebaliknya pada konsep Circle, kita bisa berinteraksi dengan kelompok tersebut.
  • Group pada FB juga tak bisa menggantikan Circle, karena kita tak bisa mengatur siapa saja yg berada pada sebuah Group (kecuali kita adalah moderator) sehingga kita harus menganggap group sebagai ruang umum. Circle menyediakan ruangan pribadi yang bisa kita kontrol siapa saja anggotanya.
  • Konsep Circle memungkinkan kita untuk mengelompokan teman-teman kita berdasarkan kategori tertentu dan kemudian berinteraksi dengan kelompok tersebut tanpa tercampur dengan teman-teman lain yang tidak diinginkan. Hal ini memungkinkan kita untuk mengatur sikap – kapan bersikap di tengah pasar, kapan bersikap ruang tamu dan kapan bersikap di ruang tidur.
Bagaimana, apakah anda tertarik untuk mencoba?

Hari pertama bersama Google+

Setelah beberapa hari berjuang untuk mendapatkan undangan untuk bergabung dengan Google+, akhirnya hari ini kesampaian juga niatku tersebut. Aku bisa bergabung dan segera menggunakannya.
Beberapa adalah beberapa fitur di Google+ yang tidak dimiliki oleh FB:
1. Memungkinkan untuk mengubah default setting untuk “Stream”. 
Hal ini berguna jika kita lebih banyak menulis stream (atau di FB disebut status) pada kelompok orang tertentu saja dan kita tak orang2 yang tak masuk dalam kelompok itu melihatnya. Sebagai contoh, di FB saya punya teman yang hanya bisa berbahasa Inggris dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Jika saya menulis status dalam bahasa Indonesia, tentu ini tak akan dimengerti oleh yang tidak mengerti bahasa Indonesia, dan mungkin sebagian orang merasa terganggu dengan tulisan-tulisan yang tidak mereka mengerti.
Pada FB memang dimungkinkan untuk mengubah default setting untuk wall, namun hal ini akan berakibat orang yang direstriksi tidak bisa melihat wall secara keseluruhan.
Di Google+ kita bisa mengijinkan semua orang tetap melihat wall namun hanya stream-stream yang ditujukan pada mereka saja.
2. Memungkinkan perubahan komentar
Kadang kala kita salah ketik ketika kita mengomentari orang lain dan ingin mengubahnya. Di FB hal ini tidak dimungkinkan.
Google+ memungkinkan hal ini.
3. Bisa menulis stream dengan huruf tebal, miring dan dicoret.
Entah disengaja oleh Google+ atau tidak, dengan syntax khusus ternyata tampilan stream bisa dibuat tebal, miring dan tercoret.
Hal ini menarik untuk membuat penekanan tulisan dan membuat sebuah tulisan menjadi lebih cantik.
4. Notifikasi bisa disuruh mingkem (mute)
Ini hal yg cukup menganggu bagiku jika berkomentar pada sebuah postingan di FB. Kadang niatku hanya ingin sekali berkomentar dan tidak ingin lagi melihat tulisan tersebut karena terlalu banyak orang yg berkomentar di sana -seperti salah satunya group di FB. Sialnya, sekali berkomentar maka kita akan kejeblos dan selalu menerima notifikasi atas tulisan yg pernah kita komentari tersebut.
Di Google+, jika kita sudah tak ingin lagi mendapat notifikasi untuk khusus sebuah tayangan maka kita bisa memilih “mute”.
5. Interfacenya lebih intuitif
Contohnya adalah pengorganisasian teman dengan circle menurutku sangat intuitif. Aku merasa lebih mudah untuk mengorganisir teman-teman dengan drag-and-drop di Google+ dibandingkan dengan listbox yg dimiliki oleh FB.
Kesan pertamaku menggunakan Google+ ini jauh berbeda dengan saat-saat pertama aku menggunakan FB dulu.
Aku termasuk orang-orang pertama yg punya FB ketika belum banyak orang Indonesia lain yg memilikinya. Dan kesanku saat itu FB ini jeleeeek sekali dan interfacenya membingungkan. Hanya saja saat itu yg membuatku bertahan adalah game saham yg ada di situ (sekarang sudah tak ada lagi).
Demikianlah sedikit review di hari pertama aku menggunakan Google+.
Menurutku Google+ memang akan bisa mengalahkan FB suatu saat nanti.
Bagaimana menurut teman2? Ada yang punya pengalaman lain?

