Aku terkaget-kaget dan terheran-heran ketika mendengar adanya penggunaan scanner dalam proses penghitungan suara pada pemilu 2009 yg baru saja berlalu. Aku tidak mengerti mengapa scanner dibutuhkan dalam proses ini dan mencoba bertanya sana bertanya sini terutama di milis kampung-UGM. Akhirnya seorang teman menunjukkan website berikut yg menjelaskan tujuan penggunaan scanner pada penyelengaraan pemilu kali ini.
Berikut adalah tujuan penggunaan scanner, berdasarkan website tersebut:
Tujuan utama yang ingin dicapai dengan penggunaan mesin pemindai yang berbasis ICR tersebut adalah:
- mempercepat proses perhitungan suara
- memperoleh tabulasi yang akurat
- memperoleh salinan dokumen elektronik yang otentik dan teramankan
- transparan dalam mendukung fungsi pengawasan langsung oleh masyarakat.
Sekarang mari kita coba gunakan akal sehat apakah kira2 tujuan tersebut di atas memang membutuhkan ICR atau tidak dengan meninjau masing-masing tujuan tersebut.
1. apakah mempercepat proses penghitungan suara?
Untuk mengetahui betul atau tidaknya, mari kita tinjau proses penghitungan suara yg juga ditulis oleh website tersebut pada rujukan berikut, yaitu:
- Formulir C1-IT yang telah diisi oleh petugas KPPS diproses oleh software ICR di KPU Kabupaten/Kota
- Hasil pembacaan ICR akan ditampilkan di layar monitor, dan operator melakukan koreksi terhadap hasil pembacaan itu. Setelah operator memastikan tidak ada salah baca, file disimpan dan dikirim ke KPU
- Di KPU, aplikasi Sistem Integrasi akan memeriksa keamanan dan otentikasi file yang dikirimkan oleh KPU Kabupaten/Kota tersebut untuk ditayangkan di pusat tabulasi nasional.
Dari prosedur di atas bisa dilihat bahwa hasil pembacaan ICR ternyata harus diverifikasi lagi oleh operator. Operator harus memeriksa data satu per satu untuk memastikan tidak adanya kesalahan baca. Verifikasi ini artinya si operator harus membaca formulir secara manual dan membandingkannya dengan hasil dari ICR. Operator harus membaca dua formulir, yaitu formulir asli dan formulir hasil ICR. Coba bandingkan dengan tanpa ICR. Operator hanya perlu membaca formulir kertas dan kemudian menuliskan apa yg di bacanya tersebut dengan menggunakan keyboard. Waktu yg dibutuhkan akan setara dengan menggunakan ICR, dan bahkan menggunakan ICR bisa lebih lama karena pembacaan ICR bisa salah sehinga operator harus membaca form hasil ICR dengan hati2.
2. Apakah memperoleh tabulasi yang akurat?
Rasanya tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan bahwa hasil intepretasi ICR tidak akurat. Bisa dilihat sendiri pada penjelasan dari situs berikut bahwa telah terjadi kesalahan yg fatar pada pemilu kemarin. Komentar salah seorang pembaca di sana sangat menarik, yaitu bahwa cukup ditemukan satu kesalahan untuk menunjukkan hasil pembacaa ICR ini tidak akurat. Namun dibutuhkan untuk menguji seluruh domain untuk mengetahui apakah hasil pembacaannya memang akurat. Dalam hal ini, sudah jelas2 ditemukan kesalahan pembacaan, yg artinya tabulasi yang akurat tidak tercapai.
3. memperoleh salinan dokumen elektronik yang otentik dan teramankan
Saya pikir inilah satu2nya yg bisa didapat dari penggunaan ICR ini, yaitu mendapatkan dokumen elektronik. Namun pertanyaan lebih lanjut adalah,”untuk apa dokumen elektronik ini?” Jika hanya sekedar untuk arsip, apakah dokumen dalam bentuk kertas tidak cukup? Toh dokumen original dalam bentuk kertas sudah ada sehinga dokumen elektronik ini sebetulnya tidak jelas kegunaannya.
4. Apakah transparan dalam mendukung fungsi pengawasan langsung oleh masyarakat?
Point yg ke-4 ini tidak berhubungan dengan ICR. Teknologi ICR ini hanya digunakan untuk menginput data dan tidak ada hubungan sama sekali dengan pengawasan. Jika kemudian hasilnya disimpan pada pusat data yg dipubikasikan, maka bisa jadi memang data tersebut bisa dipantau dan diawasi oleh masyarakat. Namun apakah data yang disimpan itu harus dalam bentuk image? Ya tentu saja tidak. Data yg dibutuhkan masyarakat untuk diawasi hanyalah berupa angka-angka. Dan data seperti ini bisa diinput oleh operator melalui keyboard dan tidak membutuhkan ICR.
