Review (basi) Firefox 3.0

Karena termakan mode, maka beberapa saat yang lalu aku juga ikut2an mengupgrade firefox-ku menjadi firefox 3.0 walaupun firefox sebelumnya juga nggak ada keluhan yg berarti. Dan walaupun mungkin sudah cukup basi untuk mereview Firefox 3.0 kala ini, namun seperti biasa aku tetap saja akan nekad melakukan review walaupun telat.

Berikut adalah pengalaman pribadiku menggunkana firefox versi 3 ini.
1. Speed terasa lebih cepat dari firefox versi sebelumnya. Pada versi sebelumnya firefox di kompie-ku seringkali bengong dulu sebelum sebuah page dimunculkan.
2. Ada pilihan untuk menyimpan kondisi terakhir ketika keluar, sehingga tidak harus memasukkan setiap halaman yg belum selesai kita baca ke bookmark ketika keluar karena saat firefox dibuka di kemudian hari akan bisa lagi didapatkan kondisi yg sama seperti terakhir.
3. entah karena alasan apa, firefox 3.0 ini seringkali timeout. Atau barangkali karena memaksakan supaya tampak cepat maka timeout-nya dikecilkan ya?

Well, jadi mikir-mikir nih. Enakan firefox-nya bengong tapi pasti kebuka? atau cepet tapi sering timeout? Enakan alon-alon asal kelakon? atau banter tapi nyasar?

Update:

13-July-2008: Ternyata Eko Pramuyanto juga mengalami hal yg sama. Lengkapnya lihat di sini.

Beberapa Kata Bijak

Iseng-iseng aku menclok di blog-nya Ariya, dan tertarik dengan quote-quote favorit-nya. Walaupun aku nggak kenal siapa itu Jim Rohn, namun untaian kata-kata tersebut begitu menyentuh, sehingga ingin juga aku pajang di sini kata-kata bijak tersebut:

  • Success is doing ordinary things extraordinarily well
  • Maturity is the ability to reap without apology and not complain when things don’t go well
  • Miss a meal if you have to, but don’t miss a book
  • Let others lead small lives, but not you. Let others argue over small things, but not you. Let others cry over small hurts, but not you. Let others leave their future in someone else’s hands, but not you

PS:

Buat Ariya, maaf ya dicopy tanpa ijin. Boleh khan?  *halah, dicopy dulu baru minta izin*

Taksi

Lain bis, lain pula dengan taksi.  Di Jakarta ada begitu banyak taksi. Ada yang kelas mewah dengan harga mahal denga layanan limo, ada yg kelas menengah dengan servise nama baik, ada yg tarif lama dengan taksi yang bagus dan nyaman, dan ada juga beberapa taksi bobrok yg nggak jelas apakah bisa sampai tujuan atau nggak. Karena begitu banyak pilihan taksi yg ada, penumpang taksi di Jakarta adalah raja, bisa memilih taksi mana saja yg sesuai dengan kebutuhan.

Di kuwait, taksi nggak sebanyak di Jakarta. Walaupun tidak sulit mencari taksi, namun di sini tidak ada taksi yg mau jalan dengan argo.  Kalau mau naik taksi harus tawar-menawar, mirip seperti Jakarta puluhan tahun yg lalu sewaktu hanya ada presiden taksi yg menguasai Jakarta.  Di jakarta sekarang, tentu saja masih ada taksi jelek yg pakai tawar menawar.  Namun kalau nggak suka tawar-menawar, bisa naik taksi yg pakai argo yg ada bejibun di Jakarta. Dan anehnya, di sini walaupun sudah tawar-menawar, taksi tetap jalan pakai argo. Jadi makin mangkel lihat argo-nya karena argo selalu lebih kecil dari hasil tawar-menawar deh. Makanya aku sampai sekarang malas naik taksi sendiri. Wong bahasa Arab aja belom bisa, gimana mau tawar-menawar? :D

Yg unik lagi di sini, taksi yg sudah kita tumpangi bisa tiba2 ditambahi penumpang lain di jalan seperti pengalaman Andra yg ditulisnya di sini. Beberapa hari yg lalu, sempat juga mengalami pengalaman yg mirip ketika pulang bareng Didats naik taksi. Tiba2 di jalan ada orang Indiahe ikut2an. Anehnya, dia yg nebeng belakangan, tapi maunya dianter duluan. Dan karena supirnya nggak mau anterin dia duluan, dia turun lagi deh. Aku yg nggak ngerti bahasa arab cuma bengong aja. Bayangkan jika yg masuk dan ikutan numpang itu homo, apa ndak ngeri?