Menampilkan Post berdasar kategori di Page

Sudah cukup lama blog ini tidak terupdate. Kepindahanku ke Dubai rupanya sedikit banyak mengubah proporsi kehidupan online vs offlineku setahun belakangan ini. Jika sebelumnya aku punya lebih banyak waktu untuk beraktifitas online seperti menulis blog ataupun mengubah status FB, namun sekarang ini lebih banyak main dengan anak atau main dengan teman2 di luar sehingga blog menjadi terbengkalai.

Hari ini kebetulan tidak begitu banyak kegiatan offline sehingga aku easy money di rumah. Kebetulan seorang teman lama -yg juga merupakan camat di Kuwait- menyapaku lewat YM. Beliau rupanya sedang memulai karir sebagai blogger -barangkali karena hasrat ndobos sudah mulai terasa- dan ingin menanyakan sesuatu kepadaku tentang bagaimana caranya menampilkan post-post berdasarkan kategori tertentu di tab.

Sebagai blogger yg sudah lama, aku jadi malu karena tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Sehingga apa boleh buat aku googling dengan susah payah dan erika…eh eureka rupanya pertanyaan tersebut sudah pernah ditanyakan oleh orang lain dan sudah ada jawabannya.

Kata kunci yg dibutuhkan untuk membuat hal tersebut adalah dengan mengganti theme wordpress kita dengan theme yg memiliki fitur “custom menu“. Dengan memilih theme tersebut, maka kita akan mempunya pilihan untuk membuat menu sendiri, seperti yang terlihat di bawah ini:

Setelah menu tersebut disimpan dan diaktifkan, maka hasilnya akan seperti blog saya ini, yg mana ada tab teknologi yg menampilkan tulisan-tulisan yg berkategori teknologi saja.

Mau penjelasan step-by-step? Silahkan buka link berikut ini. Selamat mencoba !

PDFEdit yang leleto

Entah apa yg dilakukan oleh PDFEdit sehingga memakan CPU proses hinggal 100 persen dan bikin kompieku jadi leleto begini. Padahal cuma dipakai untuk menambahkan text pada dokumen PDF yg ingin aku edit.

ada yg bisa memberi masukan bagaimana caranya mengoptimalkan penggunaan CPU-nya sehingga nggak jadi leleto begini?

CCNA Lokal vs CCNA Internasional

Hari ini aku berbincang-bincang dengan seseorang via YM. Pada kesempatan tersebut aku diberitahu bahwa bahwa ada yg namanya CCNA lokal dan ada yg namanya CCNA internasional. Bagi yg belum tahu apa bedanya -seperti aku yg juga baru tahu dari rekan tersebut- silahkan disimak rekaman berikut:

xxxx_x: Lg di australia y ini masnya?
bank_al: nggak kok
xxxx_x: Di indo y?
bank_al: iya
xxxx_x: Ambil ccna dimana ms dulu ?
xxxx_x: Udh internasionl atau ccna lokal?
bank_al: saya ambil CCNA di jakarta kok
bank_al: memang ada CCNA internasional dan CCNA lokal ya?
xxxx_x: Iya
bank_al: oh gitu. Bedanya apa?
xxxx_x: Klo yg internsnl itu lgsg instrktr dr USA
bank_al: instruktur?
xxxx_x: Cisco systm
bank_al: memang CCNA butuh instruktur?
xxxx_x: Yg internsnl
bank_al: oh gitu ya.
bank_al: terus instrukturnya itu tugasnya ngapain?
xxxx_x: Ya sama kyk dosen.
bank_al: hmm gitu ya

Demikianlah kiranya, semoga bemangpaat.

update

21-Jan-2010: Sebetulnya tidak ada yg namanya CCNA lokal atau internasional. CCNA itu didapat melalui ujian yg dilakukan oleh lembaga tertentu yg sudah memenuhi persyaratan untuk mengadakan ujian tersebut, seperti misalnya Vue. Soal ujian, hasil dan kualitasnya sama terlepas di negara manapun ujian dilaksanakan.