Lho, jadi lebih banyak tujuan yg tidak tercapai?
Dari penjelasan di atas, bisa dilihat bahwa hampir semua tujuan penggunaan ICR yg diangkat oleh website tersebut tidak tercapai. Satu2nya tujuan yg tercapai adalah ketersediaan dokumen elektronik berbentuk image, yg mana keberadaan dokumen model begini juga tidak diperlukan.
Di sisi lain, penggunaan ICR ternyata justru merugikan karena membutuhkan cost yg besar (yaitu: untuk membeli scanner, software pembaca dan interpretasi ICR yg kerjanya tidak akurat, dan lain sebagainya), dan juga boros bandwidth. Jika saja yg dikirimkan data berupa text, maka penggunaan bandwidth akan jauh lebih hemat.
Lalu kenapa dong ICR dipakai pada pemilu 2009? Mungkin Indonesia sudah terlalu kaya sehingga tidak tahu mau dibuang ke mana uangnya. Solusi ICR pada pemilu 2009 ini cocok untuk tujuan tersebut, buang2 uang.
Bagaimana menurut pendapat anda?










kan indonesia terkenal kaya! wah kamu gak tahu ya! indonesia itu kaya utang, lho! hebat, khan!
Yth.Bang Al
Mari kita diskusikan dengan kepala dingin. Saya coba jelaskan beberapa hal yg ditanyakan, mungkin belum anda ketahui.
1. ICR dipakai dengan tujuan mempercepat proses perhitungan suara. Mengapa demikian ?
Kita kesampingkan dulu fakta bahwa perolehan suara ternyata tidak seperti yg diharapkan. Saya tulis di bagian akhir.
Formulir C1-IT yang diolah oleh ICR rata2 berisi sekitar 500 an angka perolehan suara caleg & parpol (38 parpol, masing2 14 angka, total 38×14 angka > 500). Dengan memakai ICR yang syarat2nya terpenuhi (akurasi tinggi, cetakan kertas standar, dsb), kami pernah ukur, waktu yang diperlukan per formulir sekitar 3-5 menit. Itu sudah termasuk waktu untuk verifikasi. Pernahkah anda hitung, berapa waktu untuk entry sekitar 500 an angka memakai keyboard ? Itu baru satu dokumen. Padahal formulir C1-IT yang harus dientry-kan bisa ratusan, atau ribuan. Sekiranya anda memiliki alternatif yang lebih baik daripada ICR, silakan diusulkan saja. Insya Allah usulan itu selama disampaikan dengan bahasa yg baik, jelas, akan diperhatikan, koq.
2. Kalau anda merefer logika matematika “prinsip pembuktian matematika: cuma perlu 1 contoh penyangkal untuk mengatakan suatu klausa itu salah.”, seharusnya anda jelaskan terlebih dahulu. Klausa apakah yang hendak dibuktikan ? Tanpa mendefinisikan dengan jelas klausa tsb, tentu saja teori tsb. tidak dapat dipakai.
Maksud saya, kalau mau memakai logika matematika, sebaiknya jangan tanggung-tanggung dalam membuat formulasinya. Harus lengkap, jelas, apa yg akan dibuktikan, bagaimana cara pembuktiannya, dsb.
Kesalahan/ketidakakuratan/error dalam data yang berasal dari real world domain itu bisa saja terjadi dimana saja, kapan saja. Tapi sangat naif kalau kemudian hal itu dipakai untuk menjustifikasi bahwa seluruh data yang diperoleh memiliki karakteristik yang sama.
3. Tersimpannya data dalam bentuk image itu perlu, selain sebagai document filing, dan juga sekaligus sebagai kontrol apabila ada data yang tidak benar. Justru keberadaan image itu sangat berperan dalam menemukan penyebab terjadinya kasus lonjakan suara caleg di Sulsel kemarin.
Demikian tanggapan saya, dengan harapan kita dapat memandang masalah itu lebih jernih dan lebih fair. Semua tentunya kecewa, karena hasil ICR tidak sesuai dengan yang diharapkan. Penyebabnya telah dijelaskan pada
http://tipemilu2009.wordpress.com/2009/04/20/qajp/
Teknologi apa pun yang dipakai, selama sosialisasinya tidak cukup, atau syarat/kondisi nya tidak terselenggara (seperti kertas yg tidak sesuai dg standar, dsb), jelas tidak akan berhasil dengan baik. Tapi bukan berarti teknologinya yang harus serta merta disalahkan. Harus diteliti terlebih dahulu, apakah syarat/kondisinya terpenuhi atau tidak, dsb.
Demikian, semoga dapat menjelaskan.