Hmm, kapan ya taksi di sini bisa pakai argo dan banyak pilihan seperti di Jakarta?

Update:

Walaupun taksi di sini tawar menawar, namun setelah aku perhatikan, tawarannya ya cuma berkisar dari 1 hingga 1.5 KD. Jadi nggak butuh ilmu tawar-menawar yg ampuh. Cukup hapalkan saja: Dinar, Dinar ruba atau Dinar Nus.

Bis 38

Ketika dulu di jakarta, aku beberapa kali menulis review tentang pengalamanku numpak Bus Way.  Sekarang setelah beberapa minggu di Kuwait, rasanya ada bagusnya kalau aku review juga pengalaman numpak Bis 38 yang setiap hari aku tumpangi dalam perjalanan dari rumah menuju kantor.

Bis 38 ini adalah satu-satunya bis yang rute-nya melewati daerah tempat kos-ku di sini dan kantor. Ukuran bis-nya ukuran sedang, sedikit lebih besar dari metro mini, namun lebih kecil dari patas AC di jakarta. Kondisi fisik bis-nya biasa-biasa aja, nggak jelek kayak metro mini dan juga nggak bagus kayak bus way. Di dalamnya cukup nyaman, karena AC-nya selalu dingin dan penumpangnya ngga pernah berjubel seperti bis-bis di Jakarta.

Perilaku bis agak beda dengan di Jakarta. Walaupun tidak memiliki jalur khusus seperti Bus Way, namun bis tidak pernah nge-tem (note: bis berhenti menunggu penumpang sementara supirnya pipis di pintu bis) . Bis secara teori hanya berhenti di halte, walaupun pada kenyataannya satu dua orang nyetop di jalan bis juga berhenti. Dan bis juga tidak selalu berhenti di halte jika nggak ada penumpang yg turun, jadi kalau kita bengong maka ada kemungkinan akan ketinggalan bis.

Di dalam bis, jarang diiringi musik seperti bis antar kota di Indonesia. Namun radio-nya sepertinya dinyalakan, karena terdengar ceramah agama di dalam bis. Terakhir sewaktu naik bis di jakarta (Patas AC, dan bukan bus way) juga pernah dapat ceramah agama di dalam bis. Cuma kalau di Jakarta yg ceramah itu setelah selesai ceramah akan mengeluarkan kotak kecil dan berkeliling menunggu sedekah dari penumpang. Di sini ceramahnya dari radio, jadi nggak ada yg bertugas bekeliling minta recehan.

Penumpang perempuan di sini enak-enak, karena mereka selalu dapat duduk. Barisan bangku paling depan untuk perempuan. Jika bangku2 depan sudah terisi semua, namun masih ada perempuan yg naik, maka yg laki2 harus dengan sadar diri berdiri dan menyerahkan bangku itu pada penumpang perempuan. Agak beda dengan di Jakarta yg mana penumpang masih boleh pura2 tidur bahkan ketika ada perempuan hamil yg sedang berdiri sekalipun.  Makanya kalau naik bis aku memilih duduk di barisan belakang, daripada nanti berdiri kalau ada perempuan. :D

Begitulah pengalaman naik bis 38. So far belum ada complain, karena jarak tempuh yg relatif dekat maka jarak perjalanan juga nggak lama, dan bisa santai2 berangkat dari rumah.

Lyrics Plugin

Sewaktu jaman masih ABG dulu, begitu banyak sekali lagu yg kuhapal hanya dengan beberapa kali mendengarkannya saja baik lewat radio, kaset ataupun televisi. Sekarang, di masa ABG sudah lewat (walaupun kelakuan kadang masih kayak ABG juga), ditambah dengan bertumbuhnya hal-hal yang harus dihapal, maka aku mengalami masalah dalam manajemen memory sehingga lebih mudah mengingat beberapa command line dibandingkan dengan mengingat lirik-lirik lagu.