Tulisan ini pada awalnya dimaksudkan untuk homor saja, namun berhubung yg membaca tulisan ini serius semua, apa boleh buat update ini terpaksa dibuat untuk klarifikasi.  Jadi nggak lucu lagi deh :(


xxxx_x: Lg di australia y ini masnya?
bank_al: nggak kok
xxxx_x: Di indo y?
bank_al: iya
xxxx_x: Ambil ccna dimana ms dulu ?
xxxx_x: Udh internasionl atau ccna lokal?
bank_al: saya ambil CCNA di jakarta kok
bank_al: memang ada CCNA internasional dan CCNA lokal ya?
xxxx_x: Iya
bank_al: oh gitu. Bedanya apa?
xxxx_x: Klo yg internsnl itu lgsg instrktr dr USA
bank_al: instruktur?
xxxx_x: Cisco systm
bank_al: memang CCNA butuh instruktur?
xxxx_x: Yg internsnl
bank_al: oh gitu ya.
bank_al: terus instrukturnya itu tugasnya ngapain?
xxxx_x: Ya sama kyk dosen.
bank_al: hmm gitu ya

Buang-buang uang rakyat dengan ICR

Aku terkaget-kaget dan terheran-heran ketika mendengar adanya penggunaan scanner dalam proses penghitungan suara pada pemilu 2009 yg baru saja berlalu.  Aku tidak mengerti mengapa scanner dibutuhkan dalam proses ini dan mencoba bertanya sana bertanya sini terutama di milis kampung-UGM.  Akhirnya seorang teman menunjukkan website berikut yg menjelaskan tujuan penggunaan scanner pada penyelengaraan pemilu kali ini.

Berikut adalah tujuan penggunaan scanner, berdasarkan website tersebut:

Tujuan utama yang ingin dicapai dengan penggunaan mesin pemindai yang berbasis ICR tersebut adalah:

  1. mempercepat proses perhitungan suara
  2. memperoleh tabulasi yang akurat
  3. memperoleh salinan dokumen elektronik yang otentik dan teramankan
  4. transparan dalam mendukung fungsi pengawasan langsung oleh masyarakat.

Sekarang mari kita coba gunakan akal sehat apakah kira2 tujuan tersebut di atas memang membutuhkan ICR atau tidak dengan meninjau masing-masing tujuan tersebut.

1. apakah mempercepat proses penghitungan suara?

Untuk mengetahui betul atau tidaknya, mari kita tinjau proses penghitungan suara yg juga ditulis oleh website tersebut pada rujukan berikut, yaitu:

  1. Formulir C1-IT yang telah diisi oleh petugas KPPS diproses oleh software ICR di KPU Kabupaten/Kota
  2. Hasil pembacaan ICR akan ditampilkan di layar monitor, dan operator melakukan koreksi terhadap hasil pembacaan itu. Setelah operator memastikan  tidak ada salah baca, file disimpan dan dikirim ke KPU
  3. Di KPU, aplikasi Sistem Integrasi akan memeriksa keamanan dan otentikasi file yang dikirimkan oleh KPU Kabupaten/Kota tersebut untuk ditayangkan di pusat tabulasi nasional.