1. sebagai salah satu standar software ICR ada spesifikasi bahwa dalam melakukan verifikasi, image hasil scan harus ditampilkan bersamaan dengan hasil pembacaan. hal ini diimplementasi secara berbeda untuk setiap vendor ICR. tujuannya adalah supaya mengurangi beban kerja otot leher dan tangan operator agar tidak perlu memegang borang C1-IT dalam bentuk kertas sambil melakukan verifikasi.
bandingkan dengan entry manual, operator harus melihat ke dua benda berbeda (monitor dan kertas), dan tangan operator harus bersirkus dengan mouse dan keyboard.
sebagai tambahan, salah satu vendor juga memperhatikan faktor interaksi manusia dengan komputer dengan meminimalkan penggunaan keyboard sehingga operator hanya menggunakan mouse dan hanya perlu melihat ke layar monitor yang menampilkan hasil pembacaan tepat di samping gambar angka.
2. sudah dijelaskan penyebab ketidak akuratannya terletak di operator ICR yang tidak memverifikasi dengan benar (Human error). salah besar kalau hal ini digunakan untuk menjustifikasi sistem tabulasinya yang salah (System Error).
4. bagaimana memverifikasi angka yang dimasukkan oleh operator adalah angka yang tertera pada kertas kalau informasi yang tersedia hanya angka-angka tersebut? percaya begitu saja? sejarah Indonesia membuktikan bahwa kebergantungan manusia tanpa dukungan teknologi menjadi lahan ‘human error’ baik sengaja maupun tidak sengaja.
kalau ternyata angkanya tidak sesuai bagaimana cara menelusuri siapa yang menulis? mencari arsip kertas?
sudah menjadi common sense bahwa aparat Indonesia termasuk malas, apalagi kalau ada pihak independen yang ingin merunut terjadinya kecurangan atau kesalahan. hampir mustahil hal ini bisa dilakukan tanpa mengeluarkan uang pelicin. (loh, mau mengungkap kecurangan kok malah melakukan kolusi?)
@anto
sudah jelas sistem ICR gagal total, masih ngeles juga…aneh banget cara berpikir anda ini sih…coba pikirkan business proses-nya sejak awal bung, Anda ini sedang mengurusi masalah pemilu bukan hajatan kawinan…dari awal seharusnya bisa diprediksi bahwa penggunaan teknologi ICR ini sangat rawan kesalahan/error.
Bukan masalah fair tidak fair, selain pemborosan uang negara untuk beli scanner itu, kualitas pemilu ini tambah amburadul dengan pilihan bodoh sebuah teknologi bernama ICR yang salah tempat bila dipakai untuk pemilu.
@theabay
Tidak ada yang ngeles. Cobalah anda baca kembali penjelasan2 saya dengan hati-hati. Kalau ada yang tidak disetujui silakan dikomentari. Mari kita biasakan diskusi yang sehat dan jelas.
“…dari awal seharusnya bisa diprediksi bahwa penggunaan teknologi ICR ini sangat rawan kesalahan/error”
Tidakkah anda ketahui, bahwa teknologi ICR ini sudah ditetapkan KPU untuk dipakai dalam pemilu, sebelum tim BPPT masuk. Komentar saya di atas hanyalah menjelaskan hal-hal yang mungkin tidak diketahui oleh Bang Al.
Bangsa ini membutuhkan masukan yang konstruktif. Kalau anda memiliki solusi yang lebih baik dari ICR, silakan sampaikan. Pengunjung blog ini tentu menghargainya selama disampaikan dengan jelas, analisa keuntungan, resiko dan kelemahannya.
@theabay
Ngomong sih gampang Bos, ngumpat apalagi. Punya solusi? Paling NATO lagi NATO lagi, cape deh…
Yang ane perhatikan, waktu sangat pendek sehingga Plan and Organise nya kacau. Segala sesuatu kalau tidak dipersiapkan dengan baik, teknologi apapun yng dipakai tidak akan berhasil, meskipun hanya cara sederhana mengentri data secara manual sekalipun. YAKIN!!!
@Anto
Saya salut sama Mas Anto dan teman2 tim IT yang masih mau menanggung tugas yang sangat berat hanya dalam 1 bulan di tengah carut-marutnya organisasi IT KPU yang ditinggalkan pembuatnya (Tim Ahli KPU sebelumnya).
Hehehe ketiban pulung teknologi ICR yang seolah-olah itu dibuat tim Mas Anto…
@bank al:
Penjelasan ente terhadap penjelasan Mas Anto di atas menunjukan ketidaktahuan ente tentang teknologi ICR tetapi sok tahu tentang ICR. Terlihat BODOH ente minta ICR harus bisa memverifikasi secara otomatis. Sampai kiamat juga tidak akan bisa!!!
Malu atuh berdiskusi mengandalkan napsu, tong kosong nyaring bunyinya….
