Apa yg harus dilakukan pada ribuan mahasiswa IPDN ?

Judul di atas adalah pertanyaan Presiden SBY atas argumentasinya mempertahankan IPDN. Menurut Bapak Presiden yg konon sudah S3 ini,  keberadaan ribuan mahasiswa itulah yg menyebabkan kita lebih baik membenahi sistem pendidikan IPDN daripada membubarkannya.

Mungkin karena wawasan saya belum seluas Presiden sehingga saya tidak begitu paham mengapa begitu sulit menjawab pertanyaan di atas.  Menurut saya pertanyaan di atas itu mudah sekali dijawab. Salurkan saja semua mahasiswa itu pada Perguruan Tinggi yg ada di Indonesia.  Toh biaya kuliah mereka selama ini juga dibiayai negara sehingga biaya yg selama ini digunakan untuk mereka berkuliah di IPDN bisa juga digunakan untuk bersekolah di perguruan tinggi yg lain.

Karena pertanyaan di atas sudah ditemukan jawabannya, maka semestinya IPDN bisa dengan mudah dibubarkan sehingga tak ada lagi uang rakyat yg digunakan untuk sarana pembunuhan massal tersebut dan bisa digunakan untuk menghidupi rakyat, bukan membunuhi rakyat.

Saya sungguh sangat kecewa karena jawaban Presiden Indonesia ini. Jika menjawab pertanyaan di atas saja Pak Presiden tidak mampu, bagaimana mungkin SBY mampu menjawab pertanyaan yg lebih sulit seperti membersihkan korupsi di Indonesia, meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia dan lain sebagainya ?

Semoga SBY punya waktu untuk membaca blog, atau setidaknya ada asistennya yg bersedia membacakan komentar para blogger untuk disampaikan kepada Pak Presiden supaya bisa mengambil keputusan yg lebih cerdas. Dan jika Pak SBY membaca blog ini, mohon dicatat bahwa saya mendukung perjuangan mas Anto ini untuk membubarkan IPDN yg tidak ada gunanya bagi bangsa Indonesia ini.

About these ads

43 gagasan untuk “Apa yg harus dilakukan pada ribuan mahasiswa IPDN ?

  1. Semoga bapak presiden masih bisa terketuk nuraninya, saya tahu mungkin posisi beliau sangat sulit karena IPDN pun juga ‘mainan’ teman2 beliau di militer. Tapi semoga beliau juga mau mengorbankan rasa sungkan thdp teman2nya itu demi rakyat Indonesia yang telah memilihnya.

    Mari kita lakukan gerakan ini sebagai wujud adanya kemauan menggunakan otak kita untuk berfikir.

    Like this

  2. Mas IMW: Ada perbedaan yg tampaknya kecil tapi mendasar mengapa IPDN harus dibubarkan. IPDN itu seluruh biaya operasionalnya dibiayai oleh rakyat. Dan jika rakyat tak melihat apa gunanya IPDN, saya pikir sangat rasional jika IPDN dibubarkan dan uang rakyat itu digunakan untuk hal lain yg lebih berguna.

    Pertanyaan mendasar yg perlu kita jawab,”Apa gunanya IPDN ?”. Sejauh ini, apa kontribusi alumni IPDN yg tidak bisa diberikan oleh Alumni perguruan tinggi yg lain ?
    Jika tidak ada kontribusi yg spesial dari alumni IPDN, saya pikir bukan permintaan yg aneh untuk membubarkan institusi ini.

    Mas IWM bisa menjawab pertanyaan di atas ?

    So, tunjukkan dulu kalau IPDN itu lumbung. Kalau cuma tempat sampah, apa salahnya di bakar ?

    Like this

  3. PTN itu juga sebagian besar dibiayai negara (sebelum jadi bentuk baru seperti sekarang, subsidi mencapai 70%). Nanti ada yang teriak bubarkan saja kampus-kampus tersebut, toh hasilnya meluluskan banyak para koruptor :-)

    Apa guna IPDN, pasti ada, tapi seperti halnya, yg bagus sering tidak terdengar, yang buruk cepat terdengar. Silahkan alumni IPDN yang “berserakan” di daerah terpencil menyatakan hal itu sendiri. Saya bukan alumni IPDN, atau mengajar di IPDN, atau ada hubungan lainnya.

    Membakar sampah adalah kegiatan yang kurang tepat dan harus dihindari saat ini !!! Pilih-pilihlah sampah dan proses dengan tepat sehingga ramah lingkungan.