Dari prosedur di atas bisa dilihat bahwa hasil pembacaan ICR ternyata harus diverifikasi lagi oleh operator. Operator harus memeriksa data satu per satu untuk memastikan tidak adanya kesalahan baca. Verifikasi ini artinya si operator harus membaca formulir secara manual dan membandingkannya dengan hasil dari ICR. Operator harus membaca dua formulir, yaitu formulir asli dan formulir hasil ICR.  Coba bandingkan dengan tanpa ICR. Operator hanya perlu membaca formulir kertas dan kemudian menuliskan apa yg di bacanya tersebut dengan menggunakan keyboard.  Waktu yg dibutuhkan akan setara dengan menggunakan ICR, dan bahkan menggunakan ICR bisa lebih lama karena pembacaan ICR bisa salah sehinga operator harus membaca form hasil ICR dengan hati2.

2. Apakah memperoleh tabulasi yang akurat?

Rasanya tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan bahwa hasil intepretasi ICR tidak akurat. Bisa dilihat sendiri pada penjelasan dari situs berikut bahwa telah terjadi kesalahan yg fatar pada pemilu kemarin. Komentar salah seorang pembaca di sana sangat menarik, yaitu bahwa cukup ditemukan satu kesalahan untuk menunjukkan hasil pembacaa ICR ini tidak akurat.  Namun dibutuhkan untuk menguji seluruh domain untuk mengetahui apakah hasil pembacaannya memang akurat. Dalam hal ini, sudah jelas2 ditemukan kesalahan pembacaan, yg artinya tabulasi yang akurat tidak tercapai.

3. memperoleh salinan dokumen elektronik yang otentik dan teramankan

Saya pikir inilah satu2nya yg bisa didapat dari penggunaan ICR ini, yaitu mendapatkan dokumen elektronik. Namun pertanyaan lebih lanjut adalah,”untuk apa dokumen elektronik ini?” Jika hanya sekedar untuk arsip, apakah dokumen dalam bentuk kertas tidak cukup? Toh dokumen original dalam bentuk kertas sudah ada sehinga dokumen elektronik ini sebetulnya tidak jelas kegunaannya.

4. Apakah transparan dalam mendukung fungsi pengawasan langsung oleh masyarakat?

Point yg ke-4 ini tidak berhubungan dengan ICR.  Teknologi ICR ini hanya digunakan untuk menginput data dan tidak ada hubungan sama sekali dengan pengawasan. Jika kemudian hasilnya disimpan pada pusat data yg dipubikasikan, maka bisa jadi memang data tersebut bisa dipantau dan diawasi oleh masyarakat. Namun apakah data yang disimpan itu harus dalam bentuk image? Ya tentu saja tidak. Data yg dibutuhkan masyarakat untuk diawasi hanyalah berupa angka-angka. Dan data seperti ini bisa diinput oleh operator melalui keyboard dan tidak membutuhkan ICR. 

Lho, jadi lebih banyak tujuan yg tidak tercapai?

Dari penjelasan di atas, bisa dilihat bahwa hampir semua tujuan penggunaan ICR yg diangkat oleh website tersebut tidak tercapai. Satu2nya tujuan yg tercapai adalah ketersediaan dokumen elektronik berbentuk image, yg mana keberadaan dokumen model begini juga tidak diperlukan. 

Di sisi lain, penggunaan ICR ternyata justru merugikan karena membutuhkan cost yg besar (yaitu: untuk membeli scanner, software pembaca dan interpretasi ICR yg kerjanya tidak akurat, dan lain sebagainya), dan juga boros bandwidth. Jika saja yg dikirimkan data berupa text, maka penggunaan bandwidth akan jauh lebih hemat.

Lalu kenapa dong ICR dipakai pada pemilu 2009? Mungkin Indonesia sudah terlalu kaya sehingga tidak tahu mau dibuang ke mana uangnya.  Solusi ICR pada pemilu 2009 ini cocok untuk tujuan tersebut, buang2 uang.

Bagaimana menurut pendapat anda?

Apa hubungan gatal dan dingin?

Entah mengapa badan tiba2 terasa gatal2 akhir2 ini.  Apakah ada hubungannya dengan musim dingin? Berikut adalah jawaban dari teman2 ketika iseng2 aku menanyakan pertanyaan ini di facebook.