HARUS dibedakan mana teknologi ICR dan mana implementasinya. Implementasi ini di Indonesia masih amburadul (sudah distate Mas Anto, kertas buruk, penulisan yang salah, operator yang belum siap, dsb.). Setahu ane, hasil googling, ICR sudah digunakan tuh dinegara lain untuk pemilu seperti Australia, Norwegia dan UK, dan tidak ada masalah.
Sudah dijelaskan teknologi ini tidak akan berhasil kalau syarat dan kondisi tidak dipenuhi, masih ngeyel dengan alasan yang tidak ilmiah.
Sekali lagi persiapannya
Bang Al:
Sayang sekali. Saya rasa diskusi ini sudah menjurus ke saling menyalahkan tanpa kehati-hatian dalam membaca.
1. Bang Al menulis: “semestinya data di atas nggak dikesampingkan Pak. Itu berkaitan dengan point no 2″. Maksud saya adalah penjelasan itu saya muat di bagian paling akhir komentar saya. Sengaja tidak saya taruh di no.1, agar kita bisa jernih berfikir.
2. Bang Al menulis: “bank al: saya memang belum pernah menghitung. Namun saya duga percobaan anda kurang cemat dan mengandung banyak asumsi-asumsi yg salah.”
Wah, justru di sini yang aneh Bang. Kami benar-benar melakukan ujicoba, tapi bang Al sama sekali belum pernah menghitung. Bagaimana mungkin Bang Al yang belum pernah menghitung bisa menyalahkan mereka yg pernah menghitung dengan benar ? Waktu 3-5 menit itu dengan asumsi, bahwa akurasi ICR yg dipakai cukup tinggi (95% ke atas), kertas dalam kondisi yg sesuai dg standard, dsb.
3. Bang Al menulis: “Jadi anda tak usah repot2 berkelit dengan mengeluarkan teori. Di lapangan jelas terbukti bahwa ICR bukan mempercepat namun justru memperlambat perhitungan”
Sekali lagi, saya mohon bang Al mencermati tulisan saya. Saya tidak berkelit, tetapi justru menjelaskan mengapa ekspektasi kita tidak terpenuhi. Silakan baca kalimat2 berikutnya dengan teliti.
4. Bang Al wrote: “bank_al: yg salah bukan sosialisasi pak, tapi penggunaan teknologi yg tidak tepat guna. Jika anda mau menggunakan teknologi ICR atau apapun namanya, maka buat systemnya sehingga tidak perlu ada lagi verifikasi oleh manusia.”
Tanpa sosialisasi, tidak mungkin ada teknologi yang berhasil. Bukan hanya ICR, mau pakai manual (keyboard), atau apapun juga, tetap perlu sosialisasi yang cukup.
ICR itu sudah dipakai di LN. Silakan baca dengan teliti tulisan di blog tipemilu2009. Kita perlu membedakan ICR secara teknologi dan ICR secara aplikasi. Sebagai suatu teknologi, ICR sudah proven dan matang, meskipun ketika itu diintegrasikan ke dalam suatu aplikasi/software, kualitas yang dihasilkan vedor tentu bisa berbeda-beda. Saya lihat bang Al salah faham dalam memahami penjelasan saya. Sebagai referensi, coba bang Al baca diskusi di
http://geeks.netindonesia.net/blogs/tahir/archive/2009/04/08/teknologi-icr-dan-pemilu-2009.aspx
5. “Pemilu ini bukan riset pak. Implementasinya semestinya bukan sekedar trial and error. ”
Saya tidak pernah mengatakan bahwa pemilu itu riset. Dari mana bang Al bisa menyatakan hal tsb. ? Marilah bang Al, kita bangun atmosfer diskusi yang sehat.
6. “justru dari penjelasan itu saya menjadi terperangah bahwa ternyata telah terjadi ketidakakuratan pada hasil, sementara anda mengakui bahwa hasil-nya akurat.”
Apakah saya mengakui bahwa hasil itu akurat ? Tidak, koq. Justru hasil analisa kami menemukan bahwa kesalahan ada di semua lini, baik kami sebagai tim reviewer, software ICR, sistem integrator, operator, petugas TPS. Kami sudah berusaha menjelaskan permasalahan tsb. sebaik-baiknya lewat
http://tipemilu2009.wordpress.com/
Akurat itu adalah tujuan dari pemakaian teknologi ICR. Tetapi ketika diimplementasikan ke dalam suatu aplikasi/software, akurasi antar vendor mungkin berlainan. Di sini mungkin kita harus hati-hati dalam membaca tulisan.
