Strategi orang telanjang

Kemarin aku iseng-iseng membuka kembali blog lama, yaitu blog yg pertama kali aku buat sebelum pindah ke wordpress ini, yg beralamatkan http://bank-al.blogdrive.com/. Aku sudah lupa bahwa ternyata aku bisa menulis begitu renyah dan santai pada saat itu dan begitu mudahnya juga melahirkan tulisan-tulisan yg membuatku mengingat-ingat kembali momen-momen lama yg layak dikenang. Sungguh berbeda sekali rasanya dengan mood-ku ngeblog beberapa bulan terakhir ini yg seringkali membuat keningku berkerut hanya untuk melahirkan tulisan.

Aku mencoba memutar kembali ke masa lalu dan mencoba mengingat mengapa hal ini bisa terjadi. Selidik punya selidik ternyata tulisan-tulisanku mulai macet setelah blog-ku mendapat kehormatan dari Ronny untuk masuk Planet Terasi. Mungkin karena sebagian dari penulis-penulis di sana adalah tipe-tipe serius yang memiliki gaya menulis kelas berat sehingga kadang membuat kepala yg membacanya juga berat, maka aku terbawa suasana untuk menulis yg berat-berat juga. Akibatnya, karena gaya asliku yang cenderung santai ini bertentangan dengan suasana yg ada, otakku jadi macet dan tulisan-tulisanku jadi makin jarang keluar.

Untunglah, ribut-ribut bru-ha-ha telah mengakibatkan blog-ku ini keluar dari Planet Terasi. Walaupun sedikit kecewa karena blog-ku dikeluarkan tanpa pemberitahuan, namun hari ini aku menyadari bahwa sebetulnya ini adalah ide yang baik. Dengan tidak munculnya tulisanku di sana, itu berarti aku bisa kembali lagi pada style lamaku menulis dengan santai tanpa beban sehingga blog yg semestinya personal ini memang betul-betul menjadi sebuah tulisan personal dan bukan sebuah situs penyedia artikel seperti media-media cetak atau online lainnya.

Agak aneh juga mengapa aku bisa grogi ketika menulis padahal aku bisa mengatasi kegugupan ketika harus spontanitas bicara di depan publik. Mungkin karena ada tips dari pembicara-pembicara kaliber agar kita membayangkan sedang berbicara di depan orang telanjang ketika sedang berada di atas panggung untuk mengatasi kegugupan. Entah mengapa, ketika aku coba menggunakan strategi orang telanjang ini, it didn’t work at all. Aku nggak ngerti strategi apa yg digunakan oleh pak BR dan Paman Tyo sehingga bapak-bapak ini bisa menulis dengan santai tanpa beban walaupun tulisan-tulisan mereka juga seringkali tidak berbau teknologi. Mungkin mereka bisa merecovery bayangan orang telanjang yg tepat sehingga bisa tetap santai sementara aku salah mengambil model.

Nah bagaimana dengan teman-teman, ada yg merasa grogi juga ketika menulis dan dibaca banyak orang sehingga menambahkan beban ketika menulis? Jika memang ada, apa taktik yg anda gunakan untuk mengatasinya?

About these ads

5 thoughts on “Strategi orang telanjang

  1. sama seperti paman tyo, saya menulis sekeingetnya saja. tadinya saya pikir akan habis idenya, ternyata gak karena setiap hari selalu saja ada yang baru. hanya saja, waktu online yang membatasi saya dalam nulis (karena ternyata nulis itu butuh waktu … hi hi hi).

    gak ada strategi orang telanjang segala.

    Suka

  2. @linda: Dibayangin ndak ada yg mbaca ya? :)

    @Tika: begitulah Tik. Kayak nyanyi di kamar mandi ternyata beda rasanya dengan nyanyi di atas panggung 17 agustusan.

    @Paman Tyo: Iya juga ya, kalau dipikir2 kok kayaknya gampang.

    @Pak Budi: Pak Budi memang seperti nggak habis2 ide-nya. Aku bingung kok bisa gitu ya?

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s