Ep Runtu at 5:01pm December 16
kayanya berhubungan tuh Bang Al, abis kan kulit kita kering … pakai minyak ajah tp jgn minyak sayur ;D
Dita Wistarini at 5:02pm December 16
tuh…mantep jawabannya. Makanya pake pelembab. Gak tabu kok buat cowok kalo udah winter begini :P
Dita Wistarini at 5:02pm December 16
kalo aku suka pake olive oil.
Alfred Alinazar at 5:04pm December 16
Epi, Dita: oh begono toh.

Btw, Olive oil itu sejenis sama Sun Flower bukan?

Didats Triadi at 5:06pm December 16
gag ada bang. kalo kata saya mah, hubungannya ke status sosial.

semakin rendah status sosialnya, semakin tinggi kemungkinan gag terkena gatel2 di musim dingin…

huihihihi…

Steve Haryono at 5:07pm December 16
gile bener masa olive oil sejenis sama sunflower.
Sejenis ya emang sama-sama oil. Sama oli nya mesin juga….sama-sama oil.
hehehe.
Supaya jangan cepet kering tuh kulit, jangan mandi sering-sering :)
Alfred Alinazar at 5:09pm December 16
Steve: mandi kok malah bikin nggak cepet kering? bukannya mandi malah bikin basah? Lagian kalau musim dingin gini banyak kegiatan yg bikin harus mandi. :P
Dita Wistarini at 5:13pm December 16
Olive oil ya lain laa sama sunflower oil, tp basicly 2-2nya bisa dipake ;) . Paling enak olive oil krn nyerep di kulit. Kalo mo gaya pake wangi, ya pakelah body butternya body shop. Mandi pake scrub untuk ngilangin kulit2 yg kering biar gak numpuk jd biang gatel :D
Renatha Siregar at 5:15pm December 16
“Lagian kalau musim dingin gini banyak kegiatan yg bikin harus mandi”.. i like this comment.. hmm.. ;-)
Steve Haryono at 5:16pm December 16
percaya deh sama org yg tinggal di negeri dingin selama 33 tahun. hehe.
Logika nya mandi bikin basah ya. Tapi ya itu lah, setelah dikeringkan, malah kulit nya jadi kering dan cepat keriput. Liat aja orang bule biasanya lebih cepet keriput dibanding orang asia. Kayaknya air nya yang membuat kulit kita jadi cepet kering.
Beli lotion atau cream atau oil yang special buat kulit kering.
Dimita Ariasari at 5:17pm December 16
bener banget!!!!…….
Ep Runtu at 5:18pm December 16
praktekin ya’ Bang Al, …hasilnya pasti kulitnya jd halus & mulus dweh !!
Ep Runtu at 5:19pm December 16
ps.sabun yg pasti jg bkin kering …jd kudu pilih2 jg sabunnya
Eko Eshape at 5:23pm December 16
yang kudengar juga begitu
pakai pelembab dan pakai sabun khusus [bila mandi]
kalau tidak terpaksa gak usah mandi
[kecuali junub]

paling enak pas musim dingin cuti 3 bulan ke indonesia dulu
[kalau dibolehin]

Alfred Alinazar at 5:23pm December 16
Ep, Steve, Dita: Sip deh. Makasih banyak atas sarannya.

Atha: hehehe… ;)

Diminta: apaan yg bener banget? yg bagian kegiatan di musim dingin ya?

Renatha Siregar at 5:23pm December 16
setuju tuh.. jangan sering-sering mandi ya bank Al.. kecuali di Indo, biar kemarau biar hujan ttp harus mandi.. hehe..
Dimita Ariasari at 5:24pm December 16
semua-mua dehhhhh ..hahaha…
Steve Haryono at 5:25pm December 16
Alfred,
Logika nya, kalo ngga sering mandi, nanti kulitnya tertutup daki, dan itu jadi melindungi kulit dari kekeringan :)
hehehe.
Alfred Alinazar at 5:33pm December 16
Steve: iya juga ya, baru sekarang gue tahu gunanya daki selain menambah berat badan :D
Agung Krisnanto at 6:35pm December 16
minum air dingin bisa bikin tenggorokan gatal. itu hubungannya kalo lagi batuk :) )

Nah, bagaimana menurut pendapat anda? Adakah penjelasan lain tentang hubungan antara gatal dan dingin?