7. Usul bang Al memakai keyboard itu tidak jelas. Kalau maksudnya mau memakai manual entry, sebenarnya itu sudah disiapkan sebagai salah satu dari plan, sekiranya ICR gagal berfungsi. Hal tsb. sudah disampaikan di SOP Data Entry yang disampaikan ke KPU Kab/Kota. Mungkin bang Al belum pernah membaca SOP Data Entry tsb. ?
Saya rasa debat ini sudah tidak kondusif lagi, dan emosional. Lebih baik saya berhenti berkomentar di sini dan tidak menanggapi komentar2 berikutnya.
Mohon maaf kalau keterangan saya mungkin kurang berkenan. Posisi saya dalam penjelasan ini adalah tanggung jawab moral sebagai scientist, yang berusaha menjelaskan kesalahpahaman yg terjadi. Tidak ada maksud untuk menjadi tameng, dsb.
@bank_al
“bank al: Well, mungkin saya yg salah menulis atau anda yg kurang menangkap. Saya tulis bahwa ICR hanya berfungsi sebagai input data. Jika mau menggunakan teknologi ini, maka harus ada software yg mampu melakukan verifikasi sehingga tidak dimungkinkan terjadi kesalahan pembacaan.
Jika verifikasi diserahkan pada manusia, maka teknologi ini jadi useless. Karena beban yg lebih berat pada proses ini justru verifikasi dan bukan input data. ”
Disini terlihat lagi kebodohan ente. Belum pernah nyoba/pakai software ICR tapi seolah-olah pernah memakainya. Dari mana ente tahu kalau software ICR itu tidak ada fungsi koreksi dan validasi? Sungguh suatu fitnah yang sangat keji hehehe….
Justru software ICR itu wajib punya fungsi koreksi dan validasi. Sok atuh cari di google atau wiki dulu apa itu ICR, baru NGOMONG ya…
“bank al: Betul, yg saya tembah adalah implementasinya. Anda mungkin kurang cermat membaca bahwa saya menulis jika ingin menggunakan teknologi ini, maka buat verifikasi juga otomatis.”
Maaf, lagi-lagi ketidaktahuan ente tentang ICR, tapi sok tahu. Bisa dijelaskan verifikasi otomatis itu seperti apa? Mungkin maksud ente adalah ICR itu secara otomatis akan menunjukkan kepada operator angka mana yang ICR salah baca lalu akan dikoreksi operator? Atau angka yang salah itu langsung dikoreksi oleh software ICR? Ane tunggu jawaban ente dulu deh
“Sekali lagi persiapannya
bank al: Anda kok bodoh amat sih? Yg salah itu implementasinya, bukan persiapannya. ”
Asli ane ngakak baca yang ini. Terus terang aje ye, kalimat yang ente respon itu kelupaan ane hapus sebelum “Kirim Komentar” ahahaha….
@mas anto
saya ngga tw ICR ? haha
yang buatnya pun saya tw, siapa2 yang terlibat dalam pengembangan pun sy tw…
Yang saya permasalahkan dan yang bikin aneh, mengapa kok ICR dipake dalam Pemilu ? That’s it…karena 100% haqul yakin orang2-nya sangat mengerti ICR yang tidak bermental proyek sesaat akan bilang sangat sulit itu pake ICR dalam Pemilu.
Saya jg nda nyalahin situ, karena yang merekomendasikan ICR kan bukan situ…saya tw bgt kok..:)
Tapi, klo ICR gagal ya akuilah gagal, klo pemilihan ICR tidak tepat ya akuilah tidak tepat…dan ini kesalahan ada dalam planning dulu tho, seharusnya ketika business process dibuat IT itu yang sebagai solusi tho mas….bukan bikin ribet kayak gini ?
@Kondara-an
NATO, situ kali yang NATO, aneh….rakyat yang coba peduli dengan keadaan skr dibilang NATO, terus kalo bersikap Apatis diem aja juga disalahin…aneh..aneh….
Kritik ya ditanggapi dengan bijak, seorang ksatria ya harus mau mengakui kesalahan tho….:D
Supaya jadi pelajaran dikemudian hari
Terus ini kalimat ente yang paling bodoh :
Anda kok bodoh amat sih? Yg salah itu implementasinya, bukan persiapannya.
hahaa, Anda pernah baca buku tentang manajemen n business process ngga sih….Justru IT KPU sudah gagak bahkan sejak awal membuat business process dan solusi IT yang dipilih. Aneh, untuk event sebesar Pemilu kok coba2…:D
@theabay
Tarolah ente tahu tentang ICR, ane mau tanya. Ente sudah tahu orang-orang yang buat ICR itu siapa, terus apakah ente sudah ajak mereka diskusi dan dikritisi sejak awal biar nggak jadi begini. Terus ente tahu nggak kenapa simpul-simpul data entri dibuat di Kabupaten/Kota oleh Tim Ahli IT KPU sebelumnya, tidak seperti 2004 di kecamatan? Teknologi apa yang mau ente ajukan untuk data entri di Kabupaten/Kota yang jelas-jelas akan menumpuk? Ceuk urang erek nyaho. Kalau asal NGOMONG dan NJEPLAK mah GAMPANG…
Setelah jadi begini baru deh nyalahin… Padahal ente, kalau memang bener sesuai pengakuan ente, tahu proses terjadinya penggunaan aplikasi ini untuk Pemilu 2009, ya ente benar-benar NATO, hanya NGOMONG tanpa solusi sama sekali.