    Pertanyaan saya yang belum terjawab adalah, di kampus PTN/PTS lain kekerasan masa orientasi juga terjadi ? Apa perlu juga dibubarkan kampus tersebut ? Saya rasa ini bukan masalah di IPDN saja, tapi adalah praktek kekerasan yang banyak terjadi saat masa orientasi di kampus.

    Like this

  4. Sebaiknya yang teriak2 Bubar bikin master plan deh :D

    Abis bubarin ngapain? Abis ngapain itu trus ngapain lagi? kekekeke long term planning :D

    Like this

  5. Mas IMW: Saya berprasangka bahwa Mas IMW bisa menjawab apa kontribusi yg diberikan oleh PTN pada bangsa ini dibandingkan tidak ada PTN di Indonesia. Kalau Mas IMW tidak tahu jawabannya, saya akan menjawabkannya buat anda.

    Sedangkan untuk sementara ini jawaban Mas IWM tentang kontribusi IPDN hanyalah,”Pasti Ada”. Jawaban seperti ini tidak cukup untuk meyakinkan rakyat bahwa uangnya dipakai untuk hal yg berguna. Padahal ini adalah pertanyaan utama yg harus dijawab sebelum kita memutuskan apakah sokongan dana negara (dari rakyat) untuk IPDN perlu diteruskan atau tidak.

    Menurut pendapat saya ini berlaku untuk segala macam persoalan. Kita harus tahu dulu apa gunanya sesuatu, sebelum kita mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk memperbaiki sesuatu yg kita sendiri tidak tahu gunanya.

    Jika saya jadi presiden, saya akan menjelaskan apa gunanya dan istimewanya IPDN kepada rakyat sehingga rakyat paham mengapa IPDN harus dipertahankan dan diperbaiki. Namun jika memang nggak ada gunanya, maka akan saya bubarkan. Saya tak akan mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk membuat sampah menjadi sampah yg lain kecuali kalau saya memang ingin membohongi rakyat.

    Like this

  6. Mas Ady: Master Plan-nya kayaknya jelas deh. Abis IPDN dibubarin, mahasiswa2 yg sekarang ada disalurkan di PTN-PTN atau PTS-PTS yg sudah ada. Biaya yg selama ini diberikan pada mahasiswa IPDN, tetap diberikan pada mereka.

    Saya heran mengapa yg membubarkan IPDN yg disuruh membuat master plan. Bukankah master plan untuk mempertahankan IPDN justru lebih rumit, lebih sulit dan memakan lebih banyak biaya ? Padahal kegunaan dan kelebihan IPDN dibanding PTN/PTS yg ada saja belum bisa dijawab kecuali dengan jawaban “pasti ada”.

    Like this

  7. Pertanyaan IMW yg belum terjawab; “di kampus PTN/PTS lain kekerasan masa orientasi juga terjadi ? Apa perlu juga dibubarkan kampus tersebut ?”

    Jawaban saya: Yap, bubarkan masa orientasi tersebut. Masa kekerasan itu cuma terjadi di masa orientasi khan ?

    Like this

  8. #11, lho kan sama dengan yang disebut Presiden, lakukan dulu identifikasi, kirimkan tim pencari fakta dan baru diputuskan dibubarkan, diubah atau bagaimana. Tidak langsung dibubarkan gitu tanpa ada data.

    Saya bukan berada yang cocok menjelaskan manfaat IPDN (justru itu saya memilih biar yang lebih berkompeten yang menjawabnya). JAwaban saya dengan pasti ada adalah untuk membuka masukan terlebih dahulu dari pihak yang kompeten tentang manfaat itu, sebelum dari awal sudah memutuskan tidak ada gunanya dan bubarkan saja.

    Soal PTN saya jelas tahu, karea saya juga pernah kuliah di PTN dan saya juga tahu kebobrokan manajemen PTN :-). Tapi itu juga tak membuat saya berkata, bubarkan PTN.

    #12. Lho koq jadi kontradiksi dg postingnya, yang ingin langsung bubarkan IPDN ? Menurut saya yang harus dibenahi adalah sistem pendidikannya dan pengenalan terhadap kekerasan itu dilakukan secara lebih baik dan terlatih, bukan asal main keras. Militer itu keras, tapi ada caranya dalam pendidikannya.