Memory Edan

 

Memory Edan

Memory Edan

Vista memang uedan. Penggunaan Memory 1 GB lebih? Padahal nggak cuma buka browser aja.

Komentar Blog melalui Email

Konon menurut gosip di warung terdekat, sebuah blog itu menjadi ramai dikunjungi ketika si pembuat blog juga rajin menanggapi setiap komentar yg mampir di blog-nya. Mungkin pendapat orang2 di warung itu ada benarnya juga. Sekilas observasi dari blog-blog yg aku hampiri, pemilik blog rata-rata memang menyempatkan diri untuk menanggapi pesan-pesan pengunjung yg mapir di blog-nya. Bahkan ada yg begitu rajinnya sehingga setiap komentar ditanggapi satu per satu.

Hal ini terus terang agak sulit bagiku, yg tidak setiap hari membuka blog dan hanya membuka blog hanya ketika sedang mood. Namun hal ini mungkin akan segera dijawab oleh wordpress, yg tampaknya tidak lama lagi akan mengeluarkan fitur komentar lewat email, seperti yg diceritakan oleh tautan “ini”. Saat ini fitur ini memang belum ada dan tampaknya masih sedang dalam masa uji-coba.  

Menarik? Buatku sepertinya begitu. Aku sudah tidak sabar menunggu fitur ini bisa diluncurkan.

Vista dan Windows Network Diagnostic

Dulu aku malas mencoba Vista karena selain aku tidak punya lisensi menggunakannya, aku juga tidak tertarik mencobanya karena banyak pendapat miring mengenai Vista yg menurut para komentator yg aku dengar itu dianggap tidak stabil.

Namun beberapa bulan ini aku akhirnya menggunkana Vista, sehubungan dengan laptop baru yg aku gunakan ini memang dijual bersama Vista-nya dan tidak ada lagi opsi untuk membeli dengan XP. Selain karena aku pikir memang sudah waktunya untuk mencoba Vista, aku pikir ini juga merupakan saat yg tepat untuk mencobanya, mengingat lisensinya sekarang sudah aku miliki.

Rupanya betul kata pepatah orang tua dulu bahwa “tidak kenal maka tak sayang“. Vista ternyata lebih menyenangkan daripada XP. Walaupun ada yang mengatakan bahwa Vista itu lebih bawel karena selalu bertanya ketika akan melakukan banyak hal, namun menurutku justru kebawelan Vista itu yg membuatnya lebih secure. Vista selalu meminta konfirmasi ketika user melakukan aksi-aksi yg membayakan system-operasi. Hal ini yg membuatku menjadi lebih percaya diri lagi menggunakan Vista tanpa anti virus. Lah wong XP yg tidak sebawel itu saja sudah cukup membuatku yakin kok, apalagi Vista?

Hari ini Internet sedang bermasalah di provider yg aku gunakan. Dan aku iseng-iseng mencoba menggunakan Windows Network Diagnostic. Hasilnya lumayan bagus. Vista memberitahuku bahwa network problem yg aku alami adalah karena DNS dari provider sedang bermasalah. Tentu saja masalah ini sudah aku ketahui sebelumnya, walaupun belum menggunakan tool ini, karena aku sudah lebih dahulu mencoba nslookup di command prompt. Namun aku tetap mencoba tool ini dan kagum karena jawabannya cukup oke. Tool ini mungkin akan berguna bagi banyak orang karena tidak semua orang hapal perintah-perintah di command prompt.

Bagaimana pengalaman anda? Apakah sudah mencoba tool ini?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.