FYI, ICR itu sudah dipakai untuk Pemilu di berbagai negara, dan tidak ada masalah. So tidak ada yang salah dengan teknologinya. Kalau di plan dan diorganise dengan baik, insya Allah bangsa kita juga bisa.
Yang bikin ane gatel berkomentar adalah, ente dan orang-orang seperti bank_al, yang tidak mengerti benar permasalahan, berkomentar dan mencoba memberi pembenaran kegagalan IT Pemilu 2009 hanya dari sudut pandang ICR dan dengan paparan yang salah tentang ICR.
Ini adalah pembodohan publik. Memang benar IT KPU 2009 amburadul; performansinya tidak sesuai dengan duit yang dibelanjakan. But, hanya melihat kegagalan dari sisi ICRnya saja jelas salah besar. Kegagalan terjadi di semua lini. Siapa yang bikin desainnya? Koq ditinggal begitu saja atau setidaknya ikut membantu mengatasi kendala yang ada? Lagi-lagi cuma NATO… Bicara sana-bicara sini tentang keunggulan teknologi yang akan dia usung untuk Pemilu 2009 tapi tidak jadi dipakai oleh KPU. Siapa yang bisa JAMIN, teknologi yang dia usung akan berhasil di Pemilu 2009 kalau situasi dan kondisinya sama seperti sekarang?
“Anda kok bodoh amat sih? Yg salah itu implementasinya, bukan persiapannya.
hahaa, Anda pernah baca buku tentang manajemen n business process ngga sih….Justru IT KPU sudah gagak bahkan sejak awal membuat business process dan solusi IT yang dipilih. Aneh, untuk event sebesar Pemilu kok coba2…:D”
Ente tuh bener-bener orang yang asal NJEPLAK.
Asal tahu aja, kalimat yang ente quote itu omongannya bank_al ahahaha…. CAPE DEH….
Lagi-lagi, ente sudah tahu bisnis proses dan pilihan teknologi IT KPU 2009 gagal dari awal, tapi tidak berbuat apa-apa (setidaknya dari hasil googling atas nama theabay, tidak ada satupun nama ente nyangkut di topik yang membicarakan masalah IT KPU), lalu TERIAK-TERIAK ketika itu semua sudah terjadi. NATO ASLI….
OK, ane kira cukup sampe disini komentar ane. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan dan menyakiti perasaan. Semata-mata ngikutin gaye ente-ente pada… Ciao…
bah…..
kasih solusi dunk..!!
jangan cuma jeplak ajah…
Sudah jelas Bung, tidak tepat guna… dikata pemilu ujian nasional ?
ngga usah merah kuping donk kalo dikritik…lha emang gagal total…
@kondaraa-an
situ pasti salah satu vendor ICR yang merah kuping-ny…wakakakakak…
Disini sy ngga nyalahin teknologi ICR nya bung…tap coba cerna kalimat ini : Penggunaan ICR dalam Pemilu > Kalimat ini niy yang harus situ ngerti….
begini bung, Pemilu diluar negeri bs berhasil pake ICR ya karena SDM-nya pun siap untuk implementasi teknologi itu, di Indonesia ? apa iya udah siap ? situ udah melakukan penelitian atau survey gitu…setau sy 2 hari sebelum acara bahkan masih banyak KPUD yg belum melakukan pengadaaan, berarti disini ngga ada proses trial n error-nya sama sekali…..
ANEH, masa untuk event sebesar Pemilu ngga ada yang namany tes dulu. Iya sih ada pelatiahn penggunaan tp apa itu cukup karena pas pelatihan isinya itu yang demo vendor doank tho….
kalo planning situ siap ngga mungkin hasilnya kayak gini….IT itu bukan masalah high tech tidak high tec…tp menjawab masalah atau menjadi solusi atau tidak ? di negara lain oke bisa di Indonesia belum tentu…
itu kesalahan besar situ dulu, sudah ada msukan n saran kalo ICR belum saatnya diimplementasikan dalam Pemilu di Indonesia eh malah keukeuh…
Situ-situ yang dibayar ngerjain lha wajarlah kalo disalahin, lha wajarlah dikritik kalo GAGAL kayak gini lha emang situ dibayar….klo kita-kita yang ngritik dibilang NATO karena ngga action ya ngapain kita action lha itu emang bukan tugas kita (situ ngerti profesionalisme ngga sih)….