Untunglah di jaman sekarang ini ada begitu banyak utiliti yang bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan kecil seperti misalnya bisa ikut2an bernyanyi sambil mendengarkan sebuah lagu. Lyrics Plugin adalah salah satu plugin (aku belum memeriksa apakah ada juga yg lain) yg bisa menampilkan lirik dari sebuah lagu yang kita putar pada media player ataupun winamp. Sebagai penyanyi karaoke amatiran yg memiliki fans tersendiri, plugin ini sangat berguna bagiku karena bisa membantuku memudahkan untuk mengasah kemampuan bernyanyi karena didukung dengan adanya text. Plugin ini melakukan pencarian ke Internet ketika media sedang diputar dan hasilnya ditampilkan pada media player ataupun winamp.

Anda juga penyanyi amatiran seperti saya? Mungkin plugin ini layak dicoba jika anda memiliki kebutuhan seperti saya.

Panasnya kayak di arab

Sewaktu masih di Jakarta dulu, saat suhu Jakarta sedang panas entah karena AC sedang mati atau karena hari itu sedang naik metro mini sehingga badan terasa lengket dan bersimbah peluh, aku dan teman-teman kadang bercanda dan berkata,”Panas banget nih, kayak di Arab aja.”. Yang ada di bayangan kami pada saat itu adalah bahaw Arab itu panas, dan suasana seperti itulah yg terbayang di kepalaku.

Sekarang aku betul-betul di Arab, pada saat-saat mendekati puncak musim panas, yang rupanya memang panas di sini. Hanya saja, panasnya ternyata tidak sama dengan panas yg dirasakan ketika ada di metro mini atau sedang berjemur di lapangan di tengah teriknya matahari Jakarta. Matahari di sini rasanya tidak terlalu panas, dan badan juga hampir tidak berkeringat walaupun panas. Berbeda dengan Jakarta, udara di sinilah yg rasanya panas. Jika di Jakarta rasanya sejuk ketika terkena tiupan angin, maka di sini angin itu rasanya panas. Ketika berteduh di bawah pohon yg rasanya sejuk ketika cuaca berangin di Jakarta, maka di sini berteduh di bawah pohon sama saja panasnya jika angin sedang bertiup. Rasanya seperti berada di belakang kulkas, yg mana dari situ biasanya berhembus angin panas.

Yg membuat sensor tubuhku makin eror adalah ketika aku keluar di malam hari. Pada awalnya aku merasa aneh, seperti ada yg tidak cocok dan tidak tahu sebabnya kenapa. Aku saat itu ada di ruang terbuka pada jam 7 malam lebih. Aku melihat bahwa hari sudah gelap pada jam segitu. Namun perasaanku merasa hari itu masih siang. Setelah beberapa lama aku baru sadar bahwa aku merasa masih siang karena udara yg berhembus masih panas seperti hembusan angin belakang kulkas. Tidak heran mengapa aku menjadi linglung, karena mata mengatakan saat itu hari sudah malam sementara kulit mengatakan hari masih siang.

Hembusan angin panas ini juga mengingatkanku pada sebuah metode perawatan wajah di tempat terkenal Jakarta yang melakukan penyinaran pada wajah untuk menghilangkan jerawat. Konon jerawat-jerawat tersebut kemudian mati dan mengering karena panas yang dipancarkan ke wajah selama waktu treatment tersebut. Mungkin itu sebabnya kali ya mengapa nggak banyak orang jerawatan di sini. Entah karena aku kebetulan aja belum ketemu, atau mungkin ada hubungannya dengan udara panas yg ada di sini.

Mau coba perawatan wajah gratis? Coba aja ke Arab deh.

Episode Expat

Hari Kamis kemarin aku meninggalkan Jakarta untuk kesekian kalinya. Namun kali ini tidak sama dengan yang lalu-lalu yg mana kali ini aku pergi bukan hanya sekedar untuk sebuah perjalanan bisnis yang biasanya hanya beberapa minggu (atau paling lama 1 bulan) dan kembali lagi ke Jakarta. Kali ini aku terbang meninggalkan Jakarta untuk merantau ke suatu negeri yg banyak sekali pasirnya yang dikenal dengan nama Kuwait.

Sebuah episode baru dalam hidupku yg aku beri nama Episode Expat akhirnya aku mulai pada hari jum’at tanggal 30 Mei 2008.  Terima kasih banyak buat Didats dan Andra yg sudah kubangunkan pagi-pagi untuk menjemputku di airport.

Wish me luck for my new interesting journey.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.