    Menurut saya saat ini yang penting adalah, biarkan tim pencari fakta bertugas, beri masukan seimbang (positif dan negatif), bila perlu gunakan media Internet utk membantu tim pencari fakta supaya masukan seimbang. Dan tentu saja rem emosi dan kepala tetap dingin.

    Like this

  9. apa-apa, kalau jelek, koq maunya langsung dibubarin, itu emosional namanya… presiden juga ada jeleknya, dpr juga ada jeleknya, negara indonesia juga ada jeleknya, bubarin aja sekalian indonesia kalau gitu… hehehe…

    Like this

  10. Udah…ga usah pada ribut mikirin IPDN. La wong si I nYomAn Sumaryadi aja dah dicopot kok. hehe…jelas aja dia cari aman. mending, si Nyoman ini dikasih jabatan lagi, trus disuruh bertanggungjawab. tapi apa mungkin…? :(

    Like this

  11. #13: Masak sih sama ? Saya kira untuk menjelaskan tujuan adanya IPDN tidak butuh Investigasi. Tapi cukup dengan rencana awal saja (jika IPDN ini memang didirikan dengan rencana). Coba baca lagi judul tayangan ini dan paragraph pertama.

    Jika sudah ditemukan tujuan yg disepakati mengapa IPDN harus anda, barulah diperlukan tim investigasi untuk mengetahui bagaimana cara memperbaikinya sehingga kita tidak mengeluarkan uang dulu untuk investigasi sementara kita belum punya tujuan yg jelas mengapa IPDN harus dipertahankan.

    Saya menduga munculnya wacana bubarkan IPDN karena saat ini tidak banyak orang yg tahu mengapa IPDN harus ada. Saya sendiri tidak tahu, dan tampaknya anda juga tidak.

    Like this

  12. #14: yg bilang IPDN harus dibubarkan karena jelek siapa ? Coba baca lagi dengan seksama deh.
    Saya mengusulkan bubarkan IPDN jika IPDN tidak ada spesialnya atau bedanya dengan PTN/PTS yg sekarang ada. Sejauh ini, begitulah yg tampak oleh mata orang awam.

    Anda bisa tunjukkan pada saya apa spesialnya IPDN dibanding Perguruan Tinggi yg lain ?

    Like this

  13. #14, paragraph 4.
    Kekerasan di PTN terjadi pada masa Opspek, sehingga Opspek dibubarkan.
    Kekeradan di IPDN terjadi sepanjang tahun selama mahasiswa menjadi junior (bukan hanya masa opspek) sehingga membubarkan Opspek saja tidak cukup.

    Agar solusi IPDN konsisten dengan PTN, mahasiswa yg baru masuk langsung jadi senior aja dan langsung wisuda sehingga tak ada yg menjadi junior.
    Solusi A, masa kuliah dibuat hanya satu tahun saja sehingga penerumaan mahasiswa baru berbarengan dengan kelulusan angkatan di atasnya
    Solusi B, penerimaan mahasiswa baru hanya dilakukan ketika semua mahasiswa senior sudah lulus.
    Solusi lain, bubarkan IPDN. Dengan ini tidak akan ada yg pernah menjadi junior.

    Konsisten khan ?

    Like this

  14. #17 IPDN mempunya siswa dari semua Dati I di Indonesia.
    Adakah perguruan tinggi lain yg punya mahasiswa se-majemuk ini? They may not be the best or brightest, but they represent all area of Indonesia. Menyekolahkan pamong praja di sebuah sekolah di daerah masing-masing beresiko kurang membuka wawasan kebangsaan Indonesia, dan itu saya rasa alasan yg penting untuk sebuah national identity.

    Selain itu di IPDN diajarkan tata cara kerja birokrasi negara, yg notabene menyebalkan buat saya, tapi perlu dalam kehidupan bernegara. Saya kebetulan sekolah di ITB dan Curtin University, lalu sampai SMA hidup dekat kampus UGM. Saya kok tidak pernah mendapatkan “pendidikan” yg memadai untuk jadi pamong praja kalau sekolah di situ. Bahkan ketika di ITB, saya kuliah bareng perwira perwira dari AURI Dan ALRI, dan saya mengagumi cara berpikir dan disiplin mereka. Berbeda dan mungkin tidak sepintar saya (duh narsis), tapi itu membuka mata saya bahwa untuk menjalani profesi tertentu, pendidikan itu tidak bersifat generalis. Jadi point yg sama ambil adalah belum tentu lulusan Jurusan Ilmu Sosial dan Politik lantas cocok jadi pamong praja.