(btw, tanggarannya gede banget booo….>>> KPK…KPK…KPK….tolong diperiksa proses pengadaanya KPK…KPK….)
salam manis….
@theabay
hahahaha… salah besar Bos ente bilang ane adalah salah satu vendor ICR. Ane mah cuma cungpret yang yang gatel aja ngelihat komen yang tidak pada tempatnya dan melihat kesalahan hanya pada satu sisi, teknologi ICR saja. Kalau ente orang IT, ironis sekali memandang masalah hanya dari satu sisi. Tendensius…
Lebih baik diam lah kalau tidak memahami persoalan secara komprehensif.
Ane mah malah bersykur KPK masuk ke KPU dan yang pertama diperiksa adalah ITnya, biar permasalahan clear dan orang-orang yang memang bersalah mendapat “tempat terbaik” hehehe…
Ente mah tetap NATO lah, bisanya cuma NGRITIK doang, tetap tanpa solusi sama sekali..ahahaha…
salam NATO….
@Kondora
Kayaknya anda asbun deh. Nggak ada yg bilang teknologi ICR saja yg salah.
Yg saya katakan adalah tujuan penggunaan ICR pada pemilu 2009 di Indonesia ini tidak tercapai sehingga cuma buang2 uang rakyat.
Coba baca lagi dengan hati2 Om.
Jika anda pikir sudah tercapai, coba tunjukkan pada saya bagian mana yg sudah tercapai.
Soal NATO, ya boleh2 aja dong. Tugas rakyat itu bukan kasih solusi. Rakyat sudah bayar pajak dan membiayai pemilu ini. Jika tujuan tidak tercapai, yg wajar dilakukan oleh rakyat adalah protes dan bukan memberi solusi. Yg memberi solusi itu yg sudah dibayar untuk mengerjakan itu dong. Masak sudah mbayar kok disuruh kasih solusi pula.
@kondara
situ benar-benar raja asbun bun bun…
baca lg dengan teliti bung, yang dipermasalahkan bukan teknologi ICR nya, tp penggunaannya yang amat sangat tidak tepat untuk Pemilu 2009 di Indonesia. Titik.
Dari awal ini sudah diprediksi, sahabat sy yg ngerti bgt ICR disebuah PT di Bdg pernah bilang pas denger ICR dipake untuk pake untuk Pemilu : “Gila…ini pasti akan gagal…”
Tp, segelintir manusia bermental proyek berkata :
“wah, peluang luar biasa niy…satu KPUD satu scanner wah wah wah…..proyek gede ini…”
Alibi – penjelasan yang sebenarnya dipaksakan pun akhirnya dipake, dan hasilnya sy kira RAKYAT Indonesia tidak bodoh, buta dan tuli…
Anda-Anda yang mempermainkan uang rakyat yang akan menerima akibatnya….
@theabay
Oh ane benar2 asbun ya?
Coba kita lihat lagi apa yang ente tulis pada 21 April 2009 jam 4:49 PM. Ane quote full biar tidak ada salah kutip.
[QUOTE]
@anto
sudah jelas sistem ICR gagal total, masih ngeles juga…aneh banget cara berpikir anda ini sih…coba pikirkan business proses-nya sejak awal bung, Anda ini sedang mengurusi masalah pemilu bukan hajatan kawinan…dari awal seharusnya bisa diprediksi bahwa penggunaan teknologi ICR ini sangat rawan kesalahan/error.
Bukan masalah fair tidak fair, selain pemborosan uang negara untuk beli scanner itu, kualitas pemilu ini tambah amburadul dengan pilihan bodoh sebuah teknologi bernama ICR yang salah tempat bila dipakai untuk pemilu.
[/QUOTE]
Di sini ente dua kali bilang “teknologi ICR”. Ente juga bilang teknologi ICR adalah pilihan bodoh untuk Pemilu.
Kalimat-kalimat ente inilah yang menyebabkan ane berkomentar di sini.
Mas Anto sudah menjelaskan secara clear tentang kenapa tidak berhasil diterapkan di Indonesia. Tapi lihatlah jawaban ente…
Coba konsisten dulu lah antara statement ente yang ane quote di atas sama yang terakhir ini nih, “yang dipermasalahkan bukan teknologi ICR nya, tp penggunaannya yang amat sangat tidak tepat untuk Pemilu 2009 di Indonesia”.
Kalau ente bilang teknologi ICR adalah pilihan yang bodoh untuk Pemilu, berarti tuh KPU Ostrali, Norwegia dan UK yang sukses menggunaan ICR adalah orang-orang yang bodoh ya?