    Selain itu focus dari studentnya. Jelas, kalo mau masuk IPDN, mau jadi pamong praja siap pakai. Sekarang coba tanyakan ke lulusan perguruan tinggi biasa : “kalau sudah lulus mau jadi apa”. Pasti mendapat jabawan 1001 macam, ada yg ngawur, bahkan sering lulusan teknik kerja di seni, atau sebaliknya. Coba bandingkan dengan focus yg dimiliki praja IPDN. Can I beat them? I do not think so. Saya aja sekarang kerja begini karena dulu kepingin ngabur aja dari problem pribadi, bukan karena cita cita terencana dan terarah.

    Like this

  15. #19. Ada perguruan tinggi yg mempunyai siswa yg sangat majemuk ini. UGM adalah salah satu contohnya.

    Namun point anda bagus bahwa IPDN mengajarkan sesuatu materi khusus pamong praja.

    Saya punya sedikit pertanyaan, apakah pendidikan khusus pejabat ini juga ada di negara lain ? Jika memang ada, negara mana ?
    Jika tidak ada, mengapa Indonesia membutuhkannya sementara negara lain bisa hidup (bahkan lebih baik daripada Indonesia) tanpa IPDN versi mereka ?

    Like this

  16. IPDN (Dulu STPDN) sudah gagal dan tidak bisa dipertahankan.

    Pengurusnya harus diganti semuanya.

    Opspek atau perploncoan, HARUS dilarang.

    Yang bersalah HARUS dihukum!

    Like this

  17. #3
    >>rakyat yang mana? jangan suka mengatasnamakan rakyat deh.

    pertanyaan saya simpel saja : kalau saudara anda yang jadi korban? apa masih anda berkata seperti itu?
    masalah bangsa ini banyak mas, dan memang tidak akan selesai apabila rakyatnya masih berpikir rakus dan picik ingin menyelesaikan semua bersamaan. step by step. see?

    Like this

  18. #saya melihat beberapa teman2 belum bisa memahami apa yang kita lakukan adalah dalam upaya mencari solusi yang benar.
    justru yang saya lihat berusaha melempar opini ke lapangan yang lebih luas, berbcara masalah IPDN..eh melempar ke kebobrokan sistem negara yang lebih luas.
    Kalau pola berfikir rakus seperti ini dipertahankan, niscaya masalah bangsa ini tak akan kunjung selesai.
    Contoh begini, mau menyelesaikan masalah kekerasan di IPDN, eh malah melempar wacana ke masalah kekerasan di orientasi kampus.
    Justru menurut saya, sekali lagi menurut saya, pembubaran IPDN akan menjadi pijakan awal untuk selanjutnya membongkar berbagai kasus2 kekerasan di ranah yang lebih luas dan kompleks.
    So, silahkan mulai berfikir untuk menyelesaikan masalah yang di depan mata dulu. Tak usah sok hebat mau menyelesaikan semua masalah bangsa.
    Selamat beropini.
    Terima kasih.

    Like this

  19. # 17:

    hehehe… anda bilang IPDN tidak ada gunanya bagi bangsa Indonesia (paragraf terakhir postingan anda). lalu di komentar no.6 anda menyamakan IPDN dgn tempat sampah. jadi gak terlalu salah kan kalau saya menginterpretasikan apa yang anda katakan itu sebagai “IPDN jelek”?

    kalau menurut saya sih sisi terjelek dari IPDN ada pada dibiarkannya perpeloncoan terus terjadi dan penuh dengan kekerasan. selain itu, faktor lain yg membuat IPDN tambah jelek adalah tidak adanya kontrol oleh para pengajar dan juga pihak penyelenggara pendidikan (rektorat, depdagri, dll). tapi kejelekan yang ada itu menurut saya masih bisa diperbaiki tanpa perlu dibubarkan. salah satu syaratnya kita harus “konsisten” mengusung perubahan/perbaikan itu, jangan cuman manis di bibir aja, impulsif, apalagi emosional.

    btw. ngomong2 ttg perpeloncoan, masalah perpeloncoan itu anehnya koq marak terdapat dimana-mana. di bandung mulai dari murid baru SMP sampai mahasiswa baru perguruan tinggi hampir sebagian besar mau dipelonco. ortu dan guru2/dosen2nya pun jarang yg ambil pusing. apa bagusnya perpeloncoan coba? gak ada sama sekali. tetapi kenapa perpeloncoan gak bisa hilang di indonesia, malah semakin menjamur dari waktu ke waktu? karena kita hanya bisa berlaku “impulsif” dan “hangat-hangat tahi ayam”. ketika ada kasus yg negatif akibat perpeloncoan, baru kita ramai berwacana, berteriak lantang, tetapi setelah itu adem ayem lagi dan tidak berusaha utk mencari solusi sistematis bagaimana caranya menghapuskan perpeloncoan di sekolah-sekolah.

    # 23:

    orang banyak yang sering bilang: mengambil sebuah tindakan sebagai pijakan awal. pijakan awal apa yg dapat “diambil” dengan dibubarkannya IPDN? yang ada malah IPDN bubar, habis itu ya sudah, wong yang ada di kepala memang cuman kata “bubarkan IPDN!”.

    btw. kasus kekerasan di IPDN dengan kekerasan di orientasi kampus itu sama aja, kedua2nya sama2 tindakan kekerasan yg harus dikutuk dan dienyahkan dari kehidupan pelajar/mahasiswa. yg membedakan keduanya hanyalah durasi (lama waktunya). kekerasan di orientasi kampus hanya dalam durasi yg singkat di awal tahun ajaran baru (atau adanya interkasi yg jelek antara anak himpunan mahasiswa dan bukan anak himpunan mahasiswa), sementara kekerasan di IPDN terjadi dalam durasi yg terus-menerus karena mereka tinggal bersama-sama di dalam satu barak. keduanya sama2 memiliki periode ulang tahunan, korbannya sama2 para murid/mahasiswa baru (junior) sementara pelaku kekerasannya juga sama2 senior mereka.

    nah perpeloncoan itulah sebenernya masalah di depan mata kita, bukan cuman IPDN.

    sorry kepanjangan… maapin juga kalau ada kata2 yg kurang berkenan…

    Like this

  20. Kalau dibilang membubarkan IPDN = Membakar lumbung karena ada tikus, sepertinya analoginya tidak tepat.

    Masalahnya, kita tidak sekedar membakar lumbung tapi juga memindahkannya. Kita tidak sekedar membubarkan IPDN tapi juga memikirkan solusi dengan memindahkannya ke PTN lain.

    Jangan larikan masalah IPDN dengan kekerasan OSPEK. Kekerasan OSPEK maupun tewasnya siswa DLLAJR di Bekasi beberapa waktu yang lalu harusnya menjadi penguat alasan bahwa kita sudah seharusnya menghilangkan praktek-praktek demikian. Kekerasan dalam bentuk dan nama apapun sudah seharusnya dihilangkan, bukan membiarkannya dengan alasan, “Lho, ditempat lain juga begitu kok”.

    Orang boleh bilang apa saja kebaikan IPDN, tapi kalau melihat kekompakan mereka dalam tutup mulut, kekompakan mereka dalam menutup-nutupi kekerasan, tingkah mereka dalam memberikan dukungan kepada rekan mereka yang membunuh Cliff Muntu, maaf saja, muak rasanya.

    Tolong berikan saya alasan yang bisa menjawab mengapa Cliff Muntu dikatakan sakit lever padahal mereka tahu Cliff tewas karena dipukuli ??

    Berikan jawaban mengapa semua praja tutup mulut dan bilang “tidak ada apa-apa” tapi ada yang mati karena dipukuli !!

    Esprit de corps mungkin bagus tapi untuk kasus IPDN, salah tempat.

    Jika untuk berkata sesuatu yang nyata mereka alami saja mereka tidak bisa, apa yang bisa diharapkan jika mereka nanti masuk ke birokrasi pemerintahan yang amburadul.

    Ada yang bisa jawab, apakah mereka bisa berkata tidak disaat itu dibutuhkan ?

    Soal penyelesaian IPDN ? Lihat saja, andaikata Cliff tidak tewas, apakah para pembunuh Wahyu Hidayat bisa dieksekusi ?

    Saya bersimpati pada Cliff dan korban lainnya, tapi simpati saya terbesar justru jatuh pada para IPDN yang baik-baik, yang menjadi korban dari kebodohan rekan-rekan mereka yang mengagungkan kekerasan. Saya masih kepingin melihat integritas mereka, mereka yang bisa bilang sesuatu yang nyata-meski pahit-mengenai kampus mereka.