Ane tetap berprinsip, apapun teknologinya, kalau tidak dipersiapkan dengan baik akan begini hasilnya, meskipun hanya entri manual menggunakan keyboard sekalipun.
Biarlah orang-orang yang berkompeten melakukan audit terhadap IT KPU dan demikian juga dengan KPK. Ane sebagai warga negara berharap banyak pada mereka mengungkapkannya.
[gw lagi ga kreatip nih Bro..., jadi co-pas aja dari comment gw sendiri di http://tipemilu2009.wordpress.com/2009/04/06/mengenal-icr/
Mmm….
Saat memilih sebuah solusi teknologi, harusnya dipikirkan juga sedari awal apakah teknologi tersebut dapat diterapkan dengan baik, apakah teknologi tersebut menjadi solusi ataukah malah menimbulkan masalah baru…
Setiap teknolog juga harus memikirkan hal tersebut. Kita harus bertanggung jawab untuk setiap rupiah yang yang kita terima, terutama bila uang itu adalah uang rakyat.
Jika sedari awal diperkirakan solusi yang kita berikan itu akan bermasalah di kemudian hari, ya jangan dipaksakan untuk diimplementasikan, “hanya” untuk memperoleh uang beberapa milyar…
Beberapa proyek E-Gov yang gagal (terutama IT KPU yang begitu terekspos media) menyebabkan citra IT di Indonesia begitu buruk.
Ayo insan IT Indonesia, kembalikan citra IT Indonesia… Jangan sampai muncul kesan di masyarakat bahwa proyek-proyek IT di pemerintahan itu cuma akal-akalan, lahan subur buat para koruptor…
bla bla bla…[capek gw]
@Kondora:
Tolong baca lagi postingannya deh dan lihat apa pointnya di situ.
Kalau anda nggak paham, saya singkat bahwa pointnya adalah tujuan penggunaan ICR pada pemilu 2009 di Indonesia ini tidak tercapai sehingga cuma buang2 uang rakyat.
Jika anda pikir sudah tercapai, coba tunjukkan pada saya bagian mana yg sudah tercapai.
saya salah satu vendor yg memberikan proposal ttg teknologi tabulasi suara. saat itu sekitar bulan juli. presentasi ke komisioner dilakukan bulan februari. proposal vendor lain yg usulin ICR masuk sekitar bulan oktober (katanya titipan dari sekjen…..yach namanya juga issue). keputusan bhw akhirnya ICR yg dipake, dengan penunjukan langsung ke scanner fujitsu dilakukan pada februari 2009.
saya mau nantang ke vendor manapun, teknologi secanggih apapun, tidak akan punya waktu cukup untuk bisa sukses implementasi yg cuman 1 bulan. salahin komisioner kpu yg lelet ambil keputusan ttg teknologi mana yg akan dipake
Anu mas, ICR itu semacam OCR nya Canon atau READ IRIS Hp itu yah, yang biasanya untuk ekstrak teks dari scan gambar bukan mas …
Kalau iya, kan biasanya kemampuannya terbatas, kertasnya kotor sedikit saja pembacaannya udah bisa salah. Dan itu untuk kasus huruf cetak, lha kalau tulisan tangan apa ndak parah itu.
Wong pernah saya nye-can dokumen hasil mesin ketik untuk diconvert ke PDF saja harus banyak diedit je.
wah…. jadi sayang dong uangnya buwat yang gk penting seperti itu? harusnya bisa dipertimbangkan tuh. mana yang lebih baik dengan mempertimbangkan dampak positif dan negetifnya!
weew agak hangat disini rupanya, inilah demokrasi tapi maaf ya jaga kata2 yang nggak perlu di lepaskan sayangkan jari kita he.. he.. kontrol emosi ya itu sangat bijaksana menurut saya thanks
Dear all,
Setelah mengikuti perdebatan sengit ICR tersebut, saya jadi berpikir bahwa bisa jadi ada suatu grand design untuk meruwetkan persoalan penghitungan suara sehingga akurasi tabulasi perolehan suara jadi tidak bisa dilacak. Skenarionya sama dengan di AS (silakan lihat skenario “glitch” dan “the computer ate my vote” pada e-voting di Pilpres AS, hampir mirip dgn skenario “hacker”, “ICR”, “kertas tdk standar”, “waktu sempit” dll pada pemilu di Indonesia). Kita jadi tidak bisa memastikan akurasi hasil penghitungan suara, dan mungkin memang ada pihak yang menginginkan ketidakjelasan tersebut.
Lebih baik kita jangan bertengkar masalah ICR lagi. Apakah kita bisa mencermati, mengaudit dan mempertanyakan kesahihan hasil penghitungan suara dengan demikian banyak permasalahan yang terjadi? Bagaimana status legitimasi hasil Pemilu tsb?
Weleh, weleh, kok berbau proyek yah.