    Like this

  21. Ping-balik: Efek Video kekerasan IPDN, ciptakan Petisi Online « cK stuff

  22. Mas Agusset :

    Memang negara ini butuh sebuah tindakan nyata demi suatu perbaikan. Dan tindakan nyata itu adalah Pembubaran IPDN.

    Kalau saya mengandaikan, IPDN hanyalah salah satu titik api dari kekerasan dalam sistem pendidikan di Indonesia. IPDN tidak identik dengan pendidikan di Indonesia, tapi sistem pendidikan di Indonesia yang “menghalalkan” kekerasan dapat dilihat di IPDN.

    Tentunya harus selalu berpikir : Setelah IPDN apa ? Maksudnya, apakah dengan membubarkan IPDN maka solusi terhadap kekerasan dlm sistem pendidikan di Indonesia sudah terjawab ? Sangat salah besar kalau mengatakan, it’s finished. Seolah-olah dengan bubarnya IPDN maka kita (Indonesia) tidak punya masalah lagi dengan kekerasan dlm pendidikan.

    Tetapi jika pembubaran IPDN menjadi TITIK PANGKAL untuk menolak kekerasan dalam sistem pendidikan di Indonesia, maka Saya SANGAT SETUJU, walupun caranya kurang tepat. Maka boleh dikatakan sebagian besar lembaga pendidikan di Indonesia akan dibubarkan karena menghalalkan kekerasan dalam sistem pendidikannya. Ironis ? Bunuhlah “INDUKNYA” jangan hanya “ANAKNYA”. Dan induknya adalah kekerasan dalam sistem pendidikan di Indonesia.

    Salam Perbaikan…. :-)

    Like this

  23. mas fertobhades, merujuk pada paragraph anda ini:

    Boleh dijelaskan, lembaga pendidikan mana saja yang menggunakan kekerasan? apakah maksud anda perpeloncoan? kalau memang itu, saya lihat tingkat kekerasannya sudah semakin menurun.. sudah jarang ada berita korban perpeloncoan di media.. atau mas ferto punya data lain?

    Like this

  24. @ weathertop :

    Saya tidak mengatakan “lembaga pendidikan yang menggunakan kekerasan” tetapi “kekerasan dalam sistem pendidikan di Indonesia”.

    Dan kekerasan tidak selalu Kekerasan Fisik alias Kontak Fisik seperti yang ditunjukkan IPDN, tetapi bisa juga Kekerasan Psikologis, Kekerasan Verbal, Kekerasan Kebijakan, dan kekerasan2 lainnya di pendidikan Indonesia.

    Like this

  25. Bubarkan IPDN kembalikan sistem pendidikan yang mencetak para calon birokrat pada daerak masing-masing, kan didaerah ada uviersitas, emangnya masih kurang lembaga pendidikan yang ada didaerah.

    Like this

  26. #32:

    perpeloncoan memang tingkat kekerasannya sudah/ada yang menurun, tetapi jangan cuman dilihat dari tingkat kekerasan saja efek perpeloncoan itu. coba lihat dalam dimensi yang lebih luas. budaya perpeloncoan menjadikan kita permisif, dan bahkan kurang peka/sensitif melihat segala bentuk “penindasan” yang ada. lebih dari itu, perpeloncoan juga mengakibatkan kita menjadi mau ditindas/menindas. ironisnya, perpeloncoan justru terus dipertahankan dan dijadikan tradisi dalam menyambut murid-murid baru oleh para seniornya (dengan nama yang disamarkan seperti orientasi sekolah, pengenalan kampus, dll). dan lebih ironis lagi kegiatan seperti itu juga dilegalkan oleh sekolah, dimaklumi/diamini oleh para guru, orang tua murid dan juga murid baru tersebut. dan benar kata Fertobhades (di komentar #34), perpeloncoan jangan dilihat hanya dari kekerasan fisik saja, tapi juga kekerasan dalam bentuk yang lain (psikis, verbal, dll.).

    apa yang terjadi di IPDN saya kira tak lepas dari kesalahan kita sendiri yang terus membiarkan perpeloncoan tetap hidup bebas dalam dunia pendidikan ditambah dengan tidak adanya kontrol/teguran/sanksi terhadap tindak-tanduk negatif para praja senior terhadap yuniornya. dan karena hal itu terjadi dalam waktu yang lama, akibatnya para praja menganggap itu sebagai bagian dari kegiatan belajar-mengajar mereka, sebuah tradisi.

    jadi, daripada tanggung-tanggung cuman dengan program “Bubarkan IPDN”, kenapa gak sekalilan kita kumandangkan “Hentikan Segala Jenis Kegiatan Perpeloncoan Murid Baru!” biar sekalian kita hapuskan jargon2 senioritas-junioritas…

    #26:

    Ya, saya setuju dengan poin ke-4 di petisi anda.

    Like this

  27. #25:

    menurut saya wajar saja kalau para praja IPDN dan bahkan dosennya melakukan gerakan tutup mulut. berikut beberapa alasan dan dugaan saya:

    alasan pertama, nyali mereka memang kecil utk mau/bisa bicara jujur karena resikonya memang “mahal”.

    alasan kedua, kekerasan sudah menjadi tradisi dan bisa dipastikan bahwa hampir sebagian besar praja pernah terlibat dalam kekerasan seperti itu kepada juniornya. para dosen pun akan ikut menutup-nutupi fakta itu karena mereka pun mungkin sudah “terlibat” dan punya andil terhadap kekerasan yang terjadi (setidaknya dengan membiarkan kekerasan terjadi di depan mata mereka).

    alasan ketiga, saat ini ketidaksukaan dan desakan pembubaran IPDN pun sedang menguat di masyarakat (apalagi ditambah dengan adanya petisi dari para blogger). berkata jujur ttg segala macam kekerasan yang pernah terjadi, sama artinya dengan semakin kuatnya desakan pembubaran dan ketidaksukaan masyarakat.

    alasan lain, dugaan saya, bisa jadi IPDN adalah “lahan basah” para dosen dalam menambah pundi-pundi uang mereka selama ini. jadi ikut mengatakan yang benar (lagi-lagi) akan “mahal” resikonya buat mereka…

    mohon maaf kalau alasan atau dugaan saya ternyata salah…

    Like this

  28. #37: Komentar anda sebetulnya sudah sangat menunjukkan bahwa menginvestigasi dan memperbaiki IPDN jauh lebih sulit dan mahal biayanya dibandingkan dengan membubarkan IPDN.

    Dan juga menjelaskan bahwa kasus IPDN tidak sama dengan kasus opspek PTN/PTS yg mana tidak ada kejadian “kompak tutup mulut” dan lain sebagainya yg menyulitkan investigasi.

    Like this

  29. baiknya bubarin aja IPDN karena cuma ngabis-ngabisin uang negara. Lagian sekolah di sana itu kan cuma buat jadi pegawai negri bukan buat alat pertahanan negara, lalu kenapa harus berbasis militer…Salurin aja deh uangnya buat anak2 yang gag mampu, siapa tau merekalebih berguna bagi bangsa dan negara. Ngapain bayarin sekolah calon HItler-Hitler kecil itu….KEcilnya aja gitu gimana gedenya.Bisa jadi teroris

    Like this

  30. mungkin yang benar ya diperbaiki kalo anda pingin memberi kesempatan belajar dan perbaikan jati diri bagi org yang gak mampu yg berprestasi…. perbaikilah sistem penerimaan jgn biarkan praktek kkn untuk penerimaan, sistem pendidikan dan pengawasan … bubarkan bukan solusi yang tepat, sekolah diptn yg lain pikirkan biaya hidup nya palagi hidup di kota jakarta, surabaya, yogya dll…. pencetak pegawai yg korup dll???? bukan pernyataan yg tepat.. berapa besar lulusannya yg kerja di tiap kabupaten/propinsi… dan berapa banyak yg menjabat??? banyak dari lulusan ptn/pts yg lain.. kekerasan dihentikan mari saling intropeksi dan kritisi yang baik… jgn menghilangkan harapan bagi anak-anak kita yg tidak punya harapan… apa kita dan diri saya juga baik….banyak temen temen kita yang mencemarkan institusi kita itulah yg harus kita beritahu dan benahi,
    apa moral semua praja jelek saya kira juha tidak
    apa moral temen temen yang lain juga baik saya kira juga tidak
    apa moral saya baik saya kira tidak
    liat lingkungan dan diri kita sebelum menilai orang lain

    Like this

  31. #40: sebetulnya memperbaiki IPDN juga ide yg bagus. Kekurangan yg saya lihat hanya biaya untuk itu jauh lebih mahal daripada membubarkannya dan menyalurkan para mahasiswa yg ada ke PTN yg sudah ada.

    Like this

  32. menurut gue ngapain IPDN di bubarin,kasian anak2nya mau di taruh
    di mana??yg di rubah itu sistemnya.setiap orang pandai untuk menyalahkan tapi tdk setiap orang untuk mampu dan pandai menerima suatu keadaan jadi menurut gue apa yg di lakuin oleh presiden adalah tepat,mari kita bersama-sama berpikir secara sistem jangan mengandalkan emosi dari pengalaman gue sebagai seorang staf pimpinan alumni IPDN saya merasa bahwa seharusnya IPDN memang harus berdiri karena pimpinan saya itu orangnya respek,disiplin dan berdedikasi dan aku salut itu beda dengan pimpinan aku yg lulusan univ terkenal di indonesia,orangnya pemalas,cuek sama bawahan tp kalo alumni yg jd pimpinan ku memang hebat dan pantas jd pemimpin.

    jadi menurut aku bagi teman-teman mahasiswa ato siapa pun anda
    janganlah kitaberpikir dangkal tentang alumni IPDN saya sbg alumni perguruan tinggi negri yg terkenal di indonesia sangat salut sama dgn alumni IPDN,mereka itu hebat dan luar biasa

    by. iman – jakarta

    Like this

  33. pada waktu kawanku cliff muntu belum meninggal di IPDN ada sebuah gerakan penyelamat dari sekelompok dewan perwakilan praja (DPP) fraksi madya yang meminta prtanggung jawaban terhadap model pembinaan yang dilakukan senior dibaraknya, ini juga berdasarkan desakan hati nurani seperti kata pak inu, dan desakan teman2 angkatan 17. pada malam sebelum takdir dilukiskan semua ketua pembina/pengkaderan dari senior hadir termasuk ketua2 DPP masing2 angkatan, disini tidak ada tingkat 1, karena masih belum tau apa2 jadi kerjanya aerobik,makan,tidur,apel,dan belajar.(belum saatnya dibina).malam itu di kelas berkumpul para perwakilan kaderdari setiap unit, tapi pataka tidak ada. kami an/DPP madya meminta keterangan tentang pembinaan yang dilakukan senior, ternyata ini sudah tradisi untuk memperoleh sebuah tingkatan dalam kader. tapi kami tidak menerimanya dan ternyata senior juga tidak mau kalah MAKA TERJADI PERDEBATAN SERU YANG BILA DILANJUDKAN KAMI TIDAK AKAN APEL MALAM. DAN HASILNYA, APA KEHORMATAN KAKAK HARUS DIHARGAI WALAUPUN KAMI TIDAK TERIMA. KAMI BERDOA TERUS MENERUS UNTUK MEMPERBAIKI SISTEM YANG TIDAK BENAR INI DI KAMPUS PEMERSATU BANGSA, DAN ALLAH MENJAWABNYA DENGAN HUKUMAN YANG SANGAT MEMILUKAN BAGI IPDN. BAHKAN KAMI YANG DISARING DARI DAERAH SELAMA 4 BULAN HINGGA BISA LOLOS 2 ORANG TIAP KOTA/KABUPATEN. KAMI BERJANJI AKAN RELA MATI DEMI NEGARA INI, TAPI PARA PEMBINA DI IPDN TIDAK SANGGUP MENGATUR INDONESIA MINI INI.MAKA KAMI INGIN PERBAIKAN SETELAH KEJADIAN INI, KAMI TIDAK TAKUT LAGI DENGAN SENIOR. TINGKAT 1 MULAI BEBAS BEREKSPRESI BAHKAN MERAIH JUARA 1 KARYA ILMIAH PEMERINTAHAN SEPERGURUAN TINGGI INDONESIA. SETELAH PENGORBANAN 1 KAKAKNYA(MADYA). KINI TIDAK ADA LAGI KEKERASAN DAN PENYAKIT SOSIAL DIHILANGKAN OLEH PARA INTEL, MASYARAKAT DAN WARTAWAN SERTA PEMERINTAH SBY. KAMI MULAI BANGKIT SEKARANG DARI LEMBARAN HITAM DARI SEJAK DIBENTUKNYA APDN,STPDN DAN IPDN. TAPI KESEMPATAN ITU TIDAK BISA DIRAIH DENGAN MUDAH PERLU PEMBUKTIAN LAGI, KAMI AKAN TUNJUKKAN PADA TANGGAL 25 MAY 2007 SEE… WE THE ONE.

    Like